
Lula berhenti di depan pagar yang rusak dan turun dari sepeda. Ia masuk dan berjalan dengan tenang. Yang penting sudah berada di sini, dan dia harus segera masuk ke sekolah.
"Semoga Bu guru belum menyadari aku tidak ada." Dia menaiki sepedanya dan masuk ke dalam sekolah. Keadaan masih sepi, berarti belum jam makan siang dan ia melihat jam di menara besar sekolahnya.
...Pukul 09.30...
"Ah itu berarti sudah jam pelajaran selanjutnya." Lula cukup gelisah dan secepatnya untuk pergi ke parkiran dan memarkirkan sepedanya, lalu berlari ke kelas secepat mungkin.
***
Seorang wanita paruh baya berdiri di depan jendela di dalam ruangannya, memegang ponselnya sambil mengetikkan nomor seseorang dari daftar nomor telepon di buku hariannya.
Ia mengklik tombol hijau dan memanggil seseorang.
tuutttt...
Telepon masih menghubungkannya dengan nomor itu. Ia menunggu dengan sabar, sambil melihat luar jendela.
Telepon diangkat dan dia tersenyum senang.
"Ah iya, selamat siang. Nyonya Sofia, ini dengan saya Emily, wali kelas Lula Beatriks."
"Maaf mengganggu waktunya, saya hanya ingin mencari tahu mengapa Nona Beatriks tidak datang pagi ini di kelas saya."
"Ya. Apakah ia memiliki acara mendadak, dan anda belum sempat mengabari sekolah?"
"Ah anda benar, mungkin sekarang dia sudah berada di sekolah. Terimakasih penjelasannya.."
Telepon tertutup dan Emily merasa heran.
"Jelas sekali Lula tidak datang di kelas, bagaimana bisa dia berkata aku yang salah lihat?" Ia meletakkan bukunya di meja dan berjalan menuju pintu.
"Apakah dia membolos? Saya akan melihat lagi di kelasnya."
***
Lula berjalan menuju kelas, dan tidak ada jalan lain selain melewati lorong, dan itu berarti melewati ruangan kepala sekolah juga.
Lula menepuk jidatnya.
"Jam sudah berganti, pasti Bu Emily berada di ruangannya." Ia terlihat sedikit ketakutan, namun ia tetap berjalan dan terus mengawasi situasi.
Lula berjalan sedikit lambat ketika melewati ruangan Bu Emily dan sambil melihat apakah ia berada di ruangannya atau tidak.
"Tidak ada?" Ia menarik nafas lega dan tersenyum. Ruangannya kosong dan tidak ada seorang pun di sini.
Lula mempercepat jalannya dan berhenti seketika mendengar namanya dipanggil.
"Lula Beatriks."
***
"Lula tidak ada di sekolah?" Sofia masih memikirkan hal itu dari tadi. Sejak Bu Emily menelpon dan ia merasa aneh.
"Apa dia membolos? Apa karena perlakuanku?"
Wanita itu menyalahkan diri sendiri dari tadi, dan sangat khawatir dengan keadaan Lula.
"Apa aku harus ke sekolah? Memastikan apakah Lula memang tidak ada?" Ia beranjak dari sofa dan hendak mengambil barangnya, ketika telepon rumahnya berdering.
Ia berjalan ke telepon dan mengangkatnya.
"Halo, selamat siang.."
"Baiklah, saya akan ke sana sekarang."
***
Atmosfer di sini sangat mencekam. Ruangan putih dan beberapa benda di sini. Seperti sedang terjadi penginterogasian.
Lula menundukkan kepalanya dan tidak tahu apa yang harus ia jelaskan. Alasannya sungguh tidak penting dan ia pasti akan dihukum.
Bu Emily memergokinya ketika Lula tengah melewati ruangannya. Ia menyuruh Lula masuk ke ruangan Bu Emily dan menjelaskan mengapa ia tidak mengikuti pelajarannya pagi ini.
"Apa yang akan kau jelaskan kepada saya?" Bu Emily masih melontarkan perkataan yang sama.
Lula bertekad akan menjawab itu ketika mamanya tiba di sini. Bu Emily menelpon Sofia untuk datang, dan sekarang dalam perjalanan kemari.
Suara ketukan pintu terdengar nyaring, membuat Lula sedikit terkejut dan melihat ke arah pintu .
"Ah Nyonya Sofia, masuklah!" Sofia membuka pintu dan masuk. Dia tersenyum kepada Bu Emily dan senyumannya memudar ketika melihat Lula terduduk di kursi.
"Silahkan, Nyonya Sofia.." Bu Emily mempersilahkan Sofia untuk duduk, dan ia duduk di samping Lula.
"Lula, bisa jelaskan apa yang terjadi kepada saya dan mama kamu?"
Lula mengangkat wajahnya dan mulai membuka suara.
"Saya.."
"Hanya pergi ke rumah Yejin untuk mengambil buku catatan sejarah. Ia meminjamnya waktu itu dan aku lupa untuk mengambilnya." Lula terpaksa berbohong dan mamanya tahu, kalau Lula sedang berbohong. Ia tidak menatap mata Bu Emily ketika berkata itu. Gadis itu memang tidak pandai berbohong.
"Apa kau berkata yang sebenarnya?"
Lula mengangguk.
"Maafkan Lula, Bu Emily. Saya berjanji ia tidak akan melakukannya lagi."
"Iya, nyonya Sofia." Bu Emily tersenyum dan menatap Lula lagi. "Saya tidak akan menghukummu. Tapi jika kau melakukannya lagi, kau akan mendapatkan konsekuensinya." Lula mengangguk.
"Baiklah, maaf membuat Anda kemari, terimakasih waktunya."
"Iya, sama-sama." Sofia bersiap untuk pergi dan Lula sudah lebih dulu beranjak dengan cepat, kemudian keluar dari ruangan kepala sekolah.
Sofia menarik nafas dan beranjak pergi. Ia keluar ruangan dan melihat Lula berlari menuju kelasnya.
"Dia masih tidak mau berbicara denganku."
"Maaf, nyonya Sofia.."
"Iya?" Sofia berbalik dan menatap Bu Emily yang berdiri di depan ruangannya.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Semuanya baik-baik saja. Bu Emily, saya harus pergi sekarang,"
"Baiklah, sekali lagi terima kasih, hati-hati di jalan."
"Sampai jumpa."
***
Lula berlari dan langsung masuk ke kelas. Belum ada guru dan semua anak terdiam ketika Lula datang, namun kembali dengan aktivitas mereka masing-masing setelahnya.
Jereni menegakkan tubuhnya ketika melihat Lula dan menatapnya dari tempat duduk.
Lula berjalan cepat dan duduk di bangkunya. Nafasnya kasar dan ia merasa lelah sekali.
***
"Ah iya, aku harus bertemu kak Matvei sepulang sekolah." Jereni berdiri di samping gerbang sekolah dan tengah menunggu mamanya.
"Hampir seperempat jam aku menunggu. Dimana mama?"
Jereni masih berdiri dan ia merasa cukup lelah. Tak lama ia melihat mobil sedan putih mendekat dan itu pasti mamanya.
"Kenapa mama lama sekali?"
Jendela mobil terbuka dan bukan mamanya yang berada di dalam, namun seorang laki-laki memakai kacamata hitam.
Jereni memutar bola matanya. "Kau di sini."
Laki-laki itu membuka kacamatanya dan tersenyum.
Jereni berjalan memutar dan masuk ke dalam mobil.
"Kemana mama?"
"Dia sibuk sekali hari ini dan menyuruhku untuk menjemputmu." Laki-laki itu terlihat sedikit nyengir dan masa bodoh kemudian.
Jereni terlintas satu ide dan ia tersenyum.
"Jalan saja."
***
Matvei duduk di taman dan ia tengah menunggu Jereni.
"Apa dia lupa?"
"Seharusnya aku menghubunginya kemarin."
"Ahhh.. Ponselku masih belum ketemu." Ia mengacak rambutnya frustasi.
Dari kemarin, ia kehilangan ponsel dan nomor Jereni berada di ponselnya itu.
Ia tidak bisa menghubungi Jereni, dan hanya bisa berharap sekarang Jereni akan datang.
"Kak Matvei." Jereni datang dan berdiri di depan Matvei.
Laki-laki itu melihat Jereni dari kaki sampai kepala dan ia tersenyum. Jereni masih pakai seragam sekolah, dan terlihat cantik dengan rambut kemerahan yang tergerai.