Luna Rusalka

Luna Rusalka
51



"Tidak ada kalimat pembuka cerita dalam sebuah realita


kehidupan. Yang ada hanya suasana yang terjadi saat itu juga. Kejadian-kejadian selanjutnya yang terjadi, merupakan alur yang dibuat Tuhan agar siklus hidup di bumi tetap berjalan.


Ketika pagi, kita menyebutnya hari baru, hari dimana kita terbangun dari tidur kita, dan bersiap dengan kegiatan sepanjang hari itu.


Siang, kita tidak membicarakan apa-apa. **Ma**tahari sedang berada di puncaknya, ketika itu musing panas. Musim dingin, salju, hujan, sejatinya matahari tetap berada di atas sana, hanya terhalang dan kita tidak dapat melihatnya dengan jelas.


Sore hari, adalah dimana kegiatan apapun berakhir. Menuju petang itu, dan matahari bersiap untuk tertidur.


Kalau malam, waktunya untuk tidur dan beristirahat. Tapi tidak untuk beberapa orang. Mereka terkadang melanjutkan kegiatannya sepanjang waktu, bahkan sampai tidak tertidur dan memilih untuk terjaga semalaman."


klik


Jereni mematikan televisinya. Dia sedang menonton acara sore hari kesukaannya. Namun, kali ini terasa membosankan. Agak berbeda dan ia merasa suntuk.


"Mungkin setelah Yejin kembali dari perlombaan saja." Ya. Jereni sudah memutuskan. Dia meralat keputusannya tentang ingin memberitahu semuanya pada Lula besok.


Dia mengangguk mantap dan keluar kamar.


***


Setelah makan malam saja. Lula sedang berpikir kapan waktu yang tepat untuk meminta izin. Ia melanjutkan makan malamnya dengan tergesa-gesa dan tidak tenang.


"Kakak.. tidak boleh makan seperti itu." Yefy menyadari pergerakan Lula yang aneh dan Sofia hanya tersenyum.


"Ada yang mau kau bicarakan?" Mark menatap putrinya itu paham, apa yang tengah terjadi padanya.


Lula menghentikan makannya dan meringis, kemudian mengangguk. "Nanti saja."


Mark mengangguk dan Sofia memberikan air putih kepada Lula.


Aku malu sekali.


Bisa kau bayangkan apa yang dirasakan Lula? Hal wajar namanya.


"Jangan tergesa-gesa, nanti tersedak." Sofia memberi nasehat kepada putrinya itu. Lula hanya terdiam dan melanjutkan makannya.


"Jadi, apa yang mau kau bicarakan?" Sofia mengelap mulutnya menggunakan tisu. Mereka semua sudah selesai makan, dan segera memakan makanan penutup.


Apa.. aku harus mengatakannya sekarang?


"Lula?"


"Hari Jum'at, apa boleh aku .." Lula merasa tidak yakin. Tapi jika tidak sekarang, dia tidak tahu apakah kedua orang tuanya memperbolehkannya atau tidak.


Mark dan Sofia masih mendengarkan. Mereka mulai penasaran apa yang akan dikatakan putrinya.


"Yejin.."


"Kenapa dengan Yejin?" Sofia terlihat tidak sabaran, namun ia mencoba setenang mungkin dan tidak emosi. Tidak biasanya Lula seperti ini. Ini hal yang aneh bagi mereka.


"Kalian tahu seharusnya kami, aku dan Yejin lomba renang di ibu kota. Tapi sesuatu terjadi dan Tuan Ivan menganggapku mengundurkan diri."


Sofia dan Mark mulai paham. Mereka sudah tahu apa yang akan Lula bahas.


"Yejin, dia tetap berlomba dan bolehkah aku datang ke perlombaannya?" Lula terlihat memohon sedikit. Sofia menarik nafas kasar dan Mark menyentuh telapak tangannya mencoba agar Sofia tidak emosi.


"Tidak." Jawab Sofia singkat.


"Kenapa? Aku hanya ingin menyemangatinya. Yejin sahabatku."


"Mama bilang tidak, ya tidak."


"Mama, aku sudah berjanji dengan Yejin." Lula mulai merengek dan menunjukkan wajah memohonnya, namun tetap saja mamanya tidak goyah dengan keputusannya.


"Mama tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Kau ingat terakhir kali kau berhubungan dengan air?" Lula terdiam seketika. Ia jadi ingat kejadian di air terjun. Terkadang, air membuatnya terancam bahaya. Namun, dia bahkan tidak akan berurusan dengan air ketika di ibu kota.


"Aku hanya menonton. Kalian tetap tidak mau mengizinkanku?"


"Tidak. Kau harus sekolah di hari Jumat. Mama tidak mau kau tidak masuk sekolah."


"Baiklah." Lula berhenti memohon, dan berdiri. Dia berbalik dan pergi berlalu ke kamarnya.


Dia merutuki dirinya sendiri. Dia tidak berpikir bagaimana tanggapan mamanya ketika ia meminta izin untuk pergi ke ibu kota.


Dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Terpaksa, ia harus memberitahu Yejin. Dia tidak bisa datang. Dia melanggar janjinya sendiri.


***


Yejin memandang dirinya di depan cermin. Ia melepas baju seragamnya dan menjatuhkannya begitu saja di lantai. Dia tetap melihat di cermin yang sama tingginya dengan tubuhnya itu.


Setidaknya, dia akan datang di perlombaanku. Batinnya, mengingat perkataan Lula kemarin.


Yejin baru saja kembali ketika makan malam. Dia pergi ke toko buku terlebih dahulu, untuk membeli entahlah, aku pun tidak tahu.


Matvei dan kedua orang tuannya tengah menunggunya makan malam, namun dia tidak langsung makan. Yejin harus bersih-bersih. Ia menyuruh mereka bertiga untuk makan terlebih dahulu.


"Tumben sekali Matvei di sini." Yejin mengingat sesuatu. Ketika ia mendapatkan baju renangnya, dan Matvei yang membawakannya.


"Kenapa dia perduli padaku?" Yejin meraih handuk di gantungan dan masuk ke kamar mandi.


***


Aku masih penasaran dengan gadis yang bersama Lula tadi pagi.


Matvei tengah duduk di tempat tidurnya dan bermain dengan laptopnya. Dia tengah melihat beberapa foto lama, dan berniat untuk mencetaknya.


Hari ini dia tidak ke rumah nenek. Karena paman bibinya dari luar kota tengah berkunjung. Ia merasa aneh ketika mereka di sana, jadi dia memilih untuk tinggal beberapa hari di rumahnya.


Matvei tidak memperhatikan layar laptop, namun tangannya berhenti ketika melihat sesuatu di fotonya. Foto dirinya tengah tersenyum dengan Yejin, dan seorang anak kecil berambut merah kecoklatan tengah berdiri tepat di belakang mereka.


Ia menyipitkan matanya dan me-zoom gambar gadis itu.


"Bukankah ini.." Entahlah ini kebetulan atau apa, namun gadis itu adalah gadis yang ia temui tadi pagi di sekolah Yejin. Kalau ia tidak salah.


Matvei beranjak dan meletakkan laptopnya di meja. Dia menyambungkan laptopnya dengan printer dan mencetak foto itu.


Tidak menunggu waktu lama, foto selesai dicetak dan ia melihat dengan jelas.


"Ini suatu kebetulan, atau sesuatu mencoba mengingatkan aku pada sesuatu?" Dia berpikir keras.


"Ah tapi ini sudah sangat lama. Lima tahun yang lalu, kurasa."


"Ini pasti hanya kebetulan. Kita bisa saja bertemu dengan seseorang tanpa kita sadari." Matvei mengangguk dan meletakkan foto itu di meja. Ia merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk tertidur.


"Hari yang melelahkan."


***


Lula's POV


Apa yang harus aku katakan kepada Yejin?


Mama membuat aku seakan aku mengundurkan diri. Mama juga yang tidak memperbolehkan aku pergi ke perlombaan Yejin, dan aku juga tidak boleh berenang lagi.


Aku tahu aku tahu, mama hanya menghawatirkan aku. Tapi aku bisa mengatasi hal ini. Beberapa kali aku selamat dari kejadian yang hampir merenggut nyawaku.


Itu berarti, bukan waktuku. Bukan waktuku untuk pergi. Jika aku tidak selamat waktu itu, tandanya memang aku ditakdirkan untuk tiada.


Aku jadi teringat sesuatu. Bisakah aku melakukan nya lagi? Mengendalikan air, atau apapun itu.


Aku akan mencobanya lagi.