
"Lagian, kau tidak akan menang melawan monster dalam diriku!" Jereni berjalan dengan tubuh yang sudah babak belur seperti itu, dan dalam keadaan kaki kanannya patah. Nyali Caleb menjadi ciut. Padahal dia sudah membuat Jereni terluka parah, namun seperti tidak terluka Jereni berjalan dan semakin cepat menghampiri Caleb.
"Kau PAYAH!" Jereni berlari, melompat, dan dengan cepat mengarahkan tendangannya ke arah Caleb, mendaratkan kakinya dan tepat mengenai wajah dan dada laki-laki itu.
Caleb terpental tidak jauh dan tubuhnya jatuh ke tanah, menimbulkan bunyi badabam cukup keras dan terdengar lirih suara retakan tulang belakangnya. Jereni berdiri tanpa goyah dan menatap pria di dipannya itu.
"Tubuhku memang lebih kecil darimu, tapi kalau monsterku sudah terbangun, bahkan sepuluh orang sepertimu aku bisa melawannya." Jereni melangkah dengan sedikit tertatih, mendekat ke arah Caleb yang tengah berusaha berdiri.
"Haha.." Caleb tertawa dan membersihkan celananya yang kotor terkena debu tadi. Laki-laki itu berdiri sedikit membungkuk, mengingat benturannya dengan tanah cukup keras membuatnya terluka.
Jereni berhenti. Dia memberikan kesempatan Caleb untuk berbicara, sebelum dirinya menghajar Caleb lebih parah lagi.
"Mau adu monster?" Caleb merapikan rambutnya yang berantakan. "Kau banyak bicara, d*ngu!" Caleb berdiri, berlari ke arah Jereni, melompat menggunakan kedua kakinya untuk tumpuan dan mengarahkannya tepat di wajah Jereni.
Cepat bak angin malam, Jereni berpindah tempat hingga berdiri di belakang Caleb. "Orang-orang menyebutku 'yang tak terlihat' karena kecepatanku berpindah tempat." Caleb berhenti dan menoleh ke belakang, namun Jereni sudah berpindah tempat lagi, tepat di samping Caleb.
"Pernah sekali aku tak terkendali dan menghancurkan sebuah toko buah, di daerah kota. Aku terlalu marah, dan semuanya kacau." Jereni meninju pipi Caleb dari samping dengan cukup keras. Mulut caleb mengeluarkan percikan darah, dan dia menggeram.
"Kau banyak bicara!" Caleb berusaha memukul Jereni, namun gadis itu terlalu cepat. Pukulannya sia-sia, dan Jereni tertawa. "Sudah kubilang, belajar UNTUK MENDENGARKAN!!!" Jereni menendang perut Caleb membuat laki-laki itu terbatuk, sekali lagi . "Aku belum selesai bercerita."
"Tapi itu dulu, ketika aku tidak tahu bagaimana mana mengendalikan diri." Jereni berhenti, Caleb berusaha menendang perut Jereni, tapi gadis itu cukup pintar membaca gerakan lawannya.
"Kau tahu kenapa aku suka bela diri??" Jereni memegang wajah Caleb dengan kedua tangannya, dan Caleb hanya terdiam.
"Seseorang berkata ketika aku kecil, 'kendalikan dirimu! kau spesial." Tapi dia tidak memberitahuku bagaimana caranya. Sehingga aku cari tahu sendiri, dan aku menyadari itu ketika pertama kali aku terluka parah. Ini bisa dikendalikan dengan bela diri. Seperti kau tau bagaimana cara mengendalikan tubuhmu, dan kekuatan itu akan menyesuaikannya."
"CUKUP omong kosongnya!!" Caleb meraih tangan Jereni dan hendak mematahkannya namun terlambat karena Jereni mampu memutar tangan Caleb, membuatnya terkunci ke belakang tubuhnya. "Sekolahmu sia-sia sepertinya. Kau tidak mendapatkan pelajaran apa-apa. Bahkan, sopan terhadap orang yang tengah bicara." Jereni melepaskan Caleb. Mendorongnya, hingga mentok di tembok.
Caleb hanya terdiam dengan nafas yang memburu, lalu tiba-tiba laki-laki itu meludah, tepat di wajah jereni. Jereni tidak tinggal diam. Dia membersihkan cairan menjijikkan itu dari wajahnya, lalu menampar Caleb berkali-kali, kemudian memukul wajahnya dengan bogem mentah Jereni, berkali-kali, dan sangat cepat. Membuat laki-laki itu tak berdaya dengan hidung yang terus mengeluarkan darah.
Jereni melepaskan Caleb, membiarkannya terbebas dari tembok, dan memberinya ruang untuk lemmbih menyiksa laki-laki itu.
Caleb berjalan ke depan, dan berusaha memukul Jereni, namun Jika langsung menendang perutnya hingga Caleb terpelanting ke lorong. Caleb tidak bisa berdiri lagi dengan keadaan seperti itu. Jereni berjalan maju, dan tersenyum penuh kemenangan. "Apapun yang kau lakukan terhadap Lula, aku akan membalasnya di sini!! Kau baji**an dan aku tidak akan membiarkanmu hidup-hidup kali ini!!" Jereni meraih leher Caleb dan mencengkeramnya dengan erat. Kali ini dia tidak main2! Jereni mencoba membuat Caleb terbunuh!!
"Jangan membuat kesalahan, Jereni." Deep voice seseorang menghentikan pergerakan Jereni.
"Kau yakin ini yang Lula inginkan?"
"Dia pasti akan melakukan hal yang sama." Jereni masih mencengkeram leher Caleb, dan tidak melonggarkannya.
"Lepaskan tanganmu. Dia akan terbunuh, Jereni!"
"Memang itu seharusnya."
"Pikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika kau membunuh seseorang."
"Demi Lula, aku akan melakukan apapun."
"Tapi tidak seperti ini!'
"Yejin bisa tidak kau diam dan membiarkan aku menyelesaikan ini!!!" terjadi jeda setelahnya. Yejin terdiam dan Jereni juga.
"Perkataanmuu kemarin, di rumah sakit, persepsimu itu tentang Lula, salah."
Jereni terdiam. Dia masih mencengkeram leher Caleb yang tengah terbujur kesakitan, dan tidak melawan balik.
"Saat itu Lula tidak melukai mereka! Merekalah yang melukai diri sendiri, ketika mencoba melukai kau dengan pisaunya. saat itu Lula menghalanginya dengan tangannya sehingga ia juga tertusuk pisau, kemudian merasa salah menusuk orang, mereka lengah sampai salah satunya juga tertusuk. Jadi, intinya bukan Lula rela melukai orang demi menyelamatkanmu, tapi dia rela melukai dirinya sendiri demi melindungimu! jadi sekarang berhenti menghajarnya. Aku sendiri yang akan menghajarnya jika memang terjadi hal buruk."
Jereni masih terdiam. Dia masih mencerna apapun yang baru saja Yejin katakan. Cengkeraman tangannya melonggar, namun matanya kembali berkilat. Dia mengeratkan tangannya lagi, membuat Caleb nyengir karena sakit di lehernya.
"Pikirkan Lula jika melihat kau seperti ini. Apakah dia akan senang?" Yejin tidak mendekati Jereni, namun suaranya terdengar sangat jelas. Menggema, dan tampak begitu dalam. Jereni menurunkan sedikit raut wajahnya.
Jereni masih dengan posisi semula. Mencekik leher Caleb dan menatapnya dengan penuh amarah.
wushhhh
Namun, tiba-tiba angin kecil melewati rambut poni Jereni yang tergerai. Untuk sekejap saja, Jereni merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Damai rasanya.. Seperti.. tidak ada beban sama sekali, dan kekhawatiran Jereni seakan musnah terbawa angin tersebut.
Belakangan ini, Jereni gelisah dan harus mempersiapkan segalanya. Ditambah lagi masalah baru, persoalan Lula yang belum sadar, dan mempersiapkan masa peralihan Lula dari The Halfer ke duyung utuh. Pasti Lula sudah merasakan beberapa tanda-tandanya, namun yang terjadi sekarang sangat tidak terduga.
Kalau sampai Lula tidak menyentuh air laut sampai usianya tujuh belas tahun, Lula akan tewas. Sesuai legenda turun-temurun. Jika seorang separuh duyung tidak menyentuh air laut sampai usianya tepat 17 tahun di pukul 00.00, dia akan tewas apapun yang terjadi. Sedangkan Lula, seumur hidupnya belum pernah pergi ke laut. Sofia memiliki trauma dengan laut, sehingga semuanya berusaha agar tidak pergi atau sekadar mendekat ke pantai.
Jereni bimbang. Antara ia harus segera menemukan kakaknya, dengan memastikan Lula menyentuh air laut. Sangat sulit membuat Lula ke pantai, karena Lula sendiri yang berjanji tidak akan mendekati tempat itu, demi mamanya, Sofia.
"Tunggu apa lagi?" Jereni tersadar. Caleb tersenyum licik dan mendongak ke atas. "Akhiri hidupku Sekarang. Dengan begitu, kau akan puas. Itu yang kau inginkan, bukan?"
Amarah Jereni memuncak kembali. Perkataan Caleb membuat perempuan itu semakin emosi.
"Jereni." Yejin masih di belakang. Mencoba mengingatkan Jereni kalau hak ini tidak akan membawa kepada solusi.
"Kau tahu aku sengaja membawa Lula pergi waktu itu. Dia terlihat sedih jadi aku berniat membawanya ke club untuk aku-" Jereni membungkam mulut bedeb*h ini.
"Tutup mulutmu atau aku akan membuatmu menderita?" Jereni mengeratkan cengkeramannya, membuat Caleb terbatuk.
"Kurasa Kecelakaan itu lebih baik daripada dia harus mengikutimu ke club. Entah apa yang akan kau perbuat dengannya!"
"Jereni, lepaskan dia. Kita harus pergi sekarang. Kita pergi cukup lama, bibi pasti menghawatirkan kita."
"Ya kau pergilah! aku harus menyelesaikan ini."
"Tidak tanpamu." Yejin menarik lengan Jereni, namun perempuan itu melepaskannya dan bersiap bertindak lebih jauh.
"Jereni.." Jereni menoleh kanan kiri. Dia seperti mendengar suara Lula! Tidak ada siapa-siapa kecuali mereka bertiga. Namun, ketika ia melihat ke depan, seseorang berdiri jauh di sana.
"Lula?" Perempuan berambut kemerahan berdiri mengenakan pakaian serba putih. Dia menggeleng, dan bibirnya bergerak. "Jangan."
"Apa maksudnya? Kenapa dia di sana?"
kringgg kringg..
ponsel Yejin bergetar dan ia mengambilnya. Telepon dari Mark. Ia langsung mengangkat dan mendengarkan.
"Tunggu apa lagi? Habisi aku sekarang."
Nyali Jereni untuk menghabisi Caleb ciut setelah melihat bayangan Lula di depan. Dia menjadi tidak yakin. Apa yang harus ia lakukan?
"Jereni kita harus kembali." Yejin meraih tangan Jereni.
"Paman baru saja mengajariku kalau Lula.."
Jereni melepaskan tangannya, dan Caleb dapat bergerak bebas. Laki-laki itu tertawa meremehkan dan membenarkan posisi lengan bajunya. "Kau tidak punya nyali, ternyata."
"Ini belum selesai, dan aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang setelah ini." Jereni merapikan bajunya, dan menyeka mulutnya yang berdarah menggunakan tangan. Lalu berjalan mundur.
"Ayo." Yejin menarik tangan Jereni dan mereka berlari menuju rumah sakit.
Pandangan Jereni tidak lepas dari Caleb yang tengah tersenyum di belakang.
"Apa yang terjadi?" Jereni menghadap ke depan dan menoleh ke arah Yejin. Yejin menatap perempuan itu dan mengangguk.