
"Bagaimana bisa ada di sini? Jenis ini hidup di Australia dan jarang bertahan lama hidup di dataran Rusia." Seorang memakai pakaian putih duduk di sampingku. Apa yang terjadi? Ah aku ingat bagaimana tarantula itu menggigitku. Aku menggerakkan tubuhku tapi aku tidak bisa?
"Ah dia sudah sadar." Mama dengan wajah merah habis menangis itu duduk di sampingku dan mengelus wajahku sambil menangis kembali.
"Biar saya periksa." Pria berpakaian putih yang tak lain dokter itu memeriksaku dengan alat aneh dan ya Tuhan bagaimana bisa tubuhku sangat kaku.
"Bagaimana keadaannya, dok? Apa yang terjadi?"
"Whistling tarantula. Sebenarnya, racun dari laba-laba ini tidak memberikan efek mematikan bagi manusia, tetapi tetap saja menyebabkan rasa sakit hingga pembengkakan karena taringnya berukuran 1 cm. Jika seorang manusia tergigit oleh laba-laba jenis ini, akan memberikan efek rasa sakit yang amat mendalam sehingga sulit untuk tidur malam. Meskipun tidak mematikan, tetap saja manusia yang tergigit oleh laba-laba Whistling Tarantula ini harus segera mencari pertolongan medis secepatnya, dan tindakan kalian sudah tepat. Efeknya akan melumpuhkan korban satu dua jam, tapi ini tidak apa-apa. Pasien sudah saya beri obat pereda nyeri dan mengoleskannya lotion calamine. Ia akan baik-baik saja, tetap jaga suhu tubuhnya dan jangan biarkan udara luar mengenai lukanya." Dokter merapikan barang-barangnya.
"Oleskan lotion calamine ini sampai luka nya benar-benar pudar. Ini sudah malam, saya akan kembali."
"Tapi dia akan baik-baik saja, kan dok?" Mama berdiri dan menghampiri dokter.
Dokter tersenyum dan mengangguk. "Besok ia akan segera pulih. Hangatkan tubuhnya dan jangan biarkan ia kedinginan, itu saja. Lumpuhnya sementara dan tunggu maksimal 2 jam. Ia akan pulih."
Mama berterima kasih dan dokter keluar dari kamar. Aku masih belum bisa menggerakkan tubuhku dan rasanya sangat tidak nyaman.
Lula pov end
Dokter keluar dari kamar dan Mark yang baru muncul mengantarnya keluar.
"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau digigit tarantula?" Sofia memberikan selimut tambahan dan menekan air matanya. "Baru aja kau kembali dari rumah sakit. Mama tidak habis pikir, hal buruk terus saja menghampirimu." Gumamnya sambil
berjalan menutup jendela yang terbuka. Dia menarik nafas lelah, dan kembali lagi ke tempat tidur Lula.
"Mulai sekarang papa tidak akan membiarkanmu memelihara tarantula atau hewan apapun." Sayup-sayup terdengar suara Mark dengan nada marah dan cukup tinggi. Lula menggerakkan matanya dan mendengar suara itu.
"Tapi itu bukan Madam Ywefenaku, pa. Aku bahkan tidak pernah melepas Madam Fwefena dari akuarium." Yefy melakukan pembelaan. Ini memang bukan salahnya, tapi tetap Mark sangat marah.
"Ya, kau benar. Tapi lihatlah kakakmu! Dia terbaring kaku dan tangannya bengkak. Mungkin madamu itu tidak keluar, tapi kau tahu itu bisa mengundang jenis tarantula lain." Suaranya semakin tinggi dan Sofia menggelengkan kepalanya.
"Istirahat, Lula. Mama akan keluar sebentar." Sofia mengelus kepala Lula dan beranjak dari kamar Lula.
"Aku tidak tahu papa akan semarah itu. Kasian Yefy, dia dimarahi karena aku."
"Besok papa akan antar kamu untuk memberikan tarantulamu ke tempat adopsi hewan."
"Tidak adil! Kalian hanya memperdulikan kakak dan tidak denganku!" Kata Yefy dengan nada sangat tinggi.
"Yefy, tidak seperti itu." Kata Mark lalu tidak terdengar suara apapun. Keadaan hening. Lula tidak tahu apa yang terjadi antara mungkin mereka telah pergi.
Lula merasa bersalah. Ia tidak pernah melihat Yefy mengatakan hal itu. Ia akan meminta maaf dengannya dan mengatakan yang sebenarnya besok ketika ia telah pulih. Itu pasti.
Lula memejamkan matanya dan sesuatu di luar rumah Lula terlihat sedikit bercahaya.
"Berada di tempat teraman dan bersama orang-orang yang menjaganya pun, ia masih terluka. Hal bodoh untuk meninggalkannya sendirian, lagi. Karena sesuatu tidak akan pernah berhenti untuk membuatnya celaka." Romanov berdiri di balkon lantai dua rumah Lula. Ia menggenggam kalung kerang, dan memejamkan matanya.
"Kalung ini bisa menjadi obat, tapi juga bisa menjadi pembawa bencana." Ia membuka matanya, berbalik, lalu tiba-tiba pintu di depannya terbuka. Ia masuk ke dalam rumah dan mencari Lula. "Lagi, dan lagi. Aku harus menggunakan ini untuk menolongnya." Katanya untuk terakhir kali, sebelum ia benar-benar lenyap di gelapnya rumah Lula.
***
"Mama dimana tas sekolahku?" Teriak Lula dari kamar. Hari sudah terlalu siang untung segera berangkat ke sekolah. Alarm di rumah Lula mati membuat mereka terlambat bangun. Semua orang tergesa-gesa dan tidak bisa berpikir jernih.
"Mama dimana seragam sekolahku?" Yefy berlari dari lantai dua ke bawah, dengan hanya memakai pakaian dalamnya.
"Mama dimana dasiku?" Mark meraih kunci mobil dan merapikan pakaiannya. Ia kehilangan dasinya dan Sofia tidak tahu mana yang harus ia urus terlebih dahulu.
"Sebentar telur mama keburu gosong!" Sofia berlari dari ruang tamu ke dapur. Ia langsung mematikan kompor dan tercium bau gosong. Walah sedikit. Tapi telurnya benar-benar gosong!
"Maaaa aku sudah terlambat!" Teriak Lula berlarian dari kamar ke lantai satu.
"Mama pakaian ku mana?" Yefy menarik baju mamanya dan Sofia menepuk kepalanya. "Kau seperti bayi saja!" Katanya lalu Yefy bertanya lagi dimana seragamnya.
"Maaa"
"STOP!" Sofia melepas tangan-tangan yang memeganginya. "Tangan mama hanya dua, kalian tahu itu!" Katanya dengan nada cukup tinggi, tapi dia terlihat santai kali ini. Sofia menarik nafas, dan menenangkan dirinya.
"Yefy seragammu di tempat tidur, apa kau tidak melihat?" Katanya lalu Yefy membuka matanya lebar.
"Lula tas kamu rusak sebab kejadian waktu itu. Kau pakai yang lama dulu, karena kita belum sempat membelinya."
Lula mengangguk mengerti, lalu ia berbalik dan berlari ke tangga menuju kamarnya. "Papa.. coba cari di lemari baik-baik, kemarin sudah aku taruh di sana."
Mark mengangguk.
"Apa yang kalian tunggu?" Sofia menatap Yefy dan Mark bergantian. "Cepat-CEPAT! Ini hampir jam 7!" Semua orang berlari lagi dan melakukan aktifitasnya masing-masing.
***
Lula berlarian dari gerbang sekolah menuju kelasnya. Keadaan sudah sepi, dan tentu saja ia terlambat. Terbangun kesiangan, keributan di rumah, dan jalanan yang macet membuatnya terlambat setengah jam.
"Pak Kim pasti memarahiku." Katanya lalu berbelok ke kanan. Jarak gerbang sekolah dengan kelasnya cukup jauh. Ia membutuhkan waktu lima menit lebih untuk sampai di sana, dengan jalan yang santai. Tapi, kalau ia berlari mungkin akan lebih sedikit waktu yang dia butuhkan.
"Sedikit lagi.." Lula berlari dan melompati beberapa tanaman. Ia menerobos lewat taman, dan itu lebih dekat dengan kelasnya. Dari kejauhan, pintu kelas tertutup dan ia berharap Pak Kim belum datang, atau bahkan jam kosong. Jadi ia bisa Istirahat. Ia sangat lelah dan ia butuh waktu untuk memulihkan tubuhnya itu.
"Huhhhh." Lula sampai di depan kelas dan mengatur nafasnya yang memburu itu. Jantungnya berdegup sangat kencang. Di samping ia takut dimarahi, ia juga akan kembali bertemu teman-temannya setelah sekian lama. "Apa mereka masih mengingatku, ya?" Katanya lalu bersiap untuk membuka pintu.
***Tokk tokkk
Krieeeettt***
Pintu terbuka, dan Lula melangkahkan kakinya ke dalam. Ia takut dimarahi, tapi ia sudah pasrah kalau memang itu yang terbaik. Ia juga salah. Keadaan di dalam kelas tenang dan sepi. Ia tidak tahu apakah mereka sengaja atau tidak, tapi..
Treeeeeeeeeeeettt
Suara terompet mengema di seluruh ruangan dan sesuatu berukuran kecil dengan jumlah banyak berjatuhan dari atas.