Luna Rusalka

Luna Rusalka
22



 


Aku tidak tahu apa yang terjadi. Semakin hari tubuhku semakin lemas dan tidak ada tanda-tanda untuk membaik.


Aku membuka mataku perlahan, dan masih tetap sama. Di relung lautan terdalam dengan ekor yang menggantikan kakiku. Aku tak tahu ini hanya bunga tidur atau sebuah tanda.


Pikiranku kacau setiap terbangun dari tidurku. Aku tahu aku sedang bermimpi. Namun, rasanya aku tidak ingin terbangun begitu saja walau aku tahu ini termasuk mimpi buruk.


Aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Aku hanya tidak mampu berbuat sesuka hatiku.


"Bergegas! Bergegas!!" Seseorang berteriak sontak membuatku terkejut dan segera bersembunyi. Mengintip dari celah bebatuan dan melihat beberapa orang berbaris membelakangi ku. Mereka semua berekor dan memakai baju aneh, entahlah aku tidak yakin tapi sepertinya mereka prajurit.


"Berpencar ke seluruh lautan dan mencari ratu!!!!!!" Teriak seseorang dengan suara yang kencang. "Siap, Pak!!!" mereka berpencar dan salah satu sepertinya menyadari sesuatu dan mencoba berbalik.


"Mereka di sana!!!" salah seorang prajurit itu mengacungi tempat dimana aku bersembunyi dan beberapa mendekat dengan kecepatan tak masuk akal membawa tombak runcing.


Apa mereka melihatku? Apa yang harus aku lakukan??? Aku mencoba melarikan diri namun masih tidak terbiasa dengan ekor ini dan beberapa kali tersungkur ke tanah. Mereka mengejar ku dan melempar tombak mereka.


Aku berenang sekuat tenaga namun sesuatu melilit ekorku dan menbuatku tak bisa melarikan diri. Satu tombak melayang dan hampir menancap di perutku jika saja aku tidak membungkuk.


Aku hanya bisa bersembunyi di batu besar di depanku dan meringkuk ketakutan. Apakah mereka akan membunuhku atau apa aku tidak tahu dan apa kesalahanku?


"Serang!!!"


"Arggggg!!!" Aku mendengar teriakan di balik batu. Beberapa anak panah melesat dari arah depanku dan mengenai prajurit yang membawa tombak itu. Beberapa lelaki berdiri sejajar dan mulai melesatkan anak panahnya hingga hampir membuat sebagian prajurit itu tewas.


Mereka berpakaian serba hitam dan memakai topeng sehingga aku tidak bisa melihat siapa mereka.


Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Kalau aku keluar mereka akan membunuhku. Tunggu.


Ini dalam mimpi dan bukankah mereka tidak bis melihatku? Benar. Kenapa aku harus takut???


Perlahan aku berdiri dan berbalik. Sesuatu menerjang ku dari atas dan aku tidak bisa menghindar lagi.


Aku menjerit dan ... tombak menancap di dadaku.


 


"Jereni! Jereni, bangun!!!" Seorang wanita mencoba membangunkan Jereni yang sedari tadi berteriak dan susah dibangunkan.


Jereni membuka matanya dengan terpaksa dan waspada melihat sekelilingnya. Nafasnya memburu, dan pandangannya seketika kabur dan ia memejamkan matanya lagi.


***


Aku sedang berapa di titik terbawah dari hidupku. Rasanya seperti kita tidak berguna sama sekali. Seakan kita tidak mempunyai apa-apa dan overtinking.


Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya bisa diam dan tidak melakukan apapun, sedangkan teman-teman ku perlahan mencapai impian mereka. Kenapa aku se santai ini dan tidak berusaha sama sekali? Kenapa?


Kenapa aku menyesali diri ku sendiri sekarang?


Sekejap aku berpikir, semua yang terjadi padaku tidak berdasar. Mulai dari kejadian yang menghubungkan diriku dengan air sampai didiagnosis meninggal dan aku tidak diperbolehkan lagi untuk berenang.


Tanganku kering dan kasar sekarang. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Semuanya membuat aku stress. Aku sangat sedih dan bagaimana aku bisa memulihkan semua ini?


Aku membutuhkan obat. Tapi bagaimana aku mencari obat itu? Bagaimana aku maju dan berjuang sedangkan aku sendiri menyedihkan seperti ini.


Tapi ini sudah terlambat. Tuan Ivan sudah menemukan penggantiku dan mereka sedang berjuang untuk perlombaan.


Yejin, semenjak hari itu, dia menjadi lebih dekat denganku dan selalu menemani ku. Tapi, aku sama sekali tidak menghiraukan dan Yejin pun tidak bisa membantuku.


Jereni, aku masih belum mendengar kabarnya. Kata Bu guru dia sakit, namun aku sama sekali belum menjenguknya. Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang.


Aku tidak tahu seberapa besar penyesalanku. Aku sangat tidak mampu berbuat apa-apa sekarang. Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa Tuhan?


Aku memiliki keluarga lengkap dan itu hadiah terbesar. Aku juga memiliki Yejin di sampingku. Tapi kenapa aku menjadi seakan tidak memiliki siapa-siapa saat ini?


Mama menjadi lebih memperhatikan ku. Tidak boleh berenang, dan semuanya harus berada di pantauannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, tapi aku merasakan sesuatu yang hilang dari diriku.


Begitu sakit, dan menyesakkan.


***


"Kau datang pagi, Lula?" Yejin berjalan bersamaku dan aku hanya tersenyum. Dia perhatian akhir-akhir ini namun aku tidak bersemangat sama sekali.


"Apa yang harus aku lakukan, Lula?"


"Apa yang harus aku lakukan agar membuatmu tersenyum lagi?" Yejin berdiri di depanku membuat aku berhenti. Dia melipat kedua tangannya dan menatapku serius.


"Tidak ada, Yejin!" Aku melepas kedua tangan Yejin dan membuatnya mengendikan bahu tidak mengerti.


"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu kembali tersenyum. Aku sangat tidak suka melihat kamu tidak bahagia, Lula. Tapi rasanya semua usahaku tidak membuahkan hasil."


"Yejin! Kau kerjakan tugasmu saja. Jangan khawatirkan aku."


"Apa aku harus mundur dari perlombaan?" Yejin memegang pundakku dan meyakinkanku untuk segera mengambil keputusan.


Kenapa dia membahas hal ini lagi. Aku sangat tidak suka itu.


"Tidak, Yejin! Kau harus mengikuti lomba itu. Aku tidak suka kau membahas hal ini lagi."


"Tapi aku tidak ingin melihatmu tidak tersenyum." Yejin melepaskan tangannya dari pundakku. "Tersenyum lah, walau kau tak bahagia. Hatimu akan ikut tersenyum jika kau terus menunjukkan wajah bahagia. Tak selamanya ini akan sama, Lula. Semua akan berubah pada waktunya, termasuk kesedihanmu juga."


Yejin benar. Kenapa aku harus larut dalam masalah yang bahkan sama sekali tidak memperdulikan aku? Kenapa aku menyesali sesuatu yang tidak aku perbuat dan kenapa aku harus selalu menyalahkan diriku sendiri? Sekali lagi, Yejin benar dan ini adalah salah satu perkataan Yejin yang perlahan mengubah diriku.


"Kau benar, Yejin."


"Lula. Dengarkan aku. Ketika kau kehilangan sesuatu, itu bukan berarti Tuhan merenggut nya darimu. Itu berarti, Tuhan punya rencana yang lebih baik. Tuhan tidak akan pernah membuatmu larut dalam kesedihan." Yejin memegang kedua tanganku dan aku mengangguk.


Semua yang dikatakan Yejin benar. Aku harus mengikhlaskan, dan menurut pada mama dan papa. Apa yang mereka lakukan benar, dan semata untuk melindungiku, walau hal ini sangat menyakitkan.


Tapi, tak semudah bagiku untuk jauh dari air. Kenapa, kenapa seakan membuatku lemah? Aku tidak mengerti sama sekali, semakin aku jauh dari air, semakin pikiranku menjadi tidak fokus dan dadaku sesak.