
"Rusalka, jiwa yang tinggal di danau dari seorang anak yang meninggal tanpa dibaptis atau dari seorang perawan yang ditenggelamkan (entah secara tidak sengaja atau sengaja). Slav dari daerah yang berbeda telah menetapkan kepribadian yang berbeda untuk rusalki . Di sekitar Sungai Danube, di mana mereka disebut keji (vile tunggal ), rusalki adalah gadis-gadis cantik dan menawan, selalu mengenakan jubah kabut tipis, menyanyikan lagu-lagu manis, menyihir orang yang lewat . Rusalki Rusia utara jelek, tidak terawat, jahat , selalu telanjang, dan selalu ingin menyergap manusia. Semua rusalki suka membujuk pria— keji untuk memikat mereka dan rusalki utara untuk menyiksa mereka." Suara perempuan dari sebuah video yang berada di komputer.
"Jadi, kau ingin menangkap yang satu ini?"
"Ya."
"Itu mustahil!"
"Kenapa tidak?"
"Kau bercanda? Memangnya mereka masih ada?"
"Kalau duyung saja bisa kita temukan, bahkan berlimpah di sini, mereka pasti bisa kita temukan." Pria berambut hitam dan bertato di lengannya itu menggenggam tangannya dan sepertinya tekadnya sudah kuat. "Tapi, untuk menetralkan kekuatanku dengan pemimpin mereka, aku harus menemukan jenis yang satu ini." Pria itu menunjukkan sebuah kertas kepada pria yang satunya.
"Setengah manusia, setengah ikan dan belum bertransformasi menjadi duyung utuh." pria satunya membaca tulisan di dalam kertas dan berhenti. "Apa maksudnya?"
"Ketika aku menemukan jenis itu, dan meminum darahnya, aku akan menjadi sekuat pemimpin rusalka sekalipun. Aku bisa mendapatkan jiwanya dan menjadi yang terkuat dan abadi!" Pria berambut hitam itu berdiri dengan sorot matanya yang tajam dan membara.
"Sepertinya kau tahu banyak.."
"Pemburuan ini turun temurun. Ini terjadi secara alami, dan aku terlahir dari keluarga pemburu duyung. Pendahulu sebelum-sebelumnya tidak berhasil, dan inilah saatnya aku membuat dunia seperti yang aku inginkan."
"Kau hebat."
"J.c.."
"Ya?"
"Aku sudah memiliki petunjuk, kau selidiki itu, dan temukan bukti sebanyak-banyaknya. Jika memang benar itu dia, aku sudah memiliki rencana.."
"Serahkan padaku, Bryan."
***
"Kerinee tidak mengerahkan seluruh anak buahnya, namun dia mengirimkan 100 anak buah paling cerdas dan yang paling ia percayai. Itu tidak main-main, aku benar-benar harus menjaga putriku. Jangan sampai mereka membawa Lula ke laut, karena aku tahu apa rasanya hidup di laut, dengan kondisi masih setengah manusia setengah duyung." pria berambut cokelat kemerahan berdiri di balkon sebuah apartemen lantai 20. Ia memandang langit yang mulai gelap dan berpikir cara terbaik menjauhkan putrinya dari Kerinee.
"Seharian mengurus masalah ini, aku jadi melupakan putriku. Bagaimana keadaannya sekarang? Sebaiknya aku kembali ke rumah sakit." Pria itu mengangguk dan masuk ke dalam apartemennya.
***
"Katakan padaku siapa kau!" Bentak Kalula. Dia memukul meja hingga menimbulkan bunyi badabam cukup keras, membuat perempuan di depannya terhentak.
"Apa yang kau inginkan?!" Lula menaikkan kepalanya dan menatap tajam Kalula tanpa rasa takut sedikitpun.
Kalula nyengir. "Kau seorang duyung?!"
Tidak ada balasan. Lula terdiam tanpa balasan.
"Jadi benar kau seorang duyung!" Kalula menekan dagu Lula dan menariknya sedekat mungkin dengan wajahnya.
"Hahaha" Lula tertawa keras membuat Kalula menaikkan satu alisnya.
"Kau anggap ini lelucon?!"
"Kau yang melucu! Kau pikir ini dunia fantasi? Duyung? Apa sampai sekarang ibumu masih membacakan dongeng mermaid sebelum tidur? Kau se-" Kalula membungkam mulut Lula dan perempuan itu terdiam seketika. Wanita itu membaca sesuatu dan secara tiba-tiba mata Lula terpejam dan tubuhnya lemas.
Wanita itu berubah total ketika kekuatannya mulai melemah. Tujuan utama yang awalnya berniat untuk mengambil kembali Lula, putrinya yang ia titipkan kepada Kerinee, untuk dibesarkan sendiri di dunia bawah, berubah menjadi ia harus menemukan putrinya, mengambil jantungnya, dan memakannya demi memulihkan kembali kekuatannya, hidup atau mati.
Sudah sangat lama Kalula bersemayam di dunia bawah, dan ia berpikiran bahwa inilah saatnya. Inilah puncak dari perjuangannya, setelah ia berusaha keras membangun kerajaan baru yang tak terkalahkan dengan para monster membersamainya.
Jika ia bisa menguasai seluruh lautan, ia juga harus menguasai seluruh daratan. Dengan memakan jantung putri kandungnya, apalagi setengah manusia setengah duyung, ia bisa bertahan hidup di daratan bahkan selama mungkin tanpa berendam di dalam air setiap malam.
"Apakah Ratu menemukan sesuatu?" Voodoohag masuk ke dalam ruangan ketika Kalula selesai dengan target terakhir.
"Dia bukan putriku. Tapi aku curiga dia memiliki hubungan dengan Lula dan mungkin terdapat petunjuk tersembunyi yang bisa aku temukan."
"Voodoohag! Bawa semua orang-orang ini, dan kembalikan mereka dimana kita menemukannya. Kecuali gadis ini, aku tidak akan melepaskannya sebelum tahu siapa dia."
"Baik, Ratu."
***
"Aku sudah memakaikannya kalung kerang kenapa Lula masih belum sadar juga?" Jereni berdiri di depan jendela ruangan Lula. Ketika kedua orang tua Lula kembali, gadis itu langsung bertanya dimana kalung kerang Lula, dan untung saja Sofia yang menyimpannya. "Aku juga sudah berusaha memakaikannya, namun tidak ada perubahan. Karena dokter harus memasang beberapa alat di tubuh Lula, jadi dokter memintaku melepaskannya untuk sementara. Jadi, aku menyimpan ini. Tapi karena dokter sudah memasang alat-alat itu kurasa kau boleh memasangkannya Sekarang." Sofia berkata seperti itu, dan memang dia sudah berusaha melakukan apapun, bahkan percaya dengan hal mustahil seperti ini.
Keadaan sudah sore menjelang malam. Jereni dan Yejin masih di sini. Mereka tidak mau jika Lula sadar tanpa mereka. Dua orang itu terlalu keras kepala, sehingga ketika orang tua dari masing-masing datang untung berbicara dan menyuruh mereka segera pulang, mereka bersikeras untuk tetap tinggal. Tanpa daya, orang tua keduanya hanya mengiyakannya dan mereka kembali ke rumah, karena harus melakukan beberapa hal.
"Kau lihat itu tidak membantunya terbangun." Yejin berdiri di samping Jereni dan menatap Lula yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
"Setidaknya aku berusaha."
"Yejin, kau tahu sesuatu?" Jereni menoleh dan menatap Yejin.
Laki-laki itu hanya menatapnya balik dan tidak menanggapi Jereni, membiarkan perempuan itu melanjutkan perkataannya.
"Aku akan menghajar Caleb habis-habisan besok! Bahkan, ketika hari ini Lula sadar sekalipun, aku tidak akan berubah pikiran tentang tekadku. Aku tidak akan menghentikannya dan tidak akan ada yang bisa menghentikanku." Api terlihat membara di kedua mata Jereni. "Aku sudah ingin menghajar laki-laki itu sejak pertama kali Lula bersamanya, dan kali ini, aku tidak akan mundur lagi."
Yejin kembali menatap ke jendela kaca lagi, melihat Lula masih terbaring dengan alat-alat yang menempel di tubuhnya. "Apa yang akan kau lakukan, semua itu, tidak akan pernah membuat Lula senang. Aku yakin."
"Aku tidak main-main, Yejin!"
"Lula juga pasti tidak menginginkan ini. Tapi dia tidak akan pernah melukai siapapun demi hawa nafsunya, baik ketika dia terdesak ataupun tidak. Dan perlu kau tahu, dia tidak pernah ingin melihatmu menjadi monster, Jereni." Kali ini Yejin menatap serius Jereni. "Jika itu hal yang benar, aku juga akan menghajar laki-laki itu, bahkan hingga dia mati, tanpa ampun. Tapi.. bukan begini caranya.."
"Yejin.." Jereni menghadapkan tubuhnya ke arah Yejin, dan memegang kedua pundak Yejin.
"Jika aku berada di posisi Lula, dia juga akan melakukan hal yang sama."
"Kau ingat ketika aku dan Lula dihadang beberapa laki-laki? Saat itu kau tertinggal di belakang dan hanya kami berdua. Lula rela melukai salah satunya demi menyelamatkan aku, Yejin! Aku juga akan melakukan hal sama, walau sudah terlambat untuk menyelamatkan Lula, namun aku akan membalasnya."
Tittttt.....
Belum sempat Yejin berbicara, EKG di ruangan Lula berbunyi. Perawat datang tiba-tiba dan langsung memeriksa Lula. Perawat itu memeriksa Lula, dan beberapa saat kemudian ia memencet tombol di samping tempat tidur Lula.
Sofia dan Mark berdiri dari duduknya dan bertanya kenapa. Mereka panik, juga Yejin dan Jereni. Mereka semua berdiri di depan jendela dan ingin mencari tahu apa yang terjadi.
Beberapa detik kemudian dokter langsung datang dan bertanya ada apa. "Detak jantung pasien terus melemah, dokter."
"Baiklah, siapkan alat kejut jantung." Dokter berjalan mendekat ke arah jendela dan menutupnya, membuat Sofia semakin cemas. "Mark, Lula.."
"Tidak apa, Sofia. Dia akan baik-baik saja. Dokter pasti memberikan yang terbaik."