
"Aku tidak melihat Lula pagi ini. Dimana dia?" Jereni duduk di taman depan kelasnya. Ini masih pagi, dan bel sekolah hampir berbunyi. Gadis itu tidak melihat sahabatnya dari tadi.
"Bagaimana keadaan Yejin, ya? Apakah dia memenangkan perlombaan itu?" Jereni masih membayangkan. Kemarin Yejin pergi ke ibukota dan berlomba.
"Ah aku lupa. Kemarin Lula juga pergi ke sana. Mungkin dia kembali malam dan terlalu lelah sehingga sekarang tidak masuk sekolah." Lula sempat menelepon Jereni. Dia bisa melihat Yejin berlomba akhirnya. Sofia memperbolehkannya dan dia senang sekali.
"Yejin beruntung sekali, jika menang dia akan pergi ke Italy." Jereni tersenyum sambil membayangkan jika dia yang akhirnya pergi ke Italy.
--
"Aahh senangnya!" Gadis berambut kemerahan mengangkat tangannya. Dia baru saja keluar dari bandara.
"Kau senang, Jereni?" Sebelahnya, seorang gadis tersenyum sambil melihat temannya itu.
"Kau bercanda, Lula? Ini luar biasa! Akhirnya kita berdua bisa pergi ke Italy!" Gadis yang dipanggil Jereni itu tersenyum puas.
"Jereni?!" Seseorang memegang pundak Jereni. Lula tersenyum dan Jereni berbalik.
"Yejin?"
"Jereni?!"
Jereni bingung. Pasalnya laki-laki itu tidak jadi pergi kemari, dan Jereni yang menggantikannya.
"Sedang apa kau di sini, Yejin?"
"Jereni?!"
"wait. Tapi kenapa aku ke sini bersama Lula?"
"Jereni kau lupa?" Lula menyentuh pundak Jereni.
"Jereni?!" Yejin masih memanggil namanya. Ia tak mengerti kenapa laki-laki itu tidak berbicara selain memanggil namanya.
"Jereni?!"
"Jereni kau baik-baik saja?" Yejin menepuk pundak Jereni.
Gadis itu menggelengkan kepalanya dan membulatkan kedua bola matanya.
"Kau baik-baik saja?" Yejin masih berdiri di belakang Jereni.
"Yejin?" Jereni menengok ke kanan dan Yejin berada di situ.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Yejin menggeleng. "Aku kebetulan melihatmu di sini. Kau berbicara sendiri."
"Apa aku begitu?" Jereni berbisik dan menggaruk tengkuknya heran.
"Ah iya! Bagaimana perlombaannya, Yejin?" Jereni berdiri dan berbalik. Dia berada tepat di depan Yejin.
"Kami berhasil."
Jereni menganga dan menepuk lengan Yejin. "Kau hebat, Yejin!"
Gadis itu sangat iri. Yejin akan pergi ke Italy. Tapi dengan Erynav. Jereni mengerutkan sedikit alisnya. Dia tidak akan pergi dengan Lula. Pikir Jereni menyayangkan.
"Apa Lula pergi ke sana, kemarin?"
Yejin terdiam. Dia mengangguk kemudian.
"Pasti gadis itu mengejutkanmu, benar kan?" Jereni menyenggol Yejin. Laki-laki itu hanya terdiam. Dia tidak mengeluarkan ekspresi apapun.
"Jereni, terjadi sesuatu dan aku harus memberitahumu."
"Apa, Yejin?"
"Cerita pendeknya Lula masuk rumah sakit dan cerita panjangnya ia menggantikan Erynav dan Lula menjadi partnerku."
Jereni menurunkan senyumannya. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan Yejin.
"Tunggu Yejin aku tidak mengerti. Bagaimana bisa?"
"..."
"Terjadi sesuatu dengan Erynav. Cidera cukup parah, Lula yang menggantikannya. Kami menjadi partner dan menang. Ketika hendak mengambil hadiah, Lula terjatuh ke dalam kolam renang dan tersedot ke dalam saluran air. Dia tidak sadarkan diri dan ayahnya membawa ia ke rumah sakit."
"Yejin kau bercanda?"
Laki-laki itu menggeleng.
Jereni menelan ludahnya dan memalingkan wajahnya masih tidak percaya.
"Aku masih tidak percaya.." Gadis itu berjalan menjauh dari Yejin. Dia terlihat sedih dan semua ini sangat tidak masuk akal.
***
"Seharusnya dia sudah kembali." Ini pukul dua siang. Jereni pasti sudah kembali. Namun Lula tidak mendapatkan jawaban dari Jereni. Ponselnya terhubung, hanya saja tidak ada yang mengangkatnya.
Lula merasa tidak enak badan. Ia batuk ringan dan menurunkan tangannya.
Dia sendirian. Mamanya pergi ke toilet dan ayahnya tengah menjemput Yefy dari sekolahnya.
***
Yejin tengah berdiri di balkon rumahnya. Neneknya sudah tidak meminta mereka untuk menemaninya, dan Yejin kembali ke rumah.
Matvei menjadi lebih sering di rumah, karena paman mereka tinggal di rumah neneknya sekarang.
Laki-laki itu sedang terdiam dan terlihat tengah memikirkan sesuatu.
"Bagaimana keadaan Lula.." Dia sangat tidak bersemangat melakukan apapun tanpa gadis itu dan dia bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Yejin!" Suara Matvei terdengar dari dalam. Dia berteriak dan menghampiri Yejin.
Yejin berbalik dan bertanya ada Apa.
"Telepon untukmu." Matvei menghampiri Yejin dan menyodorkan telepon rumahnya. Yejin mengangguk dan berterima kasih.
"Halo?"
***
"Apa kau sudah menelepon Jereni?" Sofia datang ketika Lula tengah berbaring dan melihat pemandangan keluar jendela. Gadis itu menengok dan menggeleng.
"Coba kau hubungi Yejin." Lula tersenyum dan mengangguk.
"Aku lupa menghubungi Yejin."
Lula mengambil ponsel Sofia di meja dan mencari nomor telepon Yejin.
Sofia duduk di kursi dan mengambil buku bacaan dan membacanya.
"Kenapa Lula?" Beberaoa saat dan bukan dalam jangka waktu yang lama, wanita itu menyadari putrinya terlihat gelisah dan mengulang panggilan.
"Kurasa ponsel Yejin mati."
"Kalau begitu telpon nomor rumah Yejin."
Lula mengangguk dan mencari nomor telepon rumah Yejin di ponsel mamanya.
Gadis itu menunggu telepon rumah Yejin diangkat dan berharap Yejin yang mengangkatnya, atau minimal ia berada di rumah.
Lula sedikit menyunggingkan senyumannya mendengar akhir dari nada berdering, dan telepon rumah ada yang mengangkatnya.
"Kediaman Ilarion, dengan siapa?"
"Ini Lula."
"Ah kau rupanya. Ada apa?"
"Kak Matvei bisa bicara dengan Yejin?"
"Bisa sebentar, dia berada di atas."
Lula menunggu Matvei menyambungkannya dengan Yejin.
"Lula kau baik-baik saja?" Yejin terlihat khawatir, mengingat terakhir kali Yejin melihat Lula, dan gadis itu terbaring di rumah sakit.
Lula masih terdiam dan tidak menjawab. Entah apa yang ia pikirkan sekarang, mendadak tidak bisa berkata-kata.
"Yejin aku baik." Mungkin Yejin menunggu kabar Lula. Gadis itu masih memikirkan mimpi yang ia dapat.
"Aku sangat menghawatirkanmu. Apakah kau masih di ibu kota?"
"Iya, Yejin. Ah iya apakah kau dapat membantuku?" Lula memainkan selimutnya. Ia masih duduk di tempat tidur rumah sakit dan menatap jendela.
"Aku pasti akan membantumu."
"Yejin aku ingin bicara dengan Jereni tapi aku tidak bisa menghubunginya." Gadis itu berharap Yejin dapat membantunya sekarang. Ia tahu, rumah mereka berdua sangat jauh, namun Lula ingin mendengar kabar Jereni sekarang. Ia punya firasat buruk dan itu sangat mengganggunya.
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan ke rumah Jereni."
"Yejin tapi itu jauh, bagaimana kau akan ke sana?"
"...." Mendadak Yejin terdiam. Dia sedang berpikir bagaimana caranya sampai ke rumah Jereni dengan cepat.
"Aku akan minta Matvei mengantarkan aku. Lula aku matikan teleponnya, nanti aku akan hubungi lagi ketika bertemu Jereni."
"Kau baik sekali, Yejin. Aku jadi merepotkanmu. Hati-hati di jalan, Yejin." Lula tersenyum dan Yejin menutup teleponnya.
Lula mematikan ponsel mamanya dan meletakkannya di meja.
"Kau sudah tenang?" Sofia meletakkan buku bacaannya dan menatap putrinya.