Luna Rusalka

Luna Rusalka
55



"Hai Lula."


Yejin terkejut, namun ia memilih untuk terdiam.


"Hai." Lula membalas sapaan Erynav dan beralih menatap Yejin.


"Mari kita kembali." Yejin mengambil sepedanya dan menyuruh Lula untuk kembali, dan mereka berjalan bersama.


"Hei apakah aku boleh kembali bersama kalian?" Erynav berdiri di belakang Lula dan Yejin. Wajahnya terlihat memohon dan Lula merasa tidak enak kalau menolaknya.


Kenapa dia di sini? Apakah Yejin yang mengajaknya? Wajahnya muram dan ragu untuk menjawab.


Yejin menatap Lula sambil mengisyaratkan kalau Erynav tidak boleh ikut, namun Lula memperbolehkan gadis itu pulang bersama Lula dan Yejin.


"Baiklah.." Jawab Lula spontan.


"Ah terimakasih." Erynav tersenyum dan berjalan di samping Yejin.


Yejin hanya menunjukkan wajah datarnya dan mereka bertiga berjalan bersama.


"Tidak apa." Bisik Lula sambil memegang tangan Yejin mencoba menenangkan.


Lula dan Yejin berjalan bersama, Erynav dengan cepat langsung nyerobot di antara Yejin dan Lula. Lula hanya membuang nafas kasar dan Yejin tidak melihat itu sama sekali.


Mereka bertiga keluar dari gerbang dengan menuntun sepeda masing-masing tanpa menaikinya, seperti biasa.


***


"Mama belum datang. Aku tunggu saja di sini." Jereni berdiri di halte depan sekolahnya dan ekor matanya tak sengaja melihat Lula dan Yejin.


"Ah itu Lula." Dia tersenyum ketika melihat Lula berjalan bersama Yejin, dengan sepeda mereka.


"Lu-La.." Dia memelankan suaranya dan senyumannya memudar ketika melihat seorang gadis sengaja membuat tempat di tengah-tengah kedua sahabatnya itu.


"Siapa dia?" Jereni heran, namun ia tak bisa melakukan apa-apa.


"Lula tidak bilang kalau kembali bertiga." Jereni terlihat murung sambil mendengus kesal.


tin tin


Mobil mamanya berhenti tepat di depan Jereni dan mamanya membuka jendela mobil.


"Kau tidak akan kembali?" Canda mamanya. Pasalnya, Jereni tidak sadar sama sekali kalau mamanya sudah berada di sini.


Jereni melihat ke depan dan mamanya tersenyum. "Ayo."


Jereni mengangguk dan berjalan memutar untuk masuk ke dalam mobil.


"Apa harimu menyenangkan?" Rwka melontarkan pertanyaan yang selalu sama ketika ia menjemput putrinya itu.


Jereni tidak bergeming dan terus saja menatap sisi kanan jalan, jendela di bagian kanan mobil.


"Jereni kau baik-baik saja?" Jereni tersadar dan mengangguk. "Aku baik, hanya saja.. terasa lelah hari ini."


Mamanya mengerti. Pasti kegiatan sekolah yang membuatnya lelah, namun itu bukan masalah besar.


"Kamu harus bangga, kalau lelah karena menuntut ilmu, seperti bersekolah. Lelahmu hari ini, akan menjadi investasi untuk kesuksesanmu di masa depan." Rwka tersenyum dan mengelus tangan Jereni.


Jereni menatap mamanya dan tersenyum. "Terimakasih.."


***


"Kalian sudah berapa lama bersama?" Erynav bertanya dengan antusias.


"Ka-"


"Dari kami masih bayi, dan akan terus bersama selamanya." Yejin memotong perkataan Lula dan berkata itu dengan mantap.


Kenapa.. Yejin berkata seperti itu? Batin Lula heran. Mereka bertemu ketika umur mereka lima tahun, dan bukannya dari bayi.


"Wow." Jawab Erynav singkat. Wajahnya biasa saja, namun dia terlihat antusias sekali melontarkan pertanyaan lainnya dan atau ia hanya sekadar bercerita.


Kalau seperti ini, bukan saatnya aku mengatakan hal itu kepada Yejin. Lula terlihat gelisah namun ia mencoba untuk setenang mungkin.


Sebenarnya aku tidak suka menunda-nunda, namun aku harus berbicara empat mata dengan Yejin.


Lula hanya terdiam. Yejin juga melihatnya dan ia sangat bingung apa yang harus dikatakannya sekarang.


"Lula kau mendengarkan aku?" Merasa tidak mendapatkan jawaban, Erynav menegur Lula dan Lula menatap Yejin dan mengangguk ragu.


"Memang seharusnya kau datang. Aku dan Yejin akan berlomba bersama." Kata Erynav mantap.


Lula merasa tidak nyaman dengan Erynav. Kenapa dia berkata seperti itu di depan anak yang seharusnya berlomba bersama Yejin. Yejin membelalakkan matanya dan menyenggol Erynav. "Kau tidak seharusnya berkata seperti itu, Erynav." Yejin berhenti dan menarik Lula berjalan bersamanya.


"Kita menaiki sepeda sekarang." Yejin naik ke sepedanya dan menggayuhnya pelan.


"Yejin, Erynav?" Lula bingung. Yejin sudah berjalan, sedangkan Erynav hanya berdiri di belakang menatap mereka berdua yang hendak meninggalkannya.


"Ayo, Lula!" Teriak Yejin di depan dan Lula segera menaiki sepedanya.


Ia menatap Erynav yang cemberut dan segera menggayuh sepedanya itu.


"Apa bagusnya gadis penyakitan itu, huh!" Kesal Erynav dan ia membuka tas ranselnya dan mengambil sesuatu.


"Halo, pak! Jemput aku di depan Minimarket Rossjj, sekarang!" Ia menelpon supir yang biasa mengantar jemputnya dan menunggu dengan masih menggerutu.


***


"Kenapa kau meninggalkan Erynav tadi?" Lula dan Yejin menggayuh sepedanya santai dan pelan.


"Aku hanya, sedang tidak ingin mendengar ocehannya." Lula mengangguk mengerti.


"Tapi kalau dia kenapa-kenapa di sana, bagaimana?" Lula terlihat khawatir. Mereka berdua tadi meninggalkan Erynav sendirian di jalan. Bisa saja ada orang jahat yang mengincar Erynav, atau apapun itu hal buruk yang bakalan terjadi.


"Erynav sudah besar, Lula. Lagi pula dia pasti akan menelpon supir agar menjemputnya." Yejin tidak menatap Lula sama sekali dan ia fokus ke depan.


Apa.. sekarang saja, ya? Tidak ada Erynav, dan hanya ada aku dengan Yejin di sini. Lula menimbang-nimbang. Ia mengangguk.


"Yejin, ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu." Yejin berhenti. Ia menatap sahabatnya itu dan bertanya apa yang akan Lula bicarakan. Ia terlihat serius sekali.


"Aku.."


Saku celananya bergetar dan nada panggilan dari ponselnya berbunyi.


"Sebentar.." Yejin mengambil ponselnya dan melihat siapa yang memanggilnya.


"Itu mama, aku harus mengangkat ini." Lula mengangguk dan memberi waktu Yejin untuk mengangkat telepon mamanya.


"Kenapa ma?"


"Ah baiklah, aku segera kembali." Yejin menutup teleponnya dan menyimpannya di saku celana.


"Ada apa, Yejin?" Lula bertanya dengan penasaran.


"Nenek jatuh sakit. Dia tidak mau dibawa ke rumah sakit, aku harus segera kembali, Lula. Maafkan aku, tapi apakah kita bisa membicarakannya besok?"


Lula mengangguk. Nenek Yejin lebih penting dari hal ini. Jadi, Lula bisa mengerti.


"Baiklah, ayo kita kembali sekarang."


Yejin mengangguk dan mereka berdua menggayuh sepedanya dengan cepat.


***


"Mama akan membeli sesuatu sebentar di minimarket. Kau ikut?" Rwka memarkirkan mobilnya di depan sebuah minimarket dan bertanya kepada Jereni.


"Tidak, aku di sini saja." Rwka mengangguk dan ia keluar dari mobil.


Jereni hanya duduk di dalam mobil dan merasa gerah. Ia tidak bisa menyalakan AC mobil kalau mesin mobil tidak hidup.


"Aku keluar saja, di sini panas sekali." Jereni membuka pintu mobil dan keluar.


"Lebih baik aku duduk di depan sana saja, menunggu mama kembali." Jereni melihat tempat duduk di depan Minimarket dan berjalan ke sana.


Belum sampai di sana, ia melihat seorang lelaki keluar dari minimarket. Bukan hal yang luar biasa sebenarnya, namun ia merasa pernah melihatnya.


"Ah, kakaknya Yejin?" Erynav menyipitkan matanya dan menduga.