Luna Rusalka

Luna Rusalka
70



Tuan Bogdan terdiam dan mencoba menjelaskan. "Tuan Mark, yang terjadi di sini sebuah kecelakaan."


"Kecelakaan? Jika saja Lula tidak ikut perlombaan dan hanya menonton, dia tidak akan kenapa-kenapa." Mark terlihat sangat marah. Dia menyalahkan ini semua kepada Tuan Bogdan dan Tuan Ivan.


"Itu terjadi setelah perlombaan. Lula ter-"


"Sudah cukup! Saya tidak mau mendengar apapun sekarang! Lebih baik kalian kembali!"


Tuan Bogdan berjalan mundur dan mengangguk. "Baiklah, maafkan kami, Tuan Mark." Ia mengajak Tuan Ivan kembali seperti perintah Mark.


Seakan tidak mau melihat orang-orang di belakangnya itu, Mark berbalik.


"Pa-"


Tuan Bogdan menggeleng kepada Yejin dan menyuruhnya kembali bersama mereka. Yejin mengangguk dan dengan terpaksa ia harus pergi dari sana sekarang.


--


Dokter memberikan kejut jantung kepada Lula. Tekanan jantung Lula semakin menurun.


Dokter berhenti dan melihat sensor detak jantung. Menampilkan garis yang hampir lurus itu. Ia memanaskan AED nya dan bersiap memberikan kejut jantung lagi.


Tubuh Lula tersentak dan dokter terus berjuang memulihkan detak jantungnya.


Mereka berhenti ketika mendengar bunyi peep yang menandakan keadaan jantung Lula kembali pulih.


Dokter menarik nafas lega dan membereskan alat kejut jantungnya.


Ia memeriksa Lula dan memberikan instruksi agar Lula bisa dipindahkan ke ruang HCU ( High Care Unit ) adalah ruang perawatan pasien ICU yang dianggap sudah menunjukkan perbaikan tetapi masih dalam pengawasan ketat.


Perawat mengangguk dan membuka pintu, seorang lainnya bersiap dengan brankar untuk didorong ke ruang HCU.


"Bagaimana putri saya?" Mark menyadari pintu terbuka dan putrinya yang masih tidak sadarkan diri.


"Sempat kritis, namun ia baik-baik saja sekarang." Dokter tersenyum dan pergi di belakang perawat yang membawa Lula.


"Kami harus membawanya ke ruang HCU."


Mark berjalan mengikuti mereka.


***


"Yefy kau harus tidur sekarang!" Sofia baru saja dari dapur dan berjalan menuju ruang tv.


Ia merasakan nyeri di dadanya. Itu sangat sakit dan mengganggu. Ia terus berjalan dan semakin merasakan sakit yang teramat di sana.


"Apa yang terjadi?" Sofia berhenti berjalan dan memejamkan matanya.


"Perasaanku tidak enak.." Ia membuka matanya dan terlihat khawatir.


***


Mark duduk di kursi tunggu dan melihat putrinya yang masih tidak sadarkan diri. Ia terus menatapnya. Ia sangat menyesal. Jika saja dirinya tidak membawa Lula kemari, Lula tidak akan menjadi seperti sekarang ini.


Dokter keluar dan Mark berdiri.


"Apa yang terjadi kepada putri saya?"


"Pneumonia. Infeksi yang menimbulkan peradangan pada kantung udara di salah satu atau kedua paru-paru, yang dapat berisi cairan. Terlalu banyak cairan di paru-paru pasien."


"Apa dia akan baik-baik saja?"


"Kami akan melakukan Terapi Cairan IV, dan memberinya vaksin dan antibiotik. Setelah itu kami pastikan dia akan baik-baik saja."


"Jadi sekarang dia tidak baik-baik saja?" Mark semakin khawatir.


"Kami akan melakukan yang terbaik, Pak." Dokter berlalu dan Mark mengacak rambutnya frustasi.


***


"Aku akan menelpon Mark. Apakah sudah selesai atau belum."


Sofia mencari nomor telepon Mark dan memanggilnya.


Ia terus menelpon Mark dan tidak ada jawaban. "Mungkin perlombaan belum selesai. Mark tidak mendengar teleponnya berdering." Sofia mencoba menenangkan diri dan berpikir positif. Ia akan menelpon kembali nanti.


***


Dokter kembali melakukan perawatan kepada Lula. Cairan IV. Mereka akan mengeluarkan semua cairan yang ada dalam paru-paru Lula. Itu tidak sulit dan 9/10 kasus berhasil diobati.


Mark menunggu dengan gelisah di luar, sambil ia terus berdoa. Ia berharap kali ini tidak akan terjadi apa apa dan Lula akan baik-baik saja.


Beberapa saat kemudian dokter keluar dan berdiri di depan pintu.


Mark beranjak dan mendekati dokter. "Bagaimana keadaan putri saya?"


"Pneumonia ringan, Tuan Mark. Prosedur Cairan IV berhasil, dan selanjutnya kami akan memberinya vaksin dan antibiotik." Dokter mengangguk dan pergi berlalu.


Mark menghembuskan nafas lega dan berterima kasih kepada Tuhan.


Beberapa perawat keluar ruangan dan Mark bertanya kapan ia bisa menjenguk putrinya itu.


"Pasien bisa dijenguk setelah kami memberikan nya vaksin dan antibiotik."


***


"Aaa"


Kejadiannya cepat sekali. Aku tercebur ke dalam kolam renang. Seharusnya ini bukan suatu masalah. Aku bisa berenang kembali ke atas dan semuanya akan baik-baik saja.


Kau tahu bagaimana rasanya ketika terjatuh ke dalam air dan semuanya menjadi gelembung-gelembung kecil di sini. Terkadang ini menjadi susah untuk bergerak dan mata tanpa kacamata renang, itu akan sangat menganggu.


Aku berusaha berenang ke atas ketika air kembali tenang. Namun sesuatu menghentikan ku.


Aku merasakan ada yang aneh di kakiku dan sontak aku melihat itu.


Author's POV


Sebuah ekor tipis mengubah kakinya. Lula membelalakkan matanya ketika melihat ekor berwarna silver keemasan dan bukannya kedua kakinya.


Ia meronta dan mencoba menggerakkan ekor itu namun semakin ia bergerak semakin tubuhnya merosot ke dasar kolam renang.


Lula menggelengkan kepalanya dan melihat kakinya lagi. Itu masih berupa ekor dan Lula sangat gelisah.


Lula berusaha berenang namun itu sangat susah. Ekor itu membuatnya kesusahan berenang dan ia tidak mengerti sama sekali.


Gadis itu melihat sesuatu mendekat. Ia mencoba meminta pertolongan dan ia melihat Yejin berusaha menggapai nya.


Lula melihat kakinya lagi dan dia tidak melihat ekor itu lagi. Lula merasa senang dan berenang menghampiri Yejin sebelum ia merasakan pusaran air di belakangnya.


Ia tersedot ke belakang dan kakinya hampir masuk ke dalam saluran jika saja Yejin tidak memegang kedua tangannya.


Usaha mereka sia-sia karena saluran air lebih kuat dan keduanya tertarik ke dalamnya. Lula memejamkan matanya dan tubuhnya berhenti. Dua orang menahan Yejin dan mereka berusaha menarik dua anak itu.


Separuh tubuh Lula telah masuk ke dalam saluran dan kakinya tergores. Lula merasa sakit uang teramat dan meringis kemudian.


"Apa yang terjadi?"


Lula membuka kedua matanya lebar dan tubuhnya kejang-kejang. Mereka tengah menyuntikkan vaksin ke dalam tubuh Lula dan berhenti seketika.


Dokter menyentuh lengan Lula dan gadis itu masih kejang-kejang. Pria itu membuat gerakan kecil di depan wajah Lula dan kedua matanya masih terbuka lebar, tanpa merespon.


"Apa yang terjadi dengan pasien?"


"Sesuatu terjadi." Dokter memeriksa detak jantung Lula. "Lula kau mendengarkan saya?"


Tidak ada respon dan Lula masih kejang-kejang.


"Berikan obat penenang." perawat menyuntikkan obat penenang dan beberapa saat kemudian Lula berhenti bergerak dan menutup kedua matanya.


Dokter memeriksa nya lagi dan mengerti. "Reaksi terhadap vaksin. Itu bukan masalah."


Perawat mengangguk dan membereskan peralatan mereka.


"Pasien tidak sadarkan diri. Kita menunggu setengah jam lagi, batu memberinya vaksin."