Luna Rusalka

Luna Rusalka
62



"Aku sudah tidak sabar untuk berlomba, kau tahu Yejin?" Erynav tidak mau berhenti berbicara. Dia terlihat sangat senang dan sesekali menatap Yejin yang berada di sampingnya.


"Yejin, mamaku akan menyusul nanti, dan jika kita menang, dia akan membawaku liburan, kau juga akan diajak." Erynav menepuk paha Yejin, dan Yejin hanya terdiam melamun menatap luar jendela.


Aku .. seperti tidak memiliki semangat untuk perlombaan nanti.


Batin Yejin kalut. Dia tidak bisa membohongi perasaannya. Otaknya berpikir ikuti alurnya dan nikmati saja, namun hatinya merasa tidak tenang, tidak ada Lula di sampingnya.


Apa laki-laki itu mulai membutuhkan Lula? Dia merasa tidak semangat ketika gadis itu tidak ada di sampingnya.


Seharusnya Lula yang menjadi partnerku. Ini salahku juga. Jika waktu itu tidak langsung menolong Lula, kejadiannya tidak akan seperti itu.


Yejin terus saja meratapi nasibnya itu. Dia merasa sangat bersalah kepada Lula.


"Yejin kita harus bekerja sama nanti." Erynav berhenti. Ia sadar dari tadi Yejin tidak mendengarkannya.


Erynav mengerutkan alisnya dan menatap Yejin. "Yejin? Yejin kau dengar aku?" Erynav mendekatkan wajahnya. Yejin masih menatap luar jendela.


"Yejin?" Erynav mengguncang paha Yejin dan Yejin segera sadar. Mengedipkan matanya, dan menoleh, menatap Erynav yang berada di samping kanannya.


....


...


Hidung mereka hampir bersentuhan dan keadaannya sangat dekat sekali. Mereka terdiam.


Matanya, indah sekali ..


Mobil terguncang membuat keduanya sadar dan memalingkan wajah satu sama lain.


Apa yang aku lakukan? Yejin merasa risih dan menggelengkan kepalanya.


Erynav tersenyum tipis dan wajahnya agak memerah. Ia setampan ini dari dekat.. Erynav menepuk pipinya dan merebahkan punggungnya di kursi mobil.


Yejin kembali menatap luar jendela.


***


Lula senang sekali. Dia tersenyum dan terlihat bahagia ketika tahu, kalau mamanya mengizinkannya ke ibu kota.


"Hati-hati, Lula. Pakai sabuk pengaman, dan jangan lupa makan vitaminmu." Sofia mencium kening Lula dan Lula mengangguk.


"Terimakasih, mama." Lula mencium pipi Sofia dan Sofia hanya terdiam. Tidak pernah Lula menciumnya.


Sofia dan Mark menyadari itu dan tertawa.


"Kau terlihat senang sekali." Mark masuk mobil dan memasang sabuk pengaman.


Lula hanya nyengir dan tidak bisa berkata-kata. Ia sungguh senang.


"Dah mama.. Aku menyayangimu!" Lula melambai kepada mamanya ketika mobil mulai jalan dan Sofia melambai kepada Lula.


"Dah sayang!"


"Kau sarapan dulu, tadi belum sempat makan, kan?" Mark melihat putrinya yang tengah senyum-senyum sendiri.


"Kau senang?" Mark mengelus rambut putrinya itu dan Lula mengangguk.


"Yejin pasti senang aku akan ke sana. Kita akan mengejutkannya nanti Hihihi."


"Dia akan berteriak 'Lula akhirnya kau datang'.." Mark tertawa dan Lula juga mendengar suara papanya yang menirukan suara Yejin itu.


"Papa kau mirip sekali dengan Yejin. Tapi dia tidak akan seperti itu." Lula mengendikkan bahu dan mengambil bekal makanan di kursi belakang.


"Kau suka Yejin, Lula?" Mark membelokkan kemudinya ke kanan dan masuk ke jalan raya.


Lula menghentikan makannya dan menatap papanya, ingin mengajukan pembelaan. "Tidak, dia sahabatku." Lula melanjutkan makannya kembali.


"Kau terlihat sedih belakangan ini ketika mamamu tidak memperbolehkan melihat Yejin berlomba."


"Papa aku hanya merasa tidak enak dengan Yejin. Aku sudah berjanji, tapi aku mengingkarinya."


"Kapan kau berjanji?"


"Satu hari yang lalu."


Mark mengangguk dan melanjutkan jalannya.


"Kau tidak akan menelpon Yejin?"


Lula menggeleng. "Aku akan memberinya kejutan nanti."


"Kapan perlombaannya dimulai?"


"Yejin bilang pukul sembilan."


"Perjalanan tiga jam, kita pasti tidak akan terlambat sampai sana. Jika tidak macet." Mark melihat putrinya dan tersenyum.


"Kau istirahat saja, ini masih jam 5 pagi."


Lula mengangguk dan mencoba untuk tertidur. Namun, ia tidak mengantuk. Ia sudah sarapan dan ia lupa ini masih pagi sekali. Seharusnya ia sarapan nanti saja.


Lula melihat jalanan yang masih gelap dan mobil yang sudah banyak. Ini jalan raya ke pusat, tidak akan sepi.


Perlahan matanya mulai sayu dan ia tertidur kemudian.


***


"Kalian istirahat saja dulu, perjalanan masih jauh." Tuan Ivan melihat ke belakang. Ia duduk di kursi depan samping pengemudi.


Yejin menutup matanya dan mencoba untuk tertidur.


"Saya tidak mengantuk." Erynav menatap Tuan Ivan santai.


"Saya tidak mau melihat kau tertidur di kolam renang nanti."


"Saya ti-"


"Tidur, Erynav!" Tuan Ivan terlihat serius dan Erynav langsung menutup matanya tertidur.


Dia membukanya lagi, mengintip apakah Tuan Ivan masih memperhatikan mereka atau tidak.


"Saya bisa melihatmu, Erynav."


"Baik saya tidur!" Erynav memposisikan kepalanya ke arah kiri, tepat ke arah Yejin yang tengah tertidur.


Tuan Ivan tidak akan melihatnya kalau saja ia tidak menutup matanya. Wajahnya tidak terlihat di kaca spion ketika posisinya seperti itu.


Erynav membuka matanya dan melihat wajah Yejin dari samping.


Dia tampan sekali..


Yejin membuka matanya dan Erynav segera menutup matanya pura-pura tidak memperhatikan Yejin.


Yejin menoleh dan melihat Erynav terlelap. Ia menggelengkan kepalanya dan menatap luar jendela kemudian.


***


Lula terbangun dan merenggangkan otot-otot tubuhnya. Ia melihat papanya tidak menyentuh kemudi dan kedua tangannya disilakan di depan dada.


Ia menaikkan satu alisnya dan melihat ke depan. Jalanan macet parah. Bahkan mobilnya tidak bisa jalan dari tadi.


"Kau sudah bangun?" Mark menoleh dan menatap putrinya itu.


Lula mengangguk. "Sudah berapa lama?"


Mark melihat jam tangannya. "Satu jam lebih, mobil terjebak di sini. Kalaupun bergerak, hanya beberapa inchi."


Lula melihat jam tangannya dan itu masih pukul 08.00.


"Seharusnya kita sudah sampai, ini tinggal beberapa kilometer lagi, papa pikir mengambil jalan pintas mempercepat. Tapi sama saja, tetap macet."


Benar kata papa Lula. Kalau mereka berangkat jam 5 tadi, jam 8 seharusnya sudah sampai. Perjalanan dari rumah Lula ke ibu kota kurang lebih tiga jam.


Lula mulai khawatir. Kalau mobil papanya masih terjebak di sana sampai pukul 09.00, ia akan sangat terlambat.


Lula hanya bisa berdoa supaya kemacetan ini selesai.


***


"Yejin, bangun. Kita hampir sampai.." Erynav mencoba membangunkan Yejin yang masih tertidur.


Yejin membuka matanya perlahan dan menengok ke arah Erynav.


"Kau masih mengantuk?" tanya Erynav penasaran.


Yejin menggeleng dan tersenyum kemudian. "Berapa lama lagi?"


"Kata Tuan Ivan sekitar 15 menit lagi."


Yejin melihat jam tangannya.


...Pukul 08.15...


"Ah tadi ponselmu bergetar. Kupikir ada yang menelponmu." Yejin langsung mengambil teleponnya dan berharap Lula yang menelponnya. Mereka tidak berkomunikasi lagi setelah Lula bilang tidak akan datang.


"Mama.."


"Siapa?"


"Mamaku. Dia menelponku beberapa kali." Yejin menelpon balik mamanya dan langsung diangkat.


"Ada apa?"


"Kau sudah sampai, Yejin?"


"Belum, sebentar lagi, mungkin."


"Hati-hati, Yejin. Maaf mama tidak bisa menemanimu."


"Iya tidak apa, mama harus menemani nenek."


"Good luck, Yejin! Mama menyayangimu."


Yejin mematikan teleponnya dan memasukkan di saku celananya.