
Tinggal sebelas hari lagi menjelang perlombaan dan posisiku sudah terganti dengan yang lain. Seharusnya, aku yang berada di sana, berlatih dengan Yejin.
Ini waktunya pulang, dan biasanya aku akan berjalan bersama dengan Yejin menuju kolam renang.
Kenapa aku memikirkan hal ini lagi?
"Bagus! Kalian berdua semakin kompak!!!" Kenapa suara Tuan Ivan sangat jelas dari sini? 20 meter dan aku mendengar teriakannya.
Author's POV
Lula mengentikan langkahnya di pertigaan. Seharusnya dia berjalan ke kiri, arah pintu gerbang. Namun, dia berjalan sebaliknya, dan mengarah ke kolam renang. Step by step ia melangkah, dengan penuh hati-hati dan mengintip dari pintu yang tidak terkunci.
Lula's POV
Yejin, sedang berlatih dengan Erynav dan mereka terlihat kompak sekali. Berlatih dengan diselingi canda dan tawa, Tuan Ivan juga sambil tertawa. Kurasa Erynav yang layak mengambil posisi itu. Seharusnya dia yang terpilih dari awal, sehingga tidak membuat semuanya seperti ini.
Aku mencoba memutar otak dan mengingat kejadian di masa lalu, dipikir lagi, latihanku penuh dengan tragedi dan kurasa Tuan Ivan sendiri lelah denganku. Aku selalu membuat masalah dan apakah ini akhirnya? Mungkin ini jalan terbaik, kalau aku yang di sana sekarang, entah kejadian apa yang bakal terjadi lagi.
"Kau belum pulang?" Sebuah suara mengagetkanku dari belakang. Sontak aku menengok dan mendapati Tuan Bogdan berdiri di belakangku.
Aku menggeleng.
"Masuklah, kalau kau ingin melihat." Dia tersenyum dan itu tidak biasanya ia lakukan. Apa dia berbaik hati padaku kini? Karena aku sudah tidak mengikuti latihan lagi? Kenapa aku berpikir negatif seperti ini? Tidak masuk akal.
"Mama melarangku..-"
"Kau hanya melihat, bukan? Tidak berenang. Daripada mengintip dari sini, sebaiknya masuk ke dalam jika kau mau menonton." Tuan Bogdan benar juga. Aku juga sudah lama tidak melihat kolam renang dan itu membuatku sangat merindukannya. Mungkin tidak apa cuman melihatnya dari jauh.
"Satu lagi. Yejin tidak bersemangat setelah kau digantikan." Aku tidak tahu apa yang dia bicarakan.
"Baiklah.."
Tuan Bogdan masuk dan aku membuntuti nya dari belakang. Mereka pasti akan mengira aku tidak punya rasa malu. Mengundurkan diri dan tiba-tiba mau menonton. Tidak. Bukan aku yang mengambil keputusan. Aku tidak pernah tidak mau untuk tidak mengikuti latihan.
"Istirahat sepuluh menit!" Tuan Ivan duduk dan berbicara dengan Tuan Bogdan.
Yejin melihatku dan menepi, Erynav juga. Kami tidak saling kenal sebenarnya namun aku tahu namanya. Dia juga ikut seleksi dulu bersamaku.
Aku duduk di kursi dan Yejin naik ke permukaan, lalu menghampiri ku. Aku hanya melihatnya berjalan dan meraih handuk di punggung kursi dan memberikannya kepada Yejin.
"Terimakasih." Yejin mengelap mukannya dan berdiri di depanku. "Kau di sini, Lula?" Aku hanya mengangguk.
Beberapa saat kemudian Erynav menghampiri kami dan menyapaku. "Hai, Lula!" Dia berdiri di samping Yejin dan aku hanya tersenyum.
"Terimakasih, kau tadi menolongku, Yejin!" Erynav menepuk pundak Yejin dan dia tersenyum. Menolong? Menolong apa? Apa yang terjadi? Mereka terlihat dekat.
"Aku harus ke toilet, sampai nanti!" Erynav tersenyum dan berjalan mundur lalu berlari.
"Menolong apa?"
"Kaki Erynav keram. Hanya ada aku dan dia tadi, jadi aku harus menolong nya." Yejin meletakkan handuknya dan duduk di sampingku.
"Kemana Tuan Ivan? Apa kalian sering berduaan saja selama berlatih??" Apa aku cemburu? Kenapa aku jadi cerewet sekali?
"Apa kau cemburu?" Yejin tersenyum dan menyentuh hidungku. "Yejin!"
"Tidak, kebetulan tadi Tuan Ivan menerima telepon, laku pergi keluar sebentar." Aku ber oh ria dan Yejin meluruskan kakinya yang tadi ditekuk.
"Oh tidak." Yejin mengusap pergelangan kakinya. Darah perlahan mulai keluar dari luka yang menyebabkan Yejin berkata demikian. Yejin terluka?
"Kau terluka, Yejin?"
"Tidak. Darahnya terus keluar." Aku berjongkok dan menyuruh Yejin untuk menekan di atas luka agar darahnya tidak terus mengalir. "Tunggu, sebentar!" Aku berdiri dan menuju loker ganti, mencari kotak p3k dan mengambilnya.
"Tidak apa, Lula." Yejin menahanku namun aku tetap ingin mengobati luka Yejin.
Berjongkok dan membuka kotak p3k. Dia sahabatku, aku tidak mau melihat dia terluka. Karena Yejin harus berenang lagi, aku hanya membersihkan lukanya, memberinya antibiotik, dan menempelkannya plester anti air, agar darahnya tidak terus keluar dan bakterinya musnah dengan antibiotik.
"Waktu habis! Kembali ke air!" Tuan Ivan berdiri dan memberi perintah. Yejin berjalan dan hendak ke air namun tiba-tiba ia terjatuh dan aku langsung menangkapnya. Dia berat, namun aku bisa menahannya.
"Kau kenapa, Yejin?" Aku sangat khawatir. Tidak biasanya dia seperti ini. Apa dia sedang sakit? Atau hanya efek dari lukanya itu?
"Keseleo tadi," Yejin tertawa dan melepaskan diri dariku. Aku kira dia sakit.
Yejin masuk ke dalam air dan diikuti Erynav. Aku kembali duduk dan melihat mereka berlatih. Tidak apa, untuk kali ini aku akan menemani Yejin sampai selesai.
***
"Aku pulang." Lula membuka pintu rumah dan berjalan masuk.
"Kakak kenapa baru pulang?! Habis main ya! Mamaaa.." Yefy meletakkan tabletnya dan melongok untuk melihat mamanya yang berada di dapur.
"Kamu bermain tablet?"
"Tidak kok!" Yefy menyembunyikan tabletnya di bawah meja dan duduk di kursi.
"Bukankah kamu dilarang bermain tablet ? Aku aduin pokoknya!!!"
"Kakak jangan kakak jangan!" Yefy menghampiri Lula dan menarik-narik tangannya. Lula hanya tertawa renyah dan terus menggoda Yefy sampai hampir menangis. "Kalau kau menangis, aku aduin!"
"Tidak! Yefy tidak menangis!" Yefy mengusap air matanya.
"Kau sudah pulang, sayang?" Mama Lula datang dan mencium kening Lula.
"Yefy? Bukankah mama menyuruhmu makan? Sedang apa kau di sini?!" Mama Lula menyatukan kedua tangannya di depan dada dan melihat Yefy.
Yefy menegakkan tubuhnya dan menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuh.
Lula's POV
Yefy sangat nakal. Dia sembunyikan tablet itu di bawah meja. Kalau mood ku sedang buruk, aku pasti mengadukannya. Aku sedang berbaik hati sekarang, jadi aku hanya diam saja.
"Yefy ayo makan!" Mama berbalik. "Mandilah, bersiap-siap untuk makan malam." Dia menepuk pundak ku dan berlalu.
"Iya ma!" Yefy berlari mengikuti mama dan aku deh yang harus mengembalikan tablet itu ke kamar mama.
***
"Apa harimu menyenangkan, Yejin?" Mama bertanya padaku membuatku sadar aku baru saja melamun. Aku hanya mengangguk.
Entahlah, tapi hari ini Lula menemaniku berlatih dan itu... membuat mood ku bagus sekarang.
"Apa yang terjadi?"
"Apa?"
"Kau terlihat bahagia sekali. Tak biasanya kau senyum-senyum seperti ini." Apakah iya? Aku malu sekali. Mama dan papa hanya tertawa renyah dan melanjutkan makan malamnya. Sementara aku, menyembunyikan wajah malu ku.
"Aku sudah selesai. Selamat malam kalian." Aku harus pergi sebelum mereka melihatku seperti ini. Mama dan papa mengiyakan dan bingung dengan perlakuan ku malam ini.
Apa ini? Kenapa aku seperti ini?