
Pintu terbuka, dan Lula melangkahkan kakinya ke dalam. Ia takut dimarahi, tapi ia sudah pasrah kalau memang itu yang terbaik. Ia juga salah. Keadaan di dalam kelas tenang dan sepi. Ia tidak tahu apakah mereka sengaja atau tidak, tapi..
Treeeeeeeeeeeettt
Suara terompet mengema di seluruh ruangan dan sesuatu berukuran kecil dengan jumlah banyak berjatuhan dari atas.
"WELCOME BACK, LULAA!" Seluruh isi kelas berteriak membuat Lula hampir jantungan, saking terkejutnya. Ia masih di ambang pintu dan keadaan kelas sangat ramai, dan sedikit berantakan karena puing-puing kertas kecil-kecil berjatuhan dari atas ke tubuh Lula.
Semua orang tersenyum lalu berhenti bergerak. Mereka terdiam dan menunggu Lula bicara. Tapi gadis itu masih saja terdiam. Ia mencari Yejin, tapi tidak menemukannya. "Dimana Yejin?" Kedua matanya menelusuri setiap bagian kelas dan tetap tidak menemukan laki-laki itu. "Yaampun kau dimana?" gumamnya dalam hati. Beberapa hari semenjak ia kembali dari rumah sakit dan selama ia masih di rumah, Yejin tidak mengunjunginya, dan laki-laki itu bahkan tidak SMS atau menelponnya.
Ia berharap hari ini bertemu dengan Yejin, tapi pagi ini dia tidak melihat laki-laki itu.
"Lula kau baik-baik saja?" Eleanor. Perempuan berambut hitam menghampiri Lula dan menepuk pundaknya, melihat Lula yang tengah melamun. Lula terbangun dari lamunannya dan tersenyum bahagia. Dia tidak menyangka kalau teman-temannya akan melakukan ini.
"Terimakasih, untuk kalian semua. Aku sangat senang bisa kembali lagi, dan bertemu dengan kalian." Kata Lula dan semua orang tersenyum bahagia, melihat Lula kembali.
"Kelas hampir sesepi kuburan, saat kau tidak ada, lula!" Teriak Alex, laki-laki berpakaian sedikit tidak rapi.
"Yaa! Tidak ada yang mengangguku sampai aku bosan selama kau tidak ada, hahahahah." Steven. Memiliki mata biru yang sangat indah. Sebagian besar siswa di kelas Lula adalah siswa pindahan dari Amerika serikat, jadi mereka memiliki nama dan paras yang unik mencolok. Lula tersenyum. Ia tahu, Steven lah yang selalu mengganggu Lula, dan bukannya sebaliknya.
Tapi sepertinya ada sesuatu yang aneh, selain ia tidak menemukan Yejin, ia juga tidak menemukan Pak Kim di kelas. "Di mana Pak Kim?" Lula masih berdiri di depan dan semua orang terdiam.
Salah seorang temannya berjalan mendekat. "Berita duka menyelimuti sekolah dari kemarin, Lula." Snovanya membuat Lula mengerutkan alisnya. Jantungnya perlahan berdetak kencang dan ia siap mendengar apa yang akan dibicarakan Snovanya selanjutnya.
"Terjadi kecelakaan beruntun, dan Pak Kim salah satu korbannya." Suasana kelas berubah menjadi senyap. Tidak ada suara dan beberapa orang menundukkan kepalanya.
"Apa?" Lula sangat terkejut. Kenapa dia tidak tahu? Kenapa tidak ada kabar dan tidak ada yang mengabarinya?
"Kapan?" Lula masih tidak habis pikir. Pak Kim, salah satu guru terlama mengajar di sini, dan Lula sudah menganggapnya kakek sendiri. Walau beliau selalu memarahinya, tapi dia sangat baik.
"Kemarin."
Lula sangat sedih dan menundukkan kepalanya. "Dia sangat baik, Snovanya."
"Ya. Seluruh sekolah sangat berduka."
"Hari ini, untuk kelas Pak Kim kosong. Pihak sekolah mungkin belum sempat mencari penggantinya."
Lula masih kalut. Ia tak habis pikir bagaimana bisa dan kenapa teman-temannya membuat seperti ini di saat mereka tengah berduka? "Aku menghargai usaha kalian menyambutku seperti ini dan aku sangat senang, tapi untuk apa kalian melakukan semua ini di saat kalian tengah berduka? Bukankah ini terlihat seakan-akan kalian .."
"Kau kembali setelah sekian lama, Lula. Dan apa yang menimpamu, kami semua tidak akan pernah melupakannya. Sesekolah tahu itu. Setidaknya harus melakukan sesuatu untuk menyambutmu, dan ayolah bukan saatnya untuk bersedih lagi!! Teman kita telah kembali, dan untuk apa kita semua bersedih?" Snovanya berteriak, membuat seluruh isi kelas gaduh dan beberapa anak menuntun Lula untuk duduk di bangkunya. Ia merasa seperti ratu sekarang. Tapi, ia merasa kurang. Yejin tidak ada di sini, dan ia masih memikirkan itu.
"Yejin dimana?" Ia melihat tempat duduk Yejin yang kosong. Pasti teman-temannya akan memberitahu kenapa laki-laki itu belum ada di sini.
"Dia tidak berangkat selama tiga hari, Lula. Kami mendapatkan kabar kalau Yejin sakit. Rencananya sehabis pulang sekolah nanti, kami akan menjenguknya."
"Sakit?" Lagi dan lagi kabar yang ia dapat sukses membuatnya terkejut. "Bagaimana dia tidak mengabariku kalau dirinya sakit?" Lula sangat heran. Beberapa hari ini Yejin tidak menghubunginya dan ketika Lula menelponnya, teleponnya tidak terangkat, atau terkadang tidak aktif. Dia menelpon Yeva, tapi wanita itu tidak mengangkatnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Yejin?"
"Kau menjadi tukang melamun sekarang, ya? Apa yang tengah kau pikirkan?"
Lula menggeleng. Ia bertanya lagi apa yang dibicarakan Snovanya tadi dan gadis itu menjawab apakah Lula mau ikut menjenguk Yejin sepulang sekolah atau dia punya rencana lain.
"Aku akan ikut."
***
"Kenapa untuk menjangkau Bryan sangat susah?" Cerez bergumam sambil terus melakukan pekerjaannya. Sudah beberapa hari ini ia tidak bertemu dengan pemilik perusahaan itu. Bagaimana ia akan melakukan rencananya? Ia juga belum memiliki akses untuk masuk ke distrik 1, distrik paling vital dan ia harus segera menemukan Bryan.
Ia juga belum melihat Matvei dari pertama ia bekerja di sini, dan seakan pekerjaannya mulai membosankan, tapi ia senang. Terakhir kali ia bertemu dengan Matvei ketika ia menolongnya lalu Matvei berkata akan menghalanginya melakukan apapun yang akan menjatuhkan perusahaan. Itu peluang besar bagi Cerez. Rencananya kini hanya bisa masuk ke dalam distrik 1 dan mengumpulkan semua bukti.
"Nona Emellan?" Noona berjalan mendekat, dengan tampang tegasnya, mampu membuat siapa saja menunduk untuk sekejap.
"Kau salah melakukan itu." Noona menatap Cerez dengan tatapan tajamnya.
"Kau sakit?" Tanyanya sekali lagi. "Minta cuti kalau sakit. Jangan mencoba memaksakan dan ceroboh melakukan pekerjaanmu!" Nona menaruh pandangan mengoreksi dan Cerez mengangguk mengerti. Tapi ia tidak sakit, dan baik-baik saja.
"Saya baik-baik saja. Saya akan lebih berhati-hati lagi." Kata Cerez memastikan Noona tidak menyuruhnya pulang.
"Baik. Tapi sekali lagi aku melihat kau salah melakukan pekerjaanmu, kau pindah di distrik 4. Apa kau mengerti?"
Cerez mengangguk dan Noona berjalan menjauh. Memeriksa pekerja lain sambil mengoreksi mereka.
"Huftt.."
"Aku melamun saat kerja." Katanya menyeka keringatnya.
"Bagaimana caranya untuk naik jabatan dan bekerja di distrik 1?"
***
Tepat seminggu dari pertama kali Elliott mengurung dirinya di kamar. Redrik masih terus membawakannya makanan dan ia mulai tersenyum setiap membawakan makanan baru, ia melihat piring yang ia bawa sebelumnya kosong. Itu tandanya Elliott memakan itu dan hatinya sedikit tenang sekarang.
Tokk tokkk
Sudah saatnya membawakan makan siang untuk putrinya. Redrik mendengar suara kunci pintu diputar dan pintu terbuka kemudian.
Ia melihat Elliott berdiri di ambang pintu dengan pakaian rapi dan senyumannya. Redrik terkejut. Apa perempuan itu sudah benar-benar pulih?
"Mulai sekarang, kau tidak perlu membawakan makanan kemari." Kata Elliot menurunkan senyumannya. "Karena mulai sekarang aku akan makan bersamamu, di ruang makan. Ayo!" Kata Elliott berjalan mendahului Redrik.
"Kau baik-baik saja?"
"Uh huh. Baik seperti semula." Kata perempuan itu mantap dan Redrik berjalan di belakangnya.