Luna Rusalka

Luna Rusalka
109



"Jadi, apa yang akan kau bicarakan denganku tadi?" Jereni membereskan alat tulisnya dan menatap Lula yang duduk di depan bangkunya.


Lula hanya mendengus dan wajahnya masih sama seperti tadi, dia terlihat sangat kesal dan lagi-lagi Yejin yang tidak peka terhadapnya.


"Kau kenapa? Caleb -"


Lula mengangkat tangan kirinya. "Jangan sebut nama itu lagi." Lula bersandar di punggung kursi dan menatap Jereni yang masih menunggu apa yang akan diceritakan Lula.


"Semenjak kau bersama.. , aku perhatikan kau selalu kesal seperti ini."


Kalau aku cerita Jereni pasti akan menghakimiku dan aku tidak mau itu terjadi. Aku hanya ingin terbebas dari masalah yang bahkan aku buat sendiri. Batin Lula sambil menenangkan pikirannya dan berusaha tidak menunjukkan reaksi apapun terhadap Jereni.


"Tidak, Jereni. Aku mendapat masa periodku dan kau tahu apa yang terjadi." Lula mencoba tersenyum dan Jereni mengangguk mengerti.


"Ah kau benar sekali. Jadi, apa yang akan kau lakukan sore ini?"


Lula melihat ponselnya dan ia berpikir kemudian. "Ini hari Jumat, dan aku tidak memiliki jadwal latihan. Sepertinya aku akan berenang di rumah dan minum jus alpukat susu. Hmmm.. itu enak sekali.." Mata Lula berbinar dan Jereni hanya geleng-geleng kepala.


Aku jadi ingat...


Jereni mengingat kejadian dua bulan yang lalu, ketika ia mendapatkan masa peralihannya, dan sekarang perempuan itu telah menjadi duyung utuh.


Ia ingat sekali ketika hari itu.. Ia nekat pergi ke laut hanya untuk menyempurnakan masa peralihannya dan ia rela melakukan perjalanan dengan bus selama tiga jam karena mengingat Tagansky District yang jauh dari laut sehingga ia harus pergi ke perbatasan untuk melakukan itu.


Jereni adalah setengah manusia setengah duyung dan Lula juga, dan mereka harus pergi ke laut untuk menyempurnakan masa peralihan mereka tepat di usia mereka ke 17 tahun. Jika itu tidak terjadi, mereka akan mati.


Saat ini, Jereni telah menjadi duyung utuh dan dia harus berendam di dalam air minimal setengah jam setiap harinya, agar kakinya tidak gatal-gatal dan masa hidupnya tidak akan berkurang. Ia tidak suka berenang. Namun untuk berendam, menjadi kebiasaannya sekarang.


Aku harus mencari kau kemana lagi, Brandon.


Dua tahun yang lalu, dan beberapa hari setelah kejadian di air terjun pada saat ulang tahun Lula, Jereni bermimpi dan mendapatkan penglihatan tentang Brandon, kakaknya. Laki-laki itu bereinkarnasi, sama sepertinya dan berada di dunia ini sekarang.


Ia terus mendapatkan mimpi yang sama dan beberapa Minggu setelahnya, ia mencoba melakukan pencarian. Namun, sampai sekarang perempuan itu masih belum menemukan kakaknya.


"Jereni kau kenapa?!" Lula menepuk pundak Jereni dan Jereni tersadar karenanya.


"Ah maafkan aku.." Jereni menggaruk tengkuknya dan menatap Lula yang memberikannya tatapan aneh.


"Kau sering melamun sekarang. Ayo kita kembali, Yejin sudah selesai dengan urusannya." Lula berdiri dan Jereni mengikutinya.


"Papa mencoba mengajariku mengendarai mobil namun mama melarangnya. Kau tahu mama masih seperti dulu. Over protektif dan sama sekali aku tidak suka itu."


Jereni tertawa ringan. "Rasanya baru kemarin kita mengendarai sepeda ke sekolah, dan sekarang sepeda bukan kendaraan kita lagi.." Semuanya di masa lalu memiliki kenangan yang indah. Namun, Jereni ingat sekali ketika Lula mendapatkan masa terpuruknya.


Masa dimana pikiran dan hatinya bertentangan dan perempuan itu sangat terpukul. Setelah kejadian di air terjun, Lula menjadi sering diam dan merenung. Ia tidak membicarakan percakapannya dengan Jereni kepada siapapun, dan bahkan masalah ia bukan anak kandung mama dan papanya ia masih diam, sampai sekarang.


Yejin yang overprotektif karena Sofia menyuruhnya menjaga Lula, setelah satu tahun lalu Lula berpacaran dengan Caleb, kakak kelas yang sangat terobsesi dengan Lula.


Jereni tidak pernah membahas tentang ia adalah putri dari Kalula namun Lula diam-diam mencari tahu. Tapi, ia tidak menemukan apapun dan dia berpikir yang Jereni katakan tidaklah benar. Semuanya salah dan Jereni hanya mengada-ngada. Lagi pula, tidak ada kejadian aneh selama dua tahun terakhir ini dan semuanya berjalan dengan normal tanpa ada embel-embel kejadian seperti dulu.


***


Tokk tokk


"Sebentar!" Seorang laki-laki berambut pirang merapikan rambutnya di depan cermin dan beranjak keluar dari kamarnya ketika mendengar suara ketukan pintu.


"Na na fight with me o la.." Ia berjalan menuruni tangga sambil bersenandung.


Orang tuanya tidak di rumah dan ia sendirian sekarang. Bebas melakukan apapun.


Namun perlahan, ketika pintu terbuka dan ia melihat siapa yang berada di depan pintu, laki-laki itu menurunkan senyumannya dan merubah wajahnya menjadi wajah tidak suka.


"Elliot?"


Perempuan berambut merah itu tersenyum. "Matvei.."


"Aku ada pekerjaan dan harus pergi sekarang, maafkan aku." Matvei hendak menutup pintu namun Elliot menahannya.


"Matvei, sebentar!" Perempuan itu terlihat sedih dan mencoba menjelaskan semuanya namun sepertinya Matvei tidak mau mendengarkan apapun.


"Maafkan aku, Matvei.." Mata Elliot berbinar namun Matvei tetap dengan keputusannya. Laki-laki itu menutup pintu dan meninggalkan Elliot dengan air matanya yang mulai menetes.


***


"Ampun, Ratu.. Kami tidak menemukan Putri di-" Voodoohag berlutut di depan singgasana ratunya.


"Percumah kalian ke Cheoreon Kingdom. Kerinee membiarkan putriku berada di daratan yang berbahaya itu dan membuatnya bereinkarnasi." Kalula sangat marah ketika tahu putrinya tidak berada di laut dan Kerinee yang menitipkan Lula kepada manusia, sampai gadis kecilnya bereinkarnasi dan ia harus menunggu beratus-ratus tahun demi putrinya terlahir kembali ke dunia dan tumbuh dewasa hingga usianya 17 tahun.


Terlalu lama berada di dasar laut sehingga ia tidak tahu kalau masih ada kehidupan di daratan. Ia pikir wanita itu telah membinasakan seluruh manusia di permukaan bumi ini, namun ia tahu sebuah kebenaran sekarang, bahwa yang ia hancurkan dulu hanya sebagian kecil dan spesiesnya lah yang lebih sedikit dari manusia.


"Lantas, apa yang akan Ratu lakukan?"


Kalula terdiam sekejap. Ia mengingat kejadian beratus-ratus tahun yang lalu, saat dimana kekasihnya sendiri yang tega melakukan ini padanya. Sedikit trauma, namun ia berbeda sekarang. Walau berada di daratan, ia masih bisa menggunakan kekuatannya tanpa tongkat samudera nya itu.


"Aku yang akan mencarinya sendiri.. "


***


"Mama mau kemana?" Lula keluar dari kamarnya dan melihat Sofia membawa tas besar dan bersiap untuk pergi.


"Ah iya, Lula mama belum memberitahumu." Sofia berhenti dan meletakkan tas besar itu lalu menatap putrinya.


"Mama akan menginap di rumah nenek. Ya untuk sekitar seminggu sampai nenekmu sembuh."


Luka sedikit terkejut. Mamanya akan meninggalkan rumah? Benar begitu?


Tidak akan ada lagi yang menyuruh ini itu.. dan Lula dapat melakukan apapun seminggu penuh..


"Lula kau mendengarkan mama?" Sofia menepuk pundak Lula dan Lula menggelengkan kepalanya.


"Ke Moskow?"


"Ya. Kemana lagi? Dia nenekmu satu-satunya dan aku tidak mau dia kenapa-kenapa kalau mama tidak ke sana."


"Jangan khawatir. Papamu akan mengurusmu dengan baik selama mama pergi."


"Ah iya, Lula jangan lupa awasi Yefy. Dia menjadi sedikit liar sekarang."


Lula masih terdiam dan tidak menyangka namun sudahlah. Itu hal baik buatnya.


"Baiklah mama akan pergi sekarang. Kau jangan sering keluar rumah kalau tidak ada keperluan apapun."


Lula mengangguk dan Sofia mencium kening putrinya itu.


"Sampai jumpa!"