Luna Rusalka

Luna Rusalka
58



"Aku lelah, tapi aku harus cepat-cepat." Ia meletakkan kembali botol air minumnya ke dalam tas dan segera menggayuh sepedanya lagi.


Lula merasakan kakinya sekarang. Seakan sesuatu telah terjadi, dia tidak merasa kelelahan lagi. Kakinya tidak sakit, dan dia kuat untuk menggayuh sepedanya.


"Ah ini hal biasa." Dia tak berpikir panjang dan segera melanjutkan perjalanannya.


***


Jereni's POV


Aku hampir melupakan itu. Kakaknya Yejin mengajakku bertemu siang nanti, sepulang sekolah.


Tapi bagaimana aku bertemu dengannya? Bagaimana aku mendapat izin mama? Mama menjemputku sekarang, jadi aku tidak bisa langsung ke taman sepulang sekolah.


Kalau aku meminta izin mama, apakah dia akan mengizinkanku? Aku tidak pernah bertemu dengan seorang laki-laki kecuali Yejin sebelumnya.


Apa yang akan dipikirkan mama nanti? Apa mama akan melarangku?


Tapi kalau aku diam-diam pergi, mama pasti akan marah kalau aku ketahuan.


"Jereni? Dimana temanmu?" Ah Bu guru mengejutkan aku. Apa yang harus aku katakan?


"Nona Yemelyanovna, apakah kau mendengarkan saya?"


"Iya ,Bu. Ada apa?"


"Hahahahahahaha" Semua anak tertawa dan pasti menertawai aku.


"Kau tahu mengapa Nona Beatriks tidak di tempat duduknya saat ini?" Bu guru mengulangi perkataannya dan aku harus menjawab itu.


"Saya tidak tahu, Bu.." Jawabku lirih.


"Apa kau yakin tidak sedang membohongi saya?"


"Tidak, Bu guru."


"Baiklah. Saya yang akan mencari tahu sendiri."


"Sekarang buka halaman 10, pelajari. Jika ada ......."


Bu guru akan mencari tahu. Maafkan aku Lula, jika kau belum ada di sini sampai nanti, aku tidak bisa berbuat apa-apa."


***


Lula sampai di depan rumah Yejin.


"Akhirnya.." Ia turun dari sepeda dan menuntunnya masuk ke dalam gerbang. Ia meletakkan sepedanya sembarang dan berjalan ke pintu depan.


"Terlihat sepi?"


"Ah mungkin Yejin di dalam, dan dia sendirian." Lula menaiki beberapa anak tangga dan berhenti tepat di depan pintu.


Dia membunyikan bel sekali dan menunggu pintu terbuka.


Tidak mendapatkan respon, dia mengetuk beberapa kali dan memanggil nama Yejin. "Yejin?"


"Yejin kau di dalam?"


"Bibi Yeva?"


Tok tok


Ia mengetuk nya lagi. "Apa ada orang di dalam?" Lula menempelkan telinganya di pintu dan mendengar apakah ada suara dari dalam.


Dia tidak mendengar apa-apa dan tidak ada yang membukakan pintu.


Ia membunyikan bel nya sekali lagi, dan mungkin berulang-ulang. Namun, tetap tidak ada satu orangpun yang membukakan pintu.


"Kemana Yejin?" Lula mulai khawatir.


"Apa Yejin tidak di rumah?" Ia berbalik dan menatap sekitar rumah Yejin.


Tidak ada mobil dan sepeda di sini.


"Sudah pasti tidak ada orang di rumah." Lula turun dari tangga dan menggaruk tengkuknya bingung.


"Ah, aku tahu.." Lula tersenyum dan berjalan untuk mengambil sepedanya dan pergi dari rumah Yejin.


***


Kenapa Lula belum kembali? Sudah hampir jam sembilan. Kalau jam pelajaran berikutnya Lula belum kembali, Bu guru pasti akan menelpon bibi Sofia.


Jereni terlihat khawatir. Tapi ia harus bersikap tenang agar Bu guru tidak menyadari hal itu.


"Bu!" Jereni mengangkat tangannya.


"Iya, Jereni?"


"Izin ke belakang sebentar." bu guru mengangguk dan Jereni beranjak pergi keluar kelas.


***


Untungnya, rumah nenek Yejin tidak terlalu jauh dari tempat Yejin. Jadi, Lula tidak membutuhkan banyak waktu untuk sampai di sana.


Tepat di balik pohon besar itu, perumahan tempat nenek Yejin berada.


Lula tersenyum. Keringat membasahi baju dan rambutnya.


Ia sampai di perumahan, dan tinggal mencari rumah besar berwarna coklat klasik. Tak lama ia menemukan rumah itu dan tersenyum melihat sepeda Yejin berada di depan rumah.


"Yejin pasti di sini." Lula mempercepat gayuhan sepedanya dan berhenti di depan gerbang kayu, dan segera memasukinya.


Ia memarkirkan sepedanya di samping sepedanya Yejin dan turun darinya dengan cepat.


"Semoga Yejin benar-benar di sini." Lula naik tangga kayu dan berdiri di depan pintu. Ia mengetuknya perlahan karena tidak ada bel pintu di sana. Tidak ada, kecuali lonceng di sisi pintu. Dia tidak membunyikannya karena lebih tinggi.


"Kurasa itu bukan untuk bel rumah." Lula mengetuk pintu lagi.


"Permisi?" Tidak ada jawaban. Rumah sepi dan ia tidak melihat pergerakan apapun.


Ia berjalan ke kanan, mencoba mengintip dari jendela besar yang gordennya terbuka.


Ia mengetuk jendela kaca itu. "Halo? Apakah ada orang?" Ia masih tidak menemukan jawaban.


"Kenapa tidak ada yang merespon?" Lula berjalan ke depan dan menarik nafas lelah.


"Apakah hanya sepedanya yang ada di sini?"


"Atau, Yejin pergi sebentar? Aku tunggu saja di sini." Lula berdiri di depan, dan merasa gelisah.


"Aku sangat lelah.." Lula menyandarkan tubuhnya di pintu dan menutup matanya.


"Lula?"


***


"Aku harus melihat Lula di sana." Jereni keluar kelas dan berlari ke depan. Dia hendak melihat apakah Lula sudah di sini atau belum. Dia sangat khawatir. Dia tidak mau berbohong, tapi dia juga tidak mau kalau sampai Bu guru menelpon Sofia.


Beberapa guru berjalan bersama dan Jereni langsung bersembunyi di balik tembok.


Ia mengintip dan beberapa guru itu sudah tidak ada. Dia berjalan lagi dengan tenang ke parkiran.


Di sana, dia tidak melihat Lula dan sepedanya. "Kenapa kau belum ke sini.." Jereni mendengus kesal.


"Aku juga kan yang harus berbohong.." Jereni berdiri dan menunggu beberapa saat, kali saja Lula datang.


***


"Lula?"


Lula membuka matanya dan melihat orang yang ditunggunya berdiri di bawah.


"Yejin.."


"Sedang apa kau di sini?" Yejin berjalan mendekat, menaiki tangga kayu antik dan berdiri tepat di depan Lula. Mencari tahu, kenapa sahabatnya itu berada di sini.


"Kau tidak ke sekolah?"


Lula masih terdiam dan menatap Yejin.


"Aku harus berbicara sesuatu.."


Yejin mengangguk dan menyuruhnya masuk ke dalam, namun Lula menggeleng.


"Di sini saja. Aku tidak lama."


Yejin mengangguk. "Tapi jawab dulu pertanyaanku."


"Apa?"


"Kau membolos?"


Lula terdiam. "Aku hanya pergi sebentar. Habis ini aku akan kembali ke sekolah."


"Lula, ini hampir siang. Kenapa kau melakukan hal ini hanya untuk mengatakan sesuatu kepadaku?" Yejin heran. Dia tidak tahu apa tujuan gadis di depannya itu.


Lula menggeleng. "Kau tidak mengerti."


"Yejin, aku harus mengatakan ini sekarang. Aku tidak mau menundanya lagi."


Yejin mengangguk dan mempersilahkan Lula untuk berbicara.


"Maafkan aku, sebelumnya. Tapi aku harus."


"Tentang perlombaanmu besok,.." Lula berhenti. Yejin menunggunya untuk berbicara. Laki-laki itu semakin penasaran. Lula tak langsung berbicara pada intinya dan membuat Yejin menunggu.


"Aku tidak bisa datang." Katanya sambil menatap mata Yejin.