
"Ada apa Lula?" Yejin duduk di sofa sambil memakan buah anggur.
"Jereni sudah sembuh, Yejin. Kata dokter besok bisa pulang kalau keadaan nya terus membaik."
"Syukurlah, aku akan menjenguk besok."
"Baiklah, Yejin. Aku harus pergi. Sampai jumpa.."
Lula menutup telepon dan Yejin meletakkan teleponnya di sofa.
"Satu masalah terselesaikan. Tinggal memikirkan bagaimana berbicara pada Lula agar ikut menemani ku lomba." Yejin merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata.
Sementara Lula, berjalan kembali ke ruangan Jereni. Mamanya sudah berada di sana dan duduk menemani Jereni.
"Jereni aku tidak bisa pulang sekarang. Bibi Rwka menitipkan kamu ke aku, kan?" Lula berjalan santai dan berdiri di depan tempat tidur Jereni.
"Tidak apa, aku baik-baik saja. Bibi Sofia dan Lula sebaiknya kembali ke rumah."
"Kami akan kembali, setelah nyonya Rwka kemari." Sofia tersenyum sambil mengelus rambut Jereni.
"Bagaimana keadaan mu?" Lula jongkok dan menengadah menatap Jereni.
"Baik sekali. Besok aku akan berangkat ke sekolah.." Jereni merindukan sekolahnya. Dia sudah tidak sabar ke sekolah dan berusaha untuk menutupi keterkejutan nya dan berlaga seakan tidak terjadi apa-apa. Tapi dia tahu, dia menyesali perbuatannya di masa itu.
"Lebih baik besoknya lagi. Kau masih terlihat pucat."
"Tapi tubuh ku sudah bugar, Lula." Berkat kalung kerang mu. Batin Jereni mengingat kalung kerang Lula memiliki kekuatan ajaib.
Jereni salah satu dari tiga makhluk halfer . Dia, Brandon, dan Lula. Separuh duyung separuh manusia. Ingin menyangkal, namun dia tahu kebenarannya.
Tapi, dimana Brandon? Kalau aku di sini, pasti Brandon di sini juga.. Sekali lagi Jereni merasa aneh dan kalut. Dimana Brandon? Kakaknya?
Dia terlahir kembali dengan wujud seorang anak manusia biasa.
Apa aku... masih bisa memiliki ekor? Atau seutuhnya manusia? Jereni membatin dan merasa harus mencari tahu siapa dirinya kini.
Dia juga harus mendapatkan bukti kalau dia bereinkarnasi atau dia ditemukan ketika masih bayi. Dia masih tidak tahu bagaimana dia di sini, dan apa yang harus dia lakukan. Tapi, dia sudah bertekad untuk tidak membahayakan Lula. Dia ingin menebus kesalahannya kepada Kalula dengan menuntun Lula menghadapi masa remajanya.
Cepat atau lambat Lula harus tahu dan aku juga harus mencari tahu. Seharusnya dia sudah mengalami kejadian pasca 17 tahun. Dia harus menyentuh air laut sebelum usianya tepat 17 tahun, karena..-
"Jereni, aku akan kembali ke rumah. Bibi Rwka sudah di sini." Lula tersenyum dan memeluk Jereni.
"Kau harus makan yang banyak biar tidak terlihat kurus sebelum ke sekolah." Lula tertawa dan Jereni hanya tersenyum.
"Terimakasih sudah menjaga Jereni. Terimakasih untuk segalanya, telah membantu kami.." Rwka memeluk Sofia.
"Kita bersaudara. Harus saling membantu."
"Hati-hati Lula. Aku akan menghubungi mu nanti."
Lula mengangguk dan keluar ruangan diikuti mamanya. Mereka hanya berdua dan itu bukan masalah besar.
***
"Yejin kau harus bersemangat! Tinggal lima hari lagi!!" Tuan Ivan berteriak dan Yejin mengangguk. Erynav menunjukkan peningkatan yang pesat dan itu bagus. Sedangkan Yejin, seperti punya beban dan terlihat tidak bersemangat setiap kali latihan.
"Saya tidak mau usaha keras yang kau lakukan terbuang sia-sia. Fokus Yejin fokus!"
Yejin tak bergeming dan terus berenang. Erynav bersiap-siap untuk berikutnya ketika Yejin sampai.
Mereka harus bekerjasama dan profesional. Masalah pribadi sebenarnya tidak boleh mempengaruhi, tapi secara tidak langsung membuat pikiran menjadi terganggu.
***
"Aku pulang siang ini, Lula."
"Aku senang mendengarnya. Aku akan menjengukmu bersama Yejin nanti sore." Lula berjalan dan duduk di sofa, sambil menelpon Jereni.
"Apa kalian sudah membaik?"
"Orang mudah berubah. Aku sama dari dulu, Yejin mungkin .. uhukkkkkk.."
"Lula kau kenapa? Kau baik-baik saja? Kau terbatuk?"
"Tenggorokan ku gatal sekali. Sebentar." Lula meletakkan teleponnya di sofa dan berlari ke dapur untuk minum.
"Lula kau baik-baik saja?"
"Lula?"
"Aku sangat pusing.." Pekik Lula sambil memegangi kepalanya yang mendadak nyut-nyutan.
Dia di rumah sendiri karena mamanya pergi berbelanja dengan Yefy membuatnya harus mengatasi ini sendiri. Ayahnya tidak mungkin kembali jam segini, dan rumahnya jauh dari kota. Lula tidak bisa meminta tolong seseorang.
Lula berdiri dan jalan cepat mengambil obat pereda sakit kepala di kotak P3K dan segera meminumnya.
Keinginan untuk berendam membuatnya tak tanggung-tanggung dan langsung menuju kolam renang.
Tanpa ganti baju dan tanpa melepas baju, Lula melompat ke dalam kolam renang dan melemaskan tubuhnya.
Ia merasa tenang. Menutup matanya, merasakan setiap air yang mengenai tubuhnya. Dia tidak pusing lagi, dan tubuhnya merosot terbaring di dasar kolam renang.
Sudah lama ia tidak berenang. Lama sekali, dan sekarang ia terobati. Ia merasa kering sebelumnya, dan sering terbatuk, pusing. Jiwanya sudah terikat dengan air, ia tidak tahu kenapa tapi merasa seperti itu.
Pertama kali semenjak ia mendengar sesuatu setiap berada diam air, dia merasa tenang sekarang. Tidak merasa terganggu dan sepi sekali, membuat pikirannya jernih.
Beberapa menit di dalam air, matanya terbuka lebar mendengar pintu yang terbuka dan sontak membuatnya berenang ke permukaan dan segera keluar dari air.
"Kalau mama tahu aku pasti dimarahi dan mama sedih." Lula berlari dengan baju yang basah ke dalam kamarnya untuk langsung mandi di kamar mandi kamarnya.
"Lula? Kau kemana? Kenapa teleponnya menyala??"
Jereni masih menelpon dan Sofia menyadari itu.
"Jereni?"
"Bibi Sofia?"
"Kenapa teleponnya menyala?"
"Aku berbicara dengan Lula tadi, tapi dia tiba-tiba pergi."
"Pergi kemana?"
"Tidak tahu, setelah dia terbatuk dan Kemudian pergi. Sampai sekarang belum kembali."
"Mungkin dia di toilet, sebentar Jereni."
Sofia berjalan mencari Lula.
"Lula kau dimana?"
Tidak ada jawaban. Dia berlari ke dalam kamar Lula dan mengetuknya.
"Lula?"
"Aku sedang mandi!!" Teriak Lula dari dalam kamar mandi.
"Jereni Lula sedang mandi,"
"Nanti saya akan menghubungi Lula lagi, Bibi. Biarkan dia mandi."
"Baiklah, maafkan bibi, ya Jereni."
"Tidak apa, bibi.."
Sofia menutup teleponnya dan berjalan ke dapur untuk meletakkan belanjaan nya.
"Mama Yefy mengantuk." Yefy menyembunyikan kedua tangannya di belakang dan izin jika mau tidur di kamar.
"Tidur sendiri dulu ya Mama mau membereskan ini."
"Baik mama I love you"
"Love you too." Yefy berlari dan Sofia membereskan belanjaannya.
***
"Untung tidak terlambat." Lula tersenyum dan duduk di lantai sambil memegangi dadanya lega. Nafasnya memburu dan dia harus memenangkan diri.
Ia menyilakan rambutnya dan berdiri untuk bergegas mandi.
"Semakin tidak masuk akal saja."