
Kalula kembali ke apartemen yang ia sewa semalam. Ia kembali bersama kedua asistennya dan Elula. Elula masih dalam keadaan tidak sadarkan diri dan Kalula semakin memburuk.
"Apa yang akan ratu lakukan?" Zedrys berdiri di belakang Kalula. Wanita itu tengah minum air dan duduk di sofa sambil menonton televisi. Dia meletakkan cangkirnya dan bersandar di punggung sofa.
"Kita akan pindah dari sini ke kota sebelah besok." Jawabnya singkat dan Zedrys sedikit tidak mengerti. Alis hitamnya terangkat dan tiba-tiba ia ingat perkataan Voodoohag kemarin. Mengingat sudah semua gadis berusia 17 tahun atau kurang di kota ini yang mereka periksa, tetapi hasilnya nihil. Kemungkinan Kalula akan pindah tempat segera mungkin dan Voodoohag memang benar.
"Bagaimana dengan gadis itu, ratu?" Sebenarnya jawaban Elula sudah cukup untuk Kalula, tapi ia baru ingat kalau waktu itu Elula tidak bisa dihipnotis. Kemungkinan terburuk gadis itu juga tidak bisa dikendalikan semalam. Jadi, Kalula masih harus mempertahankan sampai ia tahu siapa gadis itu yang sebenarnya.
"Jangan biarkan dia pergi, aku masih membutuhkannya." Kalula berdiri, berbalik, dan berjalan ke belakang.
Zedrys menunduk dan mengikuti Kalula setelahnya.
***
Tok tok tok
Ketukan pintu menggema di lorong. Seorang pria dengan postur tubuh tinggi besar dan tegas membawa nampan makanan. "Elliott?!" Redrik terus bersabar. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi masalahnya dengan Elliott gelas usai. Dia hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama putri kesayangannya itu.
Setelah Matvei kemari dan menemui Elliott, sejak itulah Elliot berhenti untuk makan, mengurung diri di kamar belakang, dan tidak mau ditemui oleh siapapun, bahkan ayahnya sendiri.
"Elliott setidaknya makan ini sekali saja, dan setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi." Redrik selalu kemari setiap jam makan. Tetapi selalu tidak ada jawaban dan ia tidak tahu apa yang dilakukan putrinya di dalam. Ia tidak pernah serius soal tidak mau bertemu dengan putrinya lagi sampai gadis itu membuktikan kalau Matvei pantas untuknya.
Redrik hanya menggertak dan ternyata Elliott tetap kukuh dengan pendiriannya, dan membuat mereka terpisah jarak yang cukup jauh. Tapi ketika beberapa hari lalu Elliott mengabari kalau ia mengakui kesalahannya telah memilih Matvei daripada ayahnya, Redrik tahu terjadi sesuatu yang buruk. Tapi ketika ia sampai di sini, ia hanya melihat Elliott dan bahkan dia tidak mau menceritakan kenapa dia memutuskan Matvei. Tapi tidak apa, hal baik bagi Redrik.
Tapi ia masih saja merasa gelisah dengan keadaan putrinya sekarang. Kalau memang Elliott tidak mencintai Matvei lagi, lalu kenapa ia melakukan semua ini?
Krekkk
Lamunan Redrik terhenti dengan suara kunci pintu tengah dibuka dari dalam kamar. Ia bersiap dengan nampan makanannya dan berharap Elliott menerimanya.
Ketika pintu benar-benar terbuka, ia melihat Elliot berdiri di sana dengan keadaan sungguh kacau balau. Rambut berantakan, baju yang lusuh, dan wajah yang muram ditekuk. Ia benar-benar sedang tidak baik-baik saja.
"Apa yang terjadi?" Spontan Redrik mendekat dan Elliott menahannya.
"Ini untukku, benar kan?"
Redrik mengangguk. "Ya, ayah mem-"
"Aku akan mengambilnya." Elliott meraih nampan itu. "Terimakasih." Ia tersenyum lalu mundur dan menutup pintu. Redrik tersenyum. "Setidaknya dia mau menerimanya." Dia merasa lega. Nampan yang ia bawa selalu tidak diambil, tapi kali ini, walau dengan keadaan sangat buruk, Elliott mau menerimanya. Ia akan melakukan apapun demi putrinya membaik, asalkan tidak ada hubungannya dengan Matvei. Itu adalah sumpahnya.
***
Saudara yang man-" Lula hendak berbalik, namun sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Seseorang tengah memeluk dari belakang!
Kedua mata Lula membesar. "Apakah..." Ia ingin mengatakan kalau itu Yejin. Karena tidak ada seorangpun di sana kecuali mereka berdua. Jantung Lula berdegup sangat kencang. Baru kali ini ia merasa sangat dekat dengan laki-laki itu. Ya, dia mengakui kalau waktu itu ia terjatuh menimpa tubuh Yejin, namun rasanya sangat berbeda dengan Yejin sengaja memeluknya. Pelukannya semakin erat, dan perut rampingnya merasakan tekanan Yejin yang semakin kuat.
"Rambutmu sangat wangi, Lula." Lula membuka matanya. Suara berat Yejin terdengar begitu sempurna di telinga Lula. Ia masih tersenyum. Ia tertawa ringan lalu memegang tangan Yejin yang masih mendekapnya dari belakang.
"Aku belum mandi dari pertama aku masuk kemari, Yejin. Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu?"
Yejin tertawa dan itu terdengar sangat merdu. Lula mengangkat alisnya lagi dan merasakan hembusan nafas Yejin semakin kuat di telinga kanannya. Hatinya sedikit bergetar dan merasakan sesuatu yang selama ini belum pernah ia rasakan.
"Coba kau rasakan." Yejin mengambil beberapa helai rambut panjang Lula dan memberikannya pada gadis itu untuk menciumnya. Lula mengendusnya dan bersiap untuk mencium aroma busuk dari rambutnya, namun ketika aroma itu terserap ke dalam hidung Lula, ia merasakan semerbak aroma bunga lavender menyeruak santai di hidungnya.
"Lavender?" Ia merasa heran. Kapan ia memiliki sampo beraroma lavender.
"Ya." Yejin melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Lula hingga menghadapnya. Kali ini Lula benar-benar melihat wajah Yejin. Wajahnya terlihat bercahaya tersorot sinar matahari. Berkilauan dan indah seperti berlian. Pagi ini, Yejin terlihat aneh. Ia tidak tahu kenapa Yejin melakukan ini, dan apakah ini saatnya Lula mengungkapkan semua perasaannya pada Yejin? Apakah ini saat yang tepat?
"Yejin.." Lula memanggilnya dan Yejin menurunkan sedikit pandangannya. "Kenapa detak jantungku tambah cepat?" Lula merasa gelisah dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Jantungnya berdetak tidak karuan dan ia merasa seperti ingin mengeluarkan beribu-ribu kupu-kupu dari dalam perutnya.
Yejin melangkah ke depan. Membuat Lula mundur satu langkah. Yejin melangkah lagi, dan Lula mundur satu langkah lagi. Laki-laki itu terus melakukannya hingga punggung Lula menyentuh jendela. Ia sudah tidak bisa berjalan ke belakang lagi.
Lula menelan ludah dengan cepat. Tatapan Yejin sangat tajam kali ini, dan tubuh Lula bergetar sedikit. "Apa yang akan Yejin lakukan sekarang?" Ia merasa gelisah.
Yejin mengangkat tangan kanannya dan menyingkap rambut Lula yang menutupi wajahnya. Tangannya berhenti dan menyentuh pipi kanan Lula. "Kau terlihat sangat cantik pagi ini, Lula."
Lula hanya terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa. "Yejin-" Yejin membuat Lula terdiam dengan tangan kanan yang menutupi mulutnya. Yejin menggeleng. "Jangan bicara lagi.."
Lula menutup mulutnya dan pandangannya ia alihkan ke bawah. Lula memalingkan wajahnya ke samping kanan. Yejin membenarkan posisi kepalanya hingga menatapnya lagi. Pandangan keduanya bertemu kembali. Yejin mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Lula. Lula tahu apa yang akan terjadi selanjutnya lalu ia menutup matanya.
"Ini jelas bukan Yejin!" Lula membuka mata dan mendorong Yejin yang hendak menciumnya hingga terduduk di tempat tidur.
"Apa yang kau lakukan?" Yejin bangkit dan berjalan mendekat.
"Siapa kau!" Teriak Lula sejalan ke sisi kanan. Bersiap berlari ke pintu jika memang ia harus melarikan diri.
"Aku Yejin, kau tidak mengenalku?" Yejin terus mendekat dan Lula melempar apapun yang ia pegang.
"MENJAUH!" Lula mengacungkan tongkat sapu dan Yejin berhenti.
"Baiklah. Jika ini yang kau mau!" Yejin mengambil tongkat infus dan mematahkannya, lalu berjalan dengan wajah yang marah ke Lula. Lula yang terpojokkan hanya bisa menutup wajahnya.
"Lula?!" Tangan seseorang menepuk pundak Lula.
"Kau baik-baik saja?" Lula membuka kedua matanya lebar-lebar dan tidak berkedip. Dia masih berdiri di depan jendela dan tidak terjadi seperti yang terjadi tadi. Lula berbalik dan melihat Yejin berdiri di depannya.
"Yejin?"