
"Kau benar-benar sudah baikan, Lula?" Yeva meraih tangan Lula dan gadis itu mengangguk. "Aku siap dengan kehidupan nyataku kembali, bibi. Setelah membuat orang-orang khawatir dengan keadaanku yang mengenaskan." Lula tertawa dan Yeva tersenyum.
"Kau tahu bibi sangat sangat merindukanmu. Kau harus berjanji jangan lagi membuat semuanya panik dan sedih. Kau kesayangan kami semua, Lula." Yeva memeluk Lula dan gadis itu mengangguk mengerti. "Bibi tahu?" Lula melepaskan pelukannya.
"Yejin menjadi sangat perhatian sekarang." Ia berbisik lirih di telinga Yeva dan wanita itu terlihat terkejut.
"Benarkah? laki-laki cuek itu?" Sepertinya Yeva tidak tahu kalau semakin hari Yejin menjadi sangat terbuka dan entahlah apa yang membuatnya seperti itu.
"Uh huh, bibi. Yejin sangat sangat perhatian dan sepertinya dia mulai naksir denganku, ahahahah." Tawa Lula pecah dan Yeva juga ikut tertawa.
"Kau sangat lucu Lula, baiklah kau mau minum apa? Bibi buatkan." Yeva Merapikan pakaiannya dan berdiri.
"Sepertinya akan terlihat merepotkan bibi, tapi aku ingin sekali minum smoothies buatan bibi favoritku!" Teriak Lula bersemangat.
"Kau sudah seperti putriku, Lula. Jadi apapun yang kau inginkan adalah suatu kebanggaan buatku. Baiklah, kau tunggu di sini, bibi akan ke dalam. Akan ku panggil Yejin juga untuk kemari menemanimu."
"Baiklah bibi,"
Yeva pergi ke dalam dan Lula menyandarkan tubuhnya di punggung sofa dan memejamkan matanya. Dia cukup lelah sekarang. Tubuhnya baru pulih dan dia juga harus segera mengerjakan tugas yang sangat banyak itu. Sebenarnya dia bisa meminta bantuan Jereni atau Yejin, tapi sepertinya itu akan sangat merepotkan.
"Apa yang baru saja kalian bicarakan tanpaku?" Suara Yejin terdengar sangat jelas di telinga Lula. Dia sempat terkejut tapi ketika ia merasakan sofa bergerak, dan seseorang mencoba duduk di samping Lula.
Lula membuka mata dan melihat Yejin sedang minum dan duduk tepat di samping Lula. "Rambutnya sangat berantakan, tapi kurasa gaya rambut Yejin favoritku dari semua gaya rambut yang pernah ia pakai." Lula tersenyum dan bernafas lega. "Senangnya masih bisa melihatnya. Kapan aku berani mengungkapkan perasaanku, ya? Rasanya sangat sesak di dalam sini, menyimpan perasaan ini terlalu lama, sendirian."
"Jawab saja dan jangan memandangku seperti kau sedang jatuh cinta denganku."
Kedua bola mata lula membesar dan mengalihkan pandangannya. "Benarkah dia tahu?" Ia tidak pikir panjang dan hanya mengendikan bahu.
"Tidak terlalu penting. Hanya topik perempuan." Lula mengangkat punggungnya dan duduk tegak sejajar dengan Yejin. "Kau benar-benar sakit, Yejin? Sampai-sampai aku hubungi tidak bisa."
"Sebenarnya..."
"Apa aku terlalu lama?" Tiba-tiba Yeva datang dengan nampak dan smoothies strawberry berada di dalamnya. Itu minuman kesukaan Lula dan gadis itu hour berteriak kegirangan. Sudah sangat lama dan hampir satu tahun dia tidak meminum smoothies buatan Yeva dan itu sangat menyiksa.
"Sudah sangat lama semenjak waktu itu, aku meminum ini." Lula tersenyum simpul ketika Yeva menaruh smoothies nya di meja. Yejin hanya memperhatikan dengan ekspresi biasa saja seakan tidak tertarik sama sekali.
"Berarti kau harus sering-sering kemari untuk merasakannya. Benar kan, Yejin?" Yeva berdiri di samping Yejin dan menyenggolnya. Yejin hanya melenguh lirih dan tidak mengeluarkan satu kata pun. Yejin tetap Yejin.
Keadaan hening. Lula tidak tahu apa yang harus dibicarakan dengan Yejin, tapi rasanya itu sangat menganggu jika hanya terdiam seperti ini.
"A-"
"A-"
Kata Yejin dan Lula bersamaan. Mereka langsung terdiam, saling menatap, dan butuh beberapa saat untuk mencerna yang akan terjadi selanjutnya.
***
Elliot POV
Jadi, begini rasanya..
Hidup tanpanya, rasanya seperti kau hidup menjadi vampir. Bisa melakukan apapun tapi tidak pernah puas. Beberapa hari dan terasa sangat berat. Kenapa ini terjadi?
Kini, bagian paling penting dari diriku, telah kulepas dengan terpaksa dan tanpa tangis. Kadang ingin tertawa, bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa harus aku? Kenapa bukan orang lain saja?
Kupernah berpikir untuk mengakhiri diriku sendiri sebab telah muak dengan hidupku. Tapi kau tahu hidup tidak akan menarik tanpa tantangan. Tidak lagi aku akan bersedih memikirkan hal ini, tidak akan pernah. Karena kutahu, jika kau menginginkan sesuatu maka kau harus berusaha mendapatkannya.
Bukan lagi saatnya seseorang yang mendapatkan aku, namun aku yang harus mendapatkannya sekarang. Kau tahu ini sangat sulit, kuyakin semua orang pernah mengalami hal ini. Bagaimana bisa? bagaimana bisa untuk berhasil?
Seseorang mengancam aku untuk menjauhi matvei dan ini pr buat aku. Buat aku tahu siapa dan kenapa. Apakah mereka musuh matvei? Tapi, apa hubungannya denganku? Bagaimana bisa mereka menyuruh aku untuk menjauhi dirinya.
Matvei sangat baik. Bahkan, ketika aku meninggalkannya dan kembali, dia masih mau memaafkan aku. Bagaimana bisa ada orang yang sangat jahat? Apa yang terjadi sebenarnya?
Sore ini, aku akan datang menemuinya ke perusahaan Bryan. Mungkin, sekedar mengunjungi? Sudah lama aku tidak ke sana. Aku akan menemukan Matvei di sana, dan apakah dia masih mau bertemu denganku?
Kupikir ada yang janggal nih, sekilas terlintas di pikiran kayanya orang-orang Bryan deh di balik semua ini. Bagaimana aku bisa punya pikiran kaya gitu? Kau tahu sendiri walau matvei bekerja sama dengan Bryan, tapi tetap perang dingin tak terelakkan. Entah kenapa tapi, mereka dari dulu seperti itu, dan anehnya sama-sama saling membutuhkan. Seperti ada sesuatu yang membuat mereka terpaksa harus bekerja sama.
Padahal, aku tahu sekali kalau Bryan sangat membenci matvei, dan matvei sungguh tidak suka. Bahkan, mereka dulu pernah hampir saja saling bantai membantai. Bagaimana aku tahu? Ya kami telah bersama dari dulu, dan aku tahu apapun tentang Matvei.
Tapi, kurasa masih ada sesuatu yang belum aku tahu darinya, sesuatu yang ia sembunyikan dan tidak ada siapapun yang tahu. Aku tidak ingin mencampuri urusannya, dan biarlah dia dengan rahasianya, tapi jika sudah menyangkut tentang hubungan ini, maka aku tidak akan diam.
Memang aku penyebab kita tidak bersama lagi, tapi Matvei, tunggu aku. Semuanya akan baik-baik saja dan kita pasti akan kembali bersama.