Luna Rusalka

Luna Rusalka
130



"Kalian ingin membicarakan sesuatu?" Lula siap mendengarkan. Dia berharap kali ini kedua orang tuanya memberitahu semua yang telah terjadi. Bagaimana ia bisa berada di rumah sakit dan terluka cukup parah. Lula ingin tahu semua itu.


"Se-"


"LULA!!!"


Lula menatap arah pintu. Seorang perempuan berdiri di sana dengan nafas yang tidak teratur. Jereni Yemelyanovna. Lula merasa sesuatu terlintas di pikirannya. Tempat dipenuhi air dan ukiran unik tapi tidak terlalu jelas. Sekali lagi, kepalanya seperti tersetrum sekejap. Ia memejamkan mata menetralkan rasa sakit yang sebentar itu.


Wajah Jereni berubah khawatir. Ia berlari dan mengguncang tubuh Lula. "Kau kenapa?" Lula masih memejamkan matanya. Kepalanya sudah tidak sakit, namun terasa enak begini.


"Lula kau merasa sakit?" Sofia ikut khawatir. Melihat wajah Jereni yang seperti itu, wanita cantik itu terlihat gugup.


"Lula kau kenapa?" Jereni meneteskan air matanya lalu memeluk Lula dengan erat.


"Sangat enak begini, kau tahu?”


Jereni membelalakkan matanya. Dia terdiam beberapa saat. "Jereni kau mendengarku?" Lula berusaha melepaskan pelukan Jereni namun gadis itu hanya terdiam.


"Baiklah, akan aku biarkan tetap seperti ini."


Sofia dan Mark tersenyum. Kebahagiaan meliputi mereka sekarang. Lula sudah bisa berbicara, dan Yeva sudah menerima kepergian ibunya. Semuanya akan baik-baik saja.


"Aku akan mengurus administrasi sebentar di bawah." Mark pamit.


"Aku akan membeli makanan, Yejin pasti belum makan." Merasa harus memberikan waktu kepada Lula dan Jereni untuk bersama, Sofia mencari kesibukan lain.


"Baiklah, kita pergi bersama-sama." Mark menggandeng istrinya dan mereka berdua keluar.


"Yejin, kami akan ke bawah sebentar, tolong kau awasi mereka. ok?"


"Baik paman."


"Yejin bilang kau meninggalkan seluruh tugas sekolahmu, ya? Itu pasti karena kau terlalu menghawatirkan aku." Lula mengusap kepala Jereni. Dia sangat menyayangi perempuan itu.


"Jereni, aku tahu kau sangat menghawatirkan aku. Tapi, kau juga perlu menghawatirkan dirimu sendiri. Hidup tidak selalu tentang orang lain, Jereni. Self care juga penting."


Jereni melepaskan pelukannya. Dia sedikit menarik tubuhnya, namun wajahnya tidak terlalu jauh dari Lula.


"Kau bukan orang lain, Lula." Keduanya bertatapan. Kali ini, Lula merasakan tatapan Jereni bukan seperti tatapan seorang sahabat. Entahlah, tapi ia terlihat.. lebih dari itu. Lula menggelengkan kepalanya, mengingat apapun yang baru saja ia pikirkan.


Ia mengangguk. "Aku tahu. Kau sangat menyayangiku, bukan?" Lula tersenyum. Jereni menangkup pipi kiri Lula dengan tangan kirinya. "Kau hidupku, Lula." Lula berhenti. Mendadak suatu ingatan muncul kembali.


"Kau hidupku, Lula."


"Arghhh." Kata-katanya sama persis dengan seseorang di pikirannya. Kepalanya sakit sebentar. Namun kali ini, lebih sakit dari yang sebelumnya.


"Lula kau kenapa?" Jereni memegangi tangan Lula.


"Yejin! Yejin!" Jereni berteriak dan Yejin berlari dari luar, masuk ke dalam ruangan. Ia bertanya kenapa tapi Jereni tidak bisa berpikir jernih. Ia panik dan berniat memanggil dokter, namun Lula mencegahnya.


"Aku tidak apa-apa." Ia tersenyum. "Aku senang kita bisa bersama-sama lagi." Lula meraih tangan Jereni dan dengan tangan yang satunya, ia juga meraih tangan Yejin.


"Mungkin banyak sekali kejadian-kejadian yang membuatku sedikit merasa tidak aman dan kadang-kadang membuatku ketakutan. Tapi aku bisa mengatasinya dengan bantuan kalian. Kalian memberiku kekuatan yang aku juga tidak tahu bagaimana cara kerjanya. Memang kita tidak selalu bersama, namun aku tahu, kalian selalu berada di sini." Lula menarik tangan Jereni dan Yejin, lalu menempelkannya di dada Lula.


"Sekarang, aku tidak memiliki alasan lagi untuk takut." Lula tersenyum dan menatap Yejin. Dia merasa kalau perlahan Yejin sedikit memperlakukan Lula berbeda, Dan dia bahagia.


"Kau tahu kau sangat menggemaskan, Lula." Jereni mencubit pipi Lula dan gadis itu tertawa bahagia. Mengalihkan pandangannya dari Yejin ke Jereni, Lula mengusap kepala Jereni sambil terus tertawa.


Ujung bibir Yejin bergerak ke samping. Dia tersenyum melihat Lula tertawa seperti itu. Cantik sekali.. Batinnya tertegun. Wajah natural Lula memang terlihat sangat cantik, terlebih jika tengah tersenyum.


Mungkin dia tidak tahu, tapi aku sangat mencintainya.Yejin tersenyum melihat kebahagiaan yang tengah ia saksikan di depan matanya. Lula yang tengah bercanda dengan Jereni. Tawa itu, membuat mereka lengkap.


***


Satu setengah bulan berlalu. Tinggal satu setengah lagi sebelum usia Lula genap 17 tahun. Sementara Kalula, dia tak kunjung menemukan putrinya. Pencarian terus berlanjut, dan Kalula fokus kepada gadis muda yang ia culik beberapa hari yang lalu. Ia masih menyanderanya sampai mau buka mulut. Sebanyak apapun Zedrys dan Voodoohag menyiksanya, gadis itu tetap tidak mau memberitahu siapa dia sebenarnya.


Kalula merasa kalau gadis ini adalah kunci. Kunci dia menemukan Lula. Entah apa hubungannya, namun ia yakin putrinya semakin dekat dengannya. Suatu getaran aneh selalu muncul ketika ia tengah berada di sekitar gadis ini, dan mimpi-mimpi yang ia alami semakin memburuk setiap harinya, menandakan Lula semakin dekat dengannya.


"Apa ada perkembangan?" Kalula masuk ke dalam ruangan di tempatnya kini tinggal. Ruangan yang berwarna putih bersih dan hanya ada kursi dan gadis itu. Voodoohag dan Zedrys berdiri di samping dan mencoba untuk memaksa gadis itu membuka mulut.


Voodoohag menggelengkan kepalanya. "Dia tetap tidak mau memberitahu kami, sebanyak apapun kami menyiksanya."


Kalula mengangguk. "Lanjutkan pencarian."


Voodoohag dan Zedrys mengangguk mengerti. "Kalian boleh keluar." Kalula mempersilahkan kedua anak buahnya keluar untuk mencari Lula lagi. Sepertinya Kalula hendak melakukan sesuatu terhadap gadis ini.


"Kenapa?" gadis itu buka mulut.


"Kau juga ingin menyiksaku? Seperti mereka? Hahaha." Gadis itu tertawa lepas. Kalula tidak marah. Ia justru tengah tersenyum entah apa yang dipikirkannya dan apa yang akan ia lakukan.


"Tidak ada gunanya aku melakukan itu. Kau tetap tidak akan mengatakan apapun."


"Marcus Fayol. Jeanne Rose." Kalula menatap gadis itu dengan tatapan puas.


Gadis itu terkejut lalu menatap Kalula gelisah.


"Mereka orang tuamu. Aku benar, kan?" Kalula masih dengan tatapan smirk nya, dan menunjukkan sebuah foto di ponselnya Sementara gadis itu hanya terdiam, memikirkan seluruh kemungkinan yang akan terjadi. Bagaimana Kalula bisa tahu? Dia benar benar-benar bertindak lebih jauh, dan apa ya gan sebenarnya Kalula inginkan dari gadis itu?


"Keduanya bekerja di perusahaan obat herbal terbesar di Moscow, Black Squid Corporation. Ah dan satu lagi." Kalula menunjukkan sebuah foto gadis kecil dengan rambut pirang dan mata abu-abu tengah tersenyum dengan gigi depan yang ompong. "Jane Kenneith. Dia sangat cantik. Seperti kakaknya."


Gadis itu mencoba lepas dari kursi yang didudukinya. Dia diikat dengan rantai berat, membuatnya tidak bisa banyak bergerak.


"Aku bisa melakukan apapun kepada mereka." Kalula tersenyum jahat.


"Kalau kau berani menyentuh mereka, aku tidak akan tinggal diam!"


"Apa yang akan kau lakukan? Menelpon polisi?" Kalula mendekatkan wajahnya sambil memainkan rambut gadis itu.


cuihhhhhh gadis itu meludahi wajah Kalula. Wanita kejam itu menarik tubuhnya dan suhu tubuhnya meningkat.


Mata Kalula berubah menjadi hitam legam dan perlahan muncul api kecil dari tubuhnya, membuat gadis itu membelalakkan matanya dan tidak percaya apa yang tengah ia lihat.


"KAU BERTANYA APA YANG AKAN AKU LAKUKAN?" Kalula mengangkat tangan kanannya dan terciptalah api yang cukup besar di sana, siap untuk membakar apapun yang ada di depannya.


"AKU AKAN MEMBAKAR MEREKA SEMUA SAMPAI KAU MAU BERBICARA!" Entah bagaimana dia melakukannya, tapi terlihat siluet orang tua dan adik perempuan gadis itu tengah berteriak karena terbakar di dalam api yang dibuat oleh Kalula.


***


Kerinee POV


Ini pertama kalinya. Ekorku akan berubah, menjadi sesuatu yang bahkan aku tidak tahu bagaimana menggunakannya. Sudah terlalu lama aku berdiam diri dan hanya memerintah. Sudah saatnya aku keluar dan mencarinya dengan tenagaku sendiri. Tidak peduli kekuatanku akan berkurang setengah, tidak peduli aku akan terluka, yang terpenting aku harus menemukan keponakanku. Sebelum Kalula yang menemukannya, dan mengubah Lula menjadi sepertinya. Aku harus mencegah perubahan itu terjadi, sebelum usianya tepat 17 tahun.


"Yang mulia siap?" Jensen berdiri di belakang Kerinee. Mereka masih berada di dalam istana dan Kerinee tengah mempersiapkan segalanya.


"Kau pernah ke atas sana, Jensen?"


Jensen menggeleng. "Ini juga pertama kalinya bagi saya."


"Ampun yang mulia, apakah Anda akan tetap melakukan ini?"


"Tidak ada cara lain. Semua anak buahmu tidak kunjung menemukannya. Aku takut kalau Kalula menemukannya lebih dulu." Kerinee berbalik dan Jensen membungkuk. Wanita itu bersiap dengan pedang di belakang tubuhnya dan ia menaikkan dagunya angkuh.


"Aku akan berangkat sekarang!"


***


"Hhhhhhhh!" Matvei terbangun dari tidurnya. Dengan nafas yang tidak teratur dan sedikit sesak di dadanya, ia duduk dan melihat sekitar. Sebuah ruangan dengan ukiran aneh di temboknya, sebuah ranjang ukuran cukup besar, muat untuk berdua, yang menjadi alas ia duduk sekarang. Pencahayaan yang minim, remang-remang namun cukup hangat dengan tungku api di depannya.


"Bagaimana keadaanmu?" Matvei terkejut. Sontak ia menoleh ke kanan dan melihat seorang perempuan berpakaian aneh tengah membuat sesuatu.


"Kau siapa?" Matvei mencoba mencari tahu siapa perempuan di sampingnya itu.


"Kau akan terkejut." Perempuan itu tersenyum dan menuang sebuah cairan berwarna gelap ke dalam gelas kecil.


"Minumlah!" Ia menyodorkan gelas kecil itu dan menyuruh Matvei meminumnya.


"Jawab dulu pertanyaanku. Siapa kau?"


"Setelah kau meminumnya." Perempuan itu tersenyum dan mengangguk. Matvei menjadi curiga. Dia percaya padanya seakan Matvei tidak berbahaya, dan dia memberinya cairan aneh itu.


"Apa ini?"


"Obat herbal. Kau masih dalam pengaruh racun. Tidak terlalu berbahaya tapi kalau dibiarkan terlalu lama ditubuhmu, akan menyebabkan kerusakan pada syaraf organ vital."


"Kenapa aku harus mempercayaimu?" Matvei menatap gelas itu dan perempuan itu tersenyum. Lagi.


Perempuan itu meminum sedikit cairan itu, bermaksud untuk meyakinkan Matvei kalau ia tidak memberinya racun.


Tanpa pikir panjang lagi, Matvei meminum cairan itu sekali teguk. Rasanya cukup aneh namun tidak memiliki rasa dominan. Entah apa yang ia minum barusan, tapi sepertinya perempuan itu tidak ada niatan buruk.


"Jelaskan padaku siapa kau dan apa yang telah terjadi."


"Cerez. Aku sama sepertimu."


"Apa maksudnya sama sepertiku?"


"Seekor duyung."


"Aku sangat terkejut mengetahui kau sama sepertiku dan kau sendiri memiliki andil dalam penangkapan spesies mu sendiri."


"Bagaimana kau tahu?"


"Aku tahu segalanya. Bahkan aku menyaksikan saat kau didorong oleh seseorang dan membuatmu jatuh. Kau tahu? Mereka meletakkan beberapa hiu dibawah yang siap menyantapmu kalau kau sampai terjatuh."


"Tapi siapa yang melakukan itu dan kenapa aku tidak ingat apapun?"


Cerez meletakkan gelas kecil di meja dan menatap Matvei serius. "Tidak tahu. Aku juga baru di tempat ini. Intinya dia memasukkan racun yang membuatmu melupakan apa yang telah terjadi. Itulah sebabnya aku menyuruhmu untuk meminum obat herbal ini, membantu menetralkan racun itu. Nanti kau akan segera mengingat semuanya."


"Bagaimana kau bisa ada di sana?" Matvei masih tidak mengerti bagaimana Cerez berada di sana dan apa yang dia lakukan.


"Sama seperti yang lainnya. Aku tertangkap. Ketika mereka mencoba menyuntikkan sesuatu, aku menangkisnya dan kabur seketika itu juga. Ketika hendak masuk ke dalam air lagi, aku melihatmu tergantung tidak berdaya. Aku menarikmu dan membawamu ke sini. Lewat lubang dimana mereka menjaring para duyung."


"Bagaimana dengan hiu-hiu itu?"


"Aku kenal baik dengan mereka."


"Apa yang kau lakukan di sini dan sudah berapa lama kau di sini?" Matvei masih tidak mengerti beberapa hal. Ini menimbulkan banyak pertanyaan bagaimana bisa Cerez hidup di daratan dan sampai memiliki rumah di atasnya.


"Sudah lama aku di sini. Ketika duyung lainnya pergi dan tidak pernah kembali, aku menjadi penasaran apa yang telah terjadi. Aku mengikuti arus air dan sampai di sini. Aku mulai menyelidiki semuanya. Mereka menangkap kami dan mengambil yang mereka mau, lalu membunuh kami. Termasuk Kau. Aku sangat marah ketika mengetahui kaumku sendiri punya andil dalam kegiatan ilegal ini."


"Percayalah aku tidak ingin melihat ini. Tapi kalau aku tidak ada di perusahaan ini, mungkin Bryan akan membunuh semua duyung, dan membuat kaum duyung akan punah."


"Memangnya apa yang telah kau lakukan?" Cerez tersenyum mengejek. Dia sangat kesal dengan Matvei.


Matvei berdiri, dan Cerez Kun ikut berdiri. Keduanya saling berhadapan. "Siapa kau berani menuduhku? Memangnya kau mengenalku?" Matvei berjalan dan Cerez mundur perlahan.


"Tapi sepertinya tidak penting aku menjelaskan semua ini padamu. Kita baru kenal beberapa menit." Matvei mundur. Namun Cerez maju dan berdiri dengan angkuh.


"Kau tidak punya alasan untuk mengelak. Jelas kau tidak mau ketahuan kalau kau rela mengorbankan para duyung demi melindungi diri sendiri."


"Benarkah?" Matvei berhenti. Dia melangkah maju lagi, membuat Cerez tertegun.


"Aku tidak perlu menjelaskan apa-apa kepada seseorang yang bahkan aku tidak kenal." Matvei berhenti ketika punggung Ceres menempel dengan tembok dan tidak ruang lagi untuk melarikan diri.


Matvei pergi dari sana dan duduk kembali ke tempat tidur.


"Maafkan aku. Aku hanya ingin tahu apa yang telah terjadi. Karena aku membutuhkan informasi untuk menjatuhkan perusahaan itu dan membuat semua orang di dalamnya mendapatkan balasan atas apa yang telah terjadi."