
"Bagaimana keadaannya, dok?" Mark berdiri di depan ruangan bersama dokter yang baru saja memeriksa Lula.
"Keadaannya semakin membaik. Besok dia bisa kembali ke rumah." Dokter tersenyum dan menepuk pundak Mark merasa bahagia. Entah apa yang terjadi, tapi Lula membaik. Pikirannya membaik dan tidak ada yang tahu apa penyebabnya.
"Terimakasih, dok." Dokter pergi dan Mark tersenyum dari luar. Jereni masih berada di dalam bersama dengan Yejin. Mereka bertiga masih bersama-sama dan berniat untuk menginap di rumah sakit malam ini.
Mark masuk dan Lula menatapnya penasaran. Apa yang dibawa papa kali ini?
"Kau semakin membaik." Mark mengelus kepala Lula dan gadis itu tersenyum. "Besok aku sudah boleh kembali, kan?" Ia bertanya dengan antusias. Berharap mendapatkan jawaban sesuai dengan ekspektasi, Lula menunggu jawaban dari Mark dengan tenang.
"Ya."
"Benarkah?" Jereni bertanya dan Mark mengangguk.
"Oh YEAHYYY!" Teriak Lula dan Jereni merasa senang. Sikap mereka seperti anak kecil, tapi kau tahu siapapun akan melakukan itu jika dalam posisi mereka. Intinya bukan boleh atau belum kembali ke rumah, tapi bagaimana Lula mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya dengan alasan yang hanya gadis itu tahu.
Yejin tersenyum sangat tipis dari sisi lain ruangan. Dia duduk di sofa dan menyamarkan wajah merahnya dengan memalingkan wajah menatap pintu, tapi Lula tahu itu. "Tidak ada hal yang paling membahagiakan selain melihat Yejin tersenyum."
***
Elula. Lebih senang dipanggil itu, tapi kau tahu itu hanya untuk membedakan Elula dengan Lula Beatrice. Nama mereka terlihat sama, dan mungkin kau butuh waktu untuk mencernanya. Yang mana Lula dan yang mana Elula.
Kemarin Kalula membawa Elula ke suatu tempat. Tempat itu terpencil dan berbentuk seperti gedung yang sudah lama tidak berpenghuni. Terletak di dalam hutan dan hanya ada gedung itu, bahkan temboknya sudah retak dan tanaman liar menjalar di setiap sisi gedung.
Elula masih belum sadar, dan Kalula membiarkan itu terjadi. Ia harus mempersiapkan banyak hal. Serius? Hanya demi gadis itu? Ya. Kalula akan melakukan apapun yang akan mengantarkan ia pada putrinya, dan Kalula mencurigai gadis itu. Walau Elula telah mengatakan siapa dirinya, tapi Kalula masih tidak percaya. Ia yakin ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan.
"Persiapannya sudah siap?" Kalula membuka kedua matanya dan menatap Voodoohag.
"Sudah. Tapi apa semua ini diperlukan, Ratu?" Voodoohag bertanya-tanya. Kalula mempersiapkan semuanya dengan teliti. Semuanya haus sempurna dan ia akan segera tahu apa yang terjadi.
"Membuat ilusi tidak semudah yang kau bayangkan. Perlu beberapa hal dan harus disiapkan dengan sempurna." Kalula berdiri. Ia berjalan dan memeriksa semuanya. Membuat ilusi adalah satu hal yang jarang ia lakukan. Persiapannya sangat detail. Dimulai dari mempersiapkan tempat menjadi gelap, kosong, dan bernuansa hitam. Tujuh belas jenis bunga harus disiapkan, dan harus ditabur di bawah pijakan. Seratus satu lilin dinyalakan dengan api biru, dan tidak ada lilin yang mati sebelum ilusi selesai.
"Bawa dia kemari." Voodoohag berjalan mendekati Elula dan melepas tali yang mengikat Elula di kursi. Gadis itu dibawanya dan diletakkannya di atas tujuh belas bunga itu. Terakhir Kalula melakukan itu beberapa tahun lalu, dan bahkan dia melakukannya di alam goa yang ada di dekat pantai. Tidak ada yang tau pasti kenapa dia melakukan itu, karena ketika itu ia masih dalam keadaan membangun istana monsternya.
Voodoohag tidak mengerti, karena dia belum pernah melihat Kalula melakukan itu. Dia merasa tegang dan sedikit takut, apa yang akan dilakukan oleh ratunya.
"Jangan ada suara. Voodoohag? tinggalkan aku sendirian bersamanya." Kalula bersiap dan duduk di kursi dekat dengan Elula.
"Baik, ratu.." Voodoohag keluar ruangan dan menutup pintu.
Kalula menatap Elula dan tersenyum. Bukan senyuman bahagia, melainkan senyuman yang selalu ia guratkan di wajah misteriusnya. Ia menutup mata, lalu membacakan sesuatu tanpa bersuara. Mulutnya terus bergerak, dan tubuh Elula tersentak. Seperti ketika dokter memberikan pasiennya alat kejut jantung, dia terus saja tersentak.
Kalula terdiam, membuka mata dan berdiri. Elula berhenti bergerak, perlahan tubuhnya terangkat dan posisinya terduduk. Elula mencoba untuk berdiri dengan mata yang masih tertutup. Ia tidak sadarkan diri, namun ilusi Kalula yang mengendalikannya.
Kalula berjalan mendekati Elula. Mereka berhadapan, dan dengan cermat Kalula menatap wajah gadis itu.
"Siapa namamu?" Kalula mulai melayangkan pertanyaan pertama.
"Elula Yelena."
Kalula mengernyitkan dahinya. "Lula?" Namanya mirip dengan nama putrinya.
"Kau siapa?"
"Elula Yelena." Jawaban masih sama. Kalula merasa aneh. Dia terus melayangkan pertanyaan yang bahkan ia tak akan pernah mendapatkan jawaban dari gadis ini.
"Siapa Kerinee?" Tidak ada jawaban. Elula terdiam. Kalula bertanya sekali lagi. Kalula menyentuh kedua tangan Elula, dan menutup matanya. "Siapa Kerinee". Selama itu berhubungan dengan Elula, maka Elula pasti akan menjawabnya, walau ia hilang ingatan atau bereinkarnasi sekalipun.
"Tidak tau." Jawab Elula mantap. Untuk sesaat, ia menduga kalau gadis di depannya adalah putrinya, tapi ketika ia menyentuh tangannya, ia tidak merasakan apa-apa. Bahkan getaran emosi sekalipun dan ia tahu pasti gadis ini tidak ada hubungan darah dengannya.
"Siapa nama orang tua kandungmu?" Kalula mencoba bertanya hal terpenting. Kalau memang Marcus Fayol dan Jeanne Rose bukan orang tua kandungnya, Elula pasti akan mengatakan yang sebenarnya.
"Marcus Fayol dan Jeanne Rose."
"Ilusiku tidak akan pernah salah. Apa yang dikatakan oleh mulutnya sekarang, adalah yang sebenar-benarnya keadaan." Kalula mencoba lebih dekat. Mengintimidasi mungkin akan menjadi cara yang terbaik, walau mata gadis ini tidak terbuka.
"Apa kehidupanmu sebelum lahir di dunia ini?"
Sedikit jeda. Elula terdiam, namun mulutnya bersiap untuk berbicara. "Kandungan." Memang benar. Tapi ini bukan jawaban yang Kalula inginkan.
"Apa kehidupanmu sebelum di kandungan?"
Proses tanya jawab ini tidak bisa tergesa-gesa dan dengan nada tinggi. Kalula harus bersabar dan tidak boleh emosi atau prosesnya akan gagal dan Elula akan memberontak.
Jika tidak ada Jawaban, memang pertanyaan itu tidak ada jawabannya, dan itu berarti Elula tidak pernah hidup dua kali. Mungkin memang tidak ada hubungannya dengan Lula, putrinya. Tapi, kenapa ia tidak bisa dihipnotis? Kenapa tuhan memberinya anugerah yang mustahil diberikan kepada manusia? Pikiran Kalula sungguh tengah kacau. Kondisinya semakin memburuk. Kekuatannya mulai hilang dan ia semakin tidak berdaya. Jika Lula tak segera ditemukan, hal terburuk dia akan kehilangan kekuatannya dan menua seperti manusia.
"Kau manusia, atau seekor duyung?" Tidak ingin berbelit-belit, Kalula to the point.
"Manusia." Jawab Elula pelan.
Kalula merasa sudah cukup untuk kali ini. Selama dia telah memastikan benar-benar tidak ada hubungannya dengan Lula, dia akan melepaskan Elula.
***
Rencana berubah. Terjadi sesuatu dan semuanya harus diubah. Seharian aku mencoba menghubunginya, dan sekarang sudah sangat susah. Swarovski tidak lagi berada di lehernya. Ini akan menjadi sangat sulit. Itu adalah satu-satunya petunjuk dan jika aku tidak bisa merasakan sedikit saja kekuatan Swarovski, maka akan lebih sulit untuk mencarinya.
Berdiam diri tidak akan pernah mengatasi masalahnya, kau harus segera bertindak.