Luna Rusalka

Luna Rusalka
44



Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan di antara Yejin dan Lula hingga sampai di sekolah.


"Lula kita berpisah di sini, dan nanti kita bertemu di sini lagi ketika bel sekolah berakhir, berbunyi." Yejin memarkirkan sepedanya dan menguncinya di palang.


Lula hanya mengangguk dan Yejin pamit pergi. Dia melambaikan tangan kirinya kaku dan berjalan mundur.


"Em Yejin!" Lula berteriak dan Yejin berbalik.


"Semangat!" Lula tersenyum dan Yejin hanya mengangguk.


Bocah laki-laki itu berbalik, melanjutkan jalannya, dan tersenyum dengan tulus. Dia merasa sesuatu mengalir di tubuhnya dan membuatnya berenergi positif sekejap. Dia bahagia.


Tepat ketika Yejin sudah tak nampak, Lula berjalan menuju kelasnya. Dia mengendikkan bahu dan menarik nafas seperti biasanya.


***


"Yejin kau ingat kan empat hari lagi kita akan apa." Erynav memakai kacamata renangnya dan Yejin hanya mengangguk.


"Kuharap kau bersikap lebih ramah lagi denganku." Yejin menghentikan aktivitas nya dan mengingat perkataan Lula kemarin.


Aku sangat kaku. Batinnya lalu menutup matanya sebentar.


"C'mon kids!" Tuan Ivan beranjak dari duduknya dan menepuk kedua tangannya, memberi aba-aba untuk memulai latihan.


Erynav berdiri, namun ia terlalu dekat dengan sisi kolam renang membuat tubuhnya di posisi akan terjatuh ke dalam kolam renang sebelum Yejin dengan cepat meraihnya.


Deg deg deg


Jantung Erynav berdetak kencang. Dia menatap air kolam dan sesaat kemudian pandangan nya beralih ke Yejin yang tengah menatapnya.


Mereka bertatapan beberapa saat sampai peluit Tuan Ivan menyadarkan keduanya.


"Maaf." Erynav berdiri dan Yejin melepaskan nya.


"Kau harus berhati-hati lagi." Kata Yejin kaku dan berjalan menghampiri Tuan Ivan diikuti Erynav di belakangnya.


Tadi itu.. Batin Erynav singkat lalu tersenyum dan pipinya memerah.


***


"Hai Lula!" Jereni berdiri di samping bangkunya dan tersenyum lebar, memperhatikan gigi putih rapinya.


Lula tersenyum dari kejauhan dan berjalan menghampiri Jereni.


"Kau lama sekali." Jereni meraih tas Lula dan meletakkannya di kursi sampingnya.


"Aku habis dari toilet." Kata Lula dan duduk di sisi meja.


"Kau berangkat sendiri?"


Lula menggeleng. "Dengan Yejin," dia menatap lantai dan bersikap aneh.


Jereni hanya ber-oh ria dan duduk di kursi. "Kau kenapa?"


"Yejin mengajakku pulang bersama." Lula memegang lengannya dan menatap Jereni yang tengah tersenyum menggoda.


"Apa itu menjadi masalah?" Jereni menepuk lengan Lula pelan. Lula menggelengkan kepala dan menunduk.


"Tidak. Hanya aneh saja.."


"Sudahlah. Dia mencoba memperbaiki persahabatan kalian."


"Kau mau kembali bersamaku nanti, Jereni?" Lula beranjak dan berdiri tepat di depan Jereni.


Jereni mengangkat alisnya dan menggeleng keras. "No, aku akan memberikan kalian waktu berdua. Lagian aku tidak membawa sepeda, dan harus kembali bersama mama." ia mengendikkan bahu dan tertawa.


Lula hanya mengembuskan nafasnya kasar dan mengangguk mengerti.


"Tiga hari lagi, apa kau akan datang?"


"Ya." Lula berjalan memutar dan duduk di kursi.


"Apa kau sudah memberi tahu Yejin?"


Lula menggeleng. Dia masih belum memberi tahu Yejin tentang hal ini. Dia pasti memberi tahu Yejin, namun bukan sekarang. Dia menunggu waktu yang tepat.


"Kenapa?"


"Aku pasti akan memberi tahunya. Mungkin nanti atau besok."


***


"Istirahat lima belas menit!" Tuan Ivan mengangguk dan berjalan keluar gedung.


Yejin mencoba naik ke atas dan menahan tubuhnya agar tidak terjatuh lagi. Duduk di sisi kolam renang dan melepas kacamata renangnya.


Tak jauh dari situ, Erynav memperhatikan Yejin dari tengah kolam renang. Semenjak kejadian tadi, Erynav menjadi pendiam dan terus menatap Yejin.


"Kau hanya akan berdiri di sana?" Yejin menyilakan kedua tangannya di depan dada dan bersandar pada kursi.


Erynav memalingkan muka dan berenang ke sisi kolam renang, mendekati Yejin.


Kenapa aku?


Batinnya. Dia tak biasanya seperti ini.


***


Dimana Yejin? Sepuluh menit aku menunggunya di sini. Aku yakin dia belum kembali, sepedanya juga masih di sini.


Apa aku harus membicarakannya hari ini dengan Yejin?


Aku punya firasat kalau dia akan melarangku untuk datang ke perlombaannya.


"Lula." Seseorang mengejutkanku. Aku tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Namun itu sungguh membuat ku deg deg an.


"Kau menunggu lama?"


Aku mengangguk. Sepuluh menit bagiku terlalu lama. Namun tidak apa sebenarnya. Lagian ini masih siang dan masih banyak waktu untuk kembali.


"Maafkan aku. Aku harus bersih-bersih." Yejin mengangguk dan melepas kunci sepedanya.


"Apa Jereni masuk sekolah?" Yejin mengangkat sepedanya dan meletakkannya di depan kami. Aku mengangguk.


"Ayo," Yejin menyuruhku berjalan dulu, namun aku menggeleng dan kita berjalan bersama akhirnya.


"Yejin, ada yang mau aku bicarakan." Aku berbicara tanpa menatapnya. Yejin berhenti dan aku juga. "Sambil berjalan." Aku tidak mau membuang waktu dengan hanya membicarakan hal ini.


"A-"


"Hei Yejin!" Aku mendengar suara perempuan di belakang kami. Sontak aku dan Yejin berbalik dan mendapati Erynav kalau tidak salah berjalan menghampiri kami. Tidak, dia hanya memanggil Yejin.


"Ada apa?" Yejin bertanya tanpa ekspresi.


"Milikmu? Tertinggal di kursi." Erynav menyerahkan kacamata renang hitam kepada Yejin. Dia pasti meninggalkannya.


Yejin melepas tas ranselnya dan membuka, mencari sesuatu.


"Iya. Itu tidak ada di sini. Terimakasih Erynav. Ini punya Lula," Yejin tersenyum kepada Erynav dan Erynav juga.


Mengapa aku merasa tidak suka Yejin semakin akrab dengan Erynav?


"Ini."


Yejin mengambil kacamata itu dan sekali lagi berterimakasih.


Kenapa aku berpikir seperti ini? Ini hal baik. Mereka memang seharusnya membuat hubungan baik di antara keduanya.


"Aku pergi dulu, sampai jumpa!" Erynav tersenyum kepada Yejin, dia tersenyum juga kepadaku. Aku hanya tersenyum tipis dan dia manis sekali.


"Hati-hati!" Kata Yejin dan tumben sekali dia berkata seperti itu?


"Ini Lula. Terimakasih dan maaf telah ceroboh meninggalkannya. Kalau Erynav tidak melihatnya aku tidak tahu bisa mengembalikannya kepadamu atau tidak." Yejin memberi ku kacamata itu dan aku hanya tersenyum.


"Ayo.." Aku mengangguk dan kami berjalan menuntun sepeda kami masing-masing sampai gerbang sekolah. Habis itu, kami akan menaiki sepeda kami sampai rumah.


***


"Apa yang akan kita lakukan di sini?" Yejin mengajakku ke sebuah taman, agak masuk lagi ke dalam perbatasan. Tempat ini asing bagiku.


Pohon di kanan kiri dan danau kecil di samping kami duduk. Taman ini tidak ramai, hanya ada beberapa orang dan tukang kebun di sekitarku.


Kebanyakan dari mereka sudah besar dan lebih tua dari aku dan Yejin.


"Beberapa hari yang lalu, aku berjanji mengajakmu ke sini." Kapan? Kenapa aku tidak mengingat nya? Terkadang aku lupa kejadian yang mungkin membuatku.. entahlah aku tidak bisa menjelaskannya.


"Aku tidak ingat?" Pernahkah Yejin berjanji seperti itu?