Luna Rusalka

Luna Rusalka
110



"Apa ini pertama kalinya kalian memakai kaki?" Aloysius. Anak buah Jensen berbicara dengan dua pasukan pilihannya. Mereka tengah berdiri di pantai yang sepi dari manusia.


Dua pasukan di depannya mengangguk. Aloysius menggelengkan kepalanya dan mereka hanya nyengir tanpa berkata apa-apa.


"Bagaimana dengan tuan?" Salah satunya dari pasukan itu bertanya dan Aloysius mengambil nafas pelan.


"Beberapa kali. Tuan Jensen menyuruhku untuk melepaskan duyung yang tertangkap manusia di perairan sini. Butuh waktu beberapa hari untuk sampai di tempat ini dan terkadang kami hampir tertangkap namun kami sangat lincah, jadi mereka tidak mampu menangkapku dan pasukan lain." Dua pasukan di depan Aloysius mengangguk mengerti dan bingung bagaimana cara berjalan.


"Udara sangat nyaman, untuk sekarang. Aku harus menahan nafas agar tidak merasa sakit karena udara yang tidak cocok untuk insang kita. Kesempatan menghirup udara dengan nyaman hanya datang satu kali. Jadi, nikmatilah semua udara di daratan." Aloysius tersenyum dan dua pasukannya mengangguk dan menghirup udara dengan rakus.


"Tapi jangan terlalu mencolok. Manusia mudah mengenali kita jika kita menunjukkan perbedaan kita."


Dua orang di depannya berhenti dan bersikap tenang. Aloysius mengangguk senang, karena dua pasukan pilihannya mudah diatur dan tinggal mengajari mereka bagaimana berjalan seperti manusia.


"Sebenarnya tidak ada yang mengajariku bagaimana berjalan. Namun, yang aku pelajari dari manusia akan aku ajarkan kepada kalian."


"Albert dan Heiko, apakah kalian mengerti?!"


"Siap, Pak!" Kata Albert dan Heiko dengan tegas.


"Lihatlah ke bawah. Bukan lagi ekor, namun kaki yang kalian gunakan untuk berjalan di daratan, dan bukannya di air."


Albert dan Heiko melihat ke bawah dan langsung melihat ke arah Aloysius lagi.


"Tinggal gerakkan salah satu kalian ke depan, nah seperti ini dan diikuti yang satunya. Lakukan gerakan ini berulang sampai kalian menginginkan untuk berhenti."


Albert dan Heiko mengangguk dan mereka mempraktekkan apa yang baru saja Aloysius ajarkan.


"Bukan seperti itu. Jangan gerakkan kedua kaki bersamaan." Albert menggerakkan kedua kakinya bersama dan membuatnya terjatuh ke depan. Sedangkan Heiko, dia mulai memahami dan sepertinya beberapa latihan lagi dia akan mampu berjalan seperti manusia.


Albert bangkit dan membersihkan tubuhnya dari pasir pantai. Kemudian, ia mencoba berjalan dengan instruksi yang Aloysius berikan dan akhirnya dia mampu mengendalikan kakinya.


***


"Mana ya alpukatnya?" Lula jongkok untuk membuka beberapa lemari kecil di bawah kakinya. Ia berada di dapur dan hampir setengah jam mencari alpukat dan tidak menemukannya.


Lula berdiri, membuka lemari kecil di atas kepalanya dan ia hanya menemukan beberapa sereal dan makanan ringan.


"Aku juga tidak menemukannya di kulkas. Apa habis, ya?" Ia merasa kesal tidak menemukan apa yang ia cari, namun bagaimana lagi?


"Sudahlah ini hampir malam sebaiknya aku berenang saja sekarang." Lula menutup lemari itu dan bergegas pergi ke kolam renang.


***


Matvei duduk termenung di kursi di balkon rumahnya. Ia hanya berdua di rumah, bersama Yejin yang berada di kamarnya. Kedua orangtuanya pergi dan baru kembali di malam hari. Laki-laki itu menjadi lebih sering di rumah dan tidak tinggal di rumah neneknya lagi. Namun, hanya beberapa kali ia tidur di rumah, karena harus bergadang mengurus bisnisnya dengan Bryan dan lebih sering ke luar.


Ia hanya memiliki satu hari bebasnya. Hari Jum'at dan ia tidak melakukan apa-apa. Hanya bermalas-malasan di rumah dan beristirahat setelah sepekan bekerja.


Drttt...


Ponselnya terus saja berdering. Masih sama dari tadi, panggilan dari Elliot dan ia sama sekali tidak mengangkatnya.


Kenapa kau baru kembali setelah aku melupakanmu?


Ia kacau. Setahun penuh berjuang melupakan perempuan yang telah mengambil hatinya dan ia kembali sekarang? Apa yang harus Matvei lakukan dan apa yang Elliot inginkan?


Seharusnya Matvei tidak perlu egois. Ia tahu kalau Elliot pasti memiliki alasan dan ini yang ingin Matvei dengar, namun dua tahun pergi tanpa kabar? Matvei sangat mentoleransi hal ini, namun tidak dengan hatinya. Ia memang mudah dekat dengan perempuan. Tapi untuk masalah percintaannya, baru kali ini ia merasakan sesuatu yang bahkan ia juga tidak mempercayainya.


drttt.. drttt..


"Apa yang kau inginkan?!" Katanya tanpa nada.


"Apa? Aku hanya mengingatkan satu hal. Jangan lupa besok untuk pergi ke rumahku terlebih dahulu."


Matvei membelalakkan matanya. Bukan suara perempuan yang ia dengar, melainkan laki-laki dan ia langsung melihat siapa yang menelponnya.


"Bagaimana bisa?" Lucas yang menelponnya dan bukannya Elliot. Sebenarnya ia kenapa? dari tadi Elliot menelponnya dan ia membiarkannya tanpa mengangkatnya.


"Hei kau kenapa?"


Matvei menggeleng dan memfokuskan pikirannya kembali.


"Tidak ada, dan kau jangan lupa untuk menyiapkan yang aku inginkan."


"Baiklah, Pak!" Lucas tertawa di panggilan dan Matvei mematikan panggilan mereka.


"Apa yang aku pikirkan?!" Laki-laki itu menyentuh keningnya dan meletakkan ponselnya di meja, lalu ia beranjak pergi masuk ke dalam rumah kemudian.


drttt... drttt...


[Panggilan Masuk]


ELLIOT.


***


Kolam renang yang rapi. Tidak terlalu besar, namun tidak terlalu kecil juga. Berhiaskan tanaman rumahan cantik dan beberapa atribut rumah tangga, seperti meja dan kursi pantai. Gantungan jemuran dan berisi penuh dengan handuk.


Masih rapi, karena beberapa hari tidak digunakan, dan rutin dibersihkan dari daun yang terjatuh dari pohon di atasnya. Kolam renang yang outdoor membuat suasana semakin sejuk dan segar karena berada di dekat hutan dan memiliki pemandangan alam yang indah.


Air kolam bergerak seperti ombak kecil karena seseorang tengah berenang di sana. Kolam yang cukup luas, dan untuk seorang perempuan kurus, ia mampu berenang bolak-balik dengan bebas.


Selalu merasa nyaman ketika berada di air.


Dengan memakai setelan baju renang pendek hitam, Lula berhenti di tepi untuk beristirahat sebentar dan meminum jus jeruknya, karena ia tidak menemukan alpukat kesukaannya.


"Sore ini terasa agak panas, jadi aku menambahkan es untuk jusku. Namun, sepertinya tidak berpengaruh dan aku masih saja kehausan."


Ia merasa sedikit aneh. Air kolam memang dingin, namun tenggorokannya terasa panas sampai ia hampir menghabiskan segelas besar es jeruk.


Lula menggelengkan kepalanya dan berhenti ketika mengingat sesuatu.


Setelah hampir dua tahun aku melupakan itu, kenapa sekarang..


Lula masih mengapung di air dan pikirannya kembali ke masa lalu.


Apa memang benar aku ... tidak yang Jereni katakan hanya fantasinya belaka. Aku bukan seorang-


srett...


Lula berbalik dan menyampar gelas di sampingnya dan terjatuh ke kolam namun sontak Lula mengangkat tangan kanannya dan gelas itu mengapung di udara, sebelum menyentuh air kolam. Lula membelalakkan matanya dengan apa yang sekarang terjadi dan ia sungguh tidak percaya itu sampai..


"Kau sedang apa?!" Yefy datang tiba-tiba dan mengejutkan Lula, membuat ia menurunkan tangan kanannya dan gelas jusnya terjatuh ke kolam, membuat isinya menyatu dengan air.


Lula langsung berbalik dan menatap adik laki-lakinya itu.