
"...Sesuatu ini, kurasa tidak hanya sekadar cinta, Jereni. Tapi lebih dari itu. Sebuah ikatan yang telah lama longgar, kurasa aku merasakannya semakin kuat. Perasaan yang lebih dari perasaan seorang kekasih untuk kekasihnya."
BOOOM!
Erik memukul tepat di rahang bawah Jereni. Perempuan itu tengah berlatih muai Thai bersama pelatihnya, Erik. Seorang Amerikan bertubuh tinggi dan berotot. Memiliki warna rambut pirang dan terlihat masih muda.
"Rekor! Kau terpukul sebanyak 10 kali hari ini. Sudah kubilang untuk fokus, Jereni. Tidakkah kau mengerti? olimpiade tinggal beberapa Minggu lagi dan tidak seharusnya kau melamun terus seperti ini. Sebenarnya apa yang tengah kau pikirkan?" Erik melepas sarung tinjunya dan duduk di tali pembatas ring.
Beberapa hari ini Erik melihat Jereni melamun ketika latihan dan dia tetap diam. Mungkin efek kurang tidur atau apa, dan pria itu juga sudah mengingatkan Jereni untuk tidur cukup. Tapi kali ini, Erik tahu kalau lamunan Jereni bukan karena kurang tidur, tapi karena sesuatu yang lain.
"Aku baik-baik saja. Maafkan aku, hanya kurang tidur." Jereni mundur beberapa langkah dan bersandar di tali pembatas ring. Ia mengambil botol minum dan meminum airnya.
"Tapi kali ini, bukan karena itu. Sesuatu tengah mengganggu pikiranmu." Erik beranjak dari tempatnya dan menghampiri Jereni.
Jereni menutup botol minumnya dan menekan keringatnya. "Pak, aku baik-baik saja. Don't worry, sir!" Katanya bersiap untuk berlatih lagi.
Erik menggeleng. "Setidaknya jika kau tidak mau membaginya padaku, jangan campur adukkan masalahmu dengan turnamen kali ini. Kau harus fokus, dan kalau masih begini, bagaimana kau akan siap untuk olimpiade?"
Jereni menelan ludah. Beberapa hari ini dia memikirkan perkataan Matvei dan dia masih mencari tahu makna dibaliknya. Apakah Matvei memiliki perasaan yang khusus terhadapnya? Apa itu mungkin? Bahkan ketika laki-laki itu masih bersama Elliott.
Jereni memang merasa sangat aneh ketika di dekat Matvei. Ia merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan, dan itu membuat pikirannya Bekerja keras untuk mencari tahu perasaan apa itu. Apakah... perasaan cinta? Atau apa? Tapi bagaimana ia bisa merasakan itu ketika Matvei memiliki seseorang untuk diperjuangkan? Jereni semakin bingung. Belakangan ini ia juga tidak bertemu dengan Matvei. Semenjak hari itu, Matvei tidak mengajaknya bertemu lagi. Apa laki-laki itu marah? Atau karena Jereni berkata kalau ia hanya dijadikan boneka laki-laki itu, Matvei jadi tidak ingin bertemu dengan Jereni lagi?
"Artgghhh!" Jereni berteriak dalam pikirannya.
"Jadi, kau siap dengan konsekuensinya?" Erik menepuk pundak Jereni dan perempuan itu mengangguk. Ia akan pikirkan masalah ini nanti dan sekarang yang terpenting adalah latihan dan latihan.
"Baik. Istirahat lima belas menit."
***
"Kau lihat Matvei ke perusahaan hari ini?" Bryan berjalan ke bagian depan perusahaan dan bertanya kepada seorang perempuan berpakaian rapih yang berada di balik meja resepsionis.
"Maaf, Pak. Pak Matvei masih belum absen. Apa perlu saya menghubunginya sekali lagi?" Perempuan itu bersiap dengan teleponnya, namun Bryan mencegahnya.
"Biarkan saja."
Laki-laki itu sedikit gelisah. J.c tak kunjung menemukannya, dan walau rencananya berhasil, tapi ia masih belum menemukan Matvei. Setidaknya laki-laki itu tengah hancur, dan apapun yang masuk ke dalam pikirannya, akan ia pikirkan sangat keras sampai ia lelah.
"Bryan." Seseorang memanggil dari belakang. Siapa berani memanggil namanya saja dan kenapa. Jelas itu bukan suara J.c atau Matvei. Bryan menoleh.
Alexei tengah tersenyum dan Bryan sontak ingin mengumpat, tapi laki-laki itu membuat Pemilik perusahaan Black Squid Corporation itu berhenti.
"Aku tahu dimana Matvei." Katanya mantap. Alexei tersenyum dan Bryan mendekat. "Katakan."
"Ikutlah denganku, dan kau akan segera bertemu dengannya."
Bryan hanya terdiam. Ia percaya pada laki-laki ini, dan tidak ada masalah dengan itu.
***
"Tidak bosankah kau menyanderaku seperti ini? Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan? Kenapa tidak kau lepas saja aku? Ba-" Voodoohag menyumbat mulut Elula dengan kain. Perempuan itu mengoceh saja dari tadi membuat dua monster beringas itu muak dan sakit telinga.
"Dan aku sudah tidak sabar untuk menghabisimu, seperti yang kuinginkan dari dulu." Zedrys mengepalkan tangan kanannya, dan memutarnya seolah-olah tengah menghancurkan sesuatu.
"Tapi, ratu bilang mungkin kau akan berguna nanti, jadi kali ini kau masih selamat." Voodoohag bersandar di punggung kursi dan menutup matanya.
"Apa yang mereka inginkan?" Elula malah untuk berkomentar kali ini. "Aku tidak tahu ini tanggal berapa dan berapa hari mereka menyanderaku. Tapi, yang pasti mama papa pasti sudah menyebar orang-orang untuk mencariku. Kalau mereka tidak menemukanku, aku harus segera meloloskan diri sebelum mereka berdua menghabisiku."
Elula tidak habis pikir. Masih saja ada penyihir seperti mereka dan entahlah apa yang mereka inginkan sebenarnya? Apakah pura-pura terhipnotis Elula ketahuan? Dan mereka akan melakukannya lagi? dengan teknik yang berbeda?
Kau masih ingat ketika semua orang terhipnotis tapi Elula baik-baik saja? Itu juga terjadi ketika Kalula melakukan ritual beberapa hari yang lalu. Awalnya memang Elula tidak sadarkan diri. Tapi ketika tubuhnya melayang di udara, ia terbangun. Ia merasa sangat ringan dan ia sadar kalau Kalula tengah melakukan sesuatu. Ia pura-pura terhipnotis dan ketika Kalula bertanya beberapa pertanyaan, dia menjawabnya dengan sadar. Walau ia tidak mengerti kenapa Kalula bertanya seperti itu dan hampir ia salah untuk menjawabnya.
Elula tidak sebodoh itu dan ia juga tidak mengerti apa yang tengah terjadi. Ia benar-benar terkejut kalau orang-orang yang menyanderanya bukan manusia biasa dan mereka melakukan praktik ilmu hitam. Mungkin mereka penganut satan, dan masuk ke dalam suatu sekte. Tapi yang masih menganggu pikirannya, jika mereka menginginkan tumbal, korban sudah terbunuh sesaat setelah mereka menangkapnya.
Tapi, mereka menangkap beberapa orang, melakukan serangkaian tes, dan melepaskannya begitu saja, tanpa membunuh atau mengambil barang apapun dari mereka, dan anehnya semua yang mereka tangkap adalah gadis yang seumuran dengan Elula.
"Aku tidak mengerti apa yang mereka cari."
***
"Baik, jangan lupa tugas dikumpulkan Minggu depan, dan ibu minta kalian untuk mengerjakannya dengan sungguh-sungguh." Guru terakhir menutup pembelajaran hari ini, dan Lula sudah tidak sabar untuk mengunjungi Yejin di rumahnya.
"Aku akan tahu dia kenapa. Tunggu aku, Yejin!" Lula tersenyum dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas ransel. Guru memberikan salam perpisahan, dan semua siswa siap untuk keluar dari kelas. Mereka sepakat untuk mengunjungi Yejin, dan menyewa bis untuk ke rumah Yejin.
" Ah iya, Miss Beatriks?" Bu guru berhenti di ambang pintu, dan berbalik memanggil nama Belakang Lula.
"Iya, Bu?" Lula berdiri dan memperhatikan Bu guru.
"Bisakah kau ikut ibu ke ruangan guru sekarang? Ada beberapa tugas yang belum kau kerjakan dan ibu akan memberikannya sekarang."
Lula mematung. Bukankah ia akan menjenguk Yejin bersama teman-temannya?
"Baik, saya akan ke sana." Kata Lula setelah berpikir cukup lama. Bu guru mengangguk dan berjalan terlebih dahulu.
"Tidak apa, kami akan menunggumu." Kata Snovanya dan duduk kembali di bangkunya.
"Tidak tidak. Mungkin akan lama, jadi sebaiknya kalian pergi saja, nanti kalau masih sempat aku akan menyusul."
"Kalau tidak sempat?"
"Aku bisa menjenguknya setelah kalian pergi. tidak apa, sebaiknya kalian segera pergi. jangan menungguku."
"Kau yakin?" Snovanya berdiri dan memastikan Lula tidak apa-apa.
Lula mengangguk. "Pergilah, bis pasti sudah menunggu."
"Baiklah, sampai jumpa di rumah Yejin, Lula!"
"Sampai jumpa, Lula!"
dan beberapa temannya pamit dan Lula mengangguk. Semua orang keluar termasuk Lula.