
Keputusan terberat adalah ketika kita harus memilih dua pilihan yang mempengaruhi satu sama lain. Membuat pikiran dan batinku terguncang begitu keras.
-Lula Beatriks
***
Apakah kalian pernah merasakan bangun tidur di rumah sakit? Itu sejuk dan beraroma obat-obatan. Sama sekali tidak menyukainya. Tapi aku akan segera baikan, jadi secepatnya akan pulang ke rumah.
Matahari menyoroti ruangan melewati jendela besar di sampingku. Pemandangannya sangat indah dari atas sini, hanya ada pepohonan dan matahari yang mulai meninggi.
"Selamat pagi, Lula." Mama masuk dan membawakan ku sesuatu.
"Kau harus makan, dan mama membawakanmu bubur." Mama membantuku untuk duduk dan menyuruhku untuk memakan bubur. Aku tidak suka bubur. Tapi sepertinya mama akan sedih kalau aku menolaknya.
"Papa mana?" Sepertinya hanya ada mama dan aku di sini. Papa pasti sudah berangkat kerja.
"Papa pergi menjemput Yefy.." Oh iya. Aku tidak melihat Yefy dari kemarin dan aku benar-benar melupakannya.
Yefy memang menyebalkan tapi aku sangat merindukannya sekarang. Dia jahil tapi selalu kalah denganku hihihi.
"Yefy dimana?"
"Sayang, kemarin hari Rabu. Yefy menginap di sekolah.." Mama tersenyum sambil menyuapi bubur ke mulutku. "Biarkan aku menangani ini.." Kataku sambil meraih sendok dan memakan bubur sendiri.
Brakkk
Pintu terbuka dan membentur dinding dengan keras. Beberapa saat sempat terkejut tapi senyumku melebar ketika melihat Yejin berdiri di ambang pintu.
Kenapa aku tersenyum? Apa ini? Kenapa aku sangat senang melihat Yejin hari ini?
Yejin berjalan dan menghampiri ku. Mama menyapa Yejin dan tersenyum. Dia hanya berdiri di sampingku tanpa melakukan apapun. Kenapa dia dan bukankah dia harus bersekolah?
"Kau ke sini, Yejin?"
Yejin tetap tidak bergeming dan hanya menatapku kaku.
"Selamat pagi, Nyonya Sofia?" Suster berdiri di ambang pintu dan memanggil mama. "Anda harus mengurus beberapa administrasi sekali lagi." Suster tersenyum dan mama berdiri.
"Oh baiklah. Lula, mama keluar dulu. Temani Lula ya Yejin.." Mama menepuk pundak Yejin dan keluar.
Dia masih berdiri kaku di sampingku. Aku menatapnya dan berusaha bertanya kenapa. Dia hanya terdiam dan tidak bergerak sedikitpun.
Seketika aku kaku ketika Yejin memelukku membuat tubuhku terangkat sedikit. Kenapa Yejin?
"Yejin?"
Yejin tidak merespon dan tetap memelukku. Nafasnya terasa sekali di leherku. Dia terlihat... sedikit frustasi? Kenapa Yejin? Apa dia memiliki masalah?
"Maafkan aku, Lula.." Kenapa Yejin meminta maaf? Aku semakin tidak mengerti dengan hidup ini. Kenapa orang-orang tiba-tiba berubah seperti ini? i mean, prinsip mereka tidak tetap.
"Maaf untuk apa?"
"Yejin lepaskan aku."
Yejin melepaskan pelukannya dan menyentuh kedua pundakku.
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, kalau kau.." Yejin menghentikan perkataannya dan tidak melanjutkan nya lagi. Dia melepaskan kedua tangannya dan masih berdiri di posisinya itu.
"Apa?" Aku menunggu penjelasan dari Yejin. Dia sungguh aneh hari ini. Tidak. Dia aneh sepanjang waktu.
"Kau tidak pergi ke sekolah, Yejin?" Mama masuk ke ruangan. Benar, kenapa Yejin di sini dan tidak pergi ke sekolah?
Yejin mengambil sesuatu di saku celananya. Sebuah ponsel di genggaman nya. Dia menelpon seseorang dengan tidak mengalihkan pandangannya dariku.
"Saya minta izin, Pak. Saya harus menemani Lula di rumah sakit. Baiklah.. Terimakasih." Yejin meletakkan kembali ponselnya di saku celana. Apa aku tidak salah dengar? Yejin menemaniku?
"Bibi pasti kelelahan dan harus melakukan hal lain. Biarkan saya yang menggantikan." Yejin berjalan dan duduk di samping mama.
"Yejin,.."
"Bibi sebaiknya kembali ke rumah." Yejin menyentuh pundak mama dan mama menyetujui hal itu sambil meminta maaf karena harus merepotkan Yejin.
Ayolah, kami berusia 15 tahun dan bukankah sudah cukup dewasa? Aku hanya bercanda.
Mama mengecup keningku dan pamit pulang.
Ya. Kini hanya ada aku dan Yejin dan keheningan ini.
"Bagaimana keadaanmu?" Yejin duduk di kursi dan menatapku dari kejauhan.
"Baik." Aku duduk santai di tempat tidur.
Aku tidak tahu harus memulai percakapan. Rasanya tidak ada yang harus aku bicarakan dengan Yejin.
"Aku sudah lama ingin membicarakan hal ini padamu." Yejin menyilakan kakinya dan menatapku serius.
"Apa?"
"Aku akan berusaha memperbaiki hubungan kita." Apa? jadi dia juga ingin memperbaiki hubungan kami? I mean bukankah dia sudah berubah?
"Aku tahu selama ini aku bersikap dingin padamu. Kau tahu, aku tidak ingin begini dan aku terlalu egois. Dulu aku tidak bisa menjelaskan apapun dan pergi dari sini tanpa menemuimu sebelumnya." Yejin terdiam dan menelan ludahnya.
Aku tetap duduk mendengarkan dia bercerita.
Yejin dulu memang harus pergi. Ayahnya harus pindah karena pekerjaannya. Aku mendengarnya dari papa dan dia mencoba menjelaskan waktu itu.
"Jadi karena apa?"
"Aku sakit Lula." Yejin menarik nafas dan tetap cool seperti biasanya. Wajahnya juga tetap datar.
Aku mencoba mencari penjelasan di balik perkataan Yejin. Alasan tidak bisa dibicarakan dan sakit. Dua hal dan aku sama sekali tidak mengerti.
"Tumor kelenjar getah bening. Stadium 2 dan butuh waktu 2 tahun untuk benar-benar bisa sembuh. Aku berobat. Segala pengobatan yang aku lakukan membuat tumorku akhirnya terangkat. Namun hal itu berpengaruh pada syaraf di otakku dan berakibat ketidak mampuannya otak merespon beberapa hal." Yejin bicara apa si aku tidak mengerti sama sekali.
"Seperti tidak peduli dengan semuanya. Syaraf kebahagiaan ku juga tidak mampu untuk menyimpan memori menyenangkan sehingga untuk tersenyum pun aku tidak mampu. Terkadang itu sangat menyakitkan."
"Aku tidak berbicara padamu lagi setelah kembali ke sini. Aku tidak ingin kalau aku harus pergi lagi, aku membuat luka baru. Aku berjanji pada diriku agar aku tidak akan pernah mendekatimu lagi. Tidak akan, Lula.."
"Tapi itu justru membuatku tambah terluka dengan kau menjauh dariku, Yejin." Aku mencoba bangkit dari tempat tidur dan berjalan mendekati Yejin. "Yejin, Aku terus menunggumu. Aku berpikir aku akan kehilanganmu selamanya."
"Tapi keadaan menyadarkanku. Kita terus bertemu, bahkan sebelumnya aku tidak tahu kalau kita satu sekolah." Aku berhenti tepat di depan Yejin.
"Aku sadar satu hal, Lula." Yejin menundukkan kepalanya.
"Kalau sikapmu padaku tidak akan pernah berubah. Bagaimanapun aku memperlakukanmu, kau akan tetap sama." Yejin berdiri dan menatapku yang hanya setinggi telinganya.
"Aku salah dengan menjauhimu. Aku sadar aku sangat membutuhkan mu. Aku..-"
Author's POV
Lula memeluk Yejin. Menenggelamkan wajahnya di dada Yejin. Yejin sudah kembali, batin Lula. Dia sangat senang dan ini akan segera membaik.
Yejin mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Lula.
Author's POV end~
Takdir tidak akan salah tempat. Sekeras apapun merubah takdir, Tuhan akan punya caranya sendiri untuk berkehendak.
Tersenyum di pagi hari, itu akan aku lakukan setiap bangun tidur. Dengan cahaya matahari naik di ujung Timur.