Luna Rusalka

Luna Rusalka
27



Sofia tengah duduk di sofa ruang tamu dan terlihat sangat gelisah. Yefy bermain di sampingnya dan Mark belum kembali. Dia sangat khawatir dengan Lula karena ini pukul 3 sore dan langit mulai mendung.


"Mungkin saja Lula di rumah Yejin." Sofia melipat kedua tangannya. "Ya, aku harus menghubungi Yeva." Sofia beranjak dan hendak pergi ke telepon sebelum telepon berdering lebih dulu.


Sofia mengangkatnya.


"Hei, Sofia.." Itu suara nya Yeva, Ibunya Yejin.


"Oh hei Yeva, syukurlah kau menelpon."


"Maaf Sofia apakah Yejin berada di rumahmu? Ponselnya tidak aktif dan dia belum kembali sampai sekarang."


"Yejin belum kembali? Lula juga belum kembali dan aku kira dia berada di rumahmu."


"Serius? Apakah mereka berdua pergi bersama?'"


"Tapi mereka pergi kemana? Sudah empat jam semenjak sekolah dibubarkan, Yeva. Aku sangat khawatir mereka kenapa kenapa." Sofia bersandai di tembok dan terlihat gelisah.


"Kita harus mencari mereka, Sofia. Barangkali mereka pergi ke rumah Jereni."


"Jereni..." Sofia berpikir dan mengingat sesuatu. "Ya! Tadi malam Lula meminta untuk menjenguk Jereni namun aku dan papanya Lula tidak bisa mengantarkan nya."


"Baiklah, Sofia. Aku akan ke rumahmu."


"Cepatlah aku sangat khawatir."


"Baiklah. soon." Sofia meletakkan teleponnya dan pergi ke kamar untuk mengambil tas dan kunci mobil.


"Yefy bersiap siap. Kita cari kakak!"


***


Fokus dan pikirkan air..


Aku mengangkat jari telunjukku membentuk pusaran air yang berjatuhan dari atas. Menggumpal menjadi satu dan tiba-tiba terjatuh ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan kami.


Kaca mobil terbuka dan memperlihatkan seorang pak tua dan seorang anak laki-laki yang tengah sibuk dengan ponselnya. "Hei apakah kalian butuh bantuan?" Pak tua berkacamata itu bertanya dan aku melepaskan pelukan Yejin.


"Yejin, bagaimana?" Aku bertanya pada Yejin dan dia menatap pak tua itu.


"Aku bisa mengantar kalian sampai rumah."


"Ba--"


"Lula." Yejin mencegahku dan menggeleng. "Maaf, Pak. Kami menunggu bis saja."


"Tidak apa! Kalian basah kuyup dan akan sakit kalau terkena hujan terus."


"Yejin!"


"Jangan, Lula. Aku tahu adegan 586 ketika seorang pria tua berpura-pura memberikan bantuan. Aku tahu sekali apa yang akan terjadi selanjutnya." Yejin berbisik dan tetap menatap pak tua itu.


"Bis tidak akan lewat sini lewat pukul 3 nak! Naiklah!!"


"Tid--"


"Baiklah, kami ikut!" Aku memotong perkataan Yejin dan mengiyakannya. Tidak mungkin seorang pria tua adalah penculik. Bahkan di dalam ada anak kecil dan mobil mereka mobil klasik.


"Lula .."


"Yejin, kau tidak mendengarnya? Bis sudah tidak ada. Ponsel kamu mati dan sepeda kita tertinggal di bis."


Aku menarik tangan Yejin dan masuk ke mobil pria tua itu.


"Dimana rumah kalian?" Tanya pria tua itu ketika aku dan Yejin sudah duduk di bagian belakang.


"Di daerah perbatasan." Aku berkata jujur dan Yejin hanya terdiam.


"Kalau kau nak?" Aku menyenggol lengan Yejin.


"Perumahan dekat taman kota."


"Rumahku melewati perbatasan namun tidak dengan taman kota nak."


"Yejin kita ke rumahku dulu baru nanti kau menelpon orang tuamu. Kasihan pak tua kalau dia juga ke rumahmu."


"Turunkan kami di perbatasan saja pak!"


Pak tua itu tertawa dan menjalankan mobilnya pelan karena jalanan licin. "Panggil aku Sam. Ini cucuku Rasha." Sam tersenyum di cermin dan aku hanya mengangguk.


Kami tak banyak bicara. Yejin hanya terdiam dan Sam berbicara dengan cucunya. Aku melihat luar jendela dan hujan tambah deras.


"Sam? Apakah aku boleh meminjam ponselmu?" Sam melihatku dan mengangguk.


"Ini, kabari orang tuamu." Sam menyerahkan ponsel nya dan aku meraihnya.


Aku tidak hafal nomor mama jadi aku menelpon nomor telepon rumah.


drtttt... drtttt...


Beberapa kali aku menelpon dan tidak ada yang mengangkatnya. Apakah Mama tidak di rumah?


"Yejin coba kau menghubungi keluargamu." Aku menyerahkan ponselnya kepada Yejin.


"Ponsel papa sedang rusak dan mama tidak mengangkat."


Aku menghembuskan nafas kasar dan sudahlah. Mereka mungkin sibuk sekarang.


"Tidak apa. Yang penting kita segera kembali ." Aku menyerahkan ponselnya kepada Sam.


"Ini Sam, terimakasih."


"Keluarga kalian tidak bisa dihubungi?"


"Tidak."


"Tidak apa, yang penting kalian sudah aman sekarang. Aku akan segera mengantarkan kalian."


"Terimakasih banyak, Sam."


***


"Tuan Mark belum kembali?" Yeva keluar dari rumah Sofia dan menuju mobil Sofia.


"Sedang meeting di luar kota. Baru kembali nanti malam. Bagaimana dengan ayahnya Yejin?" Sofia Membuka mobil dan memasukinya. Yefy sudah berada di mobil dan sedang bermain game.


"Apa tidak sebaiknya kita menghubungi rumah Jereni dulu?"


"Tidak ada waktu. Nanti hubungi di jalan." Sofia memasukkan kunci dan menancap gas.


"Mama kita mau kemana??" Yefy mengguncang kursi depan.


"Yefy, mama sedang panik. Duduk diam atau kamu mama turunkan di sini." Sofia berbelok ke kanan dan Yefy duduk manis.


"Tenanglah, Sofia. Lula akan baik-baik saja."


"Aku tidak bisa tenang, Yeva. Aku sangat khawatir."


"Dengarkanlah aku. Lula anak yang mandiri dan berani. Dia juga bersama Yejin."


"Jika mereka tidak bersama?" Yeva berpikir sebentar.


"Aku yakin mereka bersama."


***


"Apa masih jauh lagi, Sam?" Lula bertanya karena ia sangat gelisah.


"Sekitar sepuluh menit lagi, duduk tenanglah. Aku punya muffin. Kalau kalian lapar, ambilah di belakang."


"Terimakasih.." Lula menatap jendela dan Yejin juga sama.


Sangat asik kalau main hujan. Aku hampir lupa rasanya berenang.


"SAM AWAS!" Yejin berteriak dan aku sangat terkejut. Sam berbelok 180° karena pohon besar tumbang hanya beberapa meter di depan. Mobil Sam hampir tertimpa pohon kalau saja dia tidak langsung berbelok ke kiri dan berhenti.


Kami masih terdiam di mobil. Itulah kenapa mama selalu menyuruhku memakai sabuk pengaman. Jika tidak, mungkin sekarang aku sudah terluka parah.


Kejadiannya begitu cepat dan aku tidak bisa berkata-kata sekarang. Sam juga masih terdiam di posisinya dan Yejin menyentuh tanganku mencoba meyakinkanku semuanya baik-baik saja.


"Itu sangat menegangkan." Sam buka suara dan menengok ke belakang. "Apa kalian baik-baik saja?" Dia sangat khawatir.


"Maafkan aku, aku tidak melihat kalau pohon itu akan tumbang." Sam menyentuh cucunya dan memastikan kalau dia baik-baik saja.


"Kau tidak apa, Nak?"


"Tidak apa, kakek."


Kami semua tidak apa-apa. Namun, pohon di depan menghalangi jalan kami dan kami tidak bisa melewatinya sekarang.


"Astaga, bagaimana kita kembali.." Sam menatap pohon itu dan menghela nafas panjang.


Terdengar suara dan sisa ranting di pohon itu jatuh mengenai kabel listrik hingga putus, menyebabkan aliran listrik berhenti dan lampu padam sekarang.


Aliran listrik utama dan listrik di seluruh isi kota mati karenanya.


***


"Ada apa ini?" Yeva melihat jalanan dan lampu yang padam seketika.


"Mungkin petir menyambar tiang listrik." Sofia mencoba mengira-ngira.


"Mama, Yefy takut.." Yefy memeluk kursi depan sambil memanyunkan bibirnya.


"Sini, sama bibi.." Yeva meraih Yefy dan memangkunya, mencoba menenangkan Yefy.


***


"Apa yang harus kita lakukan?" Aku bertanya pada Yejin dan Sam.


"Aku akan mencoba menelpon pemadam kebakaran." Sam meraih ponselnya dan mencoba menelpon namun ia merutuki diri sendiri karena tidak ada sinyal.


"Kita tunggu saja, pasti pemerintah akan turun tangan, ini aliran listrik utama dan seluruh kota pasti padam." Kata Sam menenangkan.


Aku dan Yejin hanya mengangguk dan mencoba tenang.