
Jereni menghela nafas dan memakan sandwich buatan mamanya. Dia tak habis pikir dengan sahabatnya itu.
***
"Kau pernah menyukai seseorang?" Erynav bersandar di kursi dan menatap Yejin yang tengah memplester lututnya. Lutut kirinya, tergores ketika di dalam kolam renang.
Yejin tidak menjawab dan ia sempat berhenti sebentar, mencerna pertanyaan Erynav, dan melanjutkan kegiatannya lagi.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Sama sekali bukan pertanyaan. Yejin masih saja berbicara dengan nada datar. Kebiasaan selama beberapa tahun terakhir membuatnya seperti ini. Sulit untuk berkomunikasi.
"Tidak apa lupakan." Erynav menyatukan kedua tangannya dan memandang air kolam renang yang tenang.
Mereka hanya berdua di sini. Istirahat lima belas menit, dan Tuan Ivan sedang keluar sebentar.
"Kehidupan berjalan begitu saja. Tanpa kita mengaturnya, dan terkadang kejutan besar menanti." Erynav menghela nafas kasar. Yejin selesai memplester dan sesekali mendengarkan.
"Kau percaya reinkarnasi, Yejin?"
Yejin menatap temannya itu dan mengendikkan bahu. "Entahlah.."
"Terkadang aku merasa, aku pernah hidup di masa lalu, dan kembali hidup lagi sekarang."
Yejin berhenti berkedip dan mengingat sesuatu. Mimpi aneh yang menyeretnya pergi ke masa lalu, suatu daerah di dalam laut dan ikan di mana mana. Namun kemudian, ia menggeleng keras dan berpikir itu hanya bunga tidur.
"Kau percaya mimpi adalah sebuah tanda? Tanda-tanda sesuatu atau seseorang ingin menunjukkan kita sesuatu? Mungkin siapa sebenarnya kita, atau kejadian apa yang telah terjadi dan kita sama sekali tidak mengingatnya."
Sekali lagi, pikiran Yejin berputar. Hidupnya memang penuh kejutan. Kejadian pribadi yang di alaminya termasuk tidak masuk akal. Dia tidak bisa membedakan mana dunia nyata dan mana mimpi.
"Air."
Erynav menatap Yejin. Dia menunggu apa yang akan dikatakan lelaki itu selanjutnya.
"Kau tahu mengapa aku sangat suka air?"
"Kau suka berenang, jadi kau suka air."
Yejin menggeleng. Dia tahu betul apa alasan ia suka air.
"Aku merasa, air adalah nafasku. Oksigen yang aku perlukan sehari-hari, yang selalu aku hirup, dan yang membuatku masih hidup."
"Aku.. Aku selalu melihat pandangan yang murni dan kepribadianku di pantulan air yang tenang. Ini tidak masuk akal tapi ketika berada di air aku-"
"Baik. Here we go again." Tuan Ivan masuk gedung dan membunyikan peluitnya.
Yejin menelan ludahnya dan segera memakai kacamata renangnya kembali, dan masuk ke dalam kolam renang.
Erynav masih duduk dan melihat seluruh pergerakan Yejin.
Siapa dia sebenarnya.. Batin Erynav tanpa mengalihkan pandangannya.
"Erynav!"
"Baik, Pak!" Erynav memakai kacamatanya dan masuk ke dalam kolam renang.
***
"Kau pulang bersama Yejin kali ini?" Jereni memandangi rambut Lula yang terkena angin dan terlihat indah sekali.
Masih istirahat makan siang. Mereka sedang berada di taman. Hari berangin dan itu sangat sejuk.
"Aku sendiri." Singkat. Lula sedang memakan coklat hitam.
"Wait wait. Kau makan coklat?" Jereni membulatkan matanya.
Lula mengangguk.
"Sejak kapan kau suka coklat?" Jereni heran. Lula tidak suka coklat dari kecil. Dia akan muntah ketika memakan itu.
"Selama ini aku tidak tahu kalau coklat ini sangat enak." Coklat adalah satu-satunya makanan yang ia masukkan ke dalam daftar makanan terburuk sepanjang masa. "Kau mau?"
Jereni menggeleng. Ia sudah kenyang. Coklat tidak baik untuk tubuhnya.
"Jadi, bagaimana kau akan berbicara dengan kedua orang tuamu?"
Lula masih berpikir sekarang. Itulah alasan mengapa ia sekarang berada di taman. Untuk mencari ide.
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak mau ada kebohongan." Lula sadar dengan perkataannya. Dia tahu, dia harus apa.
"Kalau mereka tidak mengizinkanmu? Bukannya kau sudah berjanji."
"Semudah itu?" Jereni sangat tidak membantu. Dia bertanya seakan dia memojokkan Lula. "Secara tak sadar, kau sudah memberikan harapan kepada Yejin, Lula."
"Tapi aku juga tidak bisa melawan kedua orang tuaku, Jereni."
"Kalau mereka tidak mengizinkanku itu tandanya Tuhan memang tidak mengizinkanku untuk pergi, mungkin Dia ingin menyelamatkan aku dari suatu kejadian tak terduga ketika aku berada di sana."
"Kau kenapa, Lula? Aku mengenalmu sebagai gadis yang tak pantang menyerah. Kau belum berbicara dengan kedua orang tuamu, kenapa kau memikirkan kemungkinan kemungkinannya?"
"Berarti kau tak baik dalam mengenalku. Sudahlah Jereni, kita kembali ke kelas."
Jereni harus lebih bersabar mulai sekarang. Pandangannya tentang Lula bukan lagi sahabat manusianya. Ia adalah keturunan duyung, dan dia tidak mau kehilangan Lula apapun yang terjadi.
***
"Latihan hari ini cukup. Kalian harus lebih banyak istirahat. Jumat, kalian akan pergi berlomba. Saya harap, kalian berusaha semaksimal mungkin. Ingat, seluruh latihan yang kalian lakukan selama ini." Tuan Ivan berdiri dari duduknya dan menatap Yejin dan Erynav.
"Menang kalah sudah biasa dalam suatu pertandingan. Kalian hanya harus melakukan yang terbaik. Jangan kecewakan semua orang."
Yejin dan Erynav mendengarkan. Mereka mengerti. Sudah sejauh ini jalan yang mereka tempuh.
Boleh Tuan Ivan berkata seperti itu, tapi secara tidak langsung ia mengharuskan Yejin dan Erynav untuk memenangkan perlombaan.
"Perlu ingat dua hal. Fokus, dan bekerja sama. Saya tidak tahu apakah masalah di antara kalian berdua. Tapi saya mohon dengan sangat untuk menciptakan hubungan yang baik, karena itu sangat berpengaruh dalam tingkat kerja sama kalian."
Erynav menatap Yejin di samping kirinya. Ia berharap sekali perlakuan Yejin terhadapnya menjadi lebih hangat.
"Apa kalian mengerti?!"
Yejin dan Erynav mengangguk dan Tuan Ivan menutup pertemuan kali ini.
"Jangan banyak pikiran, dan istirahat yang cukup!"
***
"Kau yakin tidak ingin pulang bersamaku?"
Lula menggeleng. "Aku membawa sepeda."
"Sepedamu bisa diletakkan di bagasi atau bagian belakang mobil mamaku, Lula."
"Tidak, Jereni terimakasih. Aku hanya ingin sendirian." Lula bersikeras untuk kembali sendirian dan tidak ingin diganggu.
"Baiklah, aku mengerti. Hati-hati, Lula. Kabari aku ketika kau sudah sampai di rumah." Jereni berjalan mundur menghadap Lula.
Mereka berhenti di gerbang sekolah. Jereni harus menunggu mamanya, dan Lula menunggu sampai Jereni masuk mobil.
"Itu mama!" Jereni melambaikan tangannya dan mobil sedan putih mendekat.
"Jaga diri , Lula. Aku menyayangimu." Jereni memeluk Lula dan ia hanya tersenyum tanpa memeluk balik.
Lula's POV
Jereni menjauh dan yeah, aku sendirian. Aku menuntun sepedaku pergi kembali ke rumah. Aku akan naik nanti, ketika aku ingin.
Aku takut mama tidak mengijinkan aku. Kau tahu, dia akan melarangku untuk pergi ke sana. Tapi aku sudah berjanji dengan Yejin.
"Arghh kenapa aku melakukan ini tanpa berpikir!!"
Bugg
Sepedaku terjatuh ketika kedua tanganku memegang kepala. Sampai tak sadar kalau aku sedang menuntun sepeda.
"Benar. Aku harus meminta izin apapun yang terjadi." Merasa yakin, aku meraih sepedaku dan menaikinya dengan cepat.
***
"Pulang bersama, Yejin?"
"Tidak, terimakasih. Aku mengendarai sepeda." Yejin meraih tas ranselnya dan berjalan duluan.
"Sampai jumpa, besok!" Teriak Yejin dan berlari keluar.
Erynav hanya menaikkan kedua alisnya heran.
"Hari yang melelahkan.. huftt."