Luna Rusalka

Luna Rusalka
142



"Hai Lula." Yeva menyambut Lula kembali, dan dia sudah berada di rumah Lula sedari tadi. Menunggu mereka kembali. Lula tersenyum dan memeluk Yeva.


"Aku sangat sedih mendengar nenek wafat." Senyum Lula berubah menjadi kesedihan. Ia sudah menganggap nenek Yejin nenek sendiri, namun dia tidak melihatnya untuk terakhir kalinya. Lula menepuk pundak Yeva dan wanita itu tersenyum tipis. "Aku turut bersuka cita, bibi Yeva." Lanjutnya.


"Terimakasih, Lula." Yeva melepas pelukannya. "Kita tidak bisa mencegah hal ini, bukan?" Katanya mengelus pipi Lula. "Hari ini Lula kembali. Jadi, buat apa merasa sedih?" Katanya dengan nada cukup tinggi dan ceria. "Sekarang!" Teriaknya dan seseorang di belakang menarik tali, kemudian jatuhlah puluhan balon dan kertas warna-warni dari atas, terjatuh dan tepat mengenai Lula. Semua orang tertawa dan memberikan teriakan bahagia karena Lula sudah sembuh dan kembali.


"UNTUK LULAA!" Teriak Jereni dan melempar berbagai jenis bunga ke tubuh Lula diikuti semua orang yang berada di sana sambil berteriak, "UNTUK LULAA!"


Setelah hujan balon dan kertas warna-warni, sekarang semua orang melempari Lula bunga. Lula tersenyum bahagia dan melompat-lompat riang gembira. Jereni mendekat dan melompat bersama Lula. Yejin hanya melihat mereka dari kejauhan dan merasa semakin bahagia.


"Bahagiaku adalah melihatnya seperti itu, dan tidak menyembunyikan kesedihannya." Batin Yejin merasa seakan dunia sedang memihaknya. Semua orang masih memegang bunga dan melemparnya ke atas, membuat ruang tamu Lula tambah berantakan, tapi tidak ada yang merasa marah.


Beberapa bunga terbang dan mengenai wajah Yejin. Laki-laki itu membersihkan bunga dari wajahnya dan sebuah tawa terdengar renyah di telinganya. Lula tengah tertawa dan melempari Yejin bunga di depan wajahnya. Beberapa saat kemudian, Lula menariknya dan mengajaknya melompat di tengah-tengah bunga yang masih berterbangan.


Mereka semua terlihat sangat gembira. Tapi, mereka tidak tahu kebahagiaan itu hanya sementara. Mala petaka tengah mengintai mereka dan ketika saatnya sudah tiba, mereka akan segera membuat heboh dunia.


***


"Apa?" Alexei terkejut ketika Redrik memberitahunya tentang keputusan Elliott. Laki-laki itu baru kembali dan jarang berada di rumah.


"Ayah tahu kalau Ell tidak akan pernah melakukan itu. Dia sangat mencintainya." Alexei memalingkan wajahnya merasa tidak bisa menerima ini, walau ia juga sangat menentang hubungan ini.


"Tapi dia melakukannya di depanku." Redrik tetap ngotot dengan apa yang dikatakannya.


"Tapi kau lihat sendiri. Ell mengurung diri di kamar dan tidak mau makan. Walau ia mencintai laki-laki itu, ia tetap melakukan itu dan aku yakin ada sesuatu yang ia sembunyikan." Alexie menunjuk lorong seakan-akan Elliott berada di sana.


"Bukankah kau menentang hubungan mereka? Tapi kenapa kau terlihat tidak terima seperti ini?" Redrik merasa tidak mengerti. Alexei adalah orang pertama yang menentang hubungan kakaknya, dan ketika hubungan mereka hancur, Alexei tidak terima.


"Tidak. Hanya saja sangat aneh. Kenapa Ell melakukan itu?" Alexei berdiri dan berjalan menyusuri tangga untuk pergi ke lantai atas.


"Mempersulit rencanaku saja." Bagaimana ia tidak marah dan heran? Baru aja ia akan berpura-pura menerima Matvei sebagai kekasih kakaknya, tapi hubungan mereka sudah berakhir. Ini akan sangat sukar untuk mendekati Matvei dan menjalankan seluruh rencana Alexei untuk segera menyingkirkan dirinya. Dengan begitu, ia akan mudah untuk mempengaruhi Bryan dan menguasai perusahaannya.


***


"Mama besok aku akan kembali ke sekolah." Lula membantu Sofia menata piring. Mereka semua belum makan siang dan Sofia tengah mempersiapkan semuanya. Sofia berhenti dan menatap putrinya mengambil nafas lelah.


"Lula kau baru saja kembali dari rumah sakit dan kondisimu belum benar-benar sembuh. Bersabarlah dua atau tiga hari sampai kau benar-benar sembuh." Sofia menggeleng dan tersenyum tipis. Ia melanjutkan aktifitasnya kemudian dan mengangkat nasi yang baru saja matang.


"Lula tolong panggil semua orang. Makan siang sudah siap." Sofia menepuk kedua tangannya dan melepaskan sarung tangannya.


"Baik, ma."


[Lula pergi ke ruang tamu, dan menanggil semua orang. Sedang di ruang tamu, terdengar suara ketukan pintu.]


Tokkk tokkk


Ketukan pintu terdengar nyaring. Semua orang tengah melakukan aktifitasnya masing-masing dan tidak ada yang mendengar itu. Jereni tengah bercerita dengan Yeva, dan Yejin yang tidak tahu kemana. Yefy tidak ada di sana, ia tengah berada di kamarnya dan entahlah apa yang dilakukan bocah itu.


"Akhirnya bisa bersantai." Katanya lalu memejamkan matanya.


Tokkk tokkk


Jereni membuka matanya dan memasang telinga mencoba mendengar apakah benar ia mendengar suara pintu diketuk.


Tokkk tokkk


Suaranya hampir samar-samar dan tidak terlalu jelas terdengar karena di dalam sangat berisik. Tapi ia berani bersumpah ia mendengar ketukan itu. Jereni berdiri dan berjalan mendekati pintu. Ia membuka pintu dan ...


"Kak Matvei?" Seorang laki-laki hendak pergi dari depan rumah dan berhenti ketika mendengar Jereni memanggil. Matvei berbalik dan berjalan mendekat.


"Maaf tadi di dalam sangat berisik. Sudah lama di sini?"


"Aku mengetuk beberapa kali, dan kurasa semua orang tengah sibuk " Matvei tertawa ringan dan Jereni hanya nyengir dibuatnya. "Kukira kau tidak jadi kemari. Masuklah!" Kata Jereni mempersilakan Matvei masuk. "Kau yakin aku tidak mengganggu?"


"Apa yang kau bicarakan? Semua orang ada di sini. Bahkan Bibi Yeva dan Yejin juga di sini. Sudahlah ayo, kau juga ingin bertemu Lula, bukan?" Jereni membuka pintu lebar-lebar dan Matvei mengangguk.


"Oh ya kau tidak bersama kak Elliott?" Jereni menutup pintu. Semua orang masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan tidak menghiraukan Matvei. Laki-laki itu berhenti, dan mimik mukanya berubah menjadi sedih.


"Kau baik-baik saja?" Jereni yang sadar itu langsung bertanya. Ia melihat perubahan ekspresi Matvei ketika ia bertanya soal Elliott. Apa mereka berdua sedang bertengkar? Pikir Jereni. Tapi kenapa hal ini membuat Jereni sedikit merasa senang? Gadis itu menepuk kepalanya. Pikiran-pikiran yang tengah ia pikirkan sangat tidak baik.


"Apa yang terjadi denganku?" Batinnya gusar. Setiap ia berada di dekat Matvei, ia merasakan sesuatu yang tidak biasa. Jereni menatap Matvei. "Apa aku?" Ia selalu memikirkan laki-laki itu ketika merasa sedih. Tidak tahu apa perasaan ini, tapi apakah Jereni memiliki perasaan dengan laki-laki di depannya itu?


"Ya ampun kenapa aku memikirkan hal ini lagi?"


"Kau baik-baik saja?" Jereni bertanya untuk yang kedua kalinya. Laki-laki itu mengubah mimik mukanya menjadi santai dan mengangguk. "Tidak apa. Dimana Lula?" Ia mengalihkan pembicaraannya dengan bertanya dimana Lula. Jelas sekali bayangan Elliott masih terlintas jelas di pikirannya.


"Di dalam." Jereni mempersilakan Matvei duduk, dan mereka berdua duduk di sofa.


"Lalu Mama dan Yejin? Aku tidak melihatnya?" pandangan Matvei tersorot ke seluruh tempat di rumah ini dan tidak menemukan apa yang ia cari. "Bibi Yeva di dalam, baru aja ia ke sana dan Yejin... Tidak tahu. Ia menghilang ketika Lula pergi ke dalam. Mungkin ia bersama dengan Lula." Kata Jereni mengatur nafasnya yang sedikit tidak tenang.


"Kau baik-baik saja?" Kali ini Matvei yang bertanya. Jereni mengangguk dan bilang ia baik-baik saja. "Ah iya kau bilang kau ingin menemuiku? Apa yang ingin kau bicarakan?" Jereni menagih janji yang tidak Matvei buat. Tujuan Matvei ke sini juga karena ingin membicarakan sesuatu dengan Jereni.


"Perhatian untuk semua orang!" Lula berteriak dari lorong pembatas ruang tamu dengan ruang makan. Semua orang diam dan memperhatikan Lula. "Saatnya makan siang!!!" Teriaknya kemudian sambil tertawa dan semua orang yang ada di sini mengangguk lalu beranjak menuju ruang makan.


"Ah kak Matvei?" Lula melihat laki-laki itu dan menghampirinya.


"Bagaimana keadaanmu?" Matvei berdiri dan Lula tersenyum sebentar. "Aku baik-baik saja. Sudah lama di sini? Aku belum melihatmu lagi semenjak..." Lula terlihat berpikir keras. "Kapan ya?" Ia memegang kepalanya. "Ah intinya sudah lama sekali. Bagaimana kabar kakak?" Tanya Lula sambil melihat ke belakang, samping kanan dan kiri, lalu ke seluruh ruangan. "Kau tidak bersama kak Elliott?"


Keadaan hening. Tidak ada yang berbicara. Semuanya terdiam, termasuk Lula yang tengah menunggu jawaban. "E-"


"Lula kau kemana?" Teriak Sofia dari dapur. Baru saja Matvei hendak berbicara, Suara Sofia memotongnya. "Ah iya ayo kita makan siang bersama. Jereni, kau ajak kak Matvei aku ke dalam dulu." Kata Lula lalu berlari ke dalam.


Hening. Mereka berdua masih diam tak bergerak. Apa yang terjadi sebenarnya?