Luna Rusalka

Luna Rusalka
120



Kalula POV


Di sini gelap. Aku tidak bisa melihat apapun. Sakit kepala tiba-tiba datang, dan semakin sakit tiap detiknya. Dadaku sesak, dan aku kesulitan bernapas. Seperti.. tidak ada air di sini, dan hanya udara. Insangku mengering, dan itu terasa lebih sakit dari seseorang menggorok lehermu sanhat lambat, dengan kau tetap sadar dan merasakan betapa sakitnya ini. Tapi, yang aku rasakan sekarang lebih sakit dari rasa sakit paling sakit.


Sepercik cahaya muncul jauh di depanku dan semakin lama semakin membesar, diikuti tubuhku yang perlahan semakin ringan dan tidak kurasakan bagian bawahku menapak di tanah, atau apapun namanya ini.


Mataku sedikit sakit, namun tidak sesakit ketika insangku kekurangan air dan mengering. Cahayanya semakin lama semakin membesar dan hampir seratus persen melahapku. Ketika ruang hampa terakhir di depanku terisi cahaya, pandanganku langsung kabur dan aku tidak merasakan apapun, kecuali tubuhku yang mengambang di udara, dan mataku yang sulit untuk terbuka.


Aku meraba sekitar, dan merasakan perlahan air mengisi tempatku berada. Aku sedikit membuat ujung bibirku tertarik ke belakang dan membuat seperti tengah tersenyum tipis. Aku akan baik-baik saja dengan air di sekitarku*.


"Mama?"


"Hhhhhhhhhh.." Mataku terbuka dan semuanya sudah kembali normal.


"Mama lihat ini.." Seorang gadis cantik dengan ekor perak berkilaunya tersenyum dan memberiku benda lingkar mirip mahkota dan terbuat dari rumput laut. Cantik sekali.. pikirku ketika melihatnya seperti apa yang aku inginkan dari dulu.


Aku menarik nafas panjang, sangat panjang merasakan momen momen yang belum pernah aku rasakan. Peri duyung kecil menari di sekitar kami dan dia tertawa lepas diikuti suaranya yang selembut buih-buih lautan, tengah bernyanyi mengikuti musik yang diciptakan peri duyung kecil.


"Bolehkah, aku?" Gadis cantik di depanku menunjukkan mahkota yang dibuatnya lalu aku mengangguk. Tangannya perlahan mendekati kepalaku dengan mahkota rumput laut di genggamannya.


"JANGAN SENTUH PEREMPUAN J*L*NG ITU!" suara seorang pria menggelegar di belakang kami. Putriku menghentikan tangannya dan menatap ke depan, tepat di belakangku.


"LULA MENJAUHLAH! DIA YANG TELAH MELENYAPKAN AKU!" Aku berbalik dan* *melihat Romanov berdiri jauh di sana, dengan ekor dan bukannya kaki. Dia membawa senapan angin.


"Kau?" Aku tercengang. Bukankah Romanov seorang manusia?


"Terkejut? Ingat malam ketika kau melenyapkanku? Aku tidak benar-benar mati. Darah duyung mengalir di dalam nadiku, dan kau tidak bisa membunuhku." Romanov tertawa dan darahku mendidih. Dia memang tidak pernah mencintaiku. Dia.. monster!


Ekor putih keperakanku mulai menghitam, dan aku melihat perubahan itu. Rambutku, kornea mataku, semuanya berubah menjadi bukan diriku. Dan sesuatu mencoba menerobos masuk ke dalam inti diriku dan mengambil alih, sebelum sesuatu itu menutupi inti diriku, aku melihat putriku yang ketakutan untuk terakhir kalinya. Dengan susah, mulutku mengucapkan kalau aku mencintainya melebihi apapun, namun sudah terlambat.


Kornea mata peraknya langsung berubah menjadi hitam dan Kalula tertawa jahat kemudian. Ia meraih tangan putrinya, dan mendekapnya ke pelukannya. Bukan untuk menebar kasih sayang, namun dia meraih leher putrinya dan mencekiknya.


Romanov terlihat khawatir dan membelalakkan matanya.


"DAN DENGAN JANTUNG GADIS MALANG INI, AKU AKAN HIDUP SELAMANYA*!!!"


_____________


"hhhhhhhhhh!"


"Kau baik-baik saja, Ratu?"


"Beberapa hari jauh dari laut, aku menjadi sering mimpi aneh dan melupakan itu ketika bangun dari tidur. Lupakan!" Kalula bangkit dari kursi goyangnya, lalu berhenti sejenak.


"Apa aku tidur di sini, semalaman?"


Voodoohag mengangguk. "Ratu tidak mau dipindah. Ketika kami mencoba membantu, ratu marah-marah dan menghancurkan setengah dari barang-barang di sini, tapi sudah kami bereskan."


Kalula menaikkan satu alisnya. "Pantas saja punggungku sakit." Lalu ia berjalan keluar menuju kolam renang dan menceburkan dirinya.


***


"J.c aku perlu kau untuk mengikutinya." Bryan mengambil sebuah foto dan meletakkan di meja seorang pria berdarah Eropa di depannya itu.


Pria yang dipanggil J.c melepas kacamatanya dan mengambil foto tersebut, lalu tersenyum. "Serahkan padaku."


***


Pagi harinya Yejin harus ke sekolah. Namun, ia membelokkan kuda besinya ke arah kanan, menuju ke jalan raya. Dia tahu sekolah berada di sisi satunya, namun dia sengaja untuk pergi ke rumah sakit. Tempat dimana Lula dirawat. Dia tidak mau Lula sadar dan dirinya tidak berada di depannya.


Yejin sudah berjanji dan pantang baginya untuk mengingkari.


Mulai sekarang, suka atau tidak, aku harus selalu berada di sampingnya, peduli setan dia tidak menginginkannya. Baik terlihat maupun tidak, dari dekat maupun dari jauh, aku harus selalu ada untuknya.


Tidak berapa lama, ia sampai di depan rumah sakit. Mencari parkiran yang masih kosong, dan memarkirkan motornya di sana. Yejin turun dari sana dan berlari cepat masuk ke dalam rumah sakit.


Menuju lift, dan menunggu lift nya berhenti, lalu ia membukanya. Lift berhenti, pintu terbuka, dan beberapa orang keluar dari sana. Ketika orang terakhir keluar, Yejin masuk dan memencet tombol lantai 5, ICU tempat Lula dirawat.


Lift berhenti ketika ia sampai di lantai 5, dan buru-buru keluar, berlari dan berhenti tepat di ICU, namun ia tidak melihat seorangpun di sana. Papa dan mama Lula, atau siapapun. Ruangan kosong dan ia pikir salah kamar. Tapi kemudian perawat keluar dari ruangan, dan memberitahu kalau pasien di dalam sudah dipindahkan ke ruang rawat.


Itu berarti... dia sudah sadar?


Yejin lega, namun dia tidak berada di samping Lula ketika perempuan itu sadar.


Yejin berlari dan masuk lagi ke dalam lift. Memencet tombol lantai 3, ruang dimana Lula di rawat. Lift berhenti, dan Yejin tidak sabar untuk keluar dan melihat perempuan itu tersadar dan tidak apa-apa.


Yejin berlari, mencari ruangan yang tadi perawat katakan, dan ia melihat Sofia tengah duduk bersama Yefy dari kejauhan. Yejin menarik nafas panjang dan berjalan dengan santai.


Ia berhenti tepat di depan jendela besar tempat dimana Lula dirawat, dan dia tidak melihat perempuan itu tersadar. Langkah kakinya membawanya lebih dekat dengan jendela, dan membuat Sofia dan Yefy terkejut.


"Kak Yejin?" Yefy berdiri dan menghampiri Yejin.


"Bagaimana keadaannya?" Yejin menatap Lula dengan berbagai alat yang dipasangkan di tubuhnya.


Yefy menggelengkan kepalanya. "Dia belum membuka matanya."


"Kau tidak ke sekolah, Yejin?" Sofia berdiri dan menghampiri Yejin.


"Perawat bilang kalau dia dipindahkan."


"Ya. Lula sempat sadar beberapa saat, namun karena efek obat dia tidak sadarkan diri kembali. Dokter bilang keadaannya semakin membaik dan Lula dipindahkan ke ruang rawat."


Yejin masih menatap Lula. Kau menunggu aku? Ia mencoba mengajak Lula berbicara. Berharap perempuan itu mendengarnya dan balas menjawab lewat pikiran.


Ya. Kau lama sekali. Aku lelah memakai alat-alat ini. Hehe.


Yejin membelalakkan matanya. Ia baru saja mendengar suara indah Lula di dalam pikirannya.


Kaukah itu.. Lula?


Memangnya siapa lagi?


Lula tertawa di pikirannya dan ia terkejut ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya.


"Yejin?" Yejin menggelengkan kepalanya dan. menatap pria di sampingnya.


"Kau tidak ke sekolah?" Mark berdiri dengan membawa dua gelas kopi di tangannya.


Yejin menggeleng, lalu menatap Lula kembali.


"Apa orang tuamu tahu kau di sini?"


"Mereka akan segera tahu."


Kringgg kringgg..


Telepon Mark berdering. Ia mengambil ponselnya dari saku celana dan melihat Bogrof menelpon.


"Hallo? Ah iya dia di sini."


"Tidak apa, akan aku katakan. Baiklah, sampai jumpa."


Mark mematikan teleponnya, dan menaruhnya di saku celananya lagi.


"Bogrof sudah menghubungi wali kelasmu, kalau kau hari ini tidak masuk ke sekolah, jadi jangan khawatirkan hal itu."