Luna Rusalka

Luna Rusalka
68



Lula tersenyum dan mematikan treadmill nya. Ia jongkok dan membenamkan wajahnya di lututnya.


Menarik nafas dalam dan akhirnya berdiri.


Gadis berambut pirang sampai di finish di nomor dua. Dia membulatkan matanya dan menatap Lula tidak suka. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang.


Lula berjalan menuju arah Yejin. Yejin tidak berlari di treadmill. Peserta laki-laki hanya berenang di ronde akhir.


Satu persatu peserta selesai dengan perlombaan nya. Komputer sedang menjumlahkan skor dan kita akan tahu siapa pemenangnya nanti.


Tubuh Lula hampir ambruk jika Yejin tidak menangkapnya. Lula sangat lelah dan kakinya pegal sekali. Ia berjuang begitu keras.


"Lula kau tidak apa-apa?"


Lula mengangguk dan tersenyum. Ia melepaskan diri dari Yejin dan berjalan menuju pos sekolah mereka.


Semua orang tersenyum kepada Lula dan Yejin. Yejin berjalan setelah Lula dan mereka terlihat kelelahan.


Perlombaan kali ini cukup menguras tenaga. Mereka harus berlari dan berenang secara bergantian. Itu bukan sesuatu yang mudah.


"Kau hebat, nak!" Mark menatap putrinya bangga dan Lula memeluk papanya itu. Membagi rasa lelah yang sedang ia rasakan sekarang, dan menutup matanya.


"Selamat, Yejin." Erynav menyentuh lengan Yejin masih dengan perban di kakinya itu.


"Mereka masih mencatat skor." Yejin tersenyum tipis dan duduk di samping Tuan Bogdan.


"Apapun yang akan terjadi nanti, saya akan tetap bangga kepadamu, Yejin." Pria itu merangkul Yejin. Dia tidak menuntut Yejin dan Lula harus menang. Apa yang ia lihat hari ini, sudah sangat cukup dan sebuah kebanggaan.


"Berapa lama mereka akan menjumlahkan skor?" Yejin bertanya karena sampai sekarang pemenang masih belum diumumkan.


"Seharusnya sebentar."


Yejin mengangguk mengerti.


"Aku haus.." Lula berdiri dan mencoba mencari air mineral.


"Ini papa sudah siapkan." Mark memberinya air mineral dan Lula hendak membuka sebelum ia ingat sesuatu.


Lula berjalan ke.arah Yejin dan memberikan air mineral itu. "Minumlah Yejin. Kau terlihat pucat." Yejin menatap gadis itu dan mengangguk. "Terimakasih."


Lula tersenyum dan kembali ke tempat duduknya di samping Mark dan meminta botol air mineral satu lagi.


--


"Minumlah, Grace." Seorang wanita paruh baya menyodorkan air mineral kepada gadis berambut pirang yang tengah memperhatikan sesuatu tanpa menghiraukan wanita itu.


"Grace kau tak apa?" Wanita itu mengguncang tubuh Grace, namun ia langsung berdiri dan pergi menjauh.


--


Projektor menampilkan daftar kelompok peserta dan masing-masing waktu dan kecepatan yang mereka tempuh.


Semua orang memperhatikan itu. Skor bertambah masing-masing peserta dan berhenti dimana skor akhir telah tercatat. Lula tak sabar dengan hasilnya dan ia berharap ia dan Yejin memenangkan perlombaan lagi.


Seluruh angka masih berputar, dan beberapa saat kemudian layar menampilkan urutan kelompok per skor tertinggi.


750 | Lula Beatriks-Yejin Ilarion


700 | Gracia Abraham-Jack William


697 | Startseva Johana-Rudov Igor


690 | Loseva Agnessa-Brantov Zhenka


686 | Alena Fay-Adrian Yemee


650 | Tanya Valery-Edmon Evgen


648 | Talia Savina-Abraham Pablo


645 | Rena Lumynovna-Gregory Lonkav


629 | Runova Katenka-Moreno Gera


500 | Golubeva Alisa Timurovna-Cherkashin Milomir


490 | Angela Vadimovna-Andreevich Adrian


488 | Victoria Paravena-Adam Emilio


Lula dan Yejin berdiri melihat nama mereka berada paling atas, dengan skor tertinggi. Hampir tak percaya, namun itulah kenyataannya.


Tuan Bogdan bersorak. Tim mereka mendapat skor tertinggi. Erynav berteriak senang dan semua orang bersyukur.


Lula masih terdiam dan tidak menyangka. Ia menang. Ia dan Yejin. Tim mereka.


Senyum Lula melebar.


"Yejin." Panggil Lula tanpa melihat lelaki itu. Yejin menoleh dan dengan cepat Lula memeluk nya. Yejin tersenyum dan membalas pelukan Lula.


Tuan Ivan dan Tuan Bogdan berpelukan. Saling memberi selamat atas kerja keras mereka selama ini.


"Selamat untuk kita semua." Tuan Bogdan melepas pelukannya dan tersenyum bangga.


Mark berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Lula.


Gadis itu tidak bisa berkata-kata sekarang. Ia hanya tersenyum dan tidak menyangka, setelah beberapa hari ini tidak berenang, ia dapat berenang lagi.


Lula melepaskan pelukan Yejin dan menatap papanya.


"Papa Lula berhasil." Mark memeluk Lula dan menepuk pelan kepalanya.


"Mamamu akan bangga."


--


"Bagaimana bisa?" Gadis pirang itu, Grace namanya. Berdiri kaku melihat namanya berada di urutan kedua.


Bukan ini yang ia inginkan, dan yang pelatihnya inginkan.


Seorang wanita mendekati Grace dan menatap nya tajam. "Apa yang saya katakan tentang kecepatan, dan kau harus memenangkan perlombaan ini?!" Nadanya cukup keras membuat Grace sedikit terkejut.


"Kau tidak pernah mendengarkan saya dan terus saja bertahan dengan kecepatan mu itu!" Grace memalingkan muka dan membuat wanita itu semakin emosi.


"Lihat saya!"


Grace masih tidak bergeming.


"Lihat saya!!" Wanita itu mencengkeram lengan Grace membuatnya kesakitan dan menoleh, menatap tepat di mata pelatihnya.


"Saya sangat kecewa dan kau memang tidak pernah berjuang!" Wanita itu mendorong Grace dan pergi berlalu meninggalkannya.


Mata Grace berkaca-kaca. Sebelum air matanya menetes, ia mengusapnya. Nafasnya tidak teratur dan wajahnya memerah.


Tangannya mengepal dan emosi menjalar ke seluruh tubuh. Kepalanya menoleh ke sana kemari, mencari seseorang.


Tatapannya berhenti dan dengan tangan yang masih mengepal, ia berjalan dengan cepat lurus ke arah selatan.


--


"Kalian harus ke sana untuk menerima penghargaan." Tuan Ivan baru saja kembali dan berhenti di depan Yejin dan Lula.


Lula menatap papanya dan Mark mengangguk. Yejin berdiri dan mengajak Lula untuk pergi bersama.


"Papa akan menunggu di sini." Lula mengangguk. Kemudian ia berdiri.


Yejin berjalan di depan Lula dan Lula membuntuti nya dari belakang.


Mereka berjalan melewati sisi kolam renang. Lula masih dalam keadaan tak percaya ini semua terjadi padanya, sampai tidak sadar seseorang menabraknya hingga ia terpental dan jatuh ke dalam kolam renang.


"Aaa!"


Yejin berbalik ketika mendengar teriakan di belakang nya. "Lula!" Tak sampai, ia terlambat untuk meraih tangan Lula.


Beberapa orang di dekat kolam renang menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah Lula.


Ia tercebur ke dalam kolam renang yang cukup dalam itu dan tak kunjung naik ke permukaan.


Yejin melepas sepatunya dan melompat ke dalam air, untuk mencari Lula.


Mark berlari mendekat dan berdiri menunggu Yejin mencari Lula. Tuan Ivan dan Tuan Bogdan terlihat khawatir. Mereka masih ingat terakhir kalinya Lula terluka karena berurusan dengan air.


Tak kunjung terlihat, Mark berniatan untuk melompat mencari Lula dan Yejin namun Tuan Bogdan mencegah nya.


"Saya harus mencari putri saya.."


"Tim penolong sedang kemari dan membantu mencari Lula." Mark menurut ketika melihat beberapa orang melompat ke dalam air dan menyelam.


Yejin naik ke permukaan dan mengambil nafas, lalu masuk lagi ke air.