Luna Rusalka

Luna Rusalka
53



"Tapi itu semua hanya ilusi. Sudah terjadi dan aku tidak dapat mengubah hal itu."


Dia tidak berniat untuk menaiki sepedanya.


"Jereni pasti tidak dapat membantuku." Lula terus saja berpikir dan ia mengeluh beberapa kali.


"Apa tanggapan Yejin kalau aku memberitahunya hal ini."


Lula masih berjalan dengan malas. Ia tak menaiki sepedanya dan merasa malas melakukan apapun pagi ini.


"Lula!!" Suara teriakan seseorang di belakang Lula. Dia berhenti dan berbalik dengan malas.


Ia menyipitkan matanya dan melihat Yejin menggayuh sepedanya menuju arah Lula. Lula tidak heran, dan ia hanya menaikkan kedua alisnya.


"Untungnya kau belum jauh." Yejin sampai dan ia berhenti. Nafasnya tidak teratur dan keringat mengalir di pelipis kanannya.


"Ada apa?"


"Tidak. Aku hanya ingin berangkat bersamamu."


Lula mengangguk dan tersenyum. "Ayo."


"Kau tidak menaiki sepedamu?" Yejin turun dari sepedanya dan berdiri sejajar dengan Lula. Mereka menuntun sepeda mereka masing-masing. Lula tidak ada niatan untuk mengendarai nya.


Lula menggeleng. Yejin mengerti dan mereka berdua berjalan bersama.


Tidak ada percakapan beberapa detik setelahnya.


Apa aku harus memberitahunya sekarang? Batin Lula gelisah. Dia menatap Yejin dan terus menatapnya. Aku tidak tega membuatnya sedih. Tapi aku harus segera memberitahu Yejin. Sekali lagi, ia bimbang dengan keputusannya.


"Yejin-"


"Lula-"


"Kau dulu." Yejin mempersilahkan Lula untuk berbicara terlebih dulu, namun ia menggeleng. "Kau saja."


Yejin tidak mau berdebat hanya karena ini. Kalau Lula sudah memutuskan maka keputusannya itu mutlak.


"Bisakah kita kembali bersama lagi, nanti siang?" Yejin tidak terlihat memohon namun kedua bola matanya tidak bisa berbohong.


Lula terdiam seketika dan mengangguk. "Baiklah.."


"Aku akan menunggumu di parkiran nanti siang."


Lula hanya mengangguk tanpa menatap Yejin yang kini menatap gadis itu sambil tersenyum biasa.


"Jadi, kau mau bicara apa?"


"Kurasa kita harus menaiki sepeda kita sekarang dan segera pergi ke sekolah. Ini sudah siang, kita tidak mau terlambat, bukan?" Lula mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal itu. Sebaiknya nanti saja. Bukan waktu yang tepat lagi, Yejin sedang terlihat bahagia. Dia tidak mau merusak hal itu.


"Baiklah." Yejin mengangguk mengerti dan menaiki sepedanya diikuti Lula yang kemudian mereka menggayuh sepedanya masing-masing dengan cepat menuju sekolah.


***


"Jadi, apa?" Jereni memangku wajahnya di meja. Dia sangat penasaran dengan hasilnya.


Lula masih terdiam dan duduk di depan Jereni. Jam kosong, dan semua anak berhamburan di dalam kelas.


Lula tidak kunjung berbicara. Dia hanya menyatukan kedua tangannya di depan dada dan berpikir sendiri. Hal itu langsung membuat Jereni gemas dan mengguncang tubuh Lula pelan.


"Kau tidak mendengarkan aku ya?"


Lula menggeleng. "Aku harus bilang kepada Yejin."


"Apa? Tidak boleh?" Jereni membulatkan matanya.


Lula mengangguk.


"Yah.."


"Aku juga tidak heran. Ya kau harus segera memberitahu Yejin."


Lula mengangguk. "Ketika kami kembali bersama nanti."


Lula mengangguk dan mengendikkan bahunya. "Kau tahu? Tadi Yejin mengejarku dan kami berangkat bersama ke sekolah." Lula antusias menceritakan pengalamannya itu dan membulatkan matanya sambil tersenyum.


"Oia sekarang kalian sudah bersama lagi, yeah?" Jereni mencoba menggoda Lula. Dia beberapa kali mencubit lengan Lula dan Lula hanya membiarkan hal itu terjadi.


Mereka berdua terdiam seketika. Tidak ada percakapan lagi. Lula hanya duduk dan memperhatikan teman-teman sekelasnya saling kejar di kelas. Jereni, dia sibuk dengan kuku jarinya yang belum dipotong.


"Lula."


Lula menatap Jereni dan memberi isyarat ada apa kepadanya.


"Kau tahu.. ketika aku terbaring di rumah sakit waktu itu.." Jereni menghela nafas yang mulai memberat.


"Uh huh. Aku menangis karenamu."


Jereni tertawa ringan, mengetahui hal itu. "Suatu ingatan muncul dan aku sama sekali tidak percaya itu."


Lula fokus dengan perkataan Jereni dan rasa ingin tahunya semakin besar. Dia memperhatikan Jereni, setiap kata yang dilontarkannya.


"Apa, Jereni?"


"Kau tahu, seperti aku pernah hidup di tempat yang berbeda sebelum ini, dan aku seperti orang lupa ingatan, yang ingatannya telah kembali. Aku ingat semuanya."


Lula memicingkan matanya dan tidak mengerti atas apa yang dikatakan Jereni. "Apa maksudmu?"


"Lula jika aku memberitahu hal ini, kau pasti tidak akan percaya." Jereni memegang kedua pundak Lula dan tatapan matanya terlihat sangat serius.


"Coba saja, Jereni." Lula meyakinkan Jereni untuk buka suara tentang hal itu.


Jereni menggeleng keras. "Bukan saatnya."


"Percaya padaku."


Terdiam beberapa saat dan Jereni mengangguk. "A-"


"Good Morning, class! Maafkan saya, saya terlambat. Terjadi sesuatu dan saya harus mengurus itu."


Belum sempat ia ingin berbicara, Miss Rose masuk dan membuka suasana. Semua anak kembali ke tempatnya dan Jereni langsung berdiri, berbalik dan duduk di tempat duduknya semula.


Ini memang bukan saatnya.


***


"Besok libur! Kalian boleh mengikuti pelajaran biasa, atau tetap di rumah. Sesuka kalian. Saya sudah bilang kepada guru mapel besok, untuk mengizinkan kalian beristirahat pasca perlombaan. Tapi kalau mau ke sekolah, tidak apa. Kalian harus istirahat. Terus berlatih tanpa berhenti bukan hal yang baik. Apa kalian mengerti?!" Tuan Ivan menyatukan kedua tangannya di balik pinggul dan tengah berbicara kepada Yejin dan Erynav.


"Baik, Pak!" Jawab Yejin dan Erynav bersama.


"Baik. Sekarang istirahat lima belas menit!" Tuan Ivan melihat jam tangannya dan kemudian pergi ke luar.


Ini jam makan siang. Yejin mengerti dan berjalan ke belakang. Dia hanya minum dan melakukan beberapa gerakan merenggangkan tubuh.


Erynav hanya melihat itu, dan dia menggelengkan kepalanya. "Aku lapar sekali." Dia berjalan menuju loker dan mengambil tas merah mudanya.


Membukanya dan mengambil bekal makan siangnya yang sudah disiapkan oleh ibunya.


"Mungkin Yejin lapar? Aku coba menawarkan ini kepada nya." Erynav mengangguk dan berjalan ke tempat Yejin.


"Yejin aku punya roti-" Dia tidak melihat Yejin di tempatnya tadi. Ia sendirian di sini.


"Kemana Yejin?" Erynav berjalan ke seluruh tempat di sini, dan mencari dimana Yejin berada.


"Yejin?"


"Kau di kamar mandi?" Tidak ada balasan dari Yejin. Dia menghilang tiba-tiba.


"Aku tidak mendengar pintu depan terbuka maupun tertutup tadi. Seharusnya aku juga melihat dia kalau dia keluar gedung ini." Erynav heran. pasalnya, dia sama sekali tidak mendengar atau melihat pintu terbuka tadi. Seharusnya Yejin masih ada di sini.


"Yejin kau di ruang ganti?" Erynav berjalan menyusuri sisi kolam renang sambil membawa bekal makannya. Ia tak sempat menaruh itu di meja dan terus berjalan.


"Yejin?" Matanya masih menjelajah.


"Ada apa?" Suara berat di belakangnya sontak mengejutkannya dan membuatnya hampir saja terpeleset ke kolam renang, jika Yejin tidak menarik tangan Erynav dan membawa ke pelukannya.