
"Kau sedang apa?!" Yefy datang tiba-tiba dan mengejutkan Lula, membuat ia menurunkan tangan kanannya dan gelas jusnya terjatuh ke kolam, membuat isinya menyatu dengan air.
Lula langsung berbalik dan menatap adik laki-lakinya itu.
"Aku tidak mau bertanggung jawab." Kata Yefy lalu pergi berlalu. Detak jantung Lula sangat cepat dan ia masih dengan posisi awal dengan tubuh yang agak kaku dan berharap Yefy tidak melihat apa yang dilakukan Lula tadi.
***
"Bagaimana aku menjelaskan semuanya jika dia sendiri tidak mau mendengarkan aku?" Perempuan bersurau kemerahan itu berdiri di balkon rumahnya.
"Kenapa tidak ada yang memahamiku? Semua sangat egois dengan dirinya sendiri. Sampai aku tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan yang aku inginkan dan kejadian yang sebenarnya terjadi. Tidak ayah tidak Matvei semuanya sama." Elliot terlihat sangat kesal dan ia masuk ke dalam rumah dengan wajah tidak sukanya.
***
"Dia tidak berhenti meneleponku. Apa yang dia inginkan sebenarnya?" Matvei mengambil ponselnya dan melihat lebih dari 10 panggilan tak terjawab dari Elliot.
Laki-laki itu menekan nomor Elliot untuk menelpon balik dan bertanya apa yang perempuan itu inginkan.
Hanya beberapa detik saja, panggilannya langsung terjawab.
"Apa yang kau inginkan?"
"Baiklah."
Matvei menutup teleponnya dan meletakkannya di saku celana kemudian pergi tanpa suara."
***
"Aku harus menyelesaikan tugas rumahku. Selamat malam. Mama terimakasih makanannya sangat enak seperti biasa." Lula tersenyum dan berdiri kemudian berlalu pergi dari meja makan ketika Sofia mengangguk.
Yefy menaikkan kedua alisnya dan menggeleng. Ia membuang nafas seperti biasanya dan melanjutkan makan malamnya.
"Apa dia berada dalam masalah?" Mark meletakkan sendok dan grapunya lalu menatap Sofia di samping kanannya.
"Oh ayolah. Semua orang memiliki masalah dan Lula bukan gadis kecil lagi. Dia juga me-"
"Kakak putus dengan Caleb." Yefy memotong perkataan mamanya membuat kedua orang tuanya berhenti dan menatap putra bungsunya itu
"Kalian tahu dia tidak pernah mencintai pria buaya darat itu."
Mark dan Sofia saling bertatapan dan mereka sungguh terkejut Yefy berkata seperti itu.
"Apa?"
Sofia menelan ludahnya dan bersiap untuk berbicara.
"Dari mana kau tahu?"
"Aku tak sengaja melihat mereka berbicara di depan rumah tadi dan aku bersembunyi. Kalian jangan bilang kakak dia akan marah kalau aku mengadukan hal ini kepada kalian." Kata Yefy sedikit berbisik membuat kedua orang tuanya menahan tawa.
"Sudah aku dan kakak Yejin bilang kalau Caleb pria tak baik tapi kakak tetap saja menerima cintanya dan kalian juga menyetujuinya." Yefy meletakkan sendoknya dan mengambil tissue untuk mengelap mulutnya.
Mark mengangkat kedua alisnya dan sedikit tersenyum. "Dia putra dari rekan bisnis papa dan Tuan Colvin adalah pria yang sangat baik dan bijaksana. Kupikir Caleb sepertinya juga, jadi kenapa tidak?"
"Jadi gadis itu Blyhte? Lula pernah menunjukkan foto seorang gadis cantik dan dia bersamamu."
Wajah Yefy memerah dan ia berdiri, berterima kasih untuk makanannya, dan pamit untuk kembali ke kamar.
Mark hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat istrinya tertawa bahagia. "Putra-putri kita sudah besar." Mark menyentuh tangan istrinya dan Sofia tersenyum melihat itu.
"Bahkan masing-masing dari mereka sudah memiliki kekasih." Sofia memegang tangan Mark dan mereka berdua saling berpelukan kemudian.
***
Sebenarnya berada di luar pada malam hari tidak baik, apalagi tanpa pakaian hangat. Bukan karena sesuatu mencoba menyakiti kita, namun karena angin malam sangat dingin dan tidak baik untuk kesehatan tubuh kita. Tidak sedikit orang yang alergi dengan dingin, dan beberapa di antaranya akan gatal-gatal atau terkena flu di musim dingin.
Lula tengah duduk memeluk lutut di jendela yang terbuka dengan hanya memakai kaos berlengan pendek dan celana pendek yang tidak menutupi lututnya itu. Gadis itu memejamkan matanya dan seakan menikmati angin malam yang lebih dingin dari cuaca dingin.
Awan hitam menyelimuti langit, dan ketika awan itu bergerak menjauh, bulan purnama yang indah terlihat. Sangat besar, dan mampu menghipnotis apapun yang terpengaruh dengannya dan memiliki suatu hubungan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata dan hanya seorang dengan hati yang sangat bersih mampu memahaminya.
Lula membuka kedua matanya dan menghirup angin dingin yang seakan oksigen hangat dan ia sangat menikmatinya. Pandangannya lurus ke atas, melihat tepat ke bulan dan kenangan dua tahun lalu yang sudah ia lupakan, kembali menghantui perempuan itu. Pertanyaan di pikirannya masih sama. Apakah dia masih bisa melakukan itu? Atau memang apa yang terjadi dahulu hanya imajinasinya dan ketika ia menginginkan untuk melupakan semuanya, hal itu tidak terjadi lagi. Seperti yang ia lakukan akhir-akhir ini.
Tapi, kenapa sekarang kekuatan itu muncul lagi? Bahkan di saat dia tidak menginginkan untuk mengingat hal itu, dan pikirannya tidak terikat lagi. Seakan-akan, sesuatu mencoba mengingatkannya dan memberitahu bahwa semua ini belum berakhir.
"Apa yang kau rencanakan, Tuhan?" Lula menurunkan pandangannya dan menatap pepohonan di bawahnya. Semuanya masih sama. Ia masih tinggal di perumahan di Tagansky District dan kamarnya masih berada di lantai dua. Sebenarnya dia takut kalau-kalau ada seseorang yang menguntit dan ia terancam bahaya di malam hari, sedangkan ia tertidur pulas dan tidak tahu.
"Bagaimana jika yang Jereni katakan adalah kebenaran? Aku bukan akan kandungan dan mama dan papa, melainkan putri tunggal dari Kalula seorang rusalka dan penguasa lautan?"
Lula tertawa ringan tidak percaya. "Tapi itu terlalu Disney bagiku. Kalau benar iya, bahkan ceritaku lebih menarik untuk dibuat film dan kuyakin akan laku keras di pasaran." Lula berhenti tertawa dan menatap lurus ke depan. Angin malam mengibaskan rambutnya dan ia memejamkan matanya sebentar, lalu membukanya kemudian.
"Sudah saatnya aku mencari tahu."
***
"Jangan terlalu mencolok. Jika kalian berjalan seperti maling, mereka akan curiga." Aloysius memperingati kedua anak buahnya dan mereka hanya menggaruk kepalanya.
"Maaf, Pak. Sangat sulit memakai kaki ini. Apakah tidak ada cara lain selain berjalan di dataran?" Albert maju beberapa langkah dan menghadap Aloysius.
"Kalian tahu Putri berada di darat, dan hanya ini cara kita untuk mencarinya." Aloysius duduk di dermaga dan dari tadi mereka berdua belum pergi dari tempat mereka muncul tadi.
"Tapi, bagaimana caranya?"
"Kita harus mencari seorang gadis muda dengan kalung kerangnya. Swarovski Crystal, apakah kalian pernah melihat kristal indah itu?"
Dua pria di depannya mengangguk. "Seharusnya cahayanya mudah dikenali oleh bangsa kita. Namun..." Aloysius berhenti.
"Karena Ratu telah memantrainya, ini menjadi sangat sulit untuk mengenalinya. Kita butuh untuk menghancurkannya. Ketika Swarovski Crystal sudah hancur, mantra yang berada di dalamnya, belum sepenuhnya musnah. Kita perlu mengguyurnya dengan air laut yang berasal dari danau di dasar laut. Oleh karena itu, Ratu meminta kita untuk pergi ke dasar laut untuk mengambil itu. Aku lupa kita belum mengambilnya." Aloysius menepuk dahinya dan kedua prajurit di depannya terkejut.
"Danau itu tidak jauh dari perbatasan sebenarnya, dan tidak akan ada monster laut di sana. Jadi kalian tenang saja."
"Apa karena itu kita masih berada di sini dari tadi?" Heiko menunggu untuk Aloysius menjelaskan alasan mereka masih berada di sini dan belum mencari Putri.
"Aku merasa ada yang kurang jadi aku memikirkan itu dari tadi. Tapi aku sudah mengingatnya dan sebaiknya kita kembali ke laut untuk mengambil yang harus kita ambil."