
"Bagaimana keadaanmu?" Sofia memasuki kamar Lula. Gadis itu tengah menulis sesuatu di bukunya.
"Aku sudah baik. Mama kurasa besok aku akan pergi ke sekolah." Lula meletakkan bukunya dan menatap mamanya.
"Mama liat kau masih terlihat pucat."
"Tapi aku sudah baik-baik saja. Aku yakin sekali."
"Lula kau setuju untuk tidak berangkat besok, dan mama belum memperbolehkanmu untuk pergi ke sekolah besok." Sofia terlihat mantap dengan keputusannya. Lula tak bisa melawan itu dan harus menurut.
Wanita itu menjadi sedikit lebih keras dengan Lula. Setelah semua kejadian yang terjadi, dan kekhawatiran seorang ibu yang sangat besar. Ia telah diberi Tuhan sebuah keajaiban dengan jalan yang tidak terduga. Sofia tidak akan pernah menyia-nyiakan itu.
"Kau tahu, Lula. Mama hanya ingin yang terbaik untukmu. Mama sangat khawatir ketika tahu kau masuk rumah sakit. Mama sangat sedih dan frustasi. Ini bukan yang pertama kalinya kau mengalami kejadian seperti ini, dan. mama berharap ini yang terakhir kalinya."
Lula hanya duduk mendengarkan. Ia tahu dan sadar semua yang terjadi kepadanya, namun ini bukan seratus persen kesalahannya. Semua yang terjadi sudah digariskan dan direncanakan oleh Tuhan. Lula tidak dapat mengubah itu.
Lula tidak pernah ingin hal yang tidak diinginkan terjadi padanya. Namun sudahlah semua kejadian pasti ada hikmahnya. Jadi, sekarang ia harus lebih berhati-hati lagi.
"Baiklah. Lula masih di rumah besok."
Sofia mengangguk dan tersenyum. "Kau sedang apa?" Sofia menatap buku yang tergeletak di meja. Ia mengambilnya dan membuka itu.
"Ini gambaranmu?" Sofia bertanya dan menunjukkan sebuah sketsa wajah Lula bersama Jereni.
Lula mengangguk. "Ini sangat bagus. Mama tidak tahu kau pandai menggambar. Lula ini terlihat sangat nyata."
"Dimana ini? Kau mengarangnya?" Sofia membuka halaman sebelumnya dan menemukan banyak sketsa tempat maupun manusia di sana.
"Aku mengingat seluruh tempat yang aku datangi. Semakin lama aku berada di sana, aku akan mengingatnya dan aku akan menggambarnya." Gadis itu bersandar di sandaran tempat tidur.
"Dimana ini?" Sofia menemukan sket air terjun dan terdapat dua orang berenang di sana. Lula membelalakkan matanya dan langsung meraih bukunya.
"Ke-"
"Mama kau lama sekali." Mark masuk ke kamar Lula dan berhenti ketika melihat Sofia dan Lula tengah berbicara.
"Alex ingin berpamitan." Lanjut Mark dan Sofia berkedip. "Ah aku sampai lupa. Baiklah aku segera ke sana."
Mark mengangguk dan keluar kamar.
"Kau istirahatlah. Mama harus menemui Paman Alex."
Lula mengangguk dan Sofia mencium kening putrinya itu, laku keluar.
Lula menyembunyikan buku sketnya di bawah bantal dan duduk lega. Ia tidak harus menjelaskan tentang sketsa itu dan kalau Sofia tahu, pasti ia akan marah dan melarang Lula pergi bersama Yejin lagi.
***
"Habis darimana, Yejin?" Yeva duduk di Sofa di ruang tamu ketika Yejin baru saja kembali. Ini pukul 10 malam dan semua orang sudah tertidur.
"Membeli sesuatu."
"Jam segini??"
"Aku baru saja keluar lima belas menit lalu."
"Yejin kau bisa membelinya besok."
Yejin menggeleng. "Aku harus berangkat pagi-pagi, tidak sempat."
"Baiklah. Jangan tidur larut malam."
Yejin mengangguk dan berjalan menjauh.
***
Senin, 28 Februari
I have no idea. Beberapa saat terakhir ini aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya duduk, melamun, dan memikirkan banyak hal, kemungkinan yang bakal terjadi, tanpa aku bergerak sedikitpun.
Namun, pagi ini mama mengajakku jalan-jalan di dekat rumah. Ia belum memperbolehkanku untuk sekolah. Katanya aku akan memikirkan banyak hal di sekolah dan itu akan membuat pikiranku sakit.
Mama tidak tahu. Aku selalu memikirkan banyak hal dan membuatku selalu sakit. Hanya saja, aku masih kuat dengan itu.
"Ayo, Lula." Mama keluar rumah dan aku mengikutinya. Yefy pergi ke sekolah bersama papa dan mama mengajakku jalan-jalan di luar.
"Lihat itu, Lula!" Mama menunjuk danau yang penuh dengan angsa. Kami mampir sebentar untuk melihat itu, karena migrasi angsa liar hanya ada sebulan sekali. Biasanya itu di akhir bulan dan sebenarnya tidak pasti.
Aku sangat tidak bersemangat pagi ini. Sebenarnya aku sudah sehat dan ingin pergi ke sekolah, namun mama tidak memperbolehkannya.
Mama mengajakku lanjut jalan-jalan dan aku menurut. Kami berjalan di sekitar bunga chamomile. Bunganya harum sekali pagi ini. Chamomile tersebar dimana-mana, baik liar maupun dibudidayakan.
"Kau sudah lelah?" Mama bertanya. Aku menggeleng karena kami baru saja berjalan beberapa meter.
"Kita jalan lagi, ya?" Aku hanya mengangguk. Sudah kubilang, aku sedang tidak mood dan malas sekali rasanya.
***
"Jereni." Yejin berjalan menghampiri Jereni.
"Apa?" Jereni menengok. Dia sedang berdiri di dekat pintu kelas dan bersama salah satu temannya.
"Dimana Lula?" Laki-laki itu terlihat mencari Lula dan tidak menemukannya.
"Di rumahnya."
"Bagaimana kau tahu?"
"Kemarin aku menelponnya. Katanya mamanya belum memperbolehkan Lula ke sekolah."
"Baiklah, terimakasih." Yejin berbalydan pergi.
"Yejin!" Jereni memanggil Yejin dan Yejin berhenti untuk mendengarkan.
"Sepulang sekolah aku dan mama mau ke sana. Kau mau ikut?"
"Akan aku pikirkan." Katanya lalu pergi berlalu.
"Baiklah."
***
"Lula mama mau menjemput Yefy. Kau di rumah saja, jangan pergi tanpa izin mama." Sofia bersiap dengan tas kecil di tangannya dan keluar rumah setelah itu.
Lula mengangguk dan melanjutkan kegiatannya. Ia tengah menonton kartun kesukaannya sambil makan camilan di ruang keluarga.
Tidak ada yang bisa ia lakukan selain itu dan Sofia tidak mempermasalahkannya. Lula butuh hiburan. Ia jarang sekali menonton tv.
"Aku ingin berenang." Lula meletakkan stoples camilannya dan beranjak untuk pergi ke kolam renang.
Tapi ia berhenti dan berpikir dua kali. "Mama pasti akan curiga ketika kembali, mengapa rambutku basah."
"Pergilah.. kau aman..."
"Benar. Aku bisa memakai penutup kepala." Ia hendak berjalan ketika sebuah suara mengejutkannya.
"Lula kau liat ponsel mama?"
Deg .
Sofia menghampiri Lula dan mencari ponselnya. Gadis itu menggeleng.
"Mama meninggalkannya di meja dapur sepertinya." Sofia berlari ke dapur dan beberapa saat kemudian kembali dan tersenyum. "Mama tinggal dulu, ya?" Wanita itu keluar rumah dan Lula berjalan ke jendela. Ia memastikan mama ya telah pergi.
"Kurasa lebih baik tidak."
***
Sepulang sekolah, pukul 1 siang.
"Jadi kau mau ikut atau tidak?" Jereni berdiri di samping tempat duduk Yejin. Laki-laki itu tengah membereskan peralatan sekolahnya.
"Aku harus melakukan sesuatu. Jika masih sempat aku akan menyusul."
"Kau yakin?"
"Uh huh. Jika kau mau ke sana sekarang, pergilah. Jangan khawatirkan aku."
"Baiklah, Yejin."