Luna Rusalka

Luna Rusalka
SEASON 2/ 103



2 tahun kurang 3 bulan kemudian


___


"CARI PUTRIKU!" Seorang wanita dengan paras yang sangat indah mengangkat tongkat samuderanya membuat air di sekitarnya bergerak cukup cepat.


"Ampun, ratu. Kami harus mencari dimana?" Seekor monster laut yang memiliki tubuh lima kali lipat besarnya dengan wanita di depannya, berlutut.


Wanita itu tersenyum dan berbalik, menatap monster laut di depannya.


"Kerajaan lamaku." Mata hitam legamnya mampu membuat siapapun tunduk. Ekor hitam mengkilapnya, mampu membuat siapapun takut mendekat. Dan jangan lupakan tongkat yang selalu ia bawa kemanapun. Tongkat yang menjadi sumber kekuatannya, dan tongkat yang mampu menghancurkan dunia.


Kita tidak akan pernah melupakannya, setelah beratus-ratus tahun menghilang dari muka bumi ini, ia kembali mencari putrinya yang sempat hilang karena reinkarnasi.


Lenyap ditelan zaman, dan terlahir kembali untuk menepati janjinya, dan mengambil apapun yang menjadi miliknya.


***


"Lula waktunya sarapan! Cepatlah!" Sofia berteriak dari ruang makan sambil membawa croissant yang baru saja ia panggang.


"Iya ma sebentar!" Teriak Lula dari atas dan berlari menuruni tangga.


"Kau sudah sarapan?" Sofia menatap lelaki muda di depannya, dan dia hanya mengangguk seperti biasanya.


Lula berjalan dengan cepat untuk sampai di ruang makan sambil terus mencari sesuatu di dalam tas ranselnya.


"Kau habis ngapain?" Sofia menyiapkan roti lapis dan Lula masih mencari sesuatu dan berhenti untuk itu.


"Sesuatu dan aku harus memakainya hari ini."


"Ah ketemu."


"Apa itu?"


"Ini--" Lula menunjukkan benda kecil yang selalu dipakai wanita di bibirnya itu. Cepat-cepat ia memasukkannya lagi di ranselnya lalu terdiam dan membisu ketika melihat Yejin duduk di kursi dan menatapnya dari sana.


"Kau membeli lipstik?" Sofia tertawa dan Lula hanya terdiam di sana.


"Kemari lah!" Sofia menyuruh Lula mendekat dan gadis itu berjalan dengan wajahnya cukup merah dan memalingkan muka dari Yejin.


Lula duduk di kursi di depan Yejin dan Sofia memberinya roti lapis kesukaannya dan ia langsung memakan itu.


Yejin terus memperhatikan Lula dan membuat gadis itu menunduk dan memakan sarapannya dengan cepat.


"Uhukk!!" Lula terbatuk dan Yejin langsung memberinya air putih.


"Jangan tergesa-gesa." Kata Yejin dengan deep voice nya itu.


"Terimakasih." Kata Lula berterima kasih.


"Makanlah dengan tenang, Lula. Kebiasaan." Sofia terkikik dan memberi Lula susu putih. "Jangan lupa habiskan susumu."


"Papa kemana?"


"Kau lupa dia berada di luar kota?"


"Ah. Iya.. Yefy?" Lula tidak melihat Yefy pagi ini.


Semua orang terdiam dan terdengar suara berdentum di meja dan Lula menoleh ke kirinya. Ia melihat Yefy dengan earphone nya tengah makan dan menatap kakaknya dengan tatapan membunuh.


"Kau kenapa pagi ini? Yefy berada di sini saat sebelum kau kemari, Lula." Sofia mencoba menjelaskan dan Lula menepuk jidatnya.


"Ya Tuhan aku tidak melihatnya."


"Iyalah. Kau malu kan karena Kakak Yejin ada di sini " Yefu tersenyum jahat dan Lula melotot ke arahnya.


"Ah sudah terlambat. Mama aku berangkat sekarang." Lula meminum susunya sekali teguk dan ia berdiri, mencium kening mamanya dan berlari keluar.


"Anak muda." Sofia menggeleng dan memakan sarapannya.


"Kau dulu juga seperti itu?" Yefy menatap mamanya dan Sofia menaikkan kedua alisnya lalu berdiri.


"Semua orang juga akan mengalaminya, Yefy." Wanita itu mengacak rambut Yefy dan berlalu ke dapur.


"Aneh."


***


"Sebentar lagi saja, sebentar lagi dan rencanaku akan sempurna." Seorang laki-laki berdiri di atas tangga dan menatap beberapa orang yang tengah membicarakan sesuatu.


Tangannya mengepal, lalu ia tersenyum dan pergi kemudian.


"Sebenarnya apa yang kau dapatkan dari melepaskan mereka, Tuan Ilarion." Seorang pria tertawa dan beberapa orang di belakangnya ikut tertawa.


"Ini perjanjiannya dan kita sudah sepakat, Bryan." Matvei menatap Bryan dengan tatapan tajam dan Bryan mengangguk sembari bersandar di punggung sofa.


"Baiklah, bukan masalah selama persen ku lebih besar darimu." Bryan tersenyum licik. Hasil pendapatan bisnis konsinyasi mereka menjadi tidak seimbang. Bryan lebih 20% dan Matvei hanya mendapatkan 30% dari omset yang mereka dapat. Tapi itu bukan masalah besar untuk Matvei. Setidaknya ia mampu melestarikan spesiesnya dan berusaha melindungi mereka. Daripada tidak sama sekali dan sama saja ia bunuh diri karena membiarkan makhluk sepertinya itu terus dibunuh dan tidak tersisa di dunia ini.


"Aku tidak peduli dan cobalah untuk tidak menghianati aku dan melanggar perjanjian! Kau tahu apa yang akar terjadi jika kau melanggar perjanjian ini." Matvei berdiri dan berbalik kemudian.


"Bryan tidak akan pernah melakukan itu." Bryan tertawa dan beberapa orang di belakangnya ikut tertawa.


Matvei pergi berlalu dan semua orang kembali ke aktivitasnya masing-masing.


***


"Apa yang akan kita lakukan, Ratu?"


Seorang wanita berambut pirang itu berdiri dari singgasananya dan berjalan menuju jendela dan menatap keluar.


"Kalula pasti akan kemari dan mencarinya. Ia sudah tahu putrinya bereinkarnasi dan aku tidak mau ia hidup bersamanya di dasar laut."


"Tapi, Ratu. Moana pasti akan menemukannya dan akan membawa putrinya ke kerajaan barunya." Pria tua berdiri di belakang Kerinee dan menunggu apa yang akan ratunya katakan.


"Maka dari itu kita harus menemukannya terlebih dulu dan mencegah perubahan itu terjadi di usianya tepat 17 tahu." Kerinee berbalik dan menatap Jensen, pria paruh baya itu.


"Aku memang mampu masuk ke dalam pikirannya, dan mengendalikan pikirannya untuk melakukan sesuatu. Tapi kalung kerangnya melindunginya, dan bahkan aku sendiri tidak tahu dimana ia berada sekarang." Kerinee berjalan dan duduk kembali ke singgasana. Jensen mengikutinya dan berdiri di depan wanita itu.


"Dia sudah bereinkarnasi dan bagaimana wajahnya sekarang, aku tidak mengenali itu." Ia mengangkat dagunya dan memasang wajah datarnya lagi.


"Kita hanya memiliki waktu tiga bulan sebelum perubahannya, dan kita harus menemukan Lula sebelum Kalula menemukannya."


"Jensen."


"Ya, Ratu?"


"Perintahkan anak buahmu untuk mulai mencari dimana keberadaan keponakanku. Aku memberikan izin untuk kalian pergi ke daratan dan makanlah buah dari pohon tujuh agar mampu bernafas di daratan dan menyamarkan diri dari manusia."


"Perintahmu akan segera saya laksanakan, Ratu." Jensen menunduk dan pergi kemudian setelah Kerinee memberinya izin pergi.


***


"Kau kenapa kemari?!" Lula berdiri di depan sepeda motor sport Yejin. Mereka masih berada di halaman rumah Lula dan Yejin bersiap dengan motornya.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan Caleb. Kau tahu dia tidak baik untukmu dan-"


"Yejin aku tidak mau mendengarmu menjelek-jelekkan Caleb di depanku lagi!" Lula menutup telinganya.


"Kau mengatakan perasaanmu saja tidak berani. Apalagi mau-" Lula bergumam lirih dan membuat Yejin mengangkat alisnya.


"Kau bilang apa?"


"Intinya kau tidak tahu mana yang baik dan buruk untukku." Lula menerima helm yang Yejin berikan dan memakainnya.