
Mobil yang ditumpangi Lula dan teman-temannya tiba-tiba berhenti, dan Lula merasa ini tempat pemberhentiannya.
"Hmm.. sebenarnya kalian mau membawaku kemana?"
Tidak ada yang merespon. Lula merasa ada yang aneh, namun ia berpikir mungkin ini masih bagian dari kejutannya.
"Baiklah, aku tidak akan berbicara lagi sampai kalian membiarkanku membuka mata."
Beberapa saat kemudian, mobil berjalan lagi, dan untuk beberapa menit mereka berada di perjalanan. Sampai di pemberhentian terakhir, dan salah satu teman Lula menarik gadis itu keluar dari mobil.
Lula merasakan tubuhnya melewati sebuah pintu, lalu menaiki beberapa tangga, hingga masuk ke dalam ruangan dan temannya membawanya untuk duduk di sofa.
Beberapa menit duduk dan menunggu, akhirnya temannya itu melepaskan tangannya dan Lula hanya terdiam. Dia sudah memutuskan untuk tidak berbicara atau bertanya-tanya lagi.
Beberapa detik berlalu, dan Lula merasakan sebuah tangan menggenggam tangannya dan menariknya hingga ia terbangun, dan membawanya ke sebuah tempat.
"Kurasa ini kejutannya.." Gumamnya lagi.
Ia berhenti, dan kain yang menutup matanya melonggar Seseorang tengah melepaskan kain itu!
Aku sangat penasaran apa kejutannya, hihi
Perlahan Lula membuka matanya dan pandangannya masih kabur dan tidak jelas.
"Namamu siapa?" Seperti suara seorang wanita, dan sudah pasti bukan salah satu dari teman-temannya.
Hah? Sebenarnya aku berada dimana?
Pandanganya mulai jelas dan ia melihat seorang wanita cantik berdiri dengan muka datar di depannya.
Siapa wanita ini?
Dia sedikit merasa takut dan gelisah, apakah dia diculik?
"Sudahlah, tidak penting. Lagian kau dihipnotis."
Dihipnotis? Jadi, benar aku diculik?
Lula membelalakkan kedua matanya ketika wanita di depannya mencoba untuk membuka bajunya.
Lula menangkis tangan wanita itu dan berteriak. "KAU MAU APA!!"
Wanita di depannya membelalakkan matanya. "Kau tidak terhipnotis?"
"Jadi benar KAU MENCULIKKU?" Lula mendorong wanita itu hingga terjatuh. (Dia tidak dalam keadaan siaga, jadi bisa terjatuh.)
[btw itu Kalula sedang memeriksa para gadis, wkwk]
Lula langsung berlari keluar ruangan, melewati dua pria bertubuh besar tadi. Menuruni tangga dan keluar dari rumah itu dengan cepat.
"ZEDRYS VOODOOHAG! Kejar gadis itu!!!" Mereka memang langsung mengejar, namun berlari di dataran tidak selincah ketika mereka berenang di laut.
"S*al! Kaki ini sangat menyusahkan!!" Teriak Voodoohag dan beberapa orang di sekitar apartemen berhenti dan melihat mereka.
Tapi Lula pandai, dia manusia dan bisa dengan cepat berlari. Merasa tidak diikuti lagi, Lula berbelok ke gang sebelah kanannya dan berlari melewati itu. Dia sampai lupa kalau teman-temannya masih di sana, tapi dia terlanjur takut jadi tidak peduli apapun lagi, yang penting lari dan bersembunyi.
"Dimana gadis itu!"
kring.. kring..
Telepon masuk, dan Voodoohag segera mengangkatnya.
"Halo?"
"Temukan gadis itu! Dia tidak terhipnotis, pasti ada hubungannya dengan putri!"
"Baik, Ratu!"
"Bisa saja dia adalah putri, Ratu bilang dia tidak terhipnotis, bukan?"
"Ya, menurutku juga begitu. Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang bisa tidak terhipnotis Ratu, kecuali dia memiliki darah keturunan Ratu. Aku yakin pasti dia orangnya!"
Zedrys dan Voodoohag berlari lagi dan berbelok ke kanan ketika menemukan gang. "Jika dia manusia biasa, dia pasti akan berlari ke gang ini dan bersembunyi di dalamnya."
"S*al, mereka sadar aku di sini!" Gumam Lula yang bersembunyi di samping tempat sampah besar. Gang ini panjang, dan belum sempat Lula sampai di ujungnya, dia mendengar dua orang yang mengejarnya hendak masuk ke gang, jadi dia langsung bersembunyi di tempatnya kini.
"Gangnya panjang, dia pasti masih di sini."
"Kita cari pelan saja."
"Oi, oi, mau bermain petak umpet rupanya!" Teriak Zedrys.
"Permainan apa itu?" Gumam Voodoohag lirih. Pasalnya, di dalam laut mereka tidak pernah mengenal yang namanya petak umpet.
"Ayolah! Sudah berapa lama kau di daratan? Petak umpet saja tidak tahu?"
"Katakan saja, atau kau kupukul!" Voodoohag hendak melayangkan tinjunya dan Zedrys langsung memegangnya.
Selagi kedua monster itu berbicara, perlahan Lula berdiri dan berjalan untuk kabur dari sana. Namun, alih-alih sudah sangat berhati-hati, Lula ketahuan juga.
"ITU DIA!" teriak Voodoohag dan Lula dengan kecepatan penuh berlari menghindari mereka berdua.
"Kejar gadis itu!" Zedrys berusaha berlari dengan kaki manusianya dan diikuti Voodoohag di belakang yang sesekali terengah-engah.
"Kenapa mereka terus mengejarku? Apa yang mereka inginkan dariku?" Lula tidak melihat batu di depannya, dan dia terjungkal ke depan hingga tubuhnya mengantam beberapa balok kayu yang ukurannya cukup besar di depannya. Tubuhnya remuk seketika, namun dia berusaha untuk bangkit.
"Jadi, mau kemana?" Namun sudah terlambat karena salah satu dari dua orang yang mengejarnya mengambil kerah bajunya dan mengangkat tubuh mungilnya ke udara.
"Apa yang kalian INGINKAN!" Teriak Lula dan langsung nyengir seketika, merasakan tubuhnya yang sangat sakit.
"tch.. kita bicarakan ini nanti. Kami harus membawamu terlebih dahulu." Kemudian perempuan itu tidak merasakan apa-apa lagi kecuali pandangan yang mulai memburam. Voodoohag memukul belakang kepalanya dan gadis itu jatuh pingsan.
"Kurasa Ratu akan sangat senang, kita mendapatkan gadis ini."
"Ya ya kau benar. Sebaiknya kita kembali segera."
***
"Yejin!" Pintu terbuka dan berdirilah Jereni di ambang pintu.
"Jereni?"
"Apa sekolah berakhir secepat ini?"
Jereni menggelengkan kepalanya. "Papa memaksaku untuk pergi ke sekolah, dan aku menurutinya. Aku sangat khawatir dan rasa ini sungguh tidak bisa ditahan lagi."
"Maksudmu kau kabur dari sekolah?"
"Sama seperti yang kau lakukan." Jereni berjalan mendekat dan duduk di kursi dekat tempat duduk Lula.
"Bahkan aku belum sampai di sekolah."
"Tidak penting, Yejin. Intinya kau berangkat untuk sekolah, namun berakhir di sini. Dimana orang tua Lula?"
"Mereka tidak ada di luar?"
Jereni mengendikkan bahunya. "Tidak ada. Makanya aku langsung kemari."
Jereni menenggelamkan kepalanya di sisi bangsal tempat tidur Lula, dan menarik nafas lelah. Kemudian, tangan kanannya mengepal dan dia membuat wajah serius. "Aku akan menghajar Caleb kalau dia sudah keluar dari rumah sakit."
"Tidak baik memiliki dendam seperti itu." Yejin membalik halaman buku yang tengah ia baca, dan memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di kursi.
Jereni menoleh dan menaikkan kedua alisnya. "Kau masih sempat membaca buku di saat seperti ini?"
"Tidak peduli masalah apa yang kau hadapi, intinya kau harus tetap tenang."
"Yejin! Kau memang tidak pernah berubah!" Jereni menoleh ke depan kembali, menatap sahabatnya yang masih berbaring tidak sadarkan diri ini.
"Kapan kau sadar, Lula? Rambutmu kusut, tubuhmu kurus kering seperti ini, dan kulitmu sangat pucat. Kau benar-benar mirip vampir, Lula." Jereni menyentuh tangan Lula.
"Ha?" Ia tersadar sesuatu.
"Kau tidak memakai.." Jereni langsung bangkit dan berjalan keluar ruangan dengan cepat.
"Ke mana mereka pergi?!" Ia tengah mencari kedua orang tua Lula. "Yejin kemana paman dan bibi?"
"Tidak tahu, kukira mereka di luar, dari tadi."
"Hah, kau ini!" Jereni keluar ruangan lagi, lalu berlari di sepanjang koridor untuk mencari kedua orang tua Lula, namun dia tidak menemukannya. Lalu, dengan berat hati ia kembali ke ruangan Lula dan hanya bisa menunggu mereka kembali.
"Kau kenapa mencari paman dan bibi?"
"Lula tidak memakai kalung kerangnya, Yejin!"
"Kurasa itu sebabnya dia tak kunjung sadar."
"Kau yakin?"
"Ya. Awalnya aku merasa dia hanya main-main dan bercanda. Namun, ketika dulu aku sakit dan dia memakaikannya kepadaku, kata mamaku aku langsung tersadar. Kata bibi Sofia juga kalung itu yang berkali-kali menyelamatkan Lula dan membuat Lula tersadar, namun dia tidak memakainya kali ini."
"Apa itu masuk akal?"
"Yejin kau memang tidak pernah mengerti!"
***
"Kerinee benar-benar ingin putriku kembali lagi, dan aku tidak akan membiarkannya hidup di laut." pria dengan setelah hitam hitam, berdiri di balik gang sempit di mana beberapa orang tengah saling berkomunikasi.
***
maaf telat sehari😚✌️