
"Kita kau kemana?"
"Menjenguk adikku."
"Yejin?" Wajah Elliot menjadi khawatir. Pasalnya, Matvei menyinggung soal adiknya, dan sepertinya sesuatu telah terjadi.
"Bukan laki-laki itu, tch.. haha.." Matvei keluar dari rumah dan mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya. Elliot tiba-tiba datang ke rumah Matvei, ketika laki-laki itu hendak pergi menjenguk Lula di rumah sakit.
"Memangnya kau punya saudara lain?"
"Bukan kandung sih, dia pacarnya Yejin, tapi aku anggap seperti adikku sendiri karena aku mengenalnya dari perempuan itu masih bayi." Matvei membukakan pintu mobil, dan Elliot tiba-tiba berhenti sambil menyilangkan kedua tangannya di depan perut.
"Yejin punya pacar? Bukankah dia.."
"Tidak, aku hanya bercanda. Mereka sahabat dari kecil, tapi aku yakin kalau Laki-laki dingin itu mencintai Lula. Ayolah, kita sudah terlambat." Elliot masuk ke mobil diikuti Matvei yang berjalan memutar untuk sampai di pintu mobil yang satunya.
"Apa yang terjadi dengan Lula?" Rasa penasaran Elliot menggebu. Matvei menginjak pedal gas dan fokus untuk berbelok untuk sekejap.
"Kecelakaan. Lukanya sangat parah, sudah beberapa hari semenjak dia tidak sadarkan diri."
"Bagaimana bisa?"
Matvei menghela nafas lelah. "Pacarnya membawanya dengan mobil papanya Lula, dan terjadi pertengkaran dengan keduanya, lalu kejadian buruk terjadi. Setidaknya itu yang aku dengan dan yang laki-laki idiot itu katakan."
"Jadi, Lula punya pacar?"
"Entahlah, dia mengaku seperti itu. Aku juga tidak terlalu perduli." Matvei tersenyum dan mereka melanjutkan perjalanannya.
***
"Sepertinya usaha yang kita lakukan tidak membuahkan hasil." Pria berambut cokelat dengan kornea mata biru laut, menyandarkan punggungnya di tembok. Dia terlihat lelah dan keringat mengucur deras. "Tidak pernah aku berkeringat sebelumnya."
"Kau, b*d*h! Kita hidup di air, jadi mau keringatan atau tidak kita tidak tahu." Pria besar berjenggot hitam, menyenggol lengan pria yang pertama. Dia sedikit menarik bibirnya ke samping, untuk tersenyum dan melepaskan penatnya setelah seharian mencari Lula.
"Ya, ini percumah. Kita tidak tahu dimana putri berada, dan Ratu menyuruh kita untuk mencarinya dengan cara kita sendiri." Pria ketiga, pria dengan tubuh kurus langsing, dan kulit putihnya, duduk di tumpukan balok kayu. Mereka tengah berada di sebuah gang, jauh dari orang-orang.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Berada di sekitar manusia membuatku sedikit mual." Pria terakhir, pria dengan rambut keriting pendek dan kornea mata hitam legam itu, memegang perutnya lalu menyeka keringatnya. "Percaya atau tidak tapi di sini sangat panas. Kita harus segera mencari air. Memang semalaman sudah berendam, tapi siang ini terasa sangat mematikan."
"Kita seperti empat pecundang. Meremehkan manusia, dan berpikiran untuk membangkang dari Ratu, haha.." Pria ketiga menundukkan kepalanya dan tertawa ringan.
"Kau benar, Jack (pria ketiga). Daratan benar-benar telah mencuci otak kita." Pria pertama mendengus kesal, namun dengan senyuman tergores di mulutnya.
"Sudahlah, lebih baik cari minum dan istirahat sebentar. Habis itu kita pikirkan cara untuk mencari putri lagi." Pria kedua berdiri dan berjalan menjauh, diikuti ketiga pria yang bersamanya.
"Baiklah, ayo segera selesaikan ini!"
***
Kau masih di sana, ya? Yejin berdiri di depan kaca dan melihat ke dalam, bagaimana Lula masih belum tersadar. Tubuhnya masih penuh dengan alat-alat medis, dan Yejin tidak mempermasalahkan itu selama itu mampu membantu Lula untuk bertahan.
Lelah, kau tahu?
Yejin seperti mendengar suara Lula, lagi. Suara lembut yang masuk di pikirannya, kemudian diikuti dengan tawa ringan.
Pikiran apa, ini? Apa yang baru saja aku dengar?
Yejin kau tidak mendengarkan, ya? Atau kau tidak mengenali suaraku?
Kaukah itu?
Yaaa.. senang rasanya ada yang bisa mendengarkan aku di saat seperti ini. Tubuhku memang terbaring lemah terlihat tidak sadarkan diri. Tapi, kau tahu pikiran kita terhubung satu sama lain. Aku tidak merasa kesepian lagi.
Merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar, Yejin mencoba melihat lebih jelas, apakah Lula sudah benar-benar tersadar.
Yejin, kau masih di sana?
(......)
Yejin?
Jadi, aku sendirian, ya?
Lula, benar ini kau?
Sudah kubilang beberapa kali. Kau masih tidak percaya?
Tidak, bukan itu maksudku. Tapi terkadang aku mendengar suaramu di pikiranku, jadi mungkin ini hanya halusinasiku.
tchhh... haha.. kau selalu memikirkan aku, ya?
Kau mau jawaban jujur atau bohong?
Jujur padaku, Yejin. Lagian setelah aku tersadar aku tidak akan mengingat ini.
Tidak bisa mengingat ini, apa maksudnya?
Karena ini terjadi ketika tubuhku tidak sadarkan diri, jadi ketika aku terbangun aku tidak akan mengingat apapun yang terjadi ketika aku tidak sadarkan diri. Seperti kau bermimpi, dan terbangun, terkadang kau melupakan mimpi itu, kan?
Tapi terdengar tidak masuk akal..
Ah kau belum menjawabnya, Yejin.
(.....)
(.....)
Jadi, kau tidak mau menjawabnya, ya?
Ya.
Kau benar tidak jadi menjawabnya?
Setiap waktu. Terkadang aku menjumpai hari dimana aku terus memikirkanmu. Bahkan ketika pikiranku sedang kacau, hanya bayanganmu yang mampu menetralkan itu.
(....)
Aku apa?
Kurasa aku sudah menjawab pertanyaannya.
Yejin kau yang tidak sadar. Kau mudah berubah. Hari ini kau baik padaku dan sangat perhatian, besoknya kau seakan tidak peduli denganku. Selalu saja berubah-ubah seperti itu.
Sepertinya aku juga memikirkanmu setiap saat. Di saat aku sedang berada di posisi paling bawah di dalam pikiranku, ketika impulsif gelap hampir menyelimutinya, hanya ingatan tentang dirimu yang mampu menyadarkanku lagi.
(????)
Yejin sepertinya kita sama. Sama-sama saling memikirkan.
(....)
Yejin aku ingin tanya satu hal lagi, dan kau harus segera menjawabnya.
Katakan saja..
Apa kau mencintaiku?
(....)
(....)
Aku berharap kau menjawabnya. Perlu kau ingat aku tidak akan mengingat hal ini, jadi tidak usah ada yang disembunyikan lagi, benar kan?
Mamamu membuatku berjanji satu hal.
Apa yang wanita itu katakan? haha
Aku harus berjanji untuk menjagamu dengan seluruh nyawaku.
Dia mengatakannya?
Kau tidak mengerti, Lula. Itu hal terbesar dalam hidupku.
Jadi.. kau terpaksa melakukan itu?
Aku hanya.. berpikir tidak bisa. Berusaha sekuat apapun, pada realitanya, kau selalu saja begini. Terjadi sesuatu yang buruk dan aku selalu saja tidak ada di sampingmu.
Apa kau akan mundur? Bilang ke mama kau tidak sanggup untuk menjagaku?
Aku sudah berjanji, Lula. Kau prioritasku sekarang.
Haha baiklah.. jadi bagaimana? kau mencintaiku atau tidak?
Aku-
TIITTTTTTT.... TIIIITTTTTT...
Mesin elektrokardiogram di dalam ruangan Lula berbunyi sangat keras. Membangunkan Yejin yang tertidur di samping ranjang tempat Lula tertidur.
"Lula? Bangsal? Jadi, aku tertidur di sini?" Yejin melihat arloji di tangan kirinya.
"Sudah hampir sore. Berapa jam aku tertidur?"
TIIIITTTTTT.... TIIIITTTTTT...
"Apa yang terjadi?" EKG terus berbunyi dan tubuh Lula sedikit terguncang.
Yejin berjalan melihat ke luar dan tidak melihat siapapun. Kemudian dia pergi ke tempat duduknya tadi dan memencet tombol di samping bangsal, untuk memanggil dokter.
Beberapa saat kemudian dokter datang dan Yejin dipersilakan untuk keluar ruangan.
***
"Sudah 50 orang yang aku periksa, tapi aku masih belum menemukannya."
Voodoohag yang bertugas mencari informasi, dan Zedrys yang mencari langsung berdasar informasi yang diberikan Voodoohag. Setelah mereka mengumpulkan apa yang Ratu cari, Kalula tinggal menghipnotis mereka untuk pergi bersamanya, sehingga Kalula bisa memeriksanya.
Hal ini berjalan dengan lancar, namun Kalula masih belum menemukan apa yang dia cari.
"Terus kumpulkan sebanyak mungkin. Aku akan menyediakan kendaraan untuk membawa mereka kemari."
"Baik, Ratu."
***
"Hei kita mau kemana?" Seorang gadis berambut cokelat kemerahan berjalan di belakang gadis lainnya, dengan. kedua matanya yang tertutup kain.
"Ikuti saja, Lula."
"Tapi, apakah harus begini? Aku tidak melihat jalan!"
"Ya, kau akan terkejut saat kami membawamu ke tempat itu!" Sorak gadis lainnya.
"Baiklah.. baiklah.. terserah saja."
Tiba-tiba langkah mereka terhenti ketika dua orang bertubuh besar tiba-tiba berdiri di depan mereka, dan keduanya membuka jalan untuk seorang wanita cantik.
"Hei! Kepalaku sakit, kenapa kalian berhenti?"
"Baiklah, ini kejutan. Aku akan mencoba tidak penasaran."
Gadis yang bernama Lula itu menaikkan alisnya, karena temannya mulai berjalan dan tiba-tiba ia merasakan masuk ke sebuah mobil.
"Benar-benar kejutan yang sangat menegangkan." Gumam Lula. Tidak ada percakapan selama perjalanan, dan mungkin ini bagian dari kejutannya.