Luna Rusalka

Luna Rusalka
92



"Tapi ini sudah menjadi keputusanku."


"Setidaknya lakukan ini demi aku. Kau pergi, ikuti conference, dan beritahu aku apa yang kau dapat jika sudah kembali." Lula menemukan Yejin di koridor dan mereka masih membincangkan persoalan itu.


"Lula.."


"Yejin, aku sangat ingin pergi, tapi mama dan papa tidak memperbolehkannya. Jika kau tidak pergi, lantas siapa yang akan memberitahu aku apa yang terjadi di sana? Itu sama saja aku tidak mendapatkan apa-apa. Setidaknya jika kau ikut, kau akan memberitahu aku dan aku akan tahu."


Yejin terdiam dan berpikir. Dia memang egois. Hanya dengan mendengar kalau Lula tidak pergi, laki-laki itu menjadi lemah dan tidak pergi juga. Kemana Yejin yang tidak pantang apapun?


Tidak berpikir lama akhirnya Yejin mengangguk. "Baiklah aku akan pergi." Lula tersenyum dan bernafas lega.


***


Selasa, 8 Maret


"Apa kita akan membuat pesta untuk Lula?" Mark duduk di meja makan dan menatap Istrinya.


"Jangan keras-keras, nanti Lula dengar." Sofia memberikan roti lapis untuk Mark dan membuatkan untuk Lula dan Yefy yang belum keluar dari kamarnya.


"Yefy kau terlalu lama berganti baju!"


"Iya sebentar!!!" Teriak Yefy dari kamar dan terdengar suara langkah kaki dari atas.


"Lula tidak suka pesta yang besar. Jadi aku hanya akan mengundang saudara dan sahabat dekatnya saja."


"Itu bagus." Mark melahap roti lapisnya. "Ini rasa kacang. Kau menambahkan selain kacang?" Mark mencium roti lapisnya dan berhenti makan.


"Ah maaf aku salah memberimu roti lapis." Mark mengangguk dan meletakkan roti lapis itu di piring.


***


"Bagaimana?" Lula menunggu Yejin di depan pintu. Laki-laki itu baru saja keluar dari ruangan pak Bogdan, untuk mencari tahu berkas apa saja yang dibutuhkan untuk membuat paspor.


"Cukup mudah, dan aku bisa menyerahkannya besok."


"Baiklah. Ayo kita kembali." Lula mengangguk dan mengajak Yejin untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Sekolah sudah usai dan tidak seharusnya mereka berada di sekolah seharian.


"Kemana Jereni?" Yejin bertanya, karena tadi mereka bertiga dan sekarang hanya berdua.


"Dia terburu-buru tadi, dan sudah pergi terlebih dahulu."


Yejin hanya mengangkat alisnya dan berjalan bersama Lula, keluar dari sekolah.


***


Aku masih penasaran dengan pengendali elemen dan bahkan aku tidak menemukannya di perpustakaan sekolah maupun kota.


Sepertinya internet yang tersisa sekarang, dan aku harus mencarinya di sana.


Aku di rumah sendirian dan kau tahu aku bisa melakukan apapun tanpa larangan. Terkadang mama membatasi aku menggunakan internet jika tengah sendirian. Dia takut kalau aku melakukan sesuatu yang tidak baik atau apa.


Sebenarnya hanya saja dia sedikit tidak percaya padaku, dan itulah sebabnya ia melarang ku ini itu. Tapi sudahlah.


Pengendali Elemen. Aku menemukan banyak artikel di internet. Benar sekali, kenapa aku susah-susah mencari itu di perpustakaan, yang bahkan aku bisa menemukannya di internet dengan mudah?


Masih sama, yang muncul kebanyakan Avatar. Mungkin aku mengubah pencariannya menjadi "Pengendali Elemen di Dunia Nyata."


Mengapa semua ini tentang Avatar? Semuanya yang tidak masuk akal, dan tidak didasarkan pada teori ataupun legenda dan mitologi apapun.


Sepertinya ini tidak berguna, atau aku harus mencari tahu tentang yang Yejin bicarakan? Rusalka. Sebaiknya begitu, aku cari yang lebih spesifik saja.


Dalam mitologi Slavia, rusalka adalah makhluk perempuan yang hidup di air. Menurut sebagian besar tradisi, rusalka merupakan perempuan ikan, yang tinggal di dasar sungai. Rusalka berasal dari para perempuan yang meninggal di sungai.


Tidak jauh berbeda dari yang Yejin katakan dan yang aku tahu. Tapi sejauh membaca artikel satu dengan lainnya, aku bahkan tidak menemukan tentang pengendali elemen di sini. Atau mungkin itu sangat sedikit, dan tidak dibahas di sini.


The titular Rusalka is based on the entity of the same name from Slavic Mythology, but unlike many modern depictions, the Rusalka is not a mermaid – it has legs.


Tidak punya ekor? Yejin juga bilang mermaid dan Rusalka sangat berbeda.


Appearing entirely female, the Rusalka was originally a term used by Slavic pagans for fertility wights (a term for a spirit, ghost, or other supernatural being) that passed water to their crops and fields to nourish them.


Mereka hantu dan biasanya menghuni danau atau sungai di dalam hutan. Kurasa Rusalka hanya hantu dan mitologinya sudah tidak dibahas lagi, sudah terlupakan.


Tapi dari mana kekuatan ini berasal? Jika bukan Rusalka, makhluk apa diriku? Hanya manusia atau yang lainnya?


"Apa yang sedang kau lakukan?"


Hampir saja terkena serangan jantung. Mama mengejutkan aku. Dia berjalan mendekat dan melihat layar komputer.


Aku lupa ini ruangan kerja papa dan pasti mama akan memarahiku. Tanpa izin dan seenaknya membuka komputer papa.


"Rusalka?" Dia membacanya. Aku harus tenang.


"Tanya neneknya Yejin saja, jika kau ingin belajar tentang mitologi." Neneknya Yejin?


"Benarkah?"


Mama mengangguk. Dia berjalan keluar ruangan papa dan aku tidak menduga dia tidak marah.


Aku mematikan komputer dan beranjak pergi mengikuti mama. Aku harus mendapat penjelasan bagaimana neneknya Yejin bisa tahu tentang mitologi. Apa termasuk Rusalka juga?


"Mama yakin?" Aku mengikuti mama sampai dapur, dan ia meletakkan belanjaannya dan berbalik menatapku.


"Sudah kubilang. Nyonya Evalina ahli mitologi, dan kurasa ia tahu banyak tentang Rusalka."


"Tidak terlalu tua untuk dia mencarinya lagi?"


"Mencari apa, Lula?"


"Semuanya tentang Rusalka."


"Temui saja dia, Lula. Dia akan memberitahumu jika dia tahu. Itu sudah pasti. Nyonya Evalina terbuka dan sangat baik."


Sepertinya aku harus mencobanya.


***


Rabu, 9 Maret


"Hai Lula." Aku masuk ke dalam kelas dan Jereni menyapaku. Yang kucari Yejin, sebenarnya.


"Apa Yejin sudah berangkat?" Jereni terlihat berpikir dan mengangguk kemudian.


"Ya. Baru saja dia keluar." Kurasa aku tahu dimana Yejin.


"Aku pergi sebentar, akan kutemui kau nanti." Jereni mengangguk mengerti dan aku berlalu keluar. Wajahnya sangat bingung dan kurasa dia ingin tahu apa yang terjadi.


Yejin pasti pergi mengumpulkan berkas untuk membuat paspor di ruangan Pak Bogdan. Aku ke sana saja. Karena mulai sekarang aku tidak boleh menunda-nunda apapun itu.


Kebetulan sekali Yejin baru saja keluar dari sana, dan berjalan menuju arahku.


"Lula?" Dia berhenti dan aku menghampirinya.


"Yejin bisakah kita berbicara sebentar?"


Yejin mengangguk. "Sambil jalan." Kami berjalan kembali ke kelas dan aku harus berbicara sekarang.


"Kau kemana siang ini?"


Yejin menatapku. "Tidak ada."


"Yejin bisakah aku menemui nenekmu siang ini?" Laki-laki itu mendadak berhenti dan kuyakin dia terkejut.


"Kau mau apa?"


"Mamaku bilang Nyonya Evalina ahli mitologi. Kupikir dia dapat membantuku."


"Membantu apa?"


Tetttt teettt


Kudengar bel masuk berbunyi dan kami masih berada di luar kelas.


"Nanti ku jelaskan. Lebih baik kita kembali ke kelas."