Luna Rusalka

Luna Rusalka
91



"Kata siapa? Aku terpeleset waktu itu."


"Erynav yang melihatnya sendiri, Lula. Dia bilang kepada Tuan Bogdan dan tak sengaja aku dengar."


Lula benar-benar tidak tahu dan siapa yang berani mendorongnya? Bukankah ia hanya terpeleset dan kemudian terjatuh?


"Kenapa tidak ada yang memberitahu aku?" Sudah beberapa hari semenjak itu, dan Lula baru tahu sekarang.


"Tuan Bogdan belum memberitahumu?"


Lula menggeleng.


"Sudahlah yang penting kan kau tahu sekarang."


"Tapi, kenapa ada yang mau mencelakaiku?"


Jereni mengendikkan bahu. "Mungkin mereka iri."


"Lula." Yejin datang dan menghampiri Lula.


Lula menoleh dan mendapati Yejin berdiri di depannya. "Ada apa?"


"Kita harus ke ruangan Pak Bogdan."


"Baiklah." Lula mengangguk dan berpamitan kepada Jereni.


"Aku harus pergi."


"Baiklah. Aku menunggumu di sini."


Lula mengangguk dan beranjak pergi bersama Yejin.


***


"Jadi, bagaimana Yejin? Kau pergi?" Lula bertanya kepada Yejin. Ia berjalan sedikit cepat, ia harus mensejajari Yejin yang langkahnya begitu panjang.


"Kita lihat saja nanti." Yejin menatap Lula dan gadis itu mengangguk mengerti.


***


"Matvei!" Seorang perempuan berlari kecil menghampiri Matvei.


Matvei berhenti dan berbalik. "Kau di sini, Elliot?"


Perempuan bernama Elliot itu mengerutkan kedua alisnya tidak mengerti.


"Kau kenapa bertanya seperti itu?"


"Alexei memberitahu kau sedang sakit."


Elliot memutar bola matanya. Ia menggeleng dan menarik tangan Matvei untuk segera pergi ke kelas.


"Kami sedang bertengkar. Dia pasti masih marah."


Matvei melepaskan tangan Elliot dan perempuan itu meminta maaf.


"Kenapa kalian bertengkar?"


"Masalah kecil. Tidak usah dipikirkan."


Matvei mengangguk dan mereka berjalan bersama menuju kelas.


"Ah Matvei."


Matvei menoleh dan menunggu Elliot berbicara lagi.


"Kau pergi nanti siang?"


"Tidak. Kenapa?"


"Bisakah kau menemaniku pergi ke suatu tempat?" Elliot terlihat memohon dan tanpa berpikir panjang Matvei mengangguk. "Baiklah."


***


"Jadi, bagaimana?"


Ruangan hening. Tidak ada yang mau berbicara terlebih dahulu, Yejin maupun Lula.


"Bagaimana keputusan kalian?" Tuan Bogdan masih memberikan pertanyaan yang sama.


"Maafkan saya, Pak." Yejin berbicara dan Lula menatap laki-laki itu tidak menyangka.


"Kenapa?" Tuan Bogdan harus tahu alasannya dan Yejin juga harus memberitahu.


"Kurasa Anda sudah mengerti dan maafkan saya, saya harus pergi sekarang." Yejin beranjak dan hendak pergi sebelum Lula menahannya.


"Yejin, tunggu!"


"Biarkan aku pergi, Lula." Lula tidak bisa menahan laki-laki itu lagi, dan ia membiarkan Yejin pergi dari ruangan Pak Bogdan.


"Saya tidak bisa memaksa anak keras kepala itu. Jadi, saya berharap kau bisa pergi dengan Erynav." Tuan Bogdan sangat mengharapkan Lula pergi, namun gadis itu mantap tidak pergi. Mamanya tidak memperbolehkan dan bagaimana bisa dia melawan mamanya?


"Pak Bogdan maafkan saya, tapi-"


"Jika kau hanya ikut-ikutan Yejin, sebaiknya jangan. Saya yakin kau sangat ingin pergi, dan saya sangat berharap seperti itu. Tiket tidak bisa dikembalikan, dan ada penalti untuk itu, Nona Beatriks. Kau juga akan mengikuti conference dan akan mewakili negara kita di luar negeri."


"Bagaimana?" Tuan Bogdan masih menunggu.


"Kau melupakan usahamu? Apa yang kau inginkan, dan bagaimana kau kedepannya?" Pria itu masih memaksa dan Lula sudah pasti tidak ikut. Ia telah memutuskan.


"Maafkan saya, Pak. Saya tidak bisa membantah kedua orang tua saya, dan saya sudah memutuskan."


"Tapi.. saya akan bujuk Yejin untuk pergi." Lula tersenyum dan Yakin ia bisa membujuk sahabatnya itu.


"Kau yakin?"


Lula mengangguk.


"Saya tunggu siang ini. Karena besok kalian harus membuat paspor."


Lula mengangguk dan berpamitan pergi.


***


"Jadi, bagaimana Yejin?" Jereni bertanya ketika Yejin masuk kelas. Tapi omongan Jereni tidak digubris dan Yejin berjalan begitu saja melewati Jereni. Laki-laki itu langsung duduk di kursi dan hanya menatap keluar jendela.


Jereni tidak ambil pusing dan mengendikkan bahu.


"Yejin di dalam kelas?" Lula datang setelahnya dan Jereni mengangguk. "Kalian lama sekali. Apa yang terjadi?"


"Nanti aku ceritakan. Aku harus berbicara dengan Yejin sekarang." Lula berjalan menghampiri Yejin di bangkunya. Jereni hanya menggelengkan kepala tidak mengerti apa yang terjadi.


"Yejin aku harus bicara denganmu." Lula berdiri di depan Yejin. Yejin menatap Lula dan menunggu apa yang akan gadis itu katakan.


"A-" Lula menoleh ke samping dan melihat teman-teman sekelasnya berhamburan masuk ke dalam kelas. Guru datang rupanya. Lula menghela nafas kasar dan menggaruk tengkuknya.


"Nanti saja, istirahat pertama kita berbicara."


Yejin mengangguk dan Lula kembali ke bangkunya.


"Apa yang terjadi, Lula?" Jereni duduk di samping Lula dan ia sangat ingin tahu apa yang terjadi.


"Yejin bilang tidak ingin pergi. Aku yakin bukan karena tidak mendapat izin. Kau tahu laki-laki itu sangat ingin pergi, pasti sesuatu telah terjadi." Lula berbisik sambil terus mengawasi guru di depan kelas.


"Benarkah seperti itu?"


"Ya, dan aku harus membujuknya pergi jika aku tidak ingin pergi."


***


"Elliot." Matvei memanggil perempuan di sampingnya yang tengah menulis itu.


"Ada apa?" Elliot berhenti menulis dan menatap Matvei.


"Tidak jadi."


Elliot menaikkan kedua alisnya. "Kau aneh."


Apa aku harus bertanya? Aku yakin bukan Elliot, namun jika ia tersinggung bagaimana. Orang itu sangat berbahaya, dan jika aku tidak menemukan siapa dia, aku tidak akan pernah tahu apa yang akan diperbuatnya lagi.


"Kau mau kemana nanti?"


Elliot menatap Matvei dan tersenyum. "Itu kejutan!"


"Hari ini bukan hari ulang tahunku, kenapa kau memberiku kejutan?" Matvei heran dengan perempuan satu ini.


"Kau juga nanti akan tahu." Elliot mengalihkan pandangannya dan lanjut menulis.


***


"Kumohon, Yejin." Lula masih membujuk Yejin untuk pergi ke Italy bersama Erynav.


"Tidak, Lula." Yejin berdiri bersandar di tembok. Mereka berada di depan kelas.


"Kenapa?"


"Kau bilang orang tuamu mengizinkanmu, dan aku yakin mereka tidak mengubahnya. Bukankah ini yang kau inginkan? Kau berlatih terlalu keras untuk bisa sampai di sana."


"Hati manusia mudah untuk berubah, Lula."


Lula menghela nafas kasar dan menyentuh lengan Yejin. "Apa karena aku tidak pergi?"


Yejin menelan ludahnya seperti biasa dan tidak melihat ke arah Lula.


"Tatap aku, Yejin!"


Mereka berdua terdiam, dan perlahan Yejin menoleh untuk menatap mata Lula.


"Apa karena aku? Jawab aku, Yejin!" Beberapa detik mereka bertatapan dan Yejin masih tidak menjawab Lula. Ia mengalihkan pandangannya kemudian dan masih terdiam.


"Apa bedanya pergi bersamaku dan Erynav? Intinya bukan pada itu, tapi pada kegiatan yang kau ikuti di sana."


Yejin berdiri tegak dan menatap Lula. "Terlalu berbeda, sampai aku tidak bisa menemukan kesamaannya." Yejin menepuk pundak Lula lalu pergi berlalu.


Lula hanya terdiam kaku, dan mencerna setiap perkataan Yejin barusan.


"Yejin!" Ia berbalik dan mengikuti kepergian Yejin.