Luna Rusalka

Luna Rusalka
57



Lula sampai di depan gerbang dan ia berhenti sebentar. Nafasnya tidak teratur dan kakinya terasa lelah sekali. Dia menarik nafas dengan tenang dan menghembuskannya dengan santai, baru dia akan masuk ke dalam.


"Lula!" Seseorang memanggilnya. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk sekarang dan memilih untuk mencari tahu siapa yang memanggilnya tadi.


Sebuah mobil berhenti dan Lula tahu siapa itu. Jereni keluar dari mobilnya dan say goodbye kepada mamanya di dalam mobil.


Rwka tersenyum dengan Lula dan Lula membalasnya.


"Kau baru saja berangkat?" Jereni berjalan mendekat.


"Iya. Aku berusaha ke sini dengan sepedaku." Jawab Lula santai. Jereni melihat keringat di pelipis kanan Lula dan mengusapnya menggunakan tangan kanannya.


"Kau terlihat buru-buru sekali. Ada apa?"


"Aku harus mengatakannya kepada Yejin sekarang."


"Ah maaf, apakah aku menghambatmu?" Jereni menutup mulutnya dan berekspresi seakan dia bersalah.


"Tidak, Jereni. Aku juga tadi sedang berhenti sebentar, mengatur nafasku."


"Ah iya, aku tahu hehe." Jereni menepuk pundak Lula dan mengajaknya masuk ke dalam.


Lula turun dari sepedanya dan berjalan di samping Jereni.


"Kalau kau berangkat sendirian, lebih baik berangkat bersama paman. Kantor paman lewat sini kan?"


Lula mengangguk. "Tapi ketika aku kembali, tidak ada yang bisa menjemputku."


"Kau bisa kembali bersamaku dan mama."


Lula menggeleng. "Aku suka pakai sepeda."


Jereni mengerti dan mereka terus berjalan.


"Jereni aku ke parkiran, kau mau ke kelas duluan tidak apa-apa." Lula berhenti di pertigaan.


"Tidak tidak. Kita pergi sama-sama Saja. Aku akan mengantarmu." Jereni tersenyum dan mereka berdua berjalan ke kiri, menuju parkiran.


***


"Aku akan di sini, menemani ibu." Di meja makan, ayahnya Yejin, Bogrov berkata kepada Yeva.


"Tidak kau harus bekerja, biarkan aku saja." Yeva tak mau kalah. Tidak ada yang menjaga nenek Yejin kalau semua orang pergi. Pamannya Yejin, dia sedang pergi ke luar kota dan tidak tahu kapan akan kembali.


"Kau harus mengurus rumah, aku saja.."


"Aku bisa menjaga nenek." Yejin menatap makanannya yang masih utuh.


Yeva dan Bogrov menatap putranya itu dan heran. Matvei, hanya menjilati sendok selainya dan membulatkan matanya.


"Kau harus sekolah, Yejin." Yeva memberikan pengertian kepada putranya itu.


Yejin menggeleng. "Tuan Ivan meliburkanku. Aku akan di sini saja, menjaga nenek. Kalian melakukan apapun yang akan kalian lakukan." Yejin menatap kedua orang tuanya dan mengendikkan bahu.


"Ah terlalu banyak berlatih tidak baik. Kata Jackie Chan di film The Karate Kid!" Matvei terlihat bersemangat sampai menjatuhkan sendok yang ia bawa tadi ke lantai. Ia hanya meringis.


"Tidak apa?"


Yejin mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu."


"Hei apakah aku juga bisa menemani Yejin di sini?" Matvei terlihat memohon.


"Matvei jangan mencoba memohon. Kau ada ulangan hari ini, mama tahu." Yeva menatap anak pertamanya dengan angkuh. Bogrov hanya tertawa.


"Bagaimana mama tahu?" Matvei tidak percaya dan ia heran.


"Mama tau semuanya. Jadi, jangan coba-coba untuk membuat alasan tidak bisa ke sekolah!"


"Iya-iya hehe.."


***


"Seharusnya jam segini Yejin sudah berangkat. Tapi kenapa tidak ada orang di dalam?" Lula merasa heran. Dia tidak melihat siapapun di dalam kolam renang.


"Mungkin memang Yejin belum sampai di sini." Kata Jereni menenangkan. Lula hanya mengangguk dan ia berjalan mondar-mandir di depan aula.


"Kau tidak apa Jereni menemaniku?"


"Kau sahabatku, Lula. Aku akan di sampingmu apapun yang terjadi."


Lula mengangguk dan tersenyum. Dia bahagia sekali memiliki sahabat seperti Jereni. Selalu tahu apa yang dirasakan Lula, dan tidak pernah menyerah dengan persahabatan mereka.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tuan Ivan mengagetkan mereka dari arah belakang. Jereni sempat melompat kalau Tuan Ivan tak kunjung menampakkan dirinya.


"Ah kau rupanya."


"Mencari Yejin." Kata Lula santai.


"Yejin tidak berlatih hari ini."


Lula menaikkan alisnya dan heran. "Kenapa?" Tanyanya. Ia tidak peduli kalau ia banyak tanya atau apa.


"Besok perlombaan. Yejin dan Erynav harus istirahat sebelum berangkat ke ibu kota."


*Kenapa aku melupakan itu? Tidak sekolah, karena besok perlombaannya*. Batin Lula menyesal.


"Baiklah, terimakasih." Kata Lula kemudian ia pamit untuk pergi.


"Seharusnya aku ingat itu dan secepatnya untuk memberitahu Yejin." Lula berjalan dengan cepat dan Jereni hanya membuntutinya.


"Kita bisa memberitahunya nanti?"


"Tidak bisa, Jereni. Semakin aku menunda itu, semakin membuat Yejin kecewa nanti." Lula belok kanan menuju arah parkiran. Dia tidak pergi ke kelas.


Jereni menyadari hal itu, dan mencegah Lula. "Kau mau kemana?"


Lula berhenti. "Aku harus memberitahu Yejin sekarang, Jereni."


"Kau tidak bisa. Sekolah hampir mulai dan kau tidak bisa pergi begitu saja."


"Tapi aku harus, Jereni."


"Lula bagaimana aku akan memberi tahu guru ketika mereka bertanya tentangmu?"


"Bilang saja tidak tahu. Aku harus pergi sekarang." Lula menerobos Jereni dan dia berjalan cepat menuju parkiran.


"Lula, jangan lakukan hal tanpa memikirkan konsekuensinya!" Teriak Jereni membuat Lula berhenti dan berbalik. Dia hanya mengangguk dan melanjutkan jalannya.


"Semoga Lula tidak mendapatkan masalah besar setelah ini." Jereni menggeleng dan berbalik untuk berjalan ke kelas.


***


Lula mengambil nafas dan membuangnya perlahan. Membuat dirinya setenang mungkin, untuk melakukan hal ini. Ia mengamati situasi. Ketika beberapa anak yang memarkirkan sepedanya pergi dari sini, ia akan langsung pergi.


Lula membungkuk. Berpura-pura mengunci sepedanya di besi memanjang di depannya.


Ketika anak terakhir pergi, Lula menuntun sepedanya dan berjalan ke belakang sekolah. Di sana ada pagar yang rusak, dan tidak ada CCTV satupun. Tempat teraman untuk membolos sekolah.


Lula membuka pagar itu, dan keluar dengan hati-hati lalu benar-benar pergi dari sekolahnya. Ia menaiki sepedanya dan menuju rumah Yejin.


"Papa dan mama Yejin bekerja, seharusnya Yejin di rumah sendirian kali ini." Lula mengangguk dan mempercepat gayuhan sepedanya.


***


Sedang apa Lula sekarang Ya?


Batin Yejin. Dia tengah duduk di teras atas sambil membaca buku.


Dia sekolah! Yejin menepuk jidatnya kemudian, mengingat Lula sekolah hari ini.


"Kenapa aku terus saja memikirkan Lula?" Lelaki itu meletakkan bukunya di meja dan beranjak untuk masuk rumah.


"Lebih baik mengecek keadaan nenek."


***


Lula masih di jalan dan dia mulai kelelahan menggayuh sepedanya.


"Hah hah!" Ia berhenti sebentar, mengatur nafasnya.


"Rumah Yejin masih jauh lagi."


"Kakiku mau copot rasanya. Aku tidak kuat lagi menggayuh sepeda."


Lula menempel kan jidatnya ke stang sepeda dan merasakan kakinya yang mulai nyut-nyutan.


"Aku minum saja. Untung bawa air minum." Ia menegakkan tubuhnya dan mengambil air minum di tasnya.


Membuka dan meminumnya, hingga hampir habis. Dia lelah dan kehausan.


"Aku lelah, tapi aku harus cepat-cepat." Ia meletakkan kembali botol air minumnya ke dalam tas dan segera menggayuh sepedanya lagi.