
"Jereni awas!!!!!" Ekor mataku menangkap keanehan dan dengan cepat aku melompat ke kolam renang.
Author's POV
Pot besar tepat di samping kanan kolam renang terjatuh dan hendak mengenai tubuh Jereni jika saja Lula tidak segera melompat dan melindungi Jereni dengan tubuhnya.
Pot itu mengenai punggung Lula dan seketika ia tenggelam ke kolam renang. Sedangkan Jereni tersadar dan langsung berteriak memanggil nama Lula.
"Lula!!!!" Jereni menyelam dan mencari Lula, namun ia tak menemukannya. Ia tidak suka berenang dan bahkan tidak bisa berenang. Dia tidak terbiasa berada di dalam air dan penglihatannya kabur.
"Apa yang aku lakukan di sini?" Jereni mencoba menenggelamkan wajahnya di air, mencari Lula, namun pandangannya tak jelas.
Jereni naik ke atas dan mencari bantuan.
Dia berlari Dengan baju yang basah dan menghampiri Yejin. "Yejin!!!! Yejin!!!!"
"Kau kenapa?" Rwka terkejut melihat Jereni basah kuyup dan gelisah.
"Ada apa?" Yejin berdiri dari duduknya dan bertanya.
"Lula!!"
"Lula kenapa??" Yeva mendekati Jereni dan bingung dengan kelakuan nya.
"Lula tenggelam!!!" Jereni mencoba menjelaskan. Yejin membulatkan matanya dan langsung berlari ke kolam renang.
Tak tanggung-tanggung, Yejin langsung melompat ke dalam kolam dan mencari Lula.
Jereni menunggu dengan khawatir di sisi kolam renang.
"Apa yang terjadi?" Rwka bertanya dengan khawatir.
"Aku tidak tahu." Jereni memeluk tubuhnya kedinginan.
"Bagaimana ini?" Yeva memegang kepalanya dan memejamkan mata khawatir.
"Jika Lula kenapa-kenapa apa yang akan aku katakan kepada Sofia." Dia terlihat gelisah dan mondar-mandir.
"Yejin Yejin temukan Lula!" Jereni berteriak dan Yejin muncul dari air. Dia menyeka wajahnya dengan tangan kanannya dan mengambil nafas.
Jereni membulatkan mata ketika Yejin tidak menemukan Lula.
Yejin menyelam lagi dan mencari Lula di air yang mulai keruh karena tidak pernah dipakai dan jarang dibersihkan, sehingga kolam menjadi kotor dan warna air tidak jernih.
"Kau sedang apa di sini?" Rwka menyentuh tangan Jereni mencoba bertanya apa yang terjadi.
"Aku tidak tahu."
"Apa kau berenang?" Rwka terus saja memojokkan Putrinya itu.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba aku berada di kolam renang dan Lula tenggelam, pot itu terjatuh." Jereni menunjuk sebuah pot tanah liat yang sangat besar tinggal separuh, di sisi kolam renang. Sisanya tenggelam di kolam sepertinya.
Semua orang berdiri dengan gelisah.
***
"Mama Yefy mau makan ice cream." Yefy berlari ke arah mamanya dan tak sengaja menyampar figura foto yang berada di meja sebelah kirinya hingga terjatuh dan kacanya pecah.
Yefy sontak berhenti dan menutup mulutnya.
"Yefy kau memecahkan apa??" Teriak Sofia dari dapur.
Bocah laki-laki itu jongkok dan meraih figura foto dan membaliknya. "Foto kakak rusak.." Dia cemberut, mencoba menyatukan kacanya lagi namun tidak bisa.
"Yefy jangan sentuh itu!!!" Sofia berlari dan menyuruh Yefy menjatuhkan serpihan kaca yang dibawanya.
"Kau bisa terluka. Jangan pernah menyentuh serpihan kaca yang tajam lagi."
Yefy menundukkan kepalanya dan menyerahkan foto Lula kepada mamanya.
"Maaf mama. Yefy tidak sengaja menjatuhkan foto kakak."
Sofia menghembuskan nafas santai dan tersenyum. Ia meraih foto Lula dan berjongkok, menyetarakan tinggi badannya dengan putra bungsunya itu.
"Tidak apa. Yefy harus berhati-hati lagi. Jangan berlarian di rumah."
"Mama tidak marah?" Yefy menatap mamanya dan tersenyum, lalu mencium kening mamanya itu sayang. "Yefy sayang mama.."
"Kau mau ice cream Kan tadi? Ambil sendiri ya, mama mau membersihkan ini."
Yefy mengangguk dan berjalan menuju dapur.
Sofia menatap foto Lula. "Kenapa perasaanku aneh?" Dia menggelengkan kepalanya dan mengambil serpihan kaca yang besar, agar tidak sulit untuk disapu nantinya.
"Aw!" Pekik Sofia ketika jarinya tertusuk kaca tajam dan menetes ke foto Lula yang terjatuh seketika.
Perasaan buruk muncul. Dia memegang dadanya dan kepalanya pusing.
"Apa yang terjadi?"
***
Semua orang menunggu Yejin dengan gelisah.
Beberapa saat kemudian, Yejin muncul dengan membawa Lula yang tak sadarkan diri.
"Cepat Yejin!" Rwka bersiap untuk meraih tubuh Lula di sisi kolam renang.
Yejin berenang dengan cepat dan segera membawa Lula ke sisi kolam renang.
"Jereni ambil handuk!" Rwka menyuruh Jereni, dan Jereni berlari dengan cepat.
Yeva membantu menidurkan Lula dan Yejin memberi CPR. Mengkompresi dada Lula agar tersadar kembali.
"Ayo bangun Lula bangun!!!"
Yejin terus menekan dada Lula, namun tidak ada respon dari Lula. Dia masih belum sadar.
Beberapa kali dan tidak berpengaruh apapun. Memejamkan mata, dan Yejin memutuskan untuk memberikan nafas buatan.
Maafkan aku, Lula.
Dia membuka mulut Lula dan memberinya nafas buatan.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali tidak terjadi apa-apa.
"Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit." Yeva jongkok dan menyentuh pundak Yejin.
Yejin berhenti, terdiam dan menarik nafas dalam-dalam. Usaha yang ia lakukan tidak membuahkan hasil. Merasa tidak berguna, dia berdiri dan mengangguk.
"Aku akan menyiapkan mobil."
Rwka mengangguk. "Jereni, kau siapkan bajumu, pinjamkan pada Lula."
Jereni mengangguk.
"Uhukkkkkk ... uhukkk..." Lula terbatuk dan memuncratkan air dari mulutnya. Yejin berbalik dan membantu Lula untuk duduk.
"Jangan.."
"Kau baik-baik saja?"
"Jangan bawa aku ke rumah sakit.."
Lula memejamkan matanya dan mencoba berdiri.
"Jangan dulu, kau masih lemas."
"Ayo kita.. Lula kau sudah sadar?" Jereni datang dan terkejut melihat Lula menatapnya dan mengangguk.
"Handuk Jereni!" Jereni menyerahkan handuk kepada Yejin, dan Yejin menutupi tubuh Lula dengan handuk.
"Aku tidak apa." Lula memaksa untuk berdiri dan Yejin membantu nya.
"Hati-hati. Bukankah kakimu masih sakit?"
Lula berjalan dan berhenti seketika, merasa kakinya sudah baik-baik saja, namun punggungnya sedikit sakit, karena terbentur pot tanah liat tadi.
Dia menggeleng dan terus berjalan dibantu Yejin.
"Jereni, bisakah kau meminjamkan aku baju ganti?" Jereni mengangguk.
"Ayo kita ke kamarku."
***
"Perasaanku tidak enak. Apa hal buruk menimpa Lula?" Sofia duduk di lantai dan memegang kepalanya yang pusing tiba-tiba.
"Sebaiknya aku membersihkan ini dulu, habis ini aku akan menelpon Yeva." Sofia berusaha berdiri dan mengambil sapu untuk membersihkan pecahan kaca.
***
"Yejin bawa Lula ke mobil!" Rwka berjalan gelisah menuju kolam renang namun berhenti ketika melihat tidak ada siapapun di sana.
"Mungkin sudah dibawa ke mobil. Aku akan ke sana." Dia berbalik dan berjalan cepat keluar rumah.
***
"Kau yakin tidak apa aku keluar?" Yejin duduk di samping Lula.
"Yejin aku mau ganti baju. Apa alasan kau untuk tetap di sini?" Yejin tertegun. Dia begitu gelisah sampai tidak sadar apa tujuan mereka ke kamar Jereni.
"Ok." Yejin berdiri dan berjalan keluar.
"Kau pakai ini saja. Biar hangat." Jereni menutup lemarinya dan berjalan mendekat.
Lula mengangguk dan meraih Baju dan celana hangat Jereni lalu pergi ke kamar mandi.
Lula's POV
Apa tadi Yejin..? Berarti dia.. tidak. Kenapa aku berpikir seperti ini sudahlah aku lebih baik bersih-bersih.
Membuka pintu dan masuk ke kamar mandi. Aku terus saja mengalami hal buruk, aneh, tak masuk akal, dan keberuntungan di tengah-tengah ketiga hal tadi.
Jika aku tertimpa pot besar itu, seharusnya terjadi cedera berat. Namun, punggungku hanya pegal-pegal dan sebelumnya bukankah kakiku sakit?