Luna Rusalka

Luna Rusalka
59



"Aku tidak bisa datang." Katanya sambil menatap mata Yejin. Tersirat penyesalan yang dalam di mata Lula.


"Tapi, Lula kau.."


"Maafkan aku, Yejin.." Lula menundukkan kepalanya lalu berjalan mendahului Yejin, dan pergi menuju sepedanya.


"Aku harus pergi." Katanya sebelum meninggalkan tempat itu.


Yejin hanya berdiri mematung dan merasa ... kejadiannya cepat sekali.


Dia berbalik dan menatap Lula pergi dengan sepedanya. Ia tak bisa mencegah Lula dan dia masih tidak tahu apa alasan Lula tidak bisa datang.


Yejin masih berdiri dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Mengapa aku menjadi sedih?" Yejin mengeluarkan nafasnya kasar. "Seharusnya aku sudah tahu dari awal dan tidak banyak berharap."


Ia memalingkan wajahnya dan berbalik lalu berjalan menuju pintu.


Tidak ada niatan untuk membuka itu, namun ia mendengar teriakan neneknya dari dalam dan segera ia masuk dan mencari tahu apa yang terjadi.


***


Lula menaiki sepedanya dan menggayuhnya dengan cepat. Ia merasa sedih telah mengatakan hal itu dan ia sangat penasaran apa respon Yejin. Karena dia tahu, dia langsung pergi begitu saja tanpa menyaksikan respon Yejin setelah ia berbicara itu.


Ia tidak ingin membuat ini menjadi masalah besar, dan ia juga harus kembali ke sekolah secepat mungkin.


Jereni pasti khawatir dan Bu guru secepatnya akan menyadari kalau Lula tidak ada. Mamanya juga akan mendapat telepon bahwa Lula membolos untuk hal yang sama sekali tidak masuk akal.


"Ini sangat jauh untuk sampai ke sekolah.." Lula mengeluh di tengah perjalanan.


"Jarak dari sini ke jalan raya juga masih jauh, kalaupun aku naik bis, sampainya akan sama saja." Ia sama sekali tidak memikirkan kakinya yang akan sangat lelah. Yang ia pikirkan sekarang hanya bagaimana harus sampai di sekolah secepat mungkin.


***


"Lula membuatku sangat geram." Jereni berjalan kembali ke kelasnya.


Ia menunggu beberapa menit dan tidak menemukan Lula kembali.


Ia membuka pintu dan masuk ke dalam kelas.


Bu guru menyadari cukup lama Jereni keluar kelas dan bertanya habis darimana.


"Jereni."


Jereni berhenti dan berbalik. "Iya, Bu?"


"Hampir setengah jam kau keluar. Habis dari mana?"


Jereni memutar otak dan mencari alasan.


"Perut saya sakit, dan saya bolak balik ke kamar mandi." Jereni meringis dan Bu guru mengerti.


"Baik. Pelajaran sejarah saya tutup. Jangan lupa untuk mengerjakan tugas kelompok. Saya tunggu Minggu depan." Kata Bu guru, dan ia keluar kelas.


Jereni masih khawatir dan ia hanya menggigiti jarinya.


***


"Aku lelah sekali.." Lula berhenti sebentar dan menyeka keringatnya. "Tapi aku harus segera kembali." Ia menggayuh sepedanya lagi dengan baju yang basah kuyup karena berkeringat.


Ia melewati jalan aspal dan masih sepi, tidak ada satu orangpun di sana. Lula merasa aneh, namun ia tidak pikir panjang tentang hal itu.


Dia tidak tahu ini jam berapa. Gadis itu tidak memakai arloji hari ini. Ia buru-buru tadi pagi dan meninggalkan jam tangannya di rumah.


Hari ini cerah dan agak panas. Tidak ada awan dan hanya sinar matahari yang hampir di atas. Lula masih menggayuh sepedanya dan beberapa meter lagi dia sampai, tinggal melewati jembatan, belok kanan, lurus, sampai di dekat hutan dan lurus saja sampai.


Sebenarnya, akan lebih cepat jika masuk ke hutan. Itu akan sampai di gerbang belakang sekolah dengan cepat. Namun, di daerah situ angker. Ada danau dan legenda mengatakan, danau di tengah hutan sangat menakutkan.


Ada makhluk berekor, Setengah manusia dan setengah ikan, yang biasa disebut Rusálká. Itu adalah legenda hantu setempat, entahlah itu hantu atau makhluk.


Dideskripsikan berupa seorang perempuan cantik yang mati dibunuh oleh kekasihnya dan dikhianati. Mayatnya ditenggelamkan di danau dan berubah menjadi hantu Rusálká.


Lula tidak pernah percaya hal seperti itu. Makannya dia tidak takut untuk melewati hutan untuk sampai ke belakang sekolahnya.


***


"Tidak ada izin untuk Lula Beatriks?" Bu guru datang ke ruang Tata Usaha dan mencari tahu, apakah ada izin untuk Lula. Pasalnya, dia tidak mengikuti kelasnya pagi ini.


"Iya, tidak ada." Seorang lelaki mantap mengatakan hal ini. Dia tidak melihat seseorang mengantarkan surat ataupun memberitahunya lewat pesan maupun telepon.


"Baik, terimakasih." Bu guru tersenyum dan berbalik pergi menuju ruangannya.


"Ku telpon Nyonya Sofia saja, habis ini."


***


Yejin khawatir apa yang terjadi dengan neneknya. Dia terburu-buru untuk masuk ke dalam kamar dan menemukan neneknya yang berdiri ketakutan di sudut tempat tidurnya, dan terkejut ketika Yejin membuka pintu begitu saja.


"Kenapa?"


"Ada kecoak, nenek takut.." Neneknya Yejin menatapnya dan nyengir.


Yejin menghela nafas lega dan tertawa melihat tingkah neneknya itu.


"Katanya nenek tidak bisa bergerak?" Yejin mengambil kecoa itu dan membuangnya di luar jendela.


"Nenek beneran sakit.." wanita tua itu langsung berbaring di tempat tidur, berpura-pura sakit parah.


"Nenek aku tahu. Jika kau menginginkan kami semua di sini, kau pasti akan berpura-pura sakit." Yejin duduk di samping tempat tidur dan menyentuh lutut neneknya.


Neneknya Yejin hanya tersenyum dan mengangguk.


"Kau selalu tahu aku, Yejin."


"Besok kau lomba, kan?"


Yejin mengangguk. "Bagaimana nenek tahu?"


"Mamamu memberitahuku. Dia selalu membicarakanmu dengan nenek. Kau anak yang berbakat, Yejin." Yejin tahu, kebiasaan mamanya tidak akan pernah hilang.


"Jadi, nenek ingin memberimu sesuatu."


"Apa?"


"Berjalanlah ke lemari. Kau harus membukannya. Di bawah ada kotak dan bawa ke sini."


Yejin mengangguk dan ia beranjak ke lemari samping tempat tidur neneknya.


Ia membuka pintu lemari dan menemukan sebuah kotak merah muda tergeletak di sudut lemari. Dia heran sekali.


"Merah muda?" Yejin mengambil kotak itu dan menunjukkannya kepada nenek.


"Iya, yang satu itu. Bawa ke sini.."


Yejin berjalan dan kembali duduk di samping neneknya.


"Nenek lupa kalau kau laki-laki." Neneknya meringis dan Yejin hanya menggeleng kepala.


"Aku sudah tua. Terkadang mengiramu perempuan. Kau tahu, nenek selalu ingin memiliki cucu perempuan."


"Bukalah, Yejin." Yejin membuka kotak itu dan menemukan sebuah baju renang berwarna hitam yang masih terlihat baru.


"Itu milik kakekmu. Aku tidak pernah menceritakanbya kepada mamamu, kalau kakekmu adalah atlet renang. Dia atlet yang berbakat, sepertimu. Itu baru saja digunakan satu kali, ketika kakekmu berlomba di tingkat internasional dan dia menang." Neneknya Yejin tersenyum sambil meneteskan air matanya.


"Kami belum menikah waktu itu, ketika kakekmu seusiamu. Nenek selalu berada di sampingnya apapun yang terjadi."


Yejin hanya mendengarkan. "Nenek nekat menemaninya walau ibu dan bapak nenek tidak mengizinkannya."


"Kami selalu bersama, hingga hanya maut yang memisahkan kami." Wanita itu masih tersenyum dan mengingat masa lalu. Yejin tidak pernah bertemu kakeknya, karena ia lahir ketika kakeknya sudah meninggal.


"Aku tidak bisa membelikanmu yang baru, namun yang ini banyak menyimpan kenangan. Ini pemberian nenek, kepada kakekmu. Aku beli dengan uang sakuku selama satu bulan." Neneknya Yejin tertawa mengingat dulu ia rela tidak membeli makanan di sekolah selama satu bulan, hanya untuk membeli baju renang itu.


"Yejin, nenek berharap kau mengenakan ini ketika berlomba besok."


Yejin tersenyum dan mengangguk. "Apapun akan aku lakukan untuk nenek." Ia mengusap air mata neneknya dan memasukkan baju renang itu kembali ke kotak dan menyimpannya.