Luna Rusalka

Luna Rusalka
101



"Lebih baik kalian kembali. Sebentar lagi tuan Bogdan dan semuanya akan datang." Yejin berdiri membawa koper dan menatap Yeva dan Bogrof, kedua orang tuanya.


"Tidak Yejin, kami akan menemanimu sampai mereka datang." Yeva memaksakan kehendaknya namun lagi-lagi Yejin menolak.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri."


"Tapi, Yejin.."


"Benar, Yeva. Yejin sudah besar dan dia bisa menjaga dirinya sendiri. Kau bilang kepada Sofia kan kita akan langsung ke sana setelah dari Yejin. Kita harus memberikan selamat untuk putrinya dan kau pasti tidak mau sampai sana pestanya sudah selesai." Bogrof mencoba memberikan pengertian dan Yeva mengangguk.


Yejin menatap papanya mendengar tentang pesta Lula itu dan ia sendiri tidak hadir di sana untuk sekadar memberikan selamat.


Lagi-lagi dada Yejin sakit. Walau tidak sesakit tadi, namun itu cukup membuat Yejin menahannya dengan tangan kanannya. Kenapa dadaku terus saja sakit? Batinnya tidak mengerti. Dia tidak punya penyakit bawaan atau apa tapi kenapa itu terjadi lebih sering sejak pagi tadi?


"Baiklah. Tapi kau langsung masuk ke bandara dan menunggu di dalam. Lebih aman dan kau tidak harus kelelahan karena terus berdiri di luar sini."


Sakitnya hilang dan Yejin menurunkan tangannya, tidak mau kejadian itu dilihat oleh kedua orang tuanya dan ia bersikap biasa saja sekarang.


Yejin mengangguk dan tersenyum.


"Hati-hati, Yejin. Hubungi kami saat kau berangkat dan sampai di sana, okey?" Bogrof menepuk pundak Yejin dan laki-laki itu tersenyum.


"Mama sangat menyayangimu." Yeva memeluk Yejin dan ia melepaskan pelukannya karena itu sangat ketat dan sesak.


"Sampai jumpa!" Kedua orang tua Yejin say goodbye dan berbalik dan berjalan menuju mobil di dekat mereka.


Perasaanku tidak enak. Yejin menatap kepergian kedua orang tuannya. Sudah jelas bukan menghawatirkan mereka. Ia melihat mobil papanya yang sudah melaju dan pergi dari Bandara.


"Sebaiknya aku menelepon Matvei."


Yejin meletakkan koper di bawah dan mengambil ponsel di saku untuk menelpon kakaknya.


[Berdering...]


"Ayo angkat, Matvei." Yejin mulai resah karena kakaknya tidak mengangkat teleponnya.


[Berdering...]


Masih belum diangkat dan ia mematikan panggilan. "Kutelpon Jereni." Ia mencari nomor Jereni dan menelponnya.


[Berdering...]


Beberapa detik tidak diangkat dan ia melihat panggilan terhubung.


"Apa keadaan di sana baik-baik saja?"


Yejin mendengar suara gaduh dan sepertinya Jereni tengah berlari.


"Jereni kau baik-baik saja?"


Tidak ada jawaban dan ia hanya mendengar sebuah nafas yang tidak teratur.


Yejin mulai gelisah. Walau bukan Lula, tapi Jereni terlihat tidak baik-baik saja.


"Jereni kau mendengarku?"


"Maaf Yejin keadaan di sini sangat kacau aku mengejar Lula dan ia pergi setelah aku memberitahukan kebenarannya. Semua orang tengah mencarinya dan maaafkan aku aku harus pergi sekarang.."


"Kebenaran apa?"


Tutttttt ...........


Telepon terputus dan sekejap ia mengalami jantung koroner.


Deg..


Dadanya sakit lagi dan mungkin ini lebih sakit dari sebelumnya. Tangan kirinya menekan dadanya dan sakitnya tidak kunjung hilang.


"Apa yang- terjadi padaku?" Ia sampai berlutut dan menekan dadanya menggunakan lututnya.


"Perasaanku sangat tidak enak dengan Lula. Apa terjadi sesuatu? Aku harus pergi dari sini!" Ia bangkit dengan rasa sakit yang masih ada, dan berlari dengan menggeret kopernya mencoba mencari taksi dan menaikinya.


***


"Jereni apa yang terjadi??" Matvei mengejar Jereni menggunakan sepeda motornya yang terus berlari menelusuri satu-satunya jalan besar di dekat rumah Lula.


"Jereni!" Matvei menyalip Jereni dan berhenti tepat di depan gadis itu. Jereni berhenti tiba-tiba dan terkejut. Laki-laki itu turun dari motor dan menahan lengan Jereni yang hendak berlari lagi namun gadis itu berhenti dan berbalik menatap laki-laki di depannya dengan wajah yang banjir air mata dan nafas yang tidak teratur.


"Lula pergi."


"Aku tahu, tapi kenapa? Kalian bertengkar?"


"Kami tidak bertengkar dan aku tidak bisa menceritakan yang telah terjadi. Kak Matvei sebaiknya kita mencari Lula sekarang." Ia menangis sesenggukan dan membasuh air matanya.


"Kemana lagi? Kau tahu ia pergi kemana?"


"Tapi kita harus mencarinya!" Air matanya terus jatuh dan Jereni berusaha untuk menahan itu.


"Jereni dengarkan aku!" Jereni berbalik dan hendak berlari namun Matvei menahan lengannya dan memberinya ketenangan.


"Dengarkan aku! Kau harus tenang dan kita cari sama-sama."


Matvei lega dan menaiki motornya diikuti Jereni yang membonceng Di belakang.


***


"Apa yang terjadi sebenarnya?" Sofia terus menangis dari tadi dan Rwka mencoba menenangkan.


"Kemana Lula pergi dan seharusnya aku ikut mencarinya!" Sofia berdiri dan hendak pergi namun


Rwka menahannya.


"Sofia biarkan mereka mencari Lula. Kau tenang di sini, pasti semuanya akan baik-baik saja." Mark, Alex, Cael dan lainnya pergi untuk mencari Lula. Sofia terus menangis dan histeris oleh karenanya ia tidak ikut dan Rwka dengan Bibi Fyodora yang menjaga wanita itu.


Bibi Fyodora terus berdoa untuk Lula di sofa dan para anak-anak duduk tenang di depan televisi. Sedangkan Sofia dan Rwka berdiri di taman belakang.


"Aku harus mencari Lula. Aku khawatir dia kenapa-napa. Kau lihat tadi dia menangis dan pergi begitu saja. Aku tidak mau kejadian yang dulu terulang kembali, Rwka." Sofia terus menyalahkan diri sendiri karena sekali lagi dia lalai dan tidak menjaga Lula. Dia terlalu asik dengan pesta itu sampai tidak memperhatikan bagaimana keadaan putrinya sendiri.


"Tenang Sofia tenang! Semua mencari dan aku yakin Lula akan baik-baik saja. Duduk tenang dan jangan gegabah." Rwka tidak lelah untuk membuat Sofia tenang dan wanita itu duduk di kursi dekat kolam akhirnya.


***


"Sini, pak!" Yejin menepuk pundak pak sopir dan pria itu menghentikan mobilnya.


"Ini ambil saja kembaliannya." Yejin menyodorkan sejumlah uang dan membuka pintu.


"Tuan!" Teriak sopir dari dalam dan Yejin berbalik untuk melihat ada apa.


"Maaf kopernya."


"Ah iya!" Yejin memasukkan setengah tubuhnya ke dalam dan mengambil koper yang tertinggal.


Dia tidak melihat sepeda motor Matvei dan halaman terlihat kosong dan hanya ada satu mobil di sana.


Ia membawa kopernya dan berlari ke dalam rumah yang pintunya sedikit terbuka.


"Lula!" Ia memasuki rumah Lula dan tidak melihat seorangpun di ruang tamu. Yejin meletakkan koper dan tas ranselnya di ruang tamu dan berjalan cepat ke dalam. Mencari semua orang dan menemukan beberapa anak kecil duduk di ruang keluarga, untuk menonton tv.


"Dimana bibi Sofia?" Yejin bertanya dan salah satu anak menunjuk arah pintu taman belakang. Yejin berlari dan berhenti sampai di pintu.


Sofia dan Rwka menoleh dan Yejin menghampiri mereka.


"Yejin?" Sofia berdiri dan heran melihat Yejin berada di sini.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Rwka berdiri dan bukankah Yejin berada di bandara?


"Bukankah kau?"


"Apa yang sudah terjadi? Kemana Lula dan semua orang dan kenapa bibi Sofia menangis?" Yejin mengatur nafasnya yang tergesa-gesa dan Sofia meneteskan air matanya lagi.


"Lula pergi.."


"Kemana?"


"Tidak tahu semua orang tengah mencarinya." Rwka mencoba menjelaskan.


"Apa yang sudah terjadi?" Sekali lagi Yejin bertanya.


"Kami tidak tahu. Luka tiba-tiba berlari keluar rumah sambil menangis dan Jereni mengejarnya."


"Apa mereka bertengkar?" Yejin menatap Rwka dan ia menggeleng.


"Seharusnya tidak separah itu."


"O God." Gumam Yejin menyentuh kepalanya.


"Bagaimana kau bisa sampai di sini?"


"Perasaanku tidak enak dan kutelpon Jereni dia bilang Lula pergi dan semua orang tengah mencari."


"Bukankah kau harus pergi ke Italy, Yejin?"


Yejin terdiam dan pikirannya berputar. Ia memutar otaknya dan berpikir keras, tidak lama ia mengingat sesuatu dan feeling-nya sangat kuat oleh itu.


"Aku selalu pergi ke tempat berair jika pikiranku sedang kacau, dan kurasa aku akan mencoba kemari suatu saat nanti jika memang terjadi sesuatu dan hatiku sangat sakit."


Ia mengingat perkataan Lula ketika ia membawanya ke air terjun taman kota dekat hutan.


"Aku tahu." Ia mengangguk dan Sofia bertanya kenapa.


"Bibi tolong kabari semua orang suruh mereka pergi ke air terjun kota dekat hutan, sekarang! Mungkin Lula di sana." Yejin berlari keluar namun ia kembali lagi.


"Bibi apakah sepeda motor paman Mark di rumah?"


Sofia mengangguk. "Bisakah aku meminjamnya sebentar?"


Sofia mengangguk dan berkata kuncinya berada di lemari di ruang keluarga.


"Baiklah, terimakasih."


Yejin berlari keluar dan bersamaan dengan kedua orang tuanya sampai di sini.