
"Ah, kakaknya Yejin?" Erynav menyipitkan matanya dan menduga.
Ia berjalan mendekat dan lelaki itu juga menyadari keberadaan Jereni.
"Eh kau, temannya Lula?"
Jereni mengangguk. "Kakaknya Yejin?"
"Panggil saja Matvei." Matvei tersenyum.
"Baiklah.."
"Sedang apa kau di sini?"
"Aku menunggu mamaku. Dia tengah membeli sesuatu di dalam." Jereni mengendikkan bahu dan merasa canggung sekali dengan percakapan ini.
Percakapan pertama dan aku sangat tidak suka itu. Jereni tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Kau tidak masuk saja?"
Jereni menggeleng. "Aku di luar saja."
"Hei aku ingin bertanya sesuatu." Matvei mengingat sesuatu. Dia membuka tas ranselnya dan mencari foto kemarin yang telah ia cetak, dan berniat untuk menunjukkannya kepada Jereni dan bertanya apakah itu dirinya atau bukan.
"Kau sedang apa, Jereni?" Rwka keluar dari minimarket dan mengejutkan Jereni.
"Tidak ada,"
"Ayo kita kembali." Jereni mengangguk dan minta maaf karena harus kembali sekarang.
Rwka berjalan mendahului Jereni dan tidak menyadari Matvei di sini.
"Maafkan aku, tapi aku harus kembali sekarang."
Matvei mengangguk. "Tunggu!" Jereni berhenti dan berbalik.
"Bisakah kita bertemu lagi? Ada yang harus aku bicarakan."
Jereni terlihat berpikir. Namun ia mengiyakannya dan bertanya kapan.
"Besok di taman dekat perbatasan, sepulang sekolah." Matvei sedikit berteriak karena jarak mereka lumayan jauh sekarang.
Jereni mengangguk dan kembali berjalan menuju mobil mamanya.
"Akhirnya, aku bisa tidur tenang." Kata Matvei sambil berjalan menuju motornya.
***
"Siapa tadi?" Rwka bertanya dan menatap putrinya sebelum mesin mobil dinyalakan.
"Kakaknya Yejin."
"Kalian saling kenal?"
"Umm.. iya, tidak. Sebenarnya baru saja kami berkenalan."
"Sebaiknya jangan terlalu dekat dengan orang baru, Jereni."
"Tapi itu kakaknya Yejin, mama."
"Mama tidak pernah mendengar tentangnya."
Jereni hanya terdiam dan Rwka menyalakan mesin mobilnya.
***
Lula's POV
Aku terus saja menunda ini. Semoga besok tidak ada halangan.
Mau bilang hal ini saja sulit sekali. Aku jadi tidak bisa berpikir sekarang. Apa yang harus aku lakukan? Setelah berkata hal ini kepada Yejin.
Apa responnya, dan apakah dia akan marah? Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Aku tidak mau tergesa-gesa, tapi keadaan membuatku harus segera melakukannya.
Kau tahu? Aku sudah memiliki rencana, namun sepertinya keadaan terus saja membuatku menunda itu.
Ini lebih dari terlambat. Seharusnya aku bicara jauh-jauh hari, tapi sudahlah. Aku akan berkata besok.
Lula's POV End
Lula duduk di tempat tidur dan berbaring kemudian, untuk beristirahat. Besok dia harus ke sekolah dan mengatakan semuanya kepada Yejin.
***
"Kenapa aku tidak dapat berhenti memikirkan Jereni?" Matvei berbaring di tempat tidur. Dia kembali ke rumah neneknya, karena semua orang berada di sini, untuk menjaga neneknya yang jatuh sakit, lagi.
"Kebetulan sekali. Apa karena dulu pernah bertemu, sekarang merasa aku memiliki entahlah apapun itu aku merasa ada sesuatu di antara aku dan Jereni." Matvei meletakkan foto itu di samping tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya.
"Apa aku.. suka dia?" Katanya kemudian, dia menggeleng keras dan menepuk jidatnya menyadarkan pikirannya itu.
"Kami baru saja bertemu. Tidak termasuk ketika aku mengambil foto itu." Dia menutup matanya dan berusaha untuk tertidur.
***
"Adik kecil! Adik kecil aku akan menemukanmu!! Hahahahahahaha.." Seorang anak laki-laki berjalan dengan cepat sambil tertawa. Dia tengah berlarian di rerumputan hijau yang sangat luas.
Sementara seorang gadis yang tidak lebih tua dari laki-laki itu, bersembunyi di semak-semak dan terkikik lirih mengetahui ia tidak bisa ditemukan.
"Kakak payah.. hihihi" gadis itu tertawa dan tidak mendengar teriakan kakaknya lagi.
"Siapa yang payah?" Laki-laki itu berdiri menyatukan kedua tangannya di depan dada.
Gadis itu membelalakkan matanya dan memutar badannya. Ia berdiri lalu tersenyum dan langsung berlari.
"Kejar aku kalau bisa!!"
"Awas kakak akan menangkap kamu!!" Mereka terus berlarian dan berlari saling mengejar sampai tidak sadar di depan gadis itu adalah jurang dan di bawahnya laut dalam yang sangat jernih.
"*Awas jurang!!!!!!!" Laki-laki itu berteriak berusaha menghentikan adiknya, namun gadis kecil terus berlari dan terpeleset hingga terjatuh ke laut di belakangnya*.
"Yondayaaaaaa!"
"Kakaaaaaaaak!"
"Hhhhhhh" Jereni terbangun dengan nafas yang memburu. Dia bermimpi buruk tentangnya dan kakaknya.
"Kau baik-baik saja?" Rwka menatapnya khawatir.
"Apa maksudmu, dengan 'kakak'?"
Jereni tahu sekali. Mungkin dia merindukan kakaknya. Dia masih tidak tahu keberadaan kakaknya itu. Seharusnya kakaknya juga mengalami hal yang dialami Jereni juga.
"Aku akan mandi." Jereni beranjak dan berjalan menuju kamar mandi. Rwka hanya mengendikkan bahu dan keluar kamar Jereni.
***
Lula masih terasa malas dengan keadaan ini. Dia masih diam dengan kedua orang tuanya dan mengacak makanannya setiap pagi.
Mamanya terlihat geram namun ia harus sabar. Ia tidak mau putrinya berubah menjadi apapun yang Sofia tidak inginkan.
Lebih baik begini, daripada Lula mengalami kejadian yang tidak diinginkan lagi.
"Kau harus memakan sara-panmu.." Belum selesai Sofia berbicara Lula berdiri dan pergi begitu saja tanpa pamit.
"Aku berangkat." Ia berkata itu ketika membuka pintu dan benar-benar pergi dari rumah.
"Kakak kenapa?" Yefy sangat tidak mengerti yang terjadi pada kakaknya. "Dia menjadi pendiam akhir-akhir ini."
Semua hanya tercengang dan tidak mampu melakukan apa-apa.
"Seharusnya kau memperbolehkannya." Mark menatap istrinya. "Yejin sahabatnya.."
"Aku tidak mau Lula kenapa-kenapa. Kenapa kau masih tidak mengerti?" Rwka meletakkan sendoknya di piring dan bersandar di punggung kursi.
"Aku akan menemaninya. Lula akan baik-baik saja selama aku bersamanya." Mark meyakinkan istrinya itu agar dirinya memperbolehkan Lula datang ke Ibu kota.
"Ketika aku sudah memutuskan, itu adalah keputusan mutlak." Rwka menatap suaminya serius dan beranjak dari meja makan.
"Mama kenapa?" Yefy tidak mengerti sama sekali. Dia hanya mendengarkan tanpa tau apa yang mereka bicarakan.
"Tidak apa, selesaikan makananmu dan kita akan segera berangkat."
Yefy mengangguk dan memakan serealnya.
***
"Aku harus menemui Yejin pagi ini. Dia pasti akan langsung berlatih dan aku juga belum membuat janji kalau ingin kembali bersama nanti." Lula menggayuh sepedanya dengan cepat menuju sekolah.
"Lebih baik tidak menundanya kali ini." Ia mengangguk mantap dan sepedanya berjalan dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Melewati beberapa tikungan dan pepohonan di kanan kirinya, sepeda Lula terus melaju di jalanan yang sepi. Ia memilih jalan ini karena kendaraan bermotor tidak melewati jalan ini, hanya untuk pesepeda dan pejalan kaki.
Dia tidak ingin terkena masalah dengan orang-orang karena laju sepedanya yang sangat cepat.
Satu belokan lagi, dia akan sampai di belakang sekolah.
"Ini dia.." Lula berbelok dan sampai di belakang sekolah. Ia masih harus lurus ke depan hingga sampai di gerbang depan sekolahnya.