Luna Rusalka

Luna Rusalka
89



"Apa yang akan kau lakukan siang ini, Yejin?" Lula berjalan bersama dengan Yejin menuju parkiran. Yejin harus mengambil sepedanya dan kembali mengendarai itu.


Laki-laki itu menggeleng. "Tidak ada."


Lula terdiam dan mencoba mengatakan sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Yejin sambil menatap Lula.


"Mama bilang tidak bisa menjemputku siang ini. Dia menyuruhku untuk naik taksi, tapi aku ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu." Lula terdiam. Ia mengatur nafasnya.


"Jadi kalau aku naik taksi dan pergi ke tempat itu, uangnya tidak akan cukup untuk naik taksi kembali ke rumah."


"Jadi, Yejin bisakah kau menemaniku pergi ke sana?" Mereka berhenti di parkiran dan Yejin menoleh ke arah Lula, mencoba memikirkan apa yang akan ia katakan.


"Kemana?" Yejin sedikit membungkuk untuk mengambil sepeda dan mereka berjalan keluar dari parkiran pergi ke gerbang sekolah.


"Perpustakaan kota. Aku mencari sebuah buku. Kau keberatan menemani aku?" Lula mengepalkan tangan kanannya, berharap Yejin tidak menolak itu, dan menemaninya.


Yejin mengangguk tanpa berpikir panjang dan Lula tersenyum. "Aku hanya akan membuang waktu jika di rumah saja tanpa kegiatan."


***


"Maafkan aku, Matvei."


"Kau mau kemana?" Matvei berjalan keluar rumah dan bersiap dengan motornya.


"Kau tahu adikku selalu memaksa aku, dan mamaku yang selalu memanjakannya." Lucas menggaruk tengkuknya. Matvei hanya meringis dan mengerti.


"Tidak apa. Kau temani saja dia." Matvei mengunci rumahnya ketika Lucas sudah keluar dan mereka berjalan ke halaman.


"Aku harus pergi sekarang, terimakasih dan sampai jumpa besok!"


Matvei mengangguk dan melihat Lucas mengendarai sepeda motornya pergi berlalu. Laki-laki itu hanya menggeleng dan memakai helmnya.


Drttt


Ponselnya berdering dan melihat Bryan menelpon.


"I am on the way." Matvei mematikan panggilannya, dan naik ke motornya.


***


"Kau mau cari buku apa?" Yejin mengikuti Lula dan gadis itu terus mencari buku di rak dan tak kunjung menemukannya.


"Sesuatu tentang pengendali elemen." Lula menatap Yejin dan mencari lagi. Membuka satuan dari satu buku ke buku yang lainnya.


"Mungkin kau bisa cari di rak fiksi."


"Benarkah?"


Yejin mengendikkan bahunya. "Pengendali elemen lebih ke mustahil, Lula. Jadi mungkin itu hanya ada di fiksi, seperti pemaparannya dijabarkan oleh sebagian kecil dari para ilmuan atau penulis terkenal, dan itu tidak se detail dari kajian ilmiah lainnya."


"Aku juga tidak menemukannya di sini. Akan kucoba di rak fiksi."


Yejin mengangguk kecil dan mereka berdua berjalan menuju rak fiksi tak jauh dari tempat mereka sekarang.


"Apa yang kau ketahui tentang pengendali elemen, Yejin?"


"Itu hanya terjadi di Avatar, kau tau." Yejin tertawa ringan dan Lula tersenyum.


"Mustahil bukan berarti tidak ada. Itu hanya pendapat sebagian orang di muka bumi ini, dan bagaimana jika memang benar adanya? Sepertinya aku perlu teori lebih lanjut lagi, namun pernah ku baca. Negara Asia, menjadi negara dengan kebudayaan spiritual dan legendanya yang menurutku sangat tidak masuk akal. Kau tahu asal film Avatar dengan pemain utamanya Aang?"


Lula mengangguk. Ia pernah menonton itu bersama mama ya di bioskop. "China."


"China menjadi salah satu negara dengan legenda dan kebudayaannya yang masih ada hubungannya dengan yang kau bicarakan itu. Bahkan di sana orang bisa terbang, dengan ilmu kungfunya."


Lula hanya diam dan mendengarkan. Mereka sampai di rak fantasi dan Lula mulai mencari lagi buku itu.


"Jadi intinya, apapun dapat terjadi, dan kita tidak pernah tahu bagaimana itu bekerja."


"Tidak ada hal yang mustahil di dunia ini." Lula berhenti dan menatap tepat di mata Yejin. Laki-laki itu mengangguk dan membantu Lula mencari apapun yang berhubungan dengan pengendali elemen itu.


"Satu lagi." Yejin berhenti dan bersandar di rak, sementara Lula masih terus mencari bukunya.


"Ini terjadi sangat lama, bahkan hampir tidak ada yang membahasnya lagi. Tidak ada bukti otentik secara besar-besaran, dan mungkin ada beberapa, dan hanya orang tertentu yang memilikinya." Yejin terdiam dan menunggu Lula merespon. Dia jadi banyak bicara sekarang.


"Apa, Yejin?" Lula berhenti dan fokus dengan Yejin.


"Pernah kubilang beberapa hari atau Minggu lalu. Legenda lama di Rusia Timur. Sebenarnya ini lebih ke mitos, Lula." Lula fokus mendengarkan.


"Rusalka."


"Ah itu kau pernah menyinggung soal itu, dan aku sedikit tahu. Seorang perempuan yang mati di danau dan bla bla bla.."


Yejin mengangguk. "Sebenarnya tidak pernah ada kejelasan tentang asal-usul Rusalka itu sendiri. Namun yang kutahu mereka bukan manusia pada awalnya, namun makhluk air yang menyerupai manusia di bagian atas tubuhnya, dan bagian bawahnya berupa ekor yang panjang. Itu lebih menjorok ke putri duyung atau mermaid, sebenarnya."


"Namun itu hanya dongeng. Mermaid atau apapun itu."


"Kau mau tahu sebuah fakta?"


Lula mengangguk. Ia sangat penasaran dan antusias dengan topik yang sedang mereka bicarakan sekarang.


"Penulis membuat cerita tidak hanya sekadar imajinasi mereka. Mereka menyelipkan sedikit atau bahkan seluruhnya adalah sebuah kebenaran, dan kuyakin ada pesan dibalik sebuah film fantasi."


Lula merasa Yejin sangat mantap dengan hal itu. Dia pasti sangat tahu tentang semua ini membuatnya bisa berbicara seyakin itu dan didasarkan pada teori.


"Kulanjutkan. Beberapa spesies dari mereka, kusebut mermaid, dapat mengendalikan elemen. Semua elemen, atau hanya salah satu seperti air, tempat mereka hidup. Itu hanya beberapa, mungkin pemimpin mereka, atau keturunan dari pemimpin mereka."


Lula teringat apa yang belakangan ini terjadi padanya.


Tapi itu sangat tidak mungkin jika aku adalah mermaid atau Rusalka. Batin Lula merasa tidak terima jika dirinya memang mermaid.


Tapi bagaimana jika memang aku adalah .. Ah bahkan aku tidak mempercayai mereka.


"Tapi bagaimana jika mermaid itu benar-benar ada?"


"Aku tidak menyangkalnya, dan tidak ada hal yang mustahil di dunia ini. Kenapa kau sangat ingin tahu tentang pengendali elemen? Sesuatu terjadi?"


Lula melanjutkan mencari bukunya lagi dan Yejin juga membantu.


"Aku hanya penasaran."


Yejin mengangguk dan mereka terus mencari, namun tidak menemukannya. Buku di sini cukup banyak dan sepertinya mereka tidak dapat menjangkaunya.


"Kita sudah mencari cukup lama dan tidak menemukannya." Lula merasa lelah dan ia hanya bersandar di rak buku.


"Mungkin kita bisa tanya di customer service?"


"Ah iya. Yejin kenapa tidak bilang dari tadi?"


Yejin nyengir dan mereka berjalan ke bagian depan perpustakaan.


"Di bagian fiksi ada tiga,"


Lula menatap Yejin dan tersenyum.


"Semua cerita fantasi, dan masih dipinjam. Itu berarti tidak ada di sini."


Lula menaikkan kedua alisnya dan menghela nafas kasar. "Selain di fiksi? Ilmiah atau apa?"


"Maaf Miss, hanya ada di fiksi, dan tidak ada lagi."


Lula terdiam sejenak dan mengangguk. "Terimakasih."