
"Yejin!"
Yejin berbalik. Laki-laki itu terdiam ketika seorang gadis berlari mendekat.
"Jereni ?"
Jereni mengangguk dan berhenti ketika benar-benar sudah sampai di depan Yejin.
"Jangan berhenti hanya karena ada aku. Mari berlari bersama."
Yejin mengangguk dan mereka berdua berlari memutari taman bersamaan.
Tidak ada percakapan yang benar-benar penting sekarang kecuali..
"Yejin.."
Yejin tidak menjawab. Dia mendengarkan Jereni tanpa menatap wajah gadis itu.
"Kau ingat tanggal 11 Maret ? dan itu berarti tiga belas hari dari sekarang. Kita harus merencanakan semua ini dari sekarang."
Yejin masih terus berlari dan berhenti tiba-tiba ketika mengingat sesuatu.
"Ulang tahun Lula." Ia baru ingat. 11 Maret adalah ulang tahun Lula dan bertepatan dengan pergi ke Italy.
"Aku lupa." Yejin menatap Jereni.
"Apa?"
"Kami pergi ke Italy tanggal 11 Maret."
"Itu berarti kau pergi ke sana sekaligus memberi kejutan ulang tahun kepada Lula. Aku sangat iri." Jereni terlihat menggembungkan pipi.
Yejin menggeleng. "Kurasa paman dan bibi tidak akan mengizinkan Lula ke sana, mengingat hal yang telah menimpa Lula."
"Yejin sebenarnya aku memiliki ide untuk merayakan ulang tahun Lula bersama. Tapi kurasa kau mm kalian harus ke Italy." Gadis itu meletakkan kedua tangannya di saku celana.
"Aku tidak akan berangkat tanpa Lula."
"Yejin kau serius? Ini kesempatan yang menakjubkan!"
"Jika Lula tidak diperbolehkan, maka aku juga tidak akan pergi."
"Yejin jangan khawatirkan aku dan Lula. Kami akan baik-baik saja selama kau ke Italy." Jereni tersenyum dan menepuk lengan Yejin.
Yejin tidak bergeming. Laki-laki itu melanjutkan larinya tanpa menghiraukan Jereni. Gadis itu hanya terdiam dan mengendikkan bahu merasa ini bukan suatu kejutan.
"Aku akan menjenguk Lula ketika dia sudah kembali ke sini."
***
"Kau bisa berjalan, Lula?" Sofia membantu Lula turun dari tempat tidur di ruang rawat.
Lula mengangguk dan berjalan keluar ruangan. "Aku tak sabar kembali ke rumah." Gadis itu tersenyum ketika dirinya benar-benar dapat kembali.
Mark berjalan di belakang bersama Yefy. Alex sudah kembali kemarin dan Sofia menemani Lula berjalan di depan.
Semua orang tidak membahas apa yang telah terjadi di kolam renang. Itu demi kesembuhan Lula, agar dia tidak stres dan memikirkan banyak hal.
Sofia ingin sekali memarahi Mark dan memberi peringatan kepada Lula. Jika mereka berdua tidak kemari, semua ini tidak akan terjadi. Lula tidak akan terlukan dan Sofia tidak akan marah.
Wanita itu mengurungkan niatnya untuk melakukan itu. Semua ini juga karena ia mengizinkan putrinya pergi ke ibu kota. Jika ia tidak mengizinkan Lula, semua ini tidak akan terjadi. Tapi, syukurlah. Yang terpenting Lula baik-baik saja sekarang dan semuanya aman.
***
Yejin duduk termenung di dekat jendela kamarnya. Laki-laki itu di rumah sendirian. Kedua orang tuanya tengah menghadiri acara di rumah saudara dan Matvei keluar rumah dari tadi pagi.
Ia tidak punya ide untuk melakukan sesuatu dan tidak punya kesibukan selain duduk di sini. Yejin sedang tidak dalam keadaan mood yang baik. Bahkan, dia malas melakukan hobi yang biasa ia lakukan di waktu luang, seperti berenang, bermain musik, dan masih banyak lagi.
"Apakah Lula sudah kembali?" Yejin beranjak dari duduknya dan pergi keluar kamar.
***
Mark membuka kunci pintu rumahnya dan kembali ke garasi untuk menggendong Yefy yang tertidur.
Sofia turun dari mobil sambil membawa tas besar dan berjalan masuk ke dalam rumah. Lula masih di dalam mobil dan menghela nafas lega. Ia sudah sampai di rumah dan ini pukul 11 siang.
Agak macet di jalan dan waktu yang ditempuh menjadi lebih panjang.
Sekolah. Lula jadi ingat sesuatu. Gadis itu tersenyum tipis mengingat akhirnya ia memenangkan perlombaan dan berenang lagi bersama Yejin, dan seharusnya ia yang akan pergi ke Italy bersama Yejin.
Lula menurunkan senyumannya ketika berpikir, setelah ini, mamanya akan 100% lebih protektif kepada Lula. Wanita itu pasti tidak akan memperbolehkan Lula untuk pergi ke Italy.
Lula sampai di depan kamar. Ia membukanya dan masuk. Merebahkan tubuhnya dan beristirahat setelah beberapa jam di perjalanan. Pantatnya sampai panas dan pegal, duduk terlalu lama di mobil.
***
"Kurasa ini bukan orang luar. Rencana kita tidak mungkin bocor. Bukannya aku menuduh salah satu dari kita, mungkin feeling ku bukan persoalan mereka. Mereka akhirnya tahu, ada seseorang yang memberitahu dan salah satu dari kita." kata Matvei sambil menyatukan kedua tangan di depan dada.
"Apa kau yakin?" seorang lelaki di depannya, bertanya meyakinkan diri sendiri.
Matvei mengangguk. "Kita tidak pernah ingin seperti ini. Ini semua kesalah pahaman dan kita yang harus meluruskan semuanya."
"Tapi kau tahu mereka tidak akan pernah menarik kata-katanya, dan hanya dengan bicara kita tidak akan mencegah mereka untuk berhenti."
"Ini tugasmu untuk mencari tahu, Lucas. Cari tahu siapa dalang dibalik semua ini, dan kita beri mereka bukti."
Lucas mengangguk dan mengerti.
***
"Hei Lula. Kau sudah kembali?"
"Uh huh. Tadi siang. Bagaimana kabarmu, Jereni?"
"Aku baik. Sebenarnya aku ingin menjengukmu sore ini. Tapi Mama memintaku untuk menemaninya ke supermarket."
"Kau masih di supermarket?"
"Iya. Aku meminjam ponsel mama. Aku menghilangkan ponselku dan aku masih belum menemukannya."
"Kau sedang apa sekarang?"
"Sedang di bagian sayuran. Mama tengah memilih sayur di sini. Ia terlalu lama jadi aku meminta untuk menghubungimu."
"Jereni aku sangat merindukanmu."
"Ah aku juga, Lula. Mungkin besok kita bertemu. Kau sudah ke sekolah kan?"
"Kurasa Aku belum ke sekolah. Tubuhku masih lemas, Jereni."
"Kalau begitu besok sepulang sekolah aku akan ke rumahmu. Mama sedang baik, jadi dia pasti mau mengantarku ke rumahmu."
Lula terdengar tertawa di panggilan. "Kau kenapa tertawa?"
"Kau lucu."
"Ayo Jereni. Kita pergi ke bagian daging."
"Iya sebentar." Jereni menatap Rwka dan meminta izin untuk menyelesaikan panggilannya.
"Lula aku harus pergi. Besok akan aku kabari lagi kalau aku mau ke rumahmu."
"Baiklah Jereni sampai jumpa."
Lula memutus panggilannya dan Jereni berjalan menghampiri Rwka kemudian menyerahkan ponselnya.
***
Lula meletakkan telepon rumahnya di meja. Ia kembali berbaring di tempat tidur dan beberapa saat kemudian pintu terbuka.
Sofia masuk sambil membawa nampan berisi makanan.
"Kau harus meminum obatmu. Jadi sebelum itu kau makan terlebih dahulu. Mama sudah buatkan bubur susu kesukaanmu." Sofia berjalan mendekat dan meletakkan nampan itu di meja.
"Lula juga lapar sekali."
"Mau kusuapi atau makan sendiri?"
"Makan sendiri saja. Lula sudah besar."
"Baiklah, habiskan buburnya dan minum obatmu. Mama harus membantu Yefy mandi."
Lula mengangguk dan Sofia pergi berlalu.