Luna Rusalka

Luna Rusalka
81



"Kakimu kenapa?"


"Tidak Jereni. Kakiku keram dan saluran air terbuka dan aku tersedot ke dalam itu. Aku tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya dan ketika aku bangun, aku berada di rumah sakit."


Jereni dan Lula terdiam untuk beberapa saat.


"Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku hanya akan bilang kalau kau harus sangat berhati-hati mulai sekarang. Aku tidak mau melihat kau terluka lagi, Lula."


"Aku tahu, Jereni. Tapi aku tidak bisa menahan hal itu. Aku tidak tahu kalau aku akan terluka."


"Kau memang tidak tahu apa yang akan terjadi padamu. Tapi kau perlu berpikir dua kali ketika melakukan sesuatu yang dapat membahayakanmu."


Lula mengangguk. "Baiklah, dan jangan terlalu serius Jereni." Lula tertawa dan mencubit pipi Jereni gemas.


Gadis itu hanya bisa tersenyum ketika keseriusannya menjadi bahan ketawa Lula.


***


Selasa, 1 Maret


"Kau yakin sudah tidak merasa lemas lagi?" Sofia terlalu menghawatirkan Lula. Gadis itu sudah merasa baik dari kemarin.


Lula mengangguk dan Sofia tersenyum.


"Mama bu guru memberikanku ini." Yefy menyodorkan selembar kertas dan Sofia meraih itu.


"Karya wisata. Hmm.. Yefy bukankah karya wisata kemarin kau sudah kemari?"


"Waktu Yefy ke Museum Darwin State. Sekarang ke Museum Puskin State." Kata Yefy menjelaskan, sambil memakan roti lapisnya.


"Ah iya? Mama lupa. Namanya terlihat sama." Sama darimana.


"Kenapa sekolah Yefy selalu melaksanakan karya wisata setiap empat bulan sekali dan kenapa kebanyakan ke museum?" Lula agak geram. Apakah anak kecil tidak akan merasa bosan? Mereka akan melakukan karya wisata setiap empat bulan sekali dalam satu tahun ketika kelas 1, 3, dan 6 sekolah dasar, dan kebanyakan mereka pergi ke museum.


"Kita harus mengenal sejarah, Lula. Dengan itu semua anak akan tahu apa yang terjadi di masa lalu dan entahlah mama juga tidak tahu."


Lula hanya mengendikkan bahu dan melanjutkan makan roti lapisnya.


"Kurasa saluran air di loteng sedikit bocor. Aku melihat tetesan air di lantai lorong, dan itu berasal dari atas." Mark datang membawa jas di tangannya dan duduk di kursi dekat Lula dan mamanya.


"Sepertinya saluran airnya sudah tua. Akan aku panggil Roger nanti siang."


"Tapi bukankah mustahil jika tidak ada yang memicu kebocoran itu?" Sofia menyiapkan sarapan Mark dan merasa aneh. Saluran air tidak akan bocor jika sesuatu tidak menghantamnya dengan keras.


"Tidak tahu juga, aku belum memeriksa itu. Biar Roger yang melihatnya nanti."


Sofia mengangguk dan ia memakan sarapannya, sambil menyuapi Yefy.


"Mama Yefy bisa sendiri." Bocah laki-laki itu meraih roti lapisnya dan memakannya sendiri. Lula hanya mendengarkan percakapan kedua orang tuanya sambil memakan sarapannya.


"Lula mulai sekarang kau papa antar ke sekolah dan mama yang akan menjemputmu dari sekolah."


Spontan Lula menatap papanya ingin mengajukan pembelaan.


"Papa kau tahu aku lebih suka naik sepeda."


"Lula mama tidak mau kau kenapa-kenapa. Hal itu tidak akan terulang lagi. Mama tahu kau pernah datang ke air terjun dan berenang di sana bersama Yejin sepulang sekolah. Itulah kenapa waktu itu rambutmu terlihat basah."


Lula membelalakkan matanya dan sangat terkejut. Bagaimana ia bisa mengetahui kejadian itu dan ia tak bisa berkata lagi.


"Bagaimana mama tahu?"


"Alex melihatmu bersama seorang laki-laki. Bahkan, kau lompat dari tebing dan berenang di bawah air terjun."


"Kapan Alex memberitahu? Mengapa aku tidak tahu itu?" Mark mencoba mencari penjelasan dari istrinya itu yang terlihat sedikit emosi.


Lula menundukkan kepalanya dan merutuki dirinya sendiri. Itu bukan sebuah tindak kejahatan. Namun, hal itu pasti akan membuat mamanya marah.


Lula ingin melakukan pembelaan, namun mamanya tidak akan percaya. Ia tahu itu Lula dan Sofia gemar memarahi Lula sekarang. Ia hanya khawatir dan tidak mau kejadian yang dulu terulang kembali.


"Kau jawab mama, Lula. Apakah itu kau?"


Lula mengangguk. "Mama tahu Lula tidak bisa jauh dari air. Ketika melihat air terjun, sesuatu membuatku ingin berenang, dan itu aman, mama. Semua orang berenang di sana, bahkan anak kecil pun diperbolehkan, karena sungainya tidak terlalu dalam." Lula menatap mamanya dan Sofia menggelengkan kepalanya.


"Tapi tetap saja. Kau tidak bersama orang dewasa yang menjagamu, dan mama sangat tidak memperbolehkan hal itu."


"Tapi aku bersama Yejin dan aku bisa berenang. Mama lupa kalau aku-"


"Lula bisakah kau makan saja sarapanmu dan jangan coba melakukan pembelaan?" Sofia semakin geram. Ia tak biasanya begini. Sofia seorang ibu yang lembut, tapi ia akan berubah seperti ini hanya karena terlalu khawatir dengan putrinya.


"Iya maafkan aku." Lula menghabiskan roti isinya dan terpaksa harus berangkat ke sekolah bersama papanya.


***


"Yejin kau tak datang kemarin. Bahkan aku menunggumu sampai malam dan kau tidak ke rumah Lula."


"Maafkan aku, Jereni. Sepulang sekolah aku harus melakukan sesuatu, dan setelah itu harus menemani mama dan malamnya aku menjaga nenek." Yejin duduk di bangkunya dan ini masih pagi. Mungkin hanya ada beberapa orang saja yang baru berangkat.


Jereni mengerti. Ia percaya pada Yejin dan duduk di kursi dekat dengan Yejin. Tidak ada percakapan setelah itu dan Jereni masih menunggu Lula.


"Kenapa Lula lama sekali, ya?" Gadis itu tak lupa melihat pintu dan menanti kedatangan sahabatnya itu.


"Ini masih pagi, dia pasti dalam perjalanan."


Jereni mengangguk dan memainkan jam tangannya. Ia masih melihat ke arah pintu dan wajahnya terlihat senang ketika melihat sosok Lula.


Dia beranjak dari duduknya dan berlari untuk menghampiri Lula.


Lula tersenyum dari kejauhan dan mempercepat jalannya. Mereka berdua bertemu dan berjalan bersama memasuki kelas .


"Bukankah kalian sudah bertemu kemarin? Kenapa terlihat seperti itu." Yejin heran. Bukankah Lula dan Jereni baru bertemu kemarin dan mereka terlihat seperti berpisah terlalu lama.


"Hai Yejin." Lula menyapa Yejin dan laki-laki itu tersenyum ringan.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Aku merasa sangat baik." Lula mengangguk dan meletakkan tas ranselnya di kursi kosong dekat dengan Yejin.


"Ah aku harus pergi sebentar. Lula kau di sini saja ya bersama Yejin." Jereni meminta izin keluar ketika melihat salah satu temannya melambai dari luar.


"Kau mau kemana, Jereni?"


"Nanti aku jelaskan. Sebentar ya." Jereni berjalan keluar kelas dan Lula hanya melihat sahabatnya dari dalam kelas.


"Maafkan aku, Lula." Kata Yejin ketika Jereni benar-benar pergi dan kelas terlihat sepi.


"Maaf untuk apa?" Lula menatap Yejin mencari penjelasan dibalik itu.


"Kau terluka ke sekian kalinya karena aku."


"Tidak Yejin, itu bukan salahmu. Semua yang terjadi padaku sudah digariskan oleh Tuhan dan kita tidak bisa mengubahnya, bukan?"


"Tapi tetap saja."


Lula menggeleng dan menepuk lengan Yejin. "Kau bahkan yang selalu menyelamatkan aku. Seharusnya aku berterima kasih untuk itu."


***