
Krieetttt
Pintu ruangan Jereni terbuka dan pria dengan setelan jas putih keluar.
"Keluarga pasien?"
Rwka berdiri dan menghampiri dokter. "Saya ibunya.."
"Pasien koma saat ini. Kami belum bisa memindahkan di kamar rawat."
"Ada apa dengan Putri saya?" Rwka sangat khawatir.
"Kita bicarakan hal ini di ruangan saya. Mari," Dokter berjalan menjauh dari sini diikuti Rwka.
Lula's POV
Sepertinya apa yang terjadi pada Jereni merupakan hal yang serius. Dokter tidak mau membicarakan hal ini di depan kami.
Aku sungguh khawatir. Jika aku tidak datang ke rumah Jereni, mungkin dia tidak akan seperti ini.
"Dimana Rwka?" Papanya Jereni datang dan bertanya pada papaku.
"Baru saja pergi ke ruangan dokter. Sebaiknya kau susul dia." Papanya Jereni mengangguk dan berlari menghampiri bibi Rwka.
Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan selain berdoa untuk kesembuhan Jereni.
"Tidak apa," Yejin menepuk lututku dan tersenyum. Aku hanya menatapnya tanpa bergeming.
Setahuku Jereni tidak memiliki riwayat penyakit serius sehingga membuatnya koma seperti ini. Jereni sangat peduli dengan kesehatannya.
"Apa kau sudah makan?" Yejin mencoba peduli terhadap ku. Aku menggeleng. Memang dari tadi siang aku belum makan. Aku juga tidak makan apapun di rumah Jereni.
"Aku akan membelikanmu makanan.." Yejin hendak berdiri namun aku menarik tangannya dan ia duduk kembali.
"Aku tidak lapar," Aku tidak ingin melakukan apapun sekarang. Aku hanya mau di sini menunggu kabar Jereni.
Mama berdiri ketika Bibi Rwka dan suaminya berjalan kemari. Papa hanya duduk dan memangku Yefy yang masih tertidur.
"Bagaimana?"
Bibi Rwka memeluk mama dan menangis.
"Apa yang terjadi?" Papa bertanya pada paman dan ia menggelengkan kepalanya. "Hepatitis B." Paman terlihat sedih.
Aku tidak menyangka jika Jereni memiliki penyakit berbahaya ini. Bagaimana bisa??
"Dokter pasti melakukan yang terbaik kepada Jereni. Kita hanya harus mendoakan kesembuhan nya." Mama mencoba menenangkan Bibi Rwka.
Bibi Rwka mengusap air matanya dan melepaskan pelukannya. Ia menarik nafas dan melihat jam di tangannya.
"Ini sudah malam. Sebaiknya kalian kembali ke rumah. Lula juga harus sekolah."
"Mereka akan kembali. Tapi aku akan di sini menemani mu."
"Nyonya Sofia, terimakasih namun suami saya di sini. Anda harus istirahat dan mengurus rumah." Bibi Rwka tersenyum dan menyentuh pundak mama.
Pintu ruangan Jereni terbuka dan perawat keluar. "Jam jenguk malam, hanya boleh satu persatu."
Author's POV
"Lula, kau mau melihat Jereni?" Rwka tersenyum dan menatap Lula. Lula hanya terdiam dan Yejin menyenggol lengannya.
"Iya.." Lula berjalan masuk ke ruangan Jereni dan pintu ditutup oleh perawat.
"Dia sangat sedih." Sofia melihat putrinya dari luar dan Rwka mengangguk.
"Kita semua.."
Lula berdiri di samping Jereni dan menatapnya tanpa bergeming.
Cepat sembuh, Jereni.
Lula mencoba mendekat, dan menaruh tangannya di kepala Jereni dan mengusap nya.
Aku sangat menyayangimu.
Dia memeluk Jereni perlahan, dan menutup matanya. Lula sangat sedih. Dia takut. Takut kalau ini terakhir kali ia melihat Jereni.
Liontin kerang Lula bersinar dan Lula menyadari itu.
"Kenapa ini?" Ia bingung. Tidak biasanya bersinar seperti ini.
"Kalung ini telah menemani ku selama lima tahun." Sebenarnya, kalung itu telah ada semenjak ia ditemukan di depan rumahnya. Akan tetapi, Alergi kulit di leher Lula sejak usianya menginjak dua tahun, dan harus melepas kalung itu.
"Sepertinya kau lebih membutuhkan nya sekarang.." Lula melepas kalungnya dan memakaikannya di leher Jereni.
"Apa yang dilakukannya?" Rwka menatap Sofia dan Sofia tersenyum.
"Dia selalu memakaikan kalungnya kepadaku maupun papanya setiap kali kami sakit. Dia beranggapan sakitnya akan terserap ke dalam kalung kerang. Mungkin dia melakukan hal yang sama kepada Jereni .."
-
Sekali lagi, Lula memeluk Jereni dan menutup matanya.
"Cepat sembuh.." Ia melepas pelukannya kemudian berdiri dan berjalan untuk keluar ruangan.
Liontin kerang bercahaya biru dan terserap ke dalam tubuh Jereni tanpa Lula dan semua orang sadari.
Bukan untuk mengobati penyakit. Kalung kerang di desain untuk respon kepada siapapun yang sejenis dengan pemilik nya.
Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan rahasia apa yang selama ini tersembunyi. Manusia hanya menjalankan skenario Tuhannya.
"Ayo kita pulang." Lula keluar ruangan dan berjalan dulu di depan.
"Terimakasih sudah membantu kami."
"Sama-sama. Maafkan aku tidak bisa menemanimu di sini.."
"Tidak apa. Kau harus mengurus keluargamu di rumah.."
"Sampai jumpa. Besok aku akan ke sini lagi.."
"Baiklah.. Hati-hati di jalan!"
"Mari.." Mark tersenyum kepada kedua orang tua Jereni dan mereka benar-benar pergi.
"Aku akan masuk ke dalam.." Rwka menepuk lengan suaminya.
"Aku ke kantin, membeli makanan dulu.." Rwka mengangguk dan mereka berdua berpisah.
"Aku ditinggal?" Yejin kebingungan. Dia masih ada di bangku tunggu. Sendirian dan sepi sekali di sini.
"Untung rumah dekat. Tak perlu pakai kendaraan, cukup jalan kaki.." Yejin memasukkan kedua tangannya di saku celana dan berlalu pergi.
Semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing tanpa menghiraukan hiruk pikuk perkotaan yang ramai seperti biasanya.
Tidak, mereka tinggal di perbatasan membuat jauh dari ramainya kota.
Rwka keluar ruangan ketika suaminya telah kembali.
"Makanlah.. Aku tahu perutmu kosong sekarang."
"Jereni juga belum makan.." Rwka menatap putrinya dari luar kaca.
"Dia tidak makan. Kalau kau seperti ini, bagaimana kau bisa merawatnya kali ini?"
Percakapan berlanjut dan kini hanya Jereni seorang di dalam ruangan yang tenang. Seakan masih kurang, kalung kerang mengeluarkan cahayanya kembali. Terserap ke dalam tubuh Jereni dan menimbulkan pergerakan kecil di perut Jereni.
-
*Kenapa kali ini?
Aku berada di dimensi waktu yang berbeda.
Aw! Kepalaku sakit dan hanya warna putih di sini.
Aku tidak bisa melihat, perlahan semuanya gelap dan aku terjatuh. Kepalaku terbentur sesuatu yang keras dan dingin. Menjerit kesakitan dan sangat kesakitan.
Secari**k ingatan muncul tiba-tiba memecahkan isi kepalaku. Pedih dan dalam rasa sakit yang aku alami kali ini.
Ingatan yang sama sekali aku tak tahu muncul dari mana. Ingatan yang seakan menjawab semua pertanyaan ku.
Oh Tuhan, ini hanya mimpi atau kenyataan? Aku tidak percaya sama sekali. Tolong jelaskan semua ini.
Cahaya biru masuk menyeruak dari samping kananku dan menyinari seluruh tempat ini. Segalanya terjadi di sini. Bak film di bioskop aku melihat semuanya.
Semuanya yang terjadi di samudera. Berpuluh tahun lalu dan aku adalah titik dimana kekacauan ini terjadi.
Apakah ini benar?
Semuanya aku ingat. Aku tahu, aku tahu.
Menolak lupa, menolak tidak terjadi apa-apa, namun semua ini terjadi karena ulahku*..