Luna Rusalka

Luna Rusalka
72



"Paksa tubuhmu untuk bergerak." Dokter menatap Lula dan Lula berusaha menggerakkan tubuhnya lagi.


Gadis itu masih tidak bisa dan menunjukkan sorot mata yang khawatir. Dokter berbicara dengan perawat membelakanginya dan Lula terus berusaha bergerak.


"Hehehehe..."


Seseorang tertawa. Ia mengenal suara itu. Suara yang selalu mengikutinya di manapun ia berada. Lula tahu itu.


Kepalanya mendadak sakit. Ingatan buruk satu persatu muncul di pikirannya dan membuatnya pusing.


Kejadian aneh. Semua kejadian itu menyerobot masuk ke dalam pikirannya dan membuatnya sedih.


"Penyesalan demi penyesalan.."


"Maafkan aku, Yejin."


"Aku tidak bisa datang.."


"Kau tidak mengerti! Kalau kau tidak melarangku berenang aku aku tidak akan pergi untuk menghampiri Yejin!"


"Jereni!!!!"


"Jereni bangun.."


"Yejin tolong!!!"


"Kalula.."


"Tidakk!!!"


Lula menutup matanya. Ia terlihat kesakitan. Gadis itu menahan rasa sakitnya, ia tidak bisa bergerak sekarang.


"Yejin... maafkan aku.."


"Ekor? apa ini??"


"Tidak!!!! aku bukan ikan*!!!!!"


"Dok bagaimana ini?"


"Kita tidak bisa melakukan apapun sekarang."


"Dok dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya."


"TIDAAAAAAK!!!!!" Lula berteriak dan terduduk seketika.


Semua orang terdiam. Mark membelalakkan matanya dan penasaran apa yang terjadi.


Kedua bola mata Lula melebar. Mulutnya menganga. Kepalanya masih sakit dan nafasnya tidak normal.


Ia bisa menggerakkan tubuhnya kembali, namun tiba-tiba ia terbaring di tempat tidur dan memejamkan matanya.


Dokter memeriksa Lula. Ia mengangguk dan menyuruh perawat untuk membereskan alat kedokterannya.


Dokter keluar ruangan dan Mark menghampiri pria itu.


"Apa yang terjadi?" Dia terlihat khawatir.


"Sempat terjadi sesuatu, namun ia baik-baik saja. Pasien tengah pingsan dan beberapa jam lagi ia akan sadar."


"Putri saya tidak kenapa-kenapa kan, dok?"


Dokter tersenyum dan menepuk pelan pundak Mark. "Dia baik-baik saja."


Mark menyentuh kepalanya dan bersyukur. Ia menatap ke langit-langit dan berjalan untuk kembali duduk di kursi tunggu.


***


"Kau beristirahatlah." Tuan Bogdan menepuk lengan Yejin. Dia telah sampai dan berada di sekolah sekarang.


Yeva menunggu Yejin di depan gerbang dan Yejin hanya tersenyum tipis.


"Sekolah meliburkanmu dua hari. Kau akan pergi ke Italy dua Minggu dari sekarang." Yejin mengangguk mengerti.


"Bagaimana dengan Lula?" Pertanyaan yang ingin ia lontarkan dari tadi. Bagaimana kalau Lula tidak diperbolehkan, apakah Yejin harus tetap pergi ke sana?


"Kami akan mencoba menghubungi keluarganya. Jika ia tidak bisa pergi, kau akan pergi dengan Erynav."


"Kalau dia tidak pergi, saya juga."


"Yejin. Kau harus pergi."


Yejin terdiam dan menatap pria di depannya dingin.


"Terimakasih." Yejin berbalik dan pergi untuk kembali ke rumah.


"Tidak akan ada yang mau hal ini terjadi." Tuan Ivan datang dan menepuk pundak Tuan Bogdan.


***


"Alex cepat kita harus segera sampai!" Sofia tak hentinya menangis dari tadi. Ia menyuruh adik iparnya itu untuk mengemudikan mobilnya dengan cepat.


"Kakak ini zona dilarang ngebut. Kita akan tertangkap jika melanggarnya."


"Alex tapi Lula membutuhkan aku."


"Kakak tenang. Kau jangan menangis. Lula baik-baik saja."


"Bagaimana baik-baik saja perasaanku sangat buruk tentangnya."


"Mama jangan menangis." Yefy menyentuh lengan Sofia menenangkan mamanya. Namun wanita itu marah dan menyuruh Yefy untuk duduk tenang.


"Kakak dia hanya mencoba menenangkanmu!"


Yefy sedih dan dia hampir menangis. "Yefy jangan menangis, ya? Mama sedang khawatir dengan kakakmu." Alex mencoba menenangkan Yefy dan bocah iti mengangguk mengerti.


"Cepat Alex!"


Sofia terdiam dan mengusap air matanya. Ia duduk tenang dan menatap keluar jendela.


Itulah mengapa aku tidak memperbolehkan Lula pergi tanpaku.


***


"Hai Lula."


Gadis berambut kemerahan itu menengok. "Jereni?"


Gadis yang berdiri di belakangnya tersenyum dan duduk di samping Lula.


"Sedang apa kau di sini?" Lula bertanya. Ia penasaran apa yang dilakukan sahabatnya di tempatnya kini.


"Namaku Yondaya." Gadis yang dipanggil Jereni itu menyentuh tangan Lula.


"Yondaya siapa?" Lula tak mengerti sama sekali. Jelas gadis di sampingnya itu Jereni.


"Aku Yondaya, Lula." Lula menggeleng keras. "Kau bercanda, Jereni?"


"Yondaya!" Seseorang berlari dari arah depan dan menghampiri mereka berdua.


Lula melihat itu dan bingung. Wajah lelaki itu blur dan ia tidak bisa melihatnya.


"Kakak.." Jereni berdiri dan menghampiri Lelaki itu.


"Jereni siapa dia?" Lula beranjak dari duduknya dan meminta penjelasan dari Jereni.


"Kita lakukan sekarang." Lelaki itu menatap Jereni dan Jereni mengangguk.


"Jereni siapa dia dan apa yang akan kalian lakukan?"


"hahahahaha!" Jereni tertawa. Dia menunjukkan wajah smirk nya dan itu terlihat sangat jahat.


"Aku tidak akan lupa apa yang telah ibumu lakukan terhadap ibu kami." Jereni berjalan mendekat.


"Apa yang telah ibuku lakukan?" Lula masih tidak mengerti.


Jereni mengeluarkan pisau dari balik pakaiannya dan bersiap untuk menusuk perut Lula menggunakan itu.


"Jereni apa yang akan kau lakukan?!"


"Kalian merenggut hidup kami." Lelaki itu berjalan di samping Jereni dan membawa pisau sama persis seperti milik Jereni.


"Aku akan melakukannya kepadamu, sama seperti mereka melukai ibu kami!" Jereni mempercepat larinya dan Lula berjalan mundur.


"Jangan khawatir. Ini akan sangat sakit dan menyiksa."


"Tolong jangan! Aku tidak mengerti."


Lula berlari. Jereni dan lelaki itu hanya berjalan dan mereka masih tertawa.


Pasir di sekitar Lula naik. Jereni yang melakukan itu. Mengendalikan elemen. Gadis itu menurunkan tangannya dan semua pasir menghantam Lula.


Lula terjatuh dan terbatuk kemudian. Gadis itu penuh dengan pasir. Jereni berdiri di atas Lula.


"Jereni apa yang akan kau lakukan?" Lula menyeret tubuhnya ke belakang. Ia tidak tahu kenapa tapi kakinya tidak bisa digerakkan.


"Percayalah padaku, Lula. Jika kau mati di tanganku, akan aku buat itu tidak menyakitkan dan cepat. hahahahaha!" Jereni berbisik dan tertawa setelahnya.


Lula menggelengkan kepalanya. Ia terlihat ketakutan dan berteriak meminta tolong.


"Tidak akan ada yang mendengarnya, Lula." Jereni tersenyum dan memainkan pisau tajamnya di leher Lula.


"Aku janji ini akan berlangsung cepat." Lula menggelengkan kepalanya.


Jereni masih memainkan pisaunya dan kini berhenti di perut Lula.


"Kau terlalu beruntung untuk hidup sampai sekarang." Jereni membedah baju Lula menggunakan pisau itu.


"Jereni jangan!!" Lula menahan pisau itu. Ia tidak mau pakaiannya dibedah oleh Jereni.


Jereni tertawa. Dia bersiap untuk menghujamkan pisaunya ke perut Lula, sebelum seseorang menghentikannya.


"Tunggu, adik."


Jereni terdiam dan bertanya kenapa.


"Tidak menyenangkan membunuhnya begitu saja. Aku akan bermain dengannya terlebih dahulu." Lelaki itu tertawa dan Jereni memutar bola matanya.


"Milikmu." Jereni pergi dari tempat itu dan membiarkan kakaknya melakukan yang dia inginkan terlebih dahulu.


Lula membelalakkan matanya dan berusaha pergi dari tempat itu namun ia tidak bisa menggerakkan kakinya.


Laki-laki itu mendekat dan berlutut. Menatap Lula dan tersenyum.


"Aku tidak akan menyia-nyiakan perempuan sesempurna dirimu. Setidaknya mencoba sedikit sebelum kubunuh."


Laki-laki itu mencoba melepas pakaian Lula. Lula mendorongnya dan ia terjerembab ke belakang.


Lula menyeret tubuhnya ke belakang dan Laki-laki itu bangkit, berjalan mendekati gadis itu dan menunduk.


Dia mencekik leher Lula dan mendekatkan wajahnya ke wajah Lula. "Aku tidak akan melepaskanmu!"


Lula terlihat kesakitan. Gadis itu kesusahan untuk bernafas dan memohon untuk laki-laki di depannya melepaskannya.


"Lepaskan!"


"Lepaskan!"


Laki-laki itu melepaskan tangannya dan membuatnya Lula jatuh tersungkur.


Gadis itu hanya bisa berteriak dan mencoba bertahan diri ketika laki-laki biadab itu mencoba membuka pakaiannya lagi.


"Tidaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkk!"