Luna Rusalka

Luna Rusalka
87



"Apa kita bertiga harus pergi ke sana?"


"Saya tidak yakin kedua orang tua Beatriks akan mengizinkannya pergi. Untuk berjaga-jaga kau yang akan menggantikannya kalau-kalau memang Miss Beatriks tidak bisa."


"Tapi, apa hak saya untuk pergi, Pak Bogdan?"


"Ya kau punya beberapa hak. Bukannya dari awal kau yang berlomba?" Lelaki yang dipanggil Pak Bogdan itu menyandarkan punggungnya di kursi.


"Tapi Lula yang memenangkan perlombaan itu, dan saya juga masih belum lancar berjalan, mungkin ini akan lama dan saya juga tidak tahu kapan saya dapat berjalan dengan normal."


"Erynav, saya bilang untuk berjaga-jaga. Bukankah kau senang pergi ke sana?"


Erynav berpikir. Ia tidak akan senang selama Yejin tidak memperlakukannya dengan ramah, seperti Yejin memperlakukan Lula. Ia juga tidak tahu kapan bisa berjalan seperti semula lagi.


Kalaupun Erynav yang harus pergi bersama Yejin akhirnya, ia tidak akan menikmati liburannya sepenuh hati.


"Tapi bagaimana jika Lula tidak bisa, dan saya juga belum sembuh total sampai waktu yang bapak tentukan?"


Tuan Bogdan menarik nafas kasar. "Plan B."


***


"Tadi pagi kita tidak sempat berbicara. Jadi bagaimana hasilnya, Yejin?"


Cuaca hari ini sungguh cerah dan agak panas. Yejin dan Lula tengah berada di depan kelas. Tempat dimana tidak terkena sinar matahari langsung. Matahari siang akan membuat kulit mereka terbakar dan sedikit lebih gelap.


Jereni pergi sebentar, dan tidak memberitahu kemana perginya.


"Bukan keberuntunganku, Lula."


"Apa?"


Yejin terdiam. Dia tidak mungkin memberitahu yang sebenarnya terjadi.


"Peserta lainnya sangat cepat, dan aku tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka."


Yejin cepat. Bagaimana bisa dia kalah? Aku yakin sekali ini bukan karena itu. Batin Lula berpikir. Ia tahu Yejin. Bagaimana bisa?


"Aku sudah mengecewakan Tuan Bogdan. Dia sangat berharap aku menang."


"Santai saja, Tuan Bogdan pasti mengerti. Kau jangan terlalu merasa bersalah, Yejin." Lula mencoba membuat Yejin tenang dan memang itu selalu berhasil.


Yejin mengangguk. Ia menatap depan dan menoleh ke arah Lula. Gadis itu terdiam dan memikirkan sesuatu. Yejin hanya menatapnya tanpa ada niatan untuk berbicara.


Ia mencari celah untuk melihat garis garis di leher Lula, namun rambutnya tergerai dan menutupi leher.


Lula merasa Yejin memperhatikannya dan ia sontak menoleh menatap Yejin dan bertanya kenapa. Rambutnya terbang terkena angin, dan pergerakan Lula yang cukup untuk membuat rambut itu bergerak dan tidak menutupi leherny lagi.


Yejin membelalakkan matanya dan melihat tidak ada garis apapun di sana.


Apa aku salah lihat? Kenapa itu hilang sekarang?


"Lula kemarin aku lihat-"


"Kau dari mana saja, Jereni?" Perkataan Yejin terpotong Lula yang tiba-tiba berbicara dan menatap lurus ke depan. Jereni berjalan gontai menuju arah mereka.


"Panas sekali di luar." Jereni berdiri di depan Lula dan mengusap keningnya yang bercucuran keringat.


"Kau dari mana?" Lula masih melontarkan pertanyaan yang sama.


"Pak Lim memanggilku. Aku sempat meninggalkan jam tangan di mobil sekolah, dan ia yang menemukannya." Kata Jereni sambil menunjukkan jam tangan hijau gelapnya.


Lula mengangguk dan menoleh ke arah Yejin. "Kau tadi bilang apa?"


"Aku masuk dulu. Mau minum." Jereni tersenyum dan berjalan mendahului Yejin dan Lula. Lula mengangguk kemudian.


Yejin masih terdiam. Ia tidak dalam mood yang baik sekarang. Malas rasanya untuk mengungkit hal itu lagi.


"Tidak apa."


Kalaupun Lula sama dengan Matvei, pasti dia mengalami beberapa tekanan mental yang membuat kepalanya kesakitan beberapa kali dalam sehari, terutama ketika cuaca panas. Sepertinya dugaanku salah. Lagi pula, jika memang Lula mengalami hal itu, dia akan terlihat berbeda. Namun, sejauh ini aku tidak melihat keanehan dalam dirinya. Jadi kurasa dia baik-baik saja.


Yejin mengangguk dan mantap dengan argumennya.


"Ah iya Yejin."


"Apa?"


"Apa Tuan Bogdan sudah memberitahumu tentang .." Lula menghentikan perkataannya.


"Tentang apa?"


"Hadiah kita,"


Yejin mengangguk. "Aku harus meminta izin dengan kedua orang tuaku terlebih dahulu." Laki-laki itu menarik nafas santai. Ia menatap Lula dan bertanya lagi. "Bagaimana denganmu?"


Lula mengangguk dan tersenyum. "Sama sepertimu." Yejin mengerti.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Kenapa kau bertanya itu, Yejin?"


Sepertinya Yejin masih penasaran. Mungkin ia hanya memastikan apa yang ia duga tidak sepenuhnya benar.


Spontan Lula menatap Yejin dan mereka bertatapan untuk beberapa detik.


"Kau sama saja seperti Jereni." Sepertinya sekarang semua orang mulai khawatir dengan keadaan Lula. Gadis itu menggelengkan kepalanya dan meringis menatap lantai.


"Kenapa?" Yejin tidak mau berhenti bertanya dan itu membuat Lula merasa tidak biasanya Yejin seperti ini.


Lula terdiam dan masih menatap lantai. "Tidak ada yang terjadi. Aku baik-baik saja." Lula menatap Yejin dan tersenyum tipis.


"Kau lapar?"


Yejin menggeleng.


"Aku sedikit lapar. Aku akan makan bekalku di kelas. Kau mau di sini atau masuk ke dalam?" Lula berdiri dan menunggu jawaban Yejin.


"Kau masuk dulu. Aku akan menyusul."


Lula mengangguk dan berjalan masuk ke dalam kelas.


Sepertinya dia baik-baik saja.


***


"Ada apa?"


"Bryan memintaku datang sore ini?"


"Di rumahnya?"


"Baiklah. Aku akan datang." Matvei berdiri di parkiran. Ia sendirian dan menerima telepon dari asisten Bryan.


"Apa yang direncanakannya kali ini." Matvei membuka ponselnya lagi dan mencari nomor seseorang.


"Lucas bisakah kau menemaniku ke rumah Bryan nanti sore?"


"Kita bertemu di depan rumahnya langsung."


***


"Kita tidak ke parkiran?" Lula berhenti di pertigaan. Biasanya mereka pergi ke parkiran untuk mengambil sepeda Yejin, namun Yejin tidak berbelok.


"Aku tidak membawa sepeda."


"Kau kembali bersama siapa?"


Mereka berdua berjalan lagi dan Yejin berusaha untuk menjawab itu.


"Aku sudah menelepon mama."


"Kau kembali bersama bibi Yeva?"


Yejin menggeleng. "Mama sedang menemani nenek. Aku akan naik taksi."


"Yejin kita bisa kembali bersama."


"Terimakasih tapi mama sudah memesankan aku taksi online. Kurasa sudah berada di depan sekarang."


"Kau yakin?"


"Yejin mengangguk."


***


"Ada apa?"


"Kau hanya bisa melepaskan setengah dari makhluk itu setiap harinya, dan kita bisa bekerja sama lagi."


"Kau yakin dengan keputusanmu,


Bryan?"


"Tanda tangani saja kertas ini atau perjanjian ini batal. Aku mampu mengambil alih akses laut dan atau tanpamu."


Siapa lagi kalau bukan Matvei dan Bryan. Dua orang yang usianya terpaut sangat jauh, dan terpikat perjanjian yang menguntungkan, sebenarnya.


"Kau terlihat sangat membutuhkanku." Matvei tertawa ringan dan membaca yang tertulis di kertas itu, lalu menandatanganinya kemudian.


***


Waktu berjalan begitu cepat. Tidak ada detail kejadian yang mampu dituliskan di sini. Semuanya telah tertata memang, namun terkadang sulit untuk diucapkan.


Siang berganti sore, dan sore berganti malam. Semua orang berada di meja makan dan tengah menyantap makan malamnya.


"Mama papa besok aku akan pergi ke tempat Bu Rose. Ia sedang sakit jadi kami harus menjenguknya."


"Bersama teman-teman, ya?" Mark bertanya dan Yefy terlihat sangat antusias untuk menjawabnya.


"Iya. Ada Bianka, Andreo, dan semuanya. Aku akan membawakan sesuatu untuk Bu Rose. Mama nanti membantuku menyiapkannya, ya?"


"Iya, sayang. Sekarang habiskan makananmu."


"Mama papa aku .. harus membicarakan sesuatu dengan kalian."