Luna Rusalka

Luna Rusalka
48



"Kau tahu ini tidak akan berhasil." Jereni berdiri di dekat jendela sambil menjawab telepon.


"Kau bilang saja, ingin berangkat bersamaku."


"Aku ingin, tapi mama..."


"Jereni sarapan dulu.." Rwka datang menghampiri Jereni.


"Siapa?" Dia bertanya karena melihat Jereni memegang telepon.


"Bukan siapa-siapa, ayo.." Jereni mematikan teleponnya dan berjalan di belakang Rwka.


***


"Ugh.." Lula kesal. Pasalnya dia ingin berangkat bersama Jereni dan menceritakan seluruh masalahnya, namun tidak bisa karena Jereni harus berangkat bersama mamanya.


"Kalau aku menceritakan ini di sekolah, nanti ada yang dengar." Lula melempar telepon rumahnya di tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Tak lupa ia mengambil ransel hitamnya.


Lula berencana untuk menceritakan apapun yang ia pendam selama ini. Ia lelah harus menyimpannya sendirian. Dia tahu, kalau Jereni tidak akan memberitahu siapapun, dan dia pasti akan mengerti.


Namun mungkin tidak kali ini. Tidak mungkin juga bercerita di sekolah.


***


"Aku berangkat dulu." Yejin mencium kening mamanya dan berpamitan pergi ke sekolah.


Setiap pagi, hanya ada dia dan mamanya. Ayahnya Yejin sudah berangkat pagi-pagi sekali, dan kakak laki-lakinya terkadang tidak tidur di rumah.


Matvei, putra pertama, usia 18 tahun. Dia lebih sering tidur di rumah neneknya, daripada di sini.


"Tidak sarapan, Yejin?"


Yejin menggeleng. "Aku harus melakukan sesuatu." Dia berjalan keluar rumah dan benar-benar pergi.


Yeva menggeleng dan melanjutkan sarapan nya. "Sendirian lagi.." Dia hanya bisa menghembuskan nafas. Seperti sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Sarapan sendirian, tanpa suami dan kedua anaknya.


Tak selang berapa lama, suara pintu rumah terbuka dan ia mendengar suara Matvei.


"Pagi, ma." Matvei memang jarang di rumah, namun ia lebih ramah dan terbuka dengan kedua orangtuanya, tidak seperti Yejin. Sifat nya bertolak belakang sekali dengan adik satu-satunya itu, Yejin.


Dia selalu tersenyum, dan membuat lelucon. Semua orang menyukai Matvei.


"Sudah sarapan?" Yeva tersenyum ketika putra pertamanya itu mencium pipinya.


Matvei menggeleng. "Aku lapar sekali, nenek sakit dan tidak memasak." Ia duduk di kursi dan Yeva menyiapkan sarapannya dengan sigap.


"Nenek sakit?" Ia terkejut. "Kenapa kau tidak menghubungi mama?"


Matvei mengangguk sambil memakan roti lapis kesukaannya. "Hanya kelelahan karena semalaman merajut lagi." Sesekali Matvei menatap mamanya di sela makan paginya. "Mama jangan khawatir, paman sudah merawatnya."


"Tetap mama khawatir." Yeva selesai dengan sarapannya. "Kau mau mama siapkan bekal?" Ia berdiri dan berjalan menuju dapur.


"Tidak perlu." Matvei menggeleng dan Yeva hanya mengangguk. Dia pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu.


"Yejin kemana?" Dia bertanya, karena tidak melihat adiknya berada di sini.


"Sudah berangkat. Baru saja, ketika kau kembali."


"Pagi sekali dia pergi.."


Yeva mengangguk. Dia duduk di kursi dan membereskan piring yang kotor. "Tadi malam dia menanyakanmu."


"Benarkah?"


Yeva mengangguk.


"Dia mulai perduli denganku lagi?" Matvei tertawa ringan dan melihat jam tangannya. "Aku harus pergi." Dia meminum susunya dan beranjak, ketika ekor matanya melihat sesuatu di ujung meja makan.


"Bukankah itu milik Yejin?" Dia menunjuk baju renang Yejin yang tergeletak.


"Benar, dia pasti meninggalkan nya. Matvei, Yejin latihan pagi ini," Yeva terkejut. Dia berpikir, dia tidak melihat baju itu dari tadi, padahal itu tergeletak tepat di depan nya.


"Biarkan aku yang membawanya."


"Mama saja, kau harus sekolah."


"Sekolahku melewati sekolah Yejin, kau lupa? Aku bisa mengantarkan nya terlebih dahulu."


"Tidak apa?"


Matvei mengangguk, dan meraih baju renang Yejin kemudian memasukkannya ke dalam tas ranselnya.


"Aku berangkat dulu."


"Hati-hati, Matvei!" Matvei mengangguk dan keluar rumah.


***


Lula berangkat sekolah sendirian dengan kesal, karena Yejin juga tidak bersamanya. Dia harus pergi melakukan sesuatu, dan tidak bisa berangkat bersama Lula.


Sofia meminta ia berangkat bersama Mark, namun Lula tidak mau, dan memilih untuk berangkat sendirian.


"Sepertinya hari ini akan membosankan." Lula terus menggayuh sepedanya dengan santai.


***


Motor Matvei sampai di parkiran sekolah Yejin dan ia turun dari sana. Menengok ke kanan-kiri, dan masih jarang murid yang berangkat.


Sepertinya dia harus mengantarkannya sampai kelas Yejin.


"Aku tidak tahu lagi kelasnya dimana."


Dia berjalan lurus ke depan, dan tidak tahu harus kemana.


Dia berhenti dan berpikir. "Mungkin aku ke ruang Tata Usaha." Dia berjalan namun berhenti lagi. "Namun, kalau aku tidak tahu Yejin kelas apa, mereka juga akan bingung mencaritahu." Matvei menggaruk kepalanya bingung.


"Aku tanya seseorang saja." Dia berjalan mencari anak lain, namun tak kunjung menemukannya. Ini masih terlalu pagi.


Beberapa menit mencari, akhirnya dia melihat anak perempuan berambut merah kecoklatan berjalan berlawanan arah dengannya.


"Permisi.." Anak itu berhenti.


"Bisa saya bantu?"


"Kau tahu, Yejin Ilarion? Atlet renang?"


"Ah Yejin."


"Kau tahu?" Anak perempuan itu mengangguk.


"Dia meninggalkan baju renangnya. Bisakah kau mengantarkannya?"


"Bisa, kami berlatih bersama hari ini."


"Ah bagus," Matvei tersenyum dan mengambil baju renang Yejin kemudian menyerahkannya kepada anak perempuan itu.


"Kau siapa?" anak perempuan itu mencoba mencari tahu, siapa lelaki di depannya.


"Aku Matvei, kakaknya Yejin." Anak itu mengangguk. "Kau siapa?"


"Erynav, partner renang Yejin." Matvei mengangguk dan menutup kembali tasnya.


"Terimakasih banyak, aku harus pergi."


Erynav mengangguk dan mereka berpisah kemudian.


***


"Mama pergi dulu."


"Baiklah. Sampai jumpa!" Jereni mencium tangan mamanya dan mamanya benar-benar pergi dari hadapannya.


Dia masih berdiri memperhatikan mobil mamanya yang pergi untuk kembali ke rumah. Maklum, Jereni anak satu-satunya dan kedua orangtuanya melakukan yang terbaik terhadap nya.


"Lula sudah berangkat belum ya?" Dia berbalik dan berjalan menuju kelas yang lumayan jauh dari tempat ia berdiri, di gerbang sekolah.


Dia tidak mengeluh, karena ini sudah biasa.


"Aku malas sekali ke sekolah hari ini.." Jereni berjalan dengan gontai dan tersandung kemudian.


Dia benar-benar tidak memperhatikan jalanan. Untuk tidak ada orang di sini.


Jereni berbelok ke kanan dan berjalan melewati koridor. Beberapa anak berjalan di depannya dan saling berbicara.


Pandangan mata Jereni beralih ke seorang laki-laki berjaket hitam berjalan berlawanan arah di depannya.


Jereni's POV


Yeah kau tahu, aku tidak -


Siapa dia? Sepertinya bukan murid di sini. Kurasa dia anak ..


Tidak asing bagiku?


Dia juga menatapku dari jauh, dan kenapa aku merasa ada sesuatu ketika aku menatap matanya?


Laki-laki itu tak asing dan ..


"Jereni!" Aku terkejut seseorang menepuk pundakku dan berteriak.


"Lula?" Lula tersenyum dan merangkul ku.


"Kau tadi mematikan teleponku begitu saja " Aku tidak mendengarkan Lula. Aku masih memperhatikan laki-laki itu.


Dia tersenyum ketika jarak kami semakin dekat. Tunggu, dia tersenyum? Padaku?


"Kak Matvei!"