
Jereni menolehkan kepalanya dan tersenyum menatapku. Tidak Ada yang bisa membuatku tersenyum lebar selain senyumannya saat ini.
Aku berjalan mendekatinya dan ia mencoba berdiri mendekatiku namun terjatuh dan aku dengan cepat menangkapnya.
"Jangan bergerak dulu kalau masih lemas." Aku menidurkan tubuh Jereni dan dia mengangguk.
Sesaat kemudian, dia memelukku erat.
"Ini yang aku butuhkan." Aku tersenyum dan memeluknya balik. Tubuhnya sangat hangat dan aku sungguh tenang Kali ini.
Aku melepas pelukannya dan duduk di sampingnya, menatapnya sambil memegang kedua tangannya. "Kau kurus sekali, Jereni."
Jereni hanya tersenyum dengan rahangnya yang mulai jelas, dia sangat kurus. Rambutnya acak-acakan dan terlihat kusut. Aku berdiri, mencari sisir di meja dan kembali duduk di sisi tempat tidurnya.
Jereni duduk, seakan dia tahu kalau aku akan merapikan rambutnya. "Aku hanya mau rambutku disisir olehmu.." Jereni mengacak rambutnya dan menempelkan tanganku di kepalanya.
Aku mulai menyisir rambutnya dan merapikannya ke belakang telinga. Memperlihatkan wajah tirus Jereni yang cantik.
"Kau sudah makan?"
Jereni menggeleng. "Aku kehilangan nafsu makanku semenjak..-"
"Ssstt .." Sontak aku menutup mulut Jereni dengan telunjukku. "Makan dulu baru cerita." Aku berdiri dan berjalan keluar, mengambil makanan Jereni. "Tunggu sebentar, aku akan segera kembali." Jereni mengangguk dan aku melesat keluar.
***
Entah apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Terkadang aku senyum-senyum sendiri ketika mengingat Lula. Gadis itu, membuatku terus memikirkannya.
Aku tidak bisa mengelak kalau memiliki perasaan ini padanya. Tapi, apakah ia juga sama? Atau dia akan menjauhiku ketika tahu perasaanku seperti apa padanya?
Tujuh Hari lagi Dan aku akan pergi untuk Berlomba. Seharusnya ini menjadi moment spesial karena aku akan berlomba bersama Lula. Namun, dia digantikan.
Apakah dia akan menemaniku, atau tidak? Dia sahabatku. Apakah aku harus memintanya untuk menemaniku? Tapi, untuk apa? Apa karena dia sahabatku, atau aku...
"Yejin?"
"Iya, ma?" Aku mendengar suara mama di luar kamarku.
"Ada telepon Dari Lula." Aku baru saja memikirkannya dan ia menelponku.
Aku beranjak Dari tempat tidur Dan berjalan membuka pintu.
"Aku datang." ck.
***
"Maaf menunggu lama." Lula membuka pintu sambil membawa nampan berisi makanan di tangannya. Ia berjalan menghampiri Jereni dan duduk di sisi tempat tidur.
"Aku tidak ingin makan, Lula." Jereni menatap makanannya tanpa nafsu.
"Kapan terakhir kamu makan?" Lula meletakkan sendok di nampan. "Kau tak makan, Jereni. Kau harus makan sekarang atau aku akan pulang saja." Lula menatap gadis di depannya serius.
Jereni mengangguk dan Lula tersenyum. "Jadilah gadis baik untuk hari ini saja, Jereni." Lula mengambil sendok dan menyuapkan bubur ke mulut Jereni, namun terhenti seketika, lalu memasukkan bubur di sendok itu di mulutnya.
Jereni menatap Lula bingung.
"Ini enak. Jadi kau tak perlu khawatir." Lula tersenyum dan menyendokkan bubur lagi dan menyuapkannya kepada Jereni.
Jereni memakannya sampai habis dan mereka terus bercanda dan tertawa.
"Aku sudah kenyang." Beberapa saat kemudian, Jereni menutup mulut nya dan Lula mengerti.
"Ini minumlah.."
"Sebentar aku mengembalikan ini ke dapur." Lula membereskan nampannya dan pergi berlalu ke dapur.
Apa aku harus bercerita hal ini dengan Lula? Jika aku bercerita, apa yang akan dilakukan Lula? Tapi jika aku tidak bercerita, aku akan terus memikirkan hal itu.
Batin Jereni menatap jendela.
"Kau sedang apa?" Lula masuk ke kamar dan melihat Jereni yang tengah berusaha berdiri, namun kembali lagi berbaring.
"Kau masih lemas. Sebaiknya berbaring saja di tempat tidur."
Kenyataan memang terkadang susah kita terima.
"Bagaimana kabar Yejin? Apakah kalian sudah akrab lagi? Dan bukankah kalian akan berlomba beberapa hari lagi?" Sepertinya Jereni mengalihkan pembicaraan. Dia menunda-nunda nya untuk memberi penjelasan. Lula tidak akan berhenti jika dia belum mendapatkan apa yang seharusnya. Lagi pula, Jereni sudah buka mulut, dan Lula juga menanti hal itu.
"Yejin baik. Ya, bisa dibilang begitu. Kami mulai melakukan hal kecil bersama. Tidak, Jereni. Cerita panjang. Aku digantikan. Sudahlah apa yang akan kau bicarakan."
Jereni terdiam. Dia bingung. Apakah dia harus?
"Jereni. Aku tahu. Kau harus memberitahuku. Setidaknya untuk membuatmu sedikit tenang." Lula meletakkan kedua tangannya di pundak Jereni.
Jereni masih terdiam dan berpikir. "Kalau hal ini yang membuatmu seperti ini, berbagilah denganku."
Jereni menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Baiklah, Lula."
Lula melepas kedua tangannya dan menatap Jereni siap mendengarkan.
"Aku bermimpi."
"Tapi, mimpiku itu seakan merenggut semuanya."
"Pikiranku, batinku, bahkan hidupku."
"Aku jadi terus memikirkannya, tidak nafsu makan, dan untuk bergerak saja sungkan."
"Mimpi itu, membuat kehidupan nyataku seperti mimpi, dan aku sama saja hidup di mimpiku sendiri "
"...."
"Mimpi itu sama dan berlanjut, seperti memiliki arah dan aku merasa ikut andil di dalamnya, yang mana itu bukan menceritakan kehidupanku."
"Kurasa seseorang mencoba menunjukkan ku sesuatu, Lula."
"Siapa dan bagaimana bisa??" Lula mulai tertarik dan ia sangat penasaran cerita selanjutnya.
"Aku tidak tahu. Aku merasa hidup di masa lalu, atau di dunia yang lain. Aku adalah aku, namun aku bukan manusia di dalam mimpiku, Lula."
Yejin juga berkata seperti itu. Mereka berdua mengalami hal aneh yang kubilang cukup sama.. Lula berpikir sejenak, mengingat sesuatu tentang yang Yejin katakan kemarin.
"Jereni. Tapi kau bilang, mimpi hanya bunga tidur." Lula menyangkal.
"Ya. Aku berpendapat seperti itu, dulu. Tapi terkadang, sesuatu ingin memaksa ada di ingatan kita. Jika tidak lewat kehidupan nyata, namun lewat mimpi kita. Hmmmpphhh..." Suara Jereni mulai pelan dan ia merasa dingin menyeruak ke seluruh tubuh.
Dengan sigap Lula menyelimuti tubuh Jereni dan menggenggam tangan Jereni. "Kau bisa hentikan jika masih lemas."
"Tidak." Jereni menggeleng keras. Lula harus tahu.
"Mimpi yang sama dan berkelanjutan, apakah hanya sebatas bunga tidur?"
"Seseorang mencoba menunjukkan sesuatu. Hal itu membuat tubuhku lemah di kehidupanku sekarang."
"Kau bilang kau bukan manusia di mimpimu. Jadi, apa?"
"Aku memiliki aw..-" Pekik Jereni kesakitan dan memegang kepalanya. "Kepalaku sakit sekali.."
"Mana yang sakit??" Lula khawatir.
"Di sini, sakit sekali, aku tidak tahan.." Jereni terus meronta kesakitan dan Lula berinisiatif memanggil bibi Rwka namun dicegah oleh Jereni.
"Lula.. Jika aku pergi sekarang.." Jereni mencoba berbicara di tengah kesakitannya.
"Tidak! Apa yang kau bicarakan!" Lula mencoba melepaskan tangannya namun Jereni menahannya.
"Lepaskan tanganku. Aku harus memberitahu mereka."
"Tidak, dengarkan aku dulu Lula."
"Aku akan berteriak."
"Cobalah untuk mendengarkan aku.. Habis itu kau boleh pergi.." Jereni memegang kepalanya dan menatap Lula dengan matanya yang lelah.
Lula terdiam dan duduk kembali di sisi tempat tidur.
"Aku.." Jereni menghentikan perkataannya dan menatap Lula serius.