
Semua orang terdiam dan fokus dengan kegiatan mereka masing-masing sampai suara dering telepon mengejutkan mereka bertiga.
Yejin merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan melihat nomor tak dikenal memanggilnya.
"Kenapa kau tidak mengangkat nya?" Yeva melihat Yejin dari spion atas.
Yejin hanya menaikkan alis bersikap biasa saja.
"Siapa?" Lula mengintip siapa yang menelepon Yejin. Yejin menggelengkan kepalanya lalu mengangkat telepon.
"Halo?"
"Yejin?"
"Ya, saya sendiri."
"Yejin ini aku Erynav. Aku hanya ingin memberi tahumu kalau mulai besok, latihan dari pagi, dan siang tidak latihan lagi."
"Apa?"
"Lima hari lagi, kata Tuan Ivan kita harus lebih fokus."
"Kenapa tidak dari kemarin-kemarin? Kenapa-"
"Yejin bisa tidak kau menurut saja. Ini perintah langsung dari Tuan Ivan."
Yejin menarik nafas kasar.
"Ok. Aku mengerti."
"Itu saja, sampai jumpa."
Yejin mematikan teleponnya dan menaruh ponselnya sembarangan di tempat duduk.
"Siapa?" Lula bertanya lagi.
"Erynav."
"Kenapa?"
"Tuan Ivan mengubah jam latihan, dari pagi." Yejin menatap Lula. Dia menggigit bibirnya dan memalingkan muka. Merasa tidak enak dengan Lula, dia pasti bersedih mengingat jika Lula tidak menjadi partnernya lagi.
"Jangan khawatir kan aku."
Yejin hanya melihat Lula tanpa bergeming.
"Yejin kurasa kau harus lebih ramah lagi dengan Erynav. Dia partnermu sekarang. Jangan buat dia tidak bersemangat."
"Lula.."
"Apa?"
Yejin dan Lula bertatapan, beberapa detik dan mereka saling membuang muka.
"Apa kau,--"
"Sudah sampai. Ayo kita turun." Yeva menghentikan mobilnya di parkiran depan rumah Jereni dan membuat Yejin terdiam seketika.
Lula tersenyum dan membuka pintu untuk keluar. "Ayo Yejin. Jangan hanya diam saja." Yejin menoleh dan mengangguk kemudian.
Yeva mengetuk pintu dan langsung terbuka. Jereni berdiri di ambang pintu, dan tersenyum ketika melihat Lula berada di belakang Yeva.
"Bibi, Yeva. Apa kabar?"
"Baik. Kau?"
"Hai!!" Kata Jereni lirih dan melambai kepada Lula. Lula tertawa dan meloncat kegirangan.
"Baik. Ayo masuklah." Jereni mempersilahkan Yeva masuk.
"Kau sudah sembuh, Jereni?" Lula memeluk sahabatnya itu dan Jereni mengangguk semangat.
"Dimana Yejin?" Jereni bingung Yejin belum kelihatan.
"Itu masih di mobil. Kita duluan saja." Lula berjalan dengan kaki yang masih pincang.
"Kau kenapa?" Jereni menyadari itu dan melihat perban melingkar di kaki Lula.
"Kenapa kakimu?"
"Hanya terkilir tadi. Tidak apa."
"Tapi, Lula."
"Apa kalian hanya berdiri di sini?" Yejin berdiri di tangga dan melihat dua gadis di depannya sedang berdebat.
"Sudahlah tidak apa, Jereni" Jereni mengangguk menurut. Mereka masuk rumah kemudian.
***
Lula's POV
Jereni sangat aneh. Dia terus saja memandangiku. Apa ada yang salah dengan wajahku? Atau dia suka denganku??
"Kau kenapa Jereni?"
Jereni terlihat menarik nafas lelah. Kurasa dia masih sakit.
"Kau masih sakit?" Aku tidak mengerti. Tadi sewaktu aku datang, dia terlihat ceria seperti biasanya. Tapi ketika semua orang duduk Jereni terlihat murung dan terus saja melihatku. Tidak biasanya dia begini.
"Jereni apa kau mendengarkan aku?" Aku menggoncang sedikit tubuh Jereni. Dia menggelengkan kepalanya dan menggaruk kepala.
"Apa?" Tanya Jereni dengan tatapan mata yang sayu.
"Kau masih sakit?" Aku mencoba mengulang perkataanku.
"Aku sudah baik." Jereni tersenyum dan beranjak pergi.
"Toilet sebentar." Dia membalas pertanyaanku tanpa berbalik dan langsung pergi.
Kenapa Jereni? Aku tak mengerti. Itu bukan sifat asli Jereni. Ya sudah lah aku hanya mengendikkan bahu.
Kenapa Yejin belum kembali? Dia berkata mau mengambil sesuatu di mobil. Bibi Rwka dan Bibi Yeva sedang di dapur untuk membuat lasagna, dan Jereni pergi ke toilet. Aku hanya duduk sendirian di sini.
Awalnya aku duduk santai namun ketika pandangan ku berhenti di air minum di meja, sesuatu masuk ke dalam pikiranku. Sebenarnya aku tidak terkejut lagi, karena aku tahu, setiap aku melihat air, sesuatu mencoba memasuki pikiranku.
Seperti kejadian-kejadian sebelumnya. Persis ketika berada di dekat air, apapun itu, tanganku ingin sekali bergerak mengendalikan air.
Aku tak akan mendeskripsikan hal ini lagi, karena memang sama seperti sebelumnya kalau sesuatu seperti mengendalikan tanganku untuk mencoba memuntahkan air dari gelas itu.
Percikan mulai mengudara dan kurasa aku mulai senang melakukan ini. Seperti, hiburan tersendiri bagiku.
Melihat air yang terbang di udara, membuat pikiranku jernih dan beban-beban pikiran yang sudah lama menumpuk di kepala terangkat.
Lucu sekali, ketika air itu kukendalikan ke kanan, kiri, atas, dan bawah. Lalu paling aku suka ketika --
"Kau sedang apa?!"
Suara Yejin sangat mengejutkan aku. Menurunkan tanganku dengan cepat dan terdiam seketika. Air kembali masuk ke dalam gelas dan sedikit di meja.
Yejin berjalan melewatiku dan duduk di seberang, tepat di depanku.
"Kau sedang apa tadi?"
"Memangnya aku kenapa?" Apakah Yejin melihat itu?
"Tidak apa. Lupakan." Apa? Yejin aneh sekali. Tapi syukurlah dia tidak membahasnya. Karena aku tidak bisa menjawab jika Yejin tahu aku bisa mengendalikan air.
"Kemana Jereni?"
"Toilet."
Yejin mengangguk dan aku juga.
"Lula.."
"Apa?"
"Apa kau akan-"
"Hei Jereni kau kenapa?!" Aku melihat Jereni batuk-batuk sampai dia hampir terjatuh. Segera aku beranjak dan membantu Jereni untuk duduk di tangga tepat di samping kanannya.
"uhukkk..uhuukkk..." Jereni pucat sekali.
"Yejin tolong ambilkan air minum!"
Yejin mengangguk dan dengan cepat membawakan air minum ke sini, dan aku memberikan nya kepada Jereni.
Dia berhenti terbatuk dan memejamkan matanya, menarik nafas lalu menatapku dengan tatapan yang sangat aneh.
"Kau kenapa Jereni?"
"Aku ingin.. berenang, Lula." Berenang? Bukankah dia tidak suka berenang?
"Kau bukannya tidak suka berenang?"
"Aku.. hanya ingin berenang..." Dia menatapku memohon.
Ini sungguh aneh, menurutku. Apa kepalanya terbentur sesuatu??
"Tapi ini hampir malam. Kau akan kedinginan nanti."
Dia tak membalasku. Jereni hanya menundukkan kepalanya dan berdiri. Dia menengadahkan kepala kemudian dan berjalan menjauh.
"Dia kenapa?" Yejin melipat kedua tangannya. Aku juga tidak tahu.
"Jereni aneh sekali hari ini." Aku berjalan mengikuti Jereni. "Jereni, tunggu!"
Author's POV
"Aku tak akan pernah mengerti perempuan." Yejin mengendikkan bahu dan berjalan berbalik untuk duduk di sofa.
***
"Sudah, selesai." Rwka meletakkan lasagna di piring dan tersenyum.
"Sebaiknya kita panggil anak-anak untuk makan." Rwka menatap Yeva dan Yeva mengangguk mengerti.
"Aku akan memanggil mereka." Yeva berjalan menuju ruang tamu dan melihat Yejin duduk sendirian.
"Kemana Lula dan Jereni?"
Yejin menoleh dan mengendikkan bahu tidak tahu. "Mereka ke dalam , membahas tentang berenang dan aku tidak tahu."
Yeva merasa aneh, namun ia menepis pikiran itu.
"Pergilah ke ruang makan. Kami sudah memasak. Mama akan melihat apa yang dilakukan dua sahabatmu itu." Yeva tersenyum dan menepuk pundak Yejin.
Yejin hanya mengangguk.
***
Lula's POV
"Jereni Naik! Semakin dingin di sini!" Aku berteriak dari tadi. Jereni tak mendengar kan aku. Dia nekat sekali, tanpa berganti pakaian renang dia turun ke kolam renang.
"Jereni!!! Aku akan turun ke bawah kalau kau tidak naik!"
Pertama. Raut mukanya berubah ketika dia berbicara denganku di ruang tamu. Kedua, Jereni terlihat murung. Ketiga, dia berenang. Apa lagi kejadian aneh yang akan terjadi padanya?
"Jereni awas!!!!!"